Faidah Kajian Ulama Salaf, Majalah Salafy

Faidah Ulama Salaf : Waspadai Hawa Nafsu dalam Membantah Kebatilan.


Artikel Islami

Bismillah …

Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al Mu’alimmin Al Yamani –rahimahullah- berkata :

“Seorang muslim haruslah berfikir mengenai diri dan hawa nafsu nya. Andaikan sampai berita kepadamu bahwa seseorang telah mencaci maki Rasulullah –shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam-. Kemudian orang lain mencaci Nabi Daud –alaihi salam-. Sedangkan orang yang ketiga mencaci maki Umar atau Ali –radhiyallahu ‘anhuma-, dan orang yang keempat mencaci Syaikhmu. Adapun orang kelima, dia mencaci maki syaikh orang lain.

Apakah kemarahan dan usahamu untuk memberikan hukuman dan pelajaran kepada mereka telah sesuai dengan ketentuan syari’at? Yaitu, kemarahanmu pada orang pertama dan kedua hampir sama. Tetapi jika dibandingkan kepada yang lainnya harus lebih keras. Kemarahanmu kepada orang ketiga kurang dari yang awal, akan tetapi harus lebih keras dari yang sebelumnya. Kemarahanmu kepada orang yang keempat dan kelima hampir sama, akan tetapi jauh lebih lunak dibandingkan dengan yang lainnya. (Apakah kamu telah melakukan semuanya sesuai dengan ini ? –pent-). 

Misalkan pula engkau membaca sebuah ayat, maka nampak bagimu bahwa ayat tersebut sesuai dengan ucapan imammu. Kemudian engkau membaca ayat yang lain dan nampak olehmu dari ayat tersebut bahwa ia menyalahi ucapan yang lain dari imammu tersebut. Apakah penilaianmu mengenai keduanya sama ? yaitu engkau tidak peduli untuk mencari kejelasan dari dua ayat tersebut dengan mengkajinya secara seksama agar menjadi jelas benar atau setidaknya atas pemahamanmu tadi dengan cara membaca sepintas.

Misalkan pula engkau mendapatkan dua hadits yang tidak engkau ketahui shahih dan dhaifnya. Salah satu darinya sesuai dengan pendapat imammu, sedangkan yang satu lagi menyalahinya. Apakah pandangan mu terhadap dua hadits itu sama (dengan imammu), tanpa engkau peduli (untuk mengetahui secara ilmiyyah), apakah kedua hadits tersebut shahih atau dhaif?

Misalkan pula engkau memperhatikan suatu masalah yang imammu mempunyai suatu pendapat tentangnya, dan (ulama) yang lain menyalahi pendapat tersebut. Apakah hawa nafsumu yang lebih berperan dalam mentarjih (menguatkan) salah satu dari dua pendapat tadi ? ataukah engkau menelitinya supaya engkau dapat mengetahui mana yang rajih (lebih kuat) dari keduanya dan engkau dapat menjelaskan kerajihannya tersebut? [1]

Misalkan pula ada seseorang yang engkau cintai dan yang lain engkau membencinya. Keduanya berselisih dalam suatu masalah. Kemudian engkau dimintai (oleh orang lain) pendapatmu tentang perselisihan tersebut. Padahal (engkau tidak mengetahui duduk persoalannya sehingga) engkau tidak mungkin dapat menghukuminya. Ketika engkau meneliti permasalahan tersebut, apakah hawa nafsumu yang berperan sehingga engkau memihak orang yang engkau cintai?

Misalkan pula ada tiga fatwa dari tiga ulama dalam permasalahan yang berbeda. Satu darimu, fatwa kedua dari orang yang engkau cintai, dan fatwa ketiga dari orang yang tidak engkau sukai. Dan setelah engkau teliti kedua fatwa temanmu tersebut, maka engkau nilai keduanya benar pula. Kemudian sampai kepadamu berita bahwa ada seorang alim lain yang mengkritik salah satu dari ketiga fatwa tersebut dan mengingkarinya dengan sangat keras. Apakah engkau mempunyai sikap yang sama apabila fatwa yang dikritik itu fatwamu atau fatwa sahabatmu atau fatwa orang yang tidak engkau sukai?

Misalkan pula engkau mengetahui seseorang berbuat kemungkaran dan engkau berhalangan untuk mencegahnya. kemudian sampai berita kepadamu ada seorang ahli ilmu yang mengingkari orang tersebut dengan kerasnya. Maka apakah anggapan baikmu akan sama apabila yang mengingkari itu temanmu atau musuhmu, begitu pula apabila orang yang diingkarinya itu temanmu atau musuhmu?

Periksalah dirimu ! Engkau akan dapatkan dirimu sendiri ditimpa musibah dengan perbuatan maksiat atau kekurangan dalam hal Dien. Juga engkau dapati orang yang engkau benci ditimpa musibah dengan melakukan maksiat pula dan kekurangan lainnya dalam syariat yang tidak lebih berat dari maksiat yang menimpamu. Maka apakah engkau dapati kebencianmu kepada orang tersebut (disebabkan maksiat atau kekurangan dalam syari’at, -pent-) sama dengan kebencianmu kepada dirimu sendiri ? Dan apakah engkau dapatkan kemarahanmu kepada dirimu sendiri sama dengan kemarahanmu kepadanya ?

Pintu-pintu hawa nafsu tidak terhitung banyaknya. Saya (Syaikh Abdurrahman) mempunyai pengalaman pribadi ketika saya memperhatikan suatu permasalahan yang saya anggap bahwa hawa nafsu tidak ikut tercampur dalam masalah tersebut. Saya mendapatkan satu pengertian dalam masalah tersebut, maka saya menetapkannya dengan satu ketetapan yang saya anggap terbaik. Kemudian setelah itu saya melihat sesuatu yang membuat cacat ketetapan tadi. Lalu saya gigih mempertahankan kesalahan tadi dan jiwaku menyuruhku untuk memberikan pembelaan dan menutup mata, serta menolak untuk mengadakan penelitian lebih lanjut secara mendalam. Hal ini dikarenakan ketika saya menetapkan pengertian pertama yang saya condong untuk membenarkannya. Padahal belum ada satu orangpun yang mengetahuinya hal ini. Maka bagaimana seandainya jika hal tersebut sudah saya sebar luaskan ke khalayak ramai, kemudian setelah itu nampak bagiku bahwa pengertian tersebut salah? Maka bagaimana pula apabila kesalahanku itu bukan saya sendiri yang mengetahuinya melainkan orang lain yang mengkritikku? Maka bagaimana pula jika orang yang mengkritik tersebut adalah orang yang aku benci?

Hal ini bukan berarti bahwa seorang alim dituntut untuk tidak mempunyai hawa nafsu karena hal ini diluar kemampuannya. Tetapi kewajiban seorang alim adalah mengoreksi diri dan hawa nafsunya supaya dia mengetahui kemudian mengekangnya dan memperhatikan dengan seksama dalam hal kebenaran sebagai suatu kebenaran. Apabila jelas baginya bahwa kebenaran itu menyalahi hawa nafsunya, maka dia harus mengutamakan kebenaran daripada mengikuti hawa nafsunya.

Dan inilah –wallahu a’lam­– makna hadits yang disebutkan oleh An-Nawawi dalam Al-Arba’in yang dishahihkannya , yaitu “Tidaklah seorang diantara kalian beriman (dengan sempurna) sehingga menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa-apa yang aku bawa.” [2]

Seorang alim terkadang lalai dalam mengawasi hawa nafsunya, ia bersikap toleran sehingga dirinya condong kepada kebatilan dan membela kebatilan tersebut. Dia menyangka bahwa dirinya belum menyimpang dari kebenaran. Dia menyangka pula bahwa dirinya tidak sedang memusuhi kebenaran. Tidak ada orang yang selamat dari perbuatan ini kecuali orang yang ma’shum (Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam , –pent-). Hanya saja para ulama bertingkat-tingkat dalam sikapnya terhadap hawa nafsu. Diantara mereka ada yang sering terbawa arus hawa nafsunya sampai melampaui batas sehingga orang yang tidak mengetahui tabiat manusia dan pengaruh hawa nafsu yang demikian besar menyangka bahwa si alim tadi melakukan kesalahan yang fatal dengan sengaja. Di antara ulama juga ada orang yang dapat mengekang hawa nafsunya sehingga jarang sekali mengikuti hawa nafsunya.

Oleh sebab itu, barangsiapa sering membaca buku-buku dari para penulis yang sama sekali tidak menyandarkan ijtihad mereka kepada Al Qur’an dan As-Sunnah, maka dia akan mendapatkan banyak keanehan. Hal ini tidak mudah diketahui kecuali oleh orang-orang yang tidak condong kepada buku-buku tersebut, yaitu orang yang condong kepada kebenaran yang bertentangan dengan buku-buku tersebut. Kalau hawa nafsunya cenderung kepada buku-buku tersebut dan sudah dikuasai hawa nafsunya, maka dia menyangka bahwa orang-orang yang sependapat dengannya itu terbebas dari mengikuti hawa nafsu, sedangkan orang-orang yang bertentangan dengannya adalah orang-orang yang mengikuti hawa nafsu.

Orang salaf dahulu ada yang berlebihan dalam mengekang hawa nafsunya sampai ia terjerumus ke dalam kesalahan pada sisi yang lain. Seperti seorang hakim yang mengadili dua orang yang berselisih. Orang pertama adalah saudara kandungnya sedangkan yang kedua adalah musuhnya. Ia berlebihan di dalam mengekang hawa nafsunya sampai ia mendzalimi saudara kandungnya sendiri. Ia seperti orang yang berjalan di tepi jurang yang curam di kanan kirinya, berusaha menghindari jurang yang disebelah kanannya namun berlebihan sehingga ia terjatuh ke dalam jurang yang disebelah kirinya.” (Di terjemahkan dari At-Tankil bagian keempat : Al-Qaid ila Tashhih Al-Aqaid hal. 196-198 karya Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al Mu’alimmin Al Yamani –rahimahullah- (wafat Th. 1386 H), dan di nukil dari Majalah Salafy, Ketua Pengarah Al Ustadz Ja’far Umar Thalib –hafidhohullah-)


[1] “Janganlah sekali-kali engkau mencari yang rajih (paling benar) bagi salah satu dari dua pendapat tadi semata-mata karena orang yang mengucapkan adalah orang yang engkau kagumi. Perbuatan ini adalah perbuatan muqallid yang jumud. Hati-hatilah kamu ! jangan seperti mereka ! dan mereupakan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, banyak dari umat ini yang telah meninggalkan ta’ashub madzhab ! Akan tetapi datang penggantinya yang lebih dahsyat dan lebih memilukan, yaitu ta’ashub hizbi ! Kami memohon pertolongan kepada Allah ! Dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya (Lihat “Maa La Yasa’u Al-Muslim Jahluh min Dharuriyat At-Tafakkur oleh ‘Allamah Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allim Al-Yamani –rahimahullah- hal. 40-41, catatan kaki no.1)

[2] Akan tetapi Hadits ini dinilai dhaif oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali -­rahimahullah-, Ibnu Asakir –­rahimahullah- , Syaikh Al-Albani -­rahimahullah- , Syaikh Salim Al Hilali –hafidhohullah- , Lihat juga pembahasannya di dalam Dzilalul Jannah, Syaikh Al-Albani -­rahimahullah-, hal 12. –pent-

Download PDF : Waspadai Hawa Nafsu dalam Membantah Kebatilan

About Salafiyyin

Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh konten blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil, serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,..

Discussion

One thought on “Faidah Ulama Salaf : Waspadai Hawa Nafsu dalam Membantah Kebatilan.

  1. Tampaknya memang sangat sedikit orang yang dapat bersikap adil,,,,

    قال ابن القيم :

    أكثر الناس إنما يتكلم بالحق في رضاه ، فإذا غضب أخرجه غضبه إلى الباطل

    إغاثة اللهفان ( ١ / ٤٣ )

    Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah:

    “Mayoritas manusia hanya berbicara dengan kebenaran ketika dia dalam keadaan ridha, jika dia marah maka kemarahannya menyeretnya kepada kebathilan.”

    ~ Ighatsatul Lahafan, jilid 1 hlm. 43

    Posted by 'Aisyiyah | 12 July 2016, 6:36 AM

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,071 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]

%d bloggers like this: