Al Ustadz Ja'far Umar Thalib, Artikel Islami

Artikel Islam : [Bag. 2/4] Tuntunan Syariah Dalam Berpolitik


TUNTUNAN SYARIAH DALAM BERPOLITIK
Penulis : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib  حفظه الله

PEDOMAN BERPOLITIK MENURUT SYARI’AH ISLAMIYYAH

                Berpolitik dalam konteks Syari’ah Islamiyyah artinya menegakkan kepemimpinan atas ummat manusia untuk menjalankan segenap misi utama diajarkan dan diamalkannya Syari’ah Allah Ta’ala. Untuk tujuan inilah, maka para Ulama selalu medukung dan membimbing serta menasehati para penguasa dalam menegakkan kewibawaan kepemimpinan penguasa itu di hadapan masyarakat dan bangsanya. Semua upaya kepemimpinan itu adalah dalam rangka menjalankan misi utama Syari’ah Islamiyyah. Dengan demikian maka berpolitik itu diatur dengan aturan main yang telah diterangkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits dan dijelaskan oleh para Shahabat Nabi (yakni para murid-murid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam ) dan juga para Tabi’in (yakni para murid Shahabat Nabi). Agar demikian dapat menegakkan kepemimpinan para penguasa dengan benar dan baik. Adapun tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam berpolitik, adalah sebagai berikut :

  1. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah hakikat ketaatan yang mendasari semua bentuk ketaatan dan semua bentuk aktifitas kehidupan di dunia. Artinya adalah segala ketaatan harus dikoreksi oleh kemestian ketaatan kepada Allah Ta’ala  dan Rasul-Nya. Sehingga bila ketaatan kepada selain Allah dan Rasul-Nya dapat mengganggu ketaatan kepada keduanya, maka ketaatan kepada selain keduanya itu harus ditinggalkan. Hal ini telah ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya :

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan Ulil Amri dari kalangan kalian. Maka bila kalian bertikai tentang sesuatu masalah, maka rujukkanlah perkaranya kepada Allah Ta’ala  dan Rasul-Nya, bila kalian memang orang yang beriman kepada Allah Ta’ala  dan hari kiamat. Yang demikian itu lebih baik dan akan lebih baik lagi akibatnya di belakang hari.” (QS. An-Nisa’ ayat 59)

 

Ulil Amri disini adalah Ulama’ dan Umara’.  Adapun merujukkan pertikaian kepada Allah Ta’ala  itu artinya merujukkannya kepada Al-Qur’an. Sedangkan merujukkannya kepada Rasul, yaitu merujukkannya kepada beliau ketika beliau masih hidup dan merujukkannya kepada Beliau sesudah wafatnya dengan cara merujukkannya kepada Sunnah Beliau (yakni semua ajaran Beliau). Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam  mewasiatkan :

“Bila diangkat penguasa kalian, dimana dia adalah seorang hamba sahaya yang terpotong hidung dan daun telinganya serta bibirnya (yakni budak belian yang sangat buruk muka, pent) dan (aku menyangka dia berkata) kulitnya hitam pekat, namun dia memimpin kalian dengan Kitab Allah Ta’ala  (Yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah), maka dengar dan taatilah perintahnya.” (HR. Muslim dalam Shahihnya hadits ke-1298 dari Ummul Hushain)

 

Karena itu tidak boleh mentaati penguasa dalam perkara yang bertentangan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Hal ini telah ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam dalam sabda beliau berikut ini :

“Tidak boleh taat kepada siapapun dalam mendurhakai kepada Allah Ta’ala , hanyalah taat itu dalam perkara baik.” (HR. Muslim dalam Shahihnya hadits ke-1840 dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu)

 

Karena itu pula penguasa yang menyimpang dari ketaatan kepada Allah Ta’ala , haruslah dinasehati dan ditegur agar kembali ketaatannya kepada Allah. Hal ini telah dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam dalam sabdanya :

“Jihad yang paling utama adalah kata-kata yang benar dalam rangka menegur atau menasehati penguasa yang jahat.” (HR. Abu Dawud dalam Sunannya hadits ke-4344, At-Tirmidzi meriwayatkannya juga dalam sunannya, Ibnu Majah juga meriwayatkannya dalam Sunannya, Al Hakim meriwayatkannya dalam Mustadraknya jilid 5 halaman 505-506, Al-Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkannya dalam Musnadnya jilid 3 halaman 19 dan 61, Al-Imam Al Humaidi meriwayatkannya dalam Musnadnya hadits ke-752)

 

  1. Al-Qur’an dan Al-Hadits adalah sumber keterangan yang paling benar dalam upaya memahami apa yang diperintah atau dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Hal ini telah ditegaskan oleh Allah Ta’ala  dalam firman-Nya sebagai berikut :

“Tidakkah mereka mengambil pelajaran dari Al-Qur’an dan seandainya Al-Qur’an itu datang dari selain Allah Ta’ala , niscaya mereka akan mendapati padanya pertentangan yang banyak antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya.” (QS. An-Nisa ayat 82)

 

Juga Allah Ta’ala  berfirman :

“Sesungguhnya Al Qur’an itu adalah Kitab yang agung, yang tidak pernah dimasuki kebatilan dari depan dan tidak pula dari belakang. Dia diturunkan dari Tuhan Yang Maha Sempurna Hikmahnya dan Maha Terpuji.” (QS. Fushshilat ayat 41-42)

 

Adapun penafsiran yang sah terhadap keduanya hanyalah penafsiran Shahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam. Oleh sebab itu sumber hukum bagi segala sumber hukum adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits dengan pemahaman para Salafus Shalih (yaitu para Shahabat Nabi dan para Tabi’in). Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam membimbing ummatnya untuk selalu merujuk kepada penafsiran agama yang dilakukan oleh para Shahabatnya bila menghadapi kesimpangsiuran penafsiran akibat terjadinya fitnah perpecahan. Hal ini dinyatakan dalam sabda beliau sebagai berikut :

“Dan sesungguhnya Bani Israil telah terpecah dalam tujuh puluh dua golongan, sedangkan ummatku akan terpecah dalam tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk neraka kecuali hanya satu golongan yang selamat.” Ditanyakan kepada beliau :  “Siapakah satu golongan yang selamat itu wahai Rasulullah ? Beliau menjawab : “Yang selamat itu ialah golongan yang selalu menjalani agama sesuai dengan caraku dan para Shahabatku menjalaninya.” (HR. At-Tirmidzi hadits ke-2641)

 

Maka kepemimpinan negara, bangsa, ummat, masyarakat, keluarga dan individu haruslah merujuk kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits dengan penafsiran para Shahabat Nabi dan para Tabi’in.

 

  1. Kepemimpinanitu adalah amanah dari Allah Ta’ala  kepada siapa saja yang ditaqdirkan oleh-Nya untuk memegang kendali kepemimpinan itu. Dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala  di hari kiamat nanti tentang pelaksanaan kepemimpinan tersebut. Karena itu kendali kepemimpinan itu harus diberikan kepada orang yang beriman kepada Allah Ta’ala  dan Rasul-Nya dan beriman pula kepada adanya hari kiamat. Kepemimpinan itu tidak boleh diberikan kepada orang yang ingkar kepada Allah Ta’ala  dan Rasul-Nya dan ingkar kepada hari kiamat. Allah Ta’ala  memperingatkan kaum Mu’minin :

“Hanyalah pimpinan kalian itu adalah Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang menegakkan shalat dan menunaikan zakat, dan mereka selalu tunduk kepada syari’at-Nya. Maka barangsiapa yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman itu sebagai pimpinannya, maka sesungguhnya golongan Allallah yang akan menang. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang yang menjadikan agama kalian sebagai bahan untuk diperolok-olok dan dipermainkan, dari kalangan orang-orang Ahlul Kitab (Yakni Yahudi dan Nashara) dan orang-orang kafir lainnya. Dan bertaqwalah kalian kepada Allah kalau memang kalian ini adalah orang yang beriman. Maka tanda yang nampak dengan kasat mata tentang orang-orang kafir itu adalah : Bila kalian ajak mereka untuk menunaikan shalat, maka mereka menjadikan ajakan ini sebagai bahan untuk diperolok-olok dan dipermainkan, karena memang mereka adalah kaum yang tidak berakal.” (QS. Al-Maidah ayat 55-58)

 

Juga telah ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam kepada Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu ketika dia meminta jabatan kepada beliau : “wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau ini orang yang lemah. Padahal kepemimpinan itu adalah amanah, dan sesungguhnya kepemimpinan itu di hari kiamat akan menjadi kerendahan dan penyesalan bagi yang diberi kendali kepemimpinan itu. Kecuali mereka yang mengambil kendali kepemimpinan itu dengan cara yang benar dan menunaikan kemestiannya dalam menjalankan kepemimpinannya itu.” (HR. Muslim dalam Shahihnya hadits ke-1825 dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu)

 

  1. Target kepemimpinan itu adalah mencapai kesejahteraan ummat baik dhahir maupun batin dalam kehidupan di dunia dan menyelamatkan ummat dari petaka dhahir dan batin. Kemudian mewariskan kesejahteraan itu kepada generasi sesudahnya. Serta menciptakan kehidupan dunia yang memberikan masa depan yang cerah di akhirat bagi kaum Muslimin. Hal ini telah ditegaskan oleh Allah Ta’ala  dalam firman-Nya berikut ini :

“Seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa kepada Allah Ta’ala , niscaya Kami bukakan bagi mereka barakah dari langit dan dari bumi.” (QS. Al-A’raf ayat 96)

 

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam bersabda :

“Barangsiapa yang menjadikan kesejahteraan dunia sebagai keinginannya yang paling besar, maka Allah akan menceraiberaikan segala urusannya, dan dijadikan kefakiran selalu membayang-bayangi kedua matanya, dan tidak akan datang kesejahteraan dunia kepadanya kecuali yang telah ditaqdirkan datang kepadanya. Dan barangsiapa yang menjadikan kesejahteraan akhirat sebagai keinginannya yang paling besar, maka Allah Ta’ala  akan satukan segala urusannya dan Allah jadikan rasa kaya di hatinya dan kesejahteraan dunia itu akan datang kepadanya, meskipun dunia itu tidak suka untuk datang kepadanya.” (HR. Ibnu Majah dalam Sunannya hadits nomor 4105 dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu , Al Imam Muqbil bin Hadi Al-Wadi’ie –rahimahullah- menshahihkan hadits ini dalam Al-Jami’us Shahih jilid 1 halaman 42-43)

 

Shahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam yang bernama Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu menerangkan :

“Wahai anak Adam, kalian sangat memerlukan kesejahteraan dunia. Akan tetapi keperluanmu kepada kesejahteraan akhirat lebih besar. Kalau kalian mengutamakan kesejahteraan akhirat, niscaya kesejahteraan duniamu akan mengikutimu. Oleh karena itu aturlah perjuanganmu untuk mencapai kesejahteraan akheratmu dengan sebaik-baiknya. Dan bila kalian mengutamakan kesejahteraan dunia, niscaya akan hilang kesempatanmu mendapatkan kesejahteraan akhirat, dan kalian akan terus-menerus dalam bahaya kehilangan kesejahteraan dunia.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Tamimiyah jilid 28 halaman 396)

 

Allah Ta’ala  mengingatkan tentang bahayanya pemimpin yang jahat yang hanya berorientasi kepada kepentingan dunia dan mengabaikan kepentingan akhirat :

“Dan bila Kami ingin membinasakan suatu negeri, maka kami jadikan penguasa bagi penduduk negeri itu orang-orang yang congkak, sehingga penguasa itupun memimpin mereka untuk membikin kemaksiatan di negeri tersebut, sehingga Kami binasakan negeri itu dengan sebinasa-binasanya.” (QS. Al-Isra’ ayat 16)

 

Juga Allah Ta’ala  menegaskan tentang orientasi kepemimpinan itu ada yang berorientasi kepada kesejahteraan duniawi saja dan ada yang berorientasi kepada dunia akhirat. Masing-masingnya akan mendapatkan apa yang diinginkannya dengan izin Allah., namun yang berorientasi kepada akherat, tentu lebih utama dan lebih tinggi derajatnya :

“Barangsiapa menginginkan hanya keuntungan duniawi, maka Kami akan segerakan keuntungan itu baginya di dunia ini dengan kadar yang Kami kehendaki bagi siapa yang Kami inginkan. Kemudian setelah itu Kami jadikan baginya neraka Jahanam yang dia akan masuk kepadanya dengan terhina dan berdesak-desakan. Dan barangsiapa ingin kesenangan akhirat dan berupaya untuk mencapainya dengan sungguh-sungguh dan dia dalam keadaan sebagai orang yang beriman, maka sungguh segala upaya perjuangannya itu akan di balas dengan sebaik-baik pembalasan. Masing-masing golongan baik mereka yang ingin dunia saja dan ataupun mereka yang ingin akhirat, Kami akan berikan dengan pemberian dari Tuhanmu. Dan pemberian Tuhanmu itu tidak akan dapat dihalangi oleh siapapun. Lihatlah bagaimana Kami utamakan yang lainnya. Dan sesungguhnya keberuntungann di akhirat itu lebih tinggi derajatnya dan lebih besar keutamaannya.” (QS. Al-Isra’ ayat 18-21)

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan : “Bukannya niat yang baik terhadap rakyat atau berbuat baik kepada mereka ialah memberikan kepada mereka apa saja yang mereka maukan, serta meninggalkan apa saja yang mereka tidak menyukainya. Akan tetapi berniat dan berbuat baik kepada rakyat itu ialah mengerjakan apa saja yang bakal menjadi kemanfaatan bagi mereka dalam perkara agama mereka maupun dalam perkara dunia mereka. Meskipun perkara yang bermanfaat itu tidak disukai oleh sebagian rakyat.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah jilid 28 halaman 364)

 

  1. Kepemimpinan bangsa dan negara itu harus mengedepankan kemaslahatan ummat daripada kemaslahatan pribadi atau kelompok. Karena itu dituntunkan dalam kepemimpinan itu haruslah lebih mengutamakan kesabaran dalam menyikapi kekurangan yang adal pada pemimpin maupun kekurangan yang ada pada rakyatnya. Karena kalau kekurangan yang ada pada pemimpin itu disikapi dengan memberontak kepadanya, maka hal ini akan menghancurkan keamanan ummat Islam sehingga mengancam kemaslahatan ummat. Demikian pula bila pemimpin tidak cenderung memaafkan kekurangan yang ada pada rakyatnya, maka sangat dikuatirkan pemerintah itu akan selalu memperlakukan rakyatnya sebagai musuh, sehingga hancurlah kemaslahatan ummat bahkan akan dapat mengancam eksistensi pemerintah dan negara itu. Hal ini telah ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam dalam sabdanya :

 

“Barangsiapa yang melihat pada pimpinannya sesuatu yang tidak disukainya, maka hendaklah dia sabar. Karena barangsiapa yang keluar dari jama’ah (yakni keluar dari ketaatan kepada penguasa Muslimin dan menjadi pemberontak) walaupun satu jengkal saja, kemudia dalam keadaan demikian dia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah (yakni matinya seperti keadaan orang di zaman jahiliyah yang biasa hidup tanpa tunduk kepada pemerintah manapun).” (HR. Muslim dalam shahihnya hadits ke-1849 dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

 

  1. Kepemimpinan dalam Islam harus menegakkan keadilan terhadap lawan dan kawan. Karena keadilan yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya tidak mengenal batas agama, kawan atau lawan, suku ataupun bangsa. Kedhaliman terhadap siapapun adalah perangai yang amat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, meskipun kedhaliman terhadap orang kafir. Hal ini telah ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya sebagai berikut :

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian sebagai orang-orang yang menegakkan persaksian dengan adil. Dan janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum itu menyebabkan kalian berbuat tidak adil. Tetaplah kalian berbuat adil, karena berbuat adil itu lebih dekat kepada ketaqwaan. Dan bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Tahu dengan apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al Ma’idah ayat 8)

 

Juga Allah Ta’ala menegaskan kebencian-Nya kepada perbuatan dhalim, sebagai berikut :

“Dan balasan terhadap perbuatan yang jelek, haruslah dengan kejelekan yang setimpal, namun barangsiapa memaafkan (yakni memaafkan kedhaliman orang lain terhadap dirinya) dan kemudian memperbaiki hubungan dengan pihak yang mendhaliminya, maka pahalanya akan menjadi tanggungan Allah. Sesungguhnya Allah tidak suka orang-orang yang dhalim (yakni orang-orang yang bila didhalimi, cenderung membalas dengan melampaui kedhaliman yang pernah dia terima). “(QS. Asy-Syura ayat 40)

 

  1. Nasehat, teguran dan peringatan harus terus disampaikan kepada penguasa. Dan nasehat serta teguran dan peringatan kepada penguasa itu haruslah dilakukan dengan kemurnian niat untuk Allah Ta’ala semata. Rakyatpun juga harus dinasehati dengan penuh ketulusan karena Allah semata. Para Ulama’ juga perlu ditegur dan diingatkan bila terjatuh dalam kekhilafan. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam dalam sabda beliau berikut ini :

“Agama itu adalah nasehat, agama itu adalah nasehat, agama itu adalah nasehat. Kami tanyakan: “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “agama itu nasehat untuk Allah (Yakni mengikhlaskan pengamalan agama hanya untuk-Nya), dan Rasul-Nya (yakni mentaatinya), dan untuk Kitab-Nya (yakni membenarkannya dan kemudian mentaatinya), dan untuk para pimpinan kaum Muslimin (yakni Umara’nya dan Ulama’nya), dan untuk kaum Muslimin (yakni nasehat untuk segenap kaum Muslimin).” (HR. Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)

About Salafiyyin

Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh konten blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil, serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,..

Discussion

No comments yet.

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,071 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]

%d bloggers like this: