Nasehat, Syaikh Al 'Utsaimin -rahimahullah-

Nasehat : Refleksi Hati


Tanya:

Apa makna ikhlas itu? dan bagaimana hukumnya jika seseorang mempunyai orientasi lain dalam beribadah?

Jawab:

Mengikhlaskan niat untuk Allah Ta’ala maknanya ialah seseorang beribadah kepada Allah dengan tujuan mendekatkan diri (taqorrub) kepada-Nya dan untuk mengantarkannya ke surga-Nya.

Adapun apabila dikatakan bahwa seseorang mempunyai orientasi lain dalam ibadahnya, maka disini terdapat perincian hukum atasnya:

Yang pertama, seseorang beribadah dalam rangka mendekatkan diri kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan juga berupaya mendapatkan sanjungan dan pujian dari manusia atas amalan yang telah dilakukannya. Maka amalan dalam kategori yang pertama ini sia-sia. Dan perbuatan yang demikian ini termasuk syirik kepada Allah. Dalam riwayat yang shahih dinyatakan, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu; bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wa Sallam bersabda:

“Allah Ta’ala berfirman: “Aku adalah yang paling tidak membutuhkan sekutu-sekutu dari segala bentuk persekutuan. Maka barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan dalam rangka menyekutukan Aku, sungguh Aku meninggalkan dirinya dan para sekutunya.” (HR. Muslim no. 2985)

Yang kedua, seseorang beribadah dalam rangka menyalurkan ambisinya terhadap kesenangan duniawi; seperti kepemimpinan, kemegahan dan harta. Dan dia beramal dengan amalan ibadah tanpa disertai niat dan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Maka amalan dalam kategori yang kedua ini pun termasuk sia-sia. Allah Ta’ala berfirman:

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami akan berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka didunia dengan sempurna dan mereka didunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh apa-apa di akhirat; kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah di usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. (Huud: 15-16)

Perbedaan antara amalan yang pertama dan kedua ialah bahwa yang pertama tujuannya untuk mendapatkan sanjungan dan pujian manusia pada amalan ibadahnya. Adapun yang kedua tidak mempunyai tujuan untuk itu, bahkan dia menganggap tidak begitu penting sanjungan dan pujian manusia ketika menjalankan segenap amalan-amalan ibadah.

Yang ketiga, seseorang beribadah kepada Allah dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya dan juga disertai keinginan memperoleh tujuan duniawi sebagai hasilnya. Seperti orang yang melakukan thaharah (bersuci) dengan niat beribadah kepada Allah Ta’ala dan juga disertai niatan lain yakni untuk menyegarkan badan dan menghilangkan keringat, atau seperti orang pergi haji disertai niat untuk menyaksikan tempat-tempat manasik haji dan melihat bukti-bukti bersejarah yang ada disana; maka perbuatan semisal ini dapat mengurangi pahala keikhlasan. Akan tetapi jika niat beribadah kepada Allah tersebut lebih dominan; maka sungguh telah luput darinya pahala yang sempurna. Dan perbuatannya itu tidaklah dianggap dosa bagi dirinya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhan-mu”. (Al-Baqarah: 198)

Namun jika ternyata niatnya lebih cenderung ditujukan untuk selain beribadah kepada Allah, maka tidak ada pahala baginya diakhirat kelak, dan dia hanya mendapatkan ganjaran didunia. Aku merasa khawatir bahwa orang yang mempunyai niat seperti ini akan berdosa, karena dia menjadikan ibadah sebagai perantara untuk mendapatkan kesenangan duniawi yang tidak berharga, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan diantara mereka ada yang mencelamu tentang (pembagian) sedekah; jika mereka diberi bagian, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi bagian, tiba-tiba mereka marah”. (At-Taubah: 58)

Dalam Sunan Abu Dawud dinyatakan, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu:

“Bahwa seorang pria berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, “Ada seseorang yang ingin berjihad dijalan Allah akan tetapi dia juga menginginkan harta benda dari harta-harta dunia”, maka berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam: “Tidak ada pahala baginya” (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wa Sallam mengulangi pernyataannya tersebut sebanyak tiga kali).

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wa Sallam juga bersabda:

“Barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin dicapainya atau kepada wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang dia upayakan dengannya”. (HR. Abu Dawud no. 2516 dan Ahmad jilid 2/366)

Jika kualitas niatnya sebanding yakni 50% dari kadar niatnya ditujukan untuk beribadah kepada Allah dan 50% lagi ditujukan untuk selain beribadah kepada Allah, maka disini perlu penelitian. Namun yang paling dekat ialah tidak ada pahala baginya sama seperti orang yang niat beramal untuk Allah dan juga untuk selain-Nya.

Perbedaan antara contoh diatas dengan contoh sebelumnya (yang ketiga) ialah bahwa tujuan beribadah kepada selain Allah dalam contoh yang ketiga (ketika bersuci) akan memperoleh sesuatu yang tidak mungkin dihindari (yakni menyegarkan badan). Maka keinginannya ialah keinginan yang menghasilkan sesuatu secara tidak langsung. Dan seolah-olah terkesan bahwa dia menginginkan dari amalan yang dilakukannya itu untuk kepentingan dunia (menyegarkan badan). Jika dikatakan: “Apa yang menjadi timbangan dalam contoh tersebut diatas bahwa niatnya lebih dominan ditujukan untuk beribadah kepada Allah atau sebaliknya?” Syaikh rahimahullah menjawab: yang dijadikan timbangan ialah apabila dia menganggap tidak perlu segala bentuk niatan selain ibadah; menghasilkan atau tidak, maka ini sebagai bukti yang menunjukkan bahwa niatnya dalam beribadah kepada Allah lebih dominan, begitu juga sebaliknya.

Walhasil niat itu ialah apa yang terbetik didalam hati. Dan perkara niat ini memiliki pengaruh yang besar dan krusial. Niat terkadang dapat memuliakan seorang hamba hingga mencapai derajat Ash-Shiddiqiin (orang-orang yang jujur), dan juga terkadang dapat merendahkan derajat seorang hamba sehingga menjadi makhluk yang teramat hina, berkata sebagian Salaf:

“Apa yang diupayakan diri dalam menempuh sesuatu, upayakanlah diatas keikhlasan”

Kita memohon kepada Allah agar menganugrahkan pada diri kita keikhlasan niat dan amalan yang shalih.

Majmu’ Fatawa Wa Rasa’il, 1/98-100
Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullah

Alih Bahasa : Fikri Abul Hassan

Sumber : http://alghuroba.org/front/node/r/41

About Salafiyyin

Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh konten blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil, serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,..

Discussion

No comments yet.

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,330 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]

%d bloggers like this: