Al Ustadz Ja'far Umar Thalib, Artikel Islami

E-Books : Kedudukan Fatwa Ulama Di Hadapan Dalil


ulama dan dalil

Bismillah…

Para Ulama itu dalam pandangan Syari’ah Islamiyyah adalah rujukan bagi Ummat Islam dalam upaya mentaati agama Allah Ta’ala.[1] Bahkan mereka adalah Syuhada’ullah fil Ardhi (saksi-saksi Allah di muka bumi).[2] Ulama’ adalah pengawal Syari’at Allah di muka bumi dari segala ancaman penafsiran agama yang menyesatkan. Hal ini adalah sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam berikut ini:

“Yang akan membawa ilmu ini pada setiap generasi dari Ummat ini, adalah orang-orang yang terpercaya dari ummat ini. Para pembawa ilmu tersebut menyingkirkan dari agama ini penafsiran agama dari kalangan orang-orang yang ekstrim (yaitu dari kalangan khawarij), dan kedustaan orang-orang yang membawa kebathilan (yaitu para ahli filsafat), dan penafsiran orang-orang jahil (yakni orang-orang thariqad sufiyah).” (HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunnanul Kubra dan Al-Ajurri dalam Asy-Syariah jilid 1 hadits ke-2 dan selain beliau).

Bahkan Ulama’ itu dijadikan oleh Allah Ta’ala sebagai pengendali arus informasi yang dilansir di kalangan masyarakat, untuk menghindarkan berbagai fitnahnya kaum munafiqin yang sering ditebarkan melalui informasi. Hal ini ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya di dalam Al Qur’an.

“Dan apabila sampai kepada mereka berita, merekapun menyebarkannya, seandainyalah berita itu mereka laporkan kepada Rasul atau kepada Ulama dari mereka, niscaya para Ulama itu akan mengambil kesimpulan hukum bagi mereka dengan berita itu dan memberitahu mereka dengan kesimpulan yang benar.” (QS. An-Nisa ayat 83)

PERSELISIHAN DI KALANGAN PARA ULAMA’

                Meskipun kedudukan para Ulama’ itu demikian tinggi dalam pandangan Syari’ah Islamiyyah, namun para Ulama’ itu masih belum lepas dari kedudukannya sebagai makhluk Allah Ta’ala. Sementara itu sifat dasar makhluk manusia itu adalah berselisih dan berbeda pendapat atau pandangan. Hal ini telah diberitahukan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya berikut ini :

“Dulunya manusia itu adalah satu ummat, kemudian mereka berselisih sehingga Allah utus para Nabi kepada mereka untuk membimbing mereka kepada kebenaran dengan memberitakan berita gembira dari Allah dan acaman dari-Nya. Dan Allah turunkan pula kepada para Nabi itu Kitab-Nya dengan kebenaran, agar para Nabi itu memberikan keputusan dengan benar dengan ijin Allah tentang apa-apa yang mereka perselisihkan. Dan tidak akan berselisih tentang kebenaran itu kecuali orang-orang yang diberi ilmu tentang KitabNya itu setelah datang kepada mereka keterangan. Mereka berselisih itu karena berbuat dhalim di antara mereka. Maka Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang yang beriman dalam perselisihan mereka tentang kebenaran itu dengan izinNya. Dan Allah menunjuki siapa saja yang Dia kehendaki kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah ayat 213) 

Dengan ayat ini menjadi tegaslah bahwa perselisihan itu akan muncul justru dari kalangan para Ulama’ yang telah mendalami ilmu tentang Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Hanya saja perselisihan itu ada yang terjadi karena perbuatan dhalim, dan ada pula yang terjadi dalam rangka ikhlas mencari kebenaran dari Allah Ta’ala. Al Imam Al-Baghawi dalam tafsirnya terhadap ayat ini menerangkan bahwa perselisihan yang terjadi di kalangan para Ulama’ itu adalah karena kedhaliman dan kedengkian yang ada di antara mereka. Al Hafidh Ibnu Katsir dalam tafsirnya terhadap ayat ini menukil omongan Ar-Rabi’ bin Anas : “Allah menunjuki orang-orang yang beriman ketika mereka berselisih. Dimana mereka tetap berpegang dengan apa yang telah diajarkan oleh para Rasul dan para shahabatnya dan ummat terdahulu sebelum mereka bercerai-berai. Sehingga merekapun dibimbing kepada kebenaran dalam perselisihan itu dan mereka terus menegakkan kebenaran dengan ikhlas untuk Allah semata serta beribadah untuk-Nya semata, dengant idak menyekutukannya dengan yang lain-Nya. Dan mereka juga menegakkan shalat serta menunaikan zakat. Mereka ini terus menerus menegakkan pengamalan agama Allah sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para salaf (ketika masih bersatu di masa sebelum terjadinya perselisihan) di atas dasar apa  yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam dan mereka menjauhkan diri dari berbagai perselisihan dalam agama.”

Demikianlah sesungguhnya, persatuan itu akan terjadi di antara kaum Mu’minin ketika hati mereka telah sangat ikhlas untuk Allah dalam beribadah kepada Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam. Ikhlasnya hati untuk Allah akan menjauhkan seorang Mu’min dari berbagai bentuk syirik. Sedangkan semangat mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam. Ikhlashnya hati untuk Allah akan menjauhkan seorang Mu’min dari berbagai bentuk syirik. Sedangkan semangat mengikuti tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam, akan menjauhkan seorang Mu’min dari segala bentuk perbuatan bid’ah. Ikhlas dan Ittiba’ (yakni mengikuti tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam ) haruslah dilakukan dengan dhahir dan batin. Barulah dengan demikian hati hamba-hamba Allah itu akan disatukan dalam ukhuwah imaniyyah Islamiyyah dan terhindar dari perpecahan dan percekcokan. Maka bila ada orang-orang yang berilmu dengan Al-Qur’an dan As Sunnah ini dan secara dhahir dia jauh dari syirik bahkan sangat getol ketauhidannya, secara dhahir pula dia sangat kuat menampilkan semangat berpegang dengan Sunnah Nabi serta sangat benci kepada bid’ah. Namun perpecahan di kalangan mereka sangat dahsyat terjadi, maka berarti dapat dipastikan bahwa di dalam hati mereka ini ada kedhaliman dan kedengkian yang merusakkan keikhlasan mereka dan menjegal semangat mereka untuk berittiba’.

                Itulah sebabnya Allah Ta’ala memastikan kepada Rasul-Nya bahwa Rasul-Nya tidak akan bisa menyatukan hati orang-orang yang bercerai berai itu. Tetapi hanya Allahlah yang bisa menyatukan mereka karena memang persatuan itu meliputi perkara dhahir dan batin. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an :

“Dan Allah telah menyatukan hati mereka kaum Mukminin. Seandainyalah engkau membelanjakan segala apa yang di bumi semuanya, engkau tidak akan bisa menyatukan hati mereka. Akan tetapi hanya Allah-lah yang bisa menyatukan hati mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mulia dan Maha sempurna hikmahnya.” (QS. Al-Anfal ayat 63)

                Maka perselisihan pendapat para ulama itu akan menjadi khazanah kekayaan ilmu umat Islam dan tidak bisa menjadi alasan untuk sebagai landasan bercerai berai di antara umat Islam bila hati umat yang mewarisi ilmu para ulama itu tidak terganggu keikhlasannya untuk Allah dalam beragama dan tidak goyah niatnya untuk berittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam . sedangkan perpecahan dan percekcokan di antara orang yang mewarisi ilmu para ulama itu karena terganggunya keikhlasan mereka dengan tumbuhnya kedengkian dan kedhaliman di antara mereka.

                Untuk lebih memperjelas adanya perselisihan para Ulama’ dan bagaimana mereka menyudahi perselisihan itu, berikut ini kami bawakan riwayat berbagai perselisihan itu.

                Para Ulama’ telah berselisih pendapat sejak Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam masih hidup sampai ketika hari wafat beliau, kemudian di masa Khulafa’ Ar-Rasyidin, dan semasa sesudah itu sampai hari ini bahkan sampai hari kiamat. Di masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam masih hidup kita dapat melihat bagaimana perselisihan pendapat terjadi diantara para Shahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam dalam pengamalan perintah Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam . Antara lain ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam selesai memimpin mereka dalam perang Ahzab (Khandak), beliau memerintahkan kepada para Shahabat beliau untuk segera berangkat menuju kampung Bani Quraidhah dan menunaikan shalat Asar di kampung tersebut. Maka berangkatlah mereka dan di tengah jalan mereka berselisih. Sebagian mereka menunaikan shalat di jalan karena khawatir kehilangan waktu shalat Ashar bila menunaikannya di kampung Bani Quraidhah. Dan sebagian yang lainnya bersikukuh berpegang dengan makna dhahir perintah Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam yaitu shalat Ashar di kampung Bani Quraidhah, sehingga mereka pun menunaikan setelah tenggelam matahari. Hal ini dilaporkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam dan beliau tidak mencerca kedua golongan Shahabat Nabi yang berselisih pendapat itu. Demikianlah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya hadits nomor 4119 dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Juga Muslim meriwayatkannya dalam shahihnya hadits nomor 1770 dari Abdullah bin Umar juga. Terhadap riwayat perselisihan para Shahabat Nabi tersebut para Ulama’ memberikan komentarnya sebagai berikut :

Al Imam An-Nawawi rahimahullah[3] menerangkan : “Dan adapun perselisihan para shahabat radhiyallahu ‘anhum dalam hal bersegera menunaikan shalat ketika sempit waktunya dan atau menundanya (sehingga lewat dari waktunya), maka sebabnya adalah kenyataan adanya dalil-dalil syar’I yang tampak seakan bertentangan satu dengan lainnya. Yaitu perintah menunaikan shalat pada waktunya, dan perintah beliau untuk shalat Ashar di kampung Bani Quraidhah, yang dipahami oleh mereka dari perintah terakhir ini untuk segera bergerak menuju kampung Bani Quraidhah dan tidak disibukkan oleh pekerjaan yang lainnya. Bukan berarti perintah tersebut untuk mengakhirkan shalat yang dimaksud. Maka sebagian shahabat mengambil pengertian ini dan bukan kepada lafadh tekstual hadits itu, sehingga mereka shalat Ashar di jalan ketika mereka khawatir hilangnya waktu shalat Ashar. Sementara sebagiannya mengambil pengertian tekstual hadits itu, yaitu shalat Ashar di kampung Bani Quraidhah yang berarti mengakhirkan shalat itu sehingga lewat waktunya. Dan Nabi tidak mencerca seorangpun dari dua kelompok shahabat yang berijtihad dalam memahami perintah Nabi itu dan berbeda-beda dalam berijtihad tersebut. Maka di dalam kisah ini menunjukkan kepada bolehnya orang mengambil pengertian dari dalil dan menggunakan qiyas untuk itu dalam rangka memelihara makna yang dituju daripada dalil itu. Juga di dalam kisah ini menjadi dalil bolehnya orang mengambil pengertian dhahir secara tekstual dari sebuah dalil. Juga di dalam kisah ini menunjukkan bahwa tidaklah dicerca seorang yang berijtihad dalam upayanya mengamalkan hasil ijtihadnya, apabila dia menumpahkan segala upayanya untuk berijtihad itu. Dan kadang-kadang kisah ini juga menjadi dalil bahwa setiap mujtahid itu ada sisi kebenaran dalam ijtihadnya.”

ANTARA FATWA ULAMA DENGAN DALIL

                Fatwa para Ulama’ dalam pandangan Syari’ah Islamiyyah bukanlah dalil agama untuk menetapkan halal dan haram, sunnah dan bid’ah atau ketetapan-ketetapan agama yang lainnya. Juga fatwa itu bukan dalil agama untuk menetapkan seseorang itu sesat atau tidak sesat, orang itu baik atau jahat. Semua fatwa para Ulama’ itu ada kemungkinan salah dan ada pula kemungkinan benar. Bahkan termasuk fatwa para shahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam wa radhiyallahu ‘anhum, juga bukan dalil dan ada kemungkinan benar atau salah. Dalam hal ini kita dapat membuktikan riwayat-riwayat fatwa dan penilaian para shahabat Nabi yang keliru dan salah.

                Abu Sanabil Radhiyallahu ‘Anhu sempat berfatwa, bahwa wanita yang melahirkan anak beberapa hari sepeninggal suaminya harus menjalani ‘iddah sebagaimana wanita lainnya yang ditinggal mati suaminya, yaitu empat bulan sepuluh hari. Maka hal ini diadukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam dan beliau menyalahkan fatwa Abu Sanabil itu dengan menegaskan bahwa ‘iddah wanita yang hamil itu akan berakhir saat melahirkan anaknya.

                Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith radhiyallahu ‘anhu diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam untuk menarik zakat dari kampung Bani Al-Musthaliq. Namun Al-Walid melihat dari kejauhan adanya orang-orang yang bergerombol di depan kampung ketika beliau mendekati kampung itu. Sehingga Al-Walid menilai bahwa penduduk kampung Bani Al-Mustaliq akan menyerang petugas zakat yang diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam dan kembalilah beliau serta melaporkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam. Kesimpulan dan penilaian Al-Walid terhadap penduduk kampung Bani Al-Musthaliq ini dibantah oleh Allah Ta’ala dengan menurunkan firman-Nya kepada Rasul-Nya dalam surat Al Hujurat ayat 6.

                Ketika terjadinya fitnah tuduhan keji terhadap Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, yang menyatakan bahwa beliau dituduh telah berzina dengan seorang Shahabat Nabi yang bernama Shafwan bin Al-Mu’atthal saat dalam perjalanan pulang mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam berjihad. Fitnah ini disebarkan oleh orang-orang munafiq dalam rangka menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam dan keluarganya. Dalam peristiwa ini seorang Shahabat Nabi yang bernama Hassan bin Thabit radhiyallahu ‘anhu sempat menilai ‘Aisyah Ummul Mu’minin berzina dan bahkan beliau ikut menyebarkan berita tuduhan keji itu. Namun Allah Ta’ala membela kesucian ‘Aisyah serta membantah tuduhan dan penilaian salah itu dengan menurunkan firman-Nya Surat An-Nuur ayat 11 s.d. 21.

                Demikianlah beberapa contoh peristiwa di zaman Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam masih hidup, adanya fatwa beberapa shahabat beliau yang salah dalam perkara halal dan haram dan dalam perkara menilai seseorang atau suatu kaum dengan negatif. Dan salahnya fatwa-fatwa tersebut diketahui setelah diadukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam dan atau setelah turunnya ayat-ayat Al Qur’an yang membatalkan fatwa-fatwa tersebut. Maka kalau fatwa-fatwa para Shahabat itu tidak bisa dijadikan dalil dan ada kemungkinan salah, tentu lebih-lebih  lagi fatwa para Ulama’ yang datang sesudah generasi Shahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam. Al Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah menerangkan :

“Apabila terdapat nash (yakni dalil dari Al-Qur’an dan Al-Hadits), maka hendaknya ulama berfatwa sesuai dengan apa yang tertera dalam dalil itu  dan tidak berpaling kepada apa saja yang menyelisihinya dan tidak pula berpaling kepada omongan siapapun yang menyelisihi dalil itu. Oleh karena itu tidak perlu seseorang mufti menoleh kepada pendapatnya Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu dalam perkara wanita yang ditalaq tiga oleh suaminya. Karena pendapatnya Umar menyelisihi riwayat yang shahih dari Fathimah bintu Qais radhiyallahu ‘anha yang memberitakan keputusan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam dalam masalah ini.[4] Dan tidak perlu seorang mufti melihat pendapatnya Umar bin Khattab, ketika beliau menyelisihi hadits yang diriwayatkan oleh Ammar bin Yasir dari Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam tentang orang yang junub dapat menggantikan kewajiban mandinya dengan tayamum.[5] Tidak boleh pula seorang mufti melihat pada pendapat Umar bin Khatthab, dimana Umar berpendapat bahwa orang yang berpakaian ihram dalam haji dan umrah tidak boleh berbau wangi meskipun minyak wangi itu dioleskan ketika sebelum berihram. Karena pendapat Umar ini menyelisihi apa yang diriwayatkan dengan shahih oleh ‘Aisyah tentang perbuatan Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam.[6] Juga tidak boleh mempertimbangkan pendapat Umar bin Al Khattab yang melarang orang yang berhaji ifrad atau berhaji qiran membatalkan niatnya dan merubah niatnya untuk berhaji tamattu’. Karena telah shahih riwayat pembolehan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam untuk orang yang berihram merubah niat haji ifradnya menjadi haji tamattu’. Demikian pula seorang mufti tidak boleh menoleh kepada pendapat Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Thalhah, Abu Ayyub Al-Anshari, Ubai bin Ka’ab yang menyatakan tidak wajib mandi bagi orang yang berjima’ dan tidak keluar maninya. Pendapat demikian ini tidak boleh diterima karena adanya riwayat yang shahih dari ‘Aisyah yang menceritakan bahwa beliau berjima’ dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam dan menyudahi jima’nya dalam keadaan belum sempat keluar mani. Namun beliau bersama Nabi menjalankan kewajiban mandi junub….” Demikian kami nukilkan keterangan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dari kitab beliau I’lamul Muwaqqi’ien An Rabbil Alamin jilid 1 halaman 29 cet. Darul Fikr Beirut, th. 1397 H / 1977 M.

                Maka fatwa Shahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam wa Radhiyallahu ‘Anhum harus diabaikan walaupun fatwa dari orang yang setingkat Umar bin Khattab, ketika fatwa itu menyelisihi dalil dari Al Qur’an dan Al-Hadits. Lebih-lebih lagi fatwa Ulama’ manapun sesudah generasi Shahabat. Tentu harus diabaikan pula bila menyelisihi dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah.

PENUTUP

                Demikianlah mestinya kita menyikapi berbagai fatwa para Ulama’, dimana Syari’ah Islamiyyah menuntun kita untuk kritis terhadapnya. Yaitu dengan kita meneliti dalil-dalil yang mendasari fatwa tersebut dan mengoreksi kebenaran fatwa itu dengan dalil Al Qur’an dan Al Hadits, karena kita dilarang bertaqlid kepada Ulama’ siapapun, bahkan kita dilarang bertaqlid kepada Ulama’ dari kalangan shahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam wa Radhiyallahu ‘Anhum. Kita dituntunkan untuk hanya mengikuti dalil Al Qur’an dan Al-Hadits yang shahih, meskipun untuk memahami keduanya harus merujuk kepada para Ulama’ dari kalangan Shahabat, Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in.

(Dinukil dari Majalah Salafy Edisi 06/TH V/1429 H/2008M , Penulis Al-Ustadz Ja’far Umar Thalib حفظه الله )


[1]     Karena Firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an surat Al-Anbiya’: 7

[2]     Karena Firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an surat Al-Baqarah : 143

[3]     Syarah Shahih Muslim karya An-Nawawi terhadap hadits nomer 1770

[4]     Fathimah bintu Qais meriwayatkan bahwa beliau diberitahu oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam bahwa karena dia telah dithalaq tiga oleh suaminya maka dia tidak berhak mendapatkan tempat tinggal dan tidak berhak mendapat belanja selama masa iddahnya dari bekas suaminya. Namun Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menolak riwayat Fathimah ini dan berpendapat bahwa bagi wanita yang ditalaq tiga tetap tidak boleh keluar dari rumah suaminya dan tetap dapat belanja selama masa iddahnya. Pendapat Umar ini menyelisihi ketentuan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam, sehingga tidak perlu dipakai fatwa beliau ini dan yang dipakai ialah apa yang diriwayatkan Fathimah bintu Qais tentang keputusan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam. Lihat Fathul Bari jilid 9 halaman 477 – 478 keterangan hadits ke 5322 – 5324 – pent.

[5]     Umar bin Khattab berpendapat bahwa mandi junub itu tidak dapat digantikan dengan tayammum meskipun tidak ada air. Beliau menolak riwayat Ammar bin Yasir yang memberitakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam mengajari orang yang junub itu dapat menggantikan kewajibannya mandi dengan tayammum bila tidak ada air. Tentu pendapat Umar ini menyelisihi dalil dan harus ditinggalkan. Lihat Fathul Bari jilid 1 halaman 455 – 456 hadits ke-347, pent.

[6]     ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa beliau memberi minyak wangi pada kain ihram Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam ketika beliau memakai baju ihram di miqat ketika akan memasuki tanah haram. Dan bau wangi itu tercium serta bekas minyak wangi itu terlihat pada kain ihram beliau meskipun telah memasuki tanah haram dalam keadaan berihram. Riwayat ‘Aisyah ini disampaikan dalam rangka membantah pendapat Abdullah bin Umar bin Al-Khattab dan pendapat Bapaknya, yaitu pendapat Umar, yang melarang adanya bau wangi pada orang yang berihram meskipun minyak wangi itu dioleskan sebelum memulai berihram. Salim bin Abdullah bin Umar bin Al Khattab menyelisihi pendapat bapakanya dan pendapat kakeknya karena adanya riwayat ‘Aisyah yang menceritakan perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam . Salim menegaskan : “Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam lebih utama untuk diikuti.” Lihat Fathul Bari jilid 3 halaman 398 keterangan hadits ke-1539. – pent.

Download PDF : Kedudukan Fatwa Ulama di Hadapan Dalil

About Salafiyyin

Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh konten blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil, serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,..

Discussion

No comments yet.

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,071 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]

%d bloggers like this: