Faidah Kajian Ulama Salaf

Perselisihan menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah


Artikel Islami

Bismillah…

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullahmengatakan…

“Perselisihan, menurut apa yang Allah sebutkan di dalam Al Qur’an ada dua macam. Salah satu diantaranya adalah kedua pihak tercela semuanya, sebagaimana dalam firman-Nya :

… إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ  (118) وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ …

…. Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu … (QS. HUD ayat 118-119)

Allah menjadikan orang-orang yang mendapat rahmat adalah orang-orang yang tidak ikut dalam perselisihan. 

Begitu pula firman Allah Ta’ala :

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ نَزَّلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِي الْكِتَابِ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ

Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al-Kitab dengan membawa kebenaran, dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al-Kitab itu benar-benar dalam penyimpangan yang jauh. (QS. Al-Baqarah ayat 176)

… وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ. …

… Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab (maksudnya kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Qur’an) kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) diantara mereka … (QS. Ali Imran ayat 19)

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Dan Janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (Q.S. Ali Imran ayat 105)

… إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. (Q.S. Al An’am ayat 159)

Begitupun Allah mensifati perselisihan di antara orang-orang Nashara dengan firman-Nya :

وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ اللَّهُ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Dan diantara orang-orang yang mengatakan : “Sesungguhnya kami orang-orang nasrani”, ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari perkara yang mereka telah diberi peringatan dengannya. Maka Kami timbulkan diantara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan. (Q.S. Al Maidah ayat 14)

Demikian pula Allah mensifatkan perselisihan di antara orang-orang Yahudi dengan firman-Nya :

وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

… dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian diantara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyatakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. (Q.S. Al Maidah ayat 64)

Dan Allah berfirman :

فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Kemudian mereka (pengikut-penguikut Rasul itu) menjadikan agama mereka berpecah pecah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing) (Q.S. Al-Mukminun ayat 53)

Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam  ketika mensifatkan bahwa ummat ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Beliau bersabda :”Semuanya di neraka kecuali satu golongan, dia itu adalah Al Jama’ah”[1], dan dalam riwayat yang lain : (mereka yang meniti jalan seperti jalan yang saya tempuh pada hari ini dan jalan yang ditempuh oleh para shahabatku)[2].

Maka beliau menjelaskan bahwa umumnya orang-orang yang berselisih itu akan binasa kedua belah pihak, kecuali satu golongan yang selamat dan mereka itu adalah ahli sunnah wal jama’ah.

Perselisihan yang tercela dari kedua belah pihak ini penyebabnya adalah terkadang karena rusaknya niat yang terdapat dalam diri manusia berupa kedengkian dan hasad., keinginan menyombongkan diri di muka bumi atau yang semisalnya. Sehingga dia suka mencela ucapan orang lain atau perbuatannya atau ingin diatas yang lainnya, sehingga menjadi masyhur, atau menyukai ucapan orang yang cocok dengannya, baik dalam nasab atau madzhab atau tanah air atau teman dan semisalnya yang dengan ucapannya dia akan mendapatkan kemuliaan dan kepemimpinan. Hal seperti ini banyak terjadi pada diri manusia dan hal ini merupakan kedzaliman. Terkadang pula penyebabnya adalah kebodohan orang-orang yang berselisih terhadap hakekat permasalahan yang mereka perselisihkan atau bodoh terhadap dalil yang dipakai oleh satu pihak terhadap pihak yang lain, atau kebodohan salah satu pihak akan kebenaran yang terdapat pada pihak yang lain, baik dalam masalah hukum atau dalil, meskipun ia mengetahuinya.

Memang kebodohan dan kedzaliman merupakan pokok segala kejahatan, sebagai firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat (yang dimaksud adalah tugas-tugas keagamaan) kepada langit-langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh. (Q.S. Al-Ahzab ayat 72)”

(Di terjemahkan dari Iqtidha’ As-Shiratil Mustaqim juz pertama hal. 130-132 karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyahrahimahullah­-, dan di nukil dari Majalah Salafy, Ketua Pengarah Al Ustadz Ja’far Umar Thalib –hafidhohullah-)


[1] Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 204 oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

[2] Lihat buku Dar’ul Irtiyab ‘an Hadits Ma ana ‘alaihi wal Ashab oleh Syaikh Salim Al-Hilali

Download PDF :

About Salafiyyin

Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh konten blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil, serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,..

Discussion

Comments are closed.

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,171 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]

%d bloggers like this: