Latest Post

Artikel Islami : ASYRATUS SA’AH (BAGIAN PERTAMA)


ASYRATUS SA’AH (BAGIAN PERTAMA)
OLEH : AL USTADZ JA’FAR UMAR THALIB hafidhahullah wa saddada khuthahu

ASYRATUS SA’AH itu artinya ialah berita dari Al Qur’an dan Al Hadits tentang tanda-tanda telah dekatnya atau sangat dekatnya hari kiamat. Yang demikian itu bukanlah ramalan tentang apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Karena Al Qur’an dan Hadits Shahih itu bukanlah produk tukang ramal. ASYRATUS SA’AH artinya ialah isyarat-isyarat yang menandakan telah dekatnya hari kiamat. Para Ulama’ Ahlul Hadits meletakkan bab ini secara khusus dalam kitab-kitab mereka, sebagai peringatan keras dari Allah dan RasulNya bahwa hari kiamat itu pasti datang dan sudah sangat dekat waktu datangnya.

Orang-orang kafir, apakah dari kalangan yang mengaku beragama Islam (yakni orang-orang munafiqin dari kalangan ahlul bid’ah), maupun mereka yang beragama selain Islam, semua mereka tidak mempercayai bahwa kehidupan di dunia ini akan berakhir total dengan datangnya hari kiamat. Keingkaran mereka terhadap adanya akherat (yakni kehidupan setelah mati dan kehidupan setelah berakhirnya secara total kehidupan dunia) menyebabkan gugurnya seluruh amalan kebaikan mereka sehingga sia-sialah hidup mereka didunia.

Allah Ta’ala menegaskan :

سأصرف عن ءاياتي الذين يتكبرون فى الأرض بغير الحق وإن يروا سبيل الرشد لا يتخذوه سبيلا وإن يروا سبيل الغي يتخذون سبيلا – ذلك بأنهم كذبوا بئايآتنا وكانوا عنها غافلين – والذين كذبوا بئاياتنا ولقآء الآخرة حبطت أعمالهم – هل يجزون إلا ما كانوا يعملون – الأعراف ١٤٦

Akan Kupalingkan dari ayat-ayatku orang-orang yang takabur di muka bumi dengan cara yang tidak benar. Mereka ini bila melihat jalan kebenaran, mereka tidak menjadikannya sebagai jalan kehidupan dan bila mereka melihat jalan penyimpangan, mereka jadikan sebagai jalan kehidupan. Yang demikian itu karena mereka mendustakan ayat-ayat kami dan mereka lalai daripadanya. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami itu dan juga mendustakan perjumpaan dengan Kami di akhirat, mereka itu telah batal seluruh amalan mereka. Bukankah dengan demikian mereka itu akan dibalas atas apa yang mereka kerjakan“. S. Al A’raf 146.

Juga Allah Ta’ala menegaskan

زعم الذين كفروا أن لا يبعثوا قل بلى وربي لتبعثن ثم لتنبؤن بما عملتم وذلك على الله يسير – التغابن ٧

Orang-orang kafir beranggapan bahwa mereka tidak akan dibangkitkan dari kuburnya di hari kiamat. Katakanlah : Bahkan kalian pasti akan dibangkitkan dari kubur kalian di hari kiamat kemudian pasti kalian akan diberitahu catatan amalan yang telah kalian lakukan. Dan yang demikian itu bagi Allah adalah mudah“. At Thaghabun 7.

Juga Allah Ta’ala berfirman :

ويقولون متى هذا الوعد إن كنتم صادقين – قل إنما العلم عندالله وإنما أنا نذير مبين – الملك ٢٥ – ٢٦

Dan mereka berkata: Kapan datangnya hari kiamat yang dijanjikan itu? Katakanlah: Ilmu tentang kapan datangnya hari kiamat itu hanya diketahui oleh Allah semata dan aku hanyalah penyampai ajaranNya yang nyata“. S. Al Mulk 25 – 26.

Maka pantaslah kalau keimanan kepada berita akan datangnya hari kiamat itu adalah sebagai rukun iman. Sehingga sepakatlah para Ulama Ahlus Sunnah wal jama’ah, bahwa orang Islam yang tidak percaya kepada berita akan datangnya hari kiamat, adalah kafir.

Meski demikian, dikalangan kaum muslimin masih banyak yang termakan filsafat yunani kuno yang menolak untuk beriman kepada adanya hari kiamat. Sehingga muncullah pemahaman Mu’tazilah yang menolak beriman kepada hari kiamat. Di Indonesia kita dapati pemahaman ini pada kaum pluralis yang biasanya berkumpul di kampus UIN dan kampus-kampus perguruan tinggi yang sekurikulum dengannya. Juga keyakinan sesat ini berkembang di kalangan kelompok pengajian MTA (Majlis Tafsir Al Qur’an) yang mengadopsi pemahaman sesat Mu’tazilah melalui “TAFSIR AL MANAR” karya Muhammad Abduh Al Misri.

(B E R S A M B U N G)

Sumber : https://www.facebook.com/jafarumar.thalib.37/posts/406691623439077

Blog Stats

  • 144,013 Pengunjung

Archives

free counters
"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,338 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]