Al Ustadz Ja'far Umar Thalib, Artikel Islami

Artikel Islam : [Bag. 4/4] Tuntunan Syariah Dalam Berpolitik


TUNTUNAN SYARIAH DALAM BERPOLITIK
Penulis : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib  حفظه الله 

TUNTUNAN SYARI’AH ISLAMIYYAH DALAM MENGHADAPI KEADAAN DARURAT (lanjutan)

Bila kaum Muslimin telah hancur akhlaqnya dan hidupnya telah jauh dari bimbingan ilmu agamanya, maka Allah akan memunculkan penguasa yang jahat pada mereka. Hal ini telah diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam kepada Hudzaifah sebagaimana riwayat berikut ini :

“Hudzaifah bin Al-Yaman berkata : Aku katakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, kami dulu di masa jahiliyah dalam keadaan kejelekan, kemudian Allah datangkan kebaikan Islam, dan kami sekarang ada padanya. Lalu apakah di balik kebaikan Islam ini akan datang masa kejelekan?” Beliau menjawab: “Ya memang akan datang lagi masa kejelekan itu.” Hudzaifah bertanya lagi: “Apakah setelah masa kejelekan itu akan datang kebaikan lagi?” Beliau menjawab: “Ya akan datang masa kebaikan kedua setelah kejelekan itu.” Hudzaifah bertanya lagi : “Apakaj setelah masa kebaikan kedua itu akan datang lagi masa kejelekan ketiga?” Beliau menjawab : “Ya akan datang lagi masa kejelekan ketiga.” Hudzaifah bertanya lagi : “Apakah setelah kejelekan ketiga itu akan datang kebaikan?” Beliau menjawab: “Ya akan datang lagi kebaikan.” Selanjutnya Hudzaifah bertanya lagi : “Apakah setelah kebaikan itu akan datang lagi masa kejelekan keempat?” Beliau menjawab : “Ya akan datang lagi kejelekan keempat setelah itu.” Hudzaifah bertanya lagi : “Bagaimana kejelekannya?” Beliau menjawab : “Akan datang sepeninggalku para penguasa yang tidak mau mengambil petunjuk dari petunjukku dan tidak pula mau mengambil ajaran dari ajaranku. Dan akan memegang kekuasaan di kalangan mereka, orang-orang yang hati mereka adalah hati setan tapi tubuhnya tubuh manusia.” Hudzaifah menyatakan : Aku bertanya : “Lalu apa yang harus aku lakukan wahai Rasulullah bila aku hidup di masa yang seperti itu?” Beliau menjawab : “Tetaplah engkau mendengar dan taat terhadap penguasamu walaupun punggungmu dicambuk oleh penguasa itu dan hartamu dirampas. Maka tetaplah engkau mendengar dan taat kepada penguasa itu.” (HR. Muslim dalam Shahihnya hadits ke 1847)

Bahkan ditanyakan pula oleh Hudzaifah kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam, bagaimana bersikap kalau tidak ada Jama’atul Muslimin (yakni tidak ada penguasa karena negaranya sudah bubar berhubung terjadi kekacauan yang dahsyat pada kaum Muslimin). Maka Beliau membimbing: “Berlepas dirilah kamu dari berbagai kelompok masyarakat yang sedang bersaing untuk berebut kekuasaan itu. Walaupun kamu dalam pengasinganmu itu terpaksa menggigit pokok pohon (karena kelaparan) sehingga maut menjemputmu, dan kamu dalam keadaan tetap tidak terlibat dengan berbagai kelompok itu.”

Dalam kondisi darurat itu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam sangat menekankan untuk kita berpegang teguh dengan kesabaran dalam menjaga keamanan dan kemaslahatan umum demi tetap tegaknya pemerintahan yang ada dan menjaga kewibawaan penguasanya.

Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam sangat keras sikapnya terhadap kaum Khawarij. Dimana kaum pembangkang ini selalu mengobarkan kemarahan kaum Muslimin terhadap pemerintahannya untuk memicu berbagai kekacauan sosial politik dengan alasan agama demi mencapai kekuasaan, atau dalam istilah mereka dikatakan “Demi Mendirikan Khilafah Islamiyah” atau dengan kata lain “Demi Menegakkan Syari’ah Islamiyah”. Mereka inilah yang menjadi sumber fitnah di kalangan kaum Muslimin, sehingga keberadaan mereka di masyarakat Muslimin akan menjadi bahaya laten yang mengancam keamanan dan stabilitas keamanan Negara Muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam menuntunkan sikap tegas terhadap kaum Khawarij ini sebagai berikut : “Akan keluar suatu kaum di akhir zaman (dikalangan kaum Muslimin –pent), dimana mereka ini usianya muda dan dungu dalam berfikir. Mereka mengatakan dari perkataan sebaik-baik perkataan, namun iman mereka tidak melewati tenggorokan mereka (yakni imannya tidak sampai ke hati, hanya dilisan saja –pent). Mereka ini terlepas dari agama sebagaimana anak panah terlepas dari tubuh hewan yang terkena anak panah itu. Dimana saja kalian menemui mereka, maka bunuhlah mereka. Karena membunuh mereka itu ada pahalanya di hari kiamat nanti bagi siapa yang berhasil membunuhnya.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya hadits ke-6930)

Al-Imam Al-Bukhari menyatakan : “Dan Ibnu Umar memandang mereka ini sebagai sejahat-jahat makhluk Allah.” Beliau menyatakan : “Sesungguhnya mereka ini mencari ayat-ayat Al-Qur’an yang pernah turun kepada Nabi untuk menjelaskan tentang keadaan orang-orang kafir, namun ayat-ayat itu mereka jadikan sebagai ayat-ayat yang berbicara tentang kaum Muslimin.”

Al Hafidh Ibnu Hajar Al-Asqalani menerangkan : “Amat besar petaka yang diakibatkan oleh gerakan mereka ini, dan semakin merembet kemana-mana kesesatan mereka, sehingga mereka menganggap tidak adanya hukum rajam terhadap orang yang berzina dalam keadaan telah menikah. Mereka memotong tangan pencuri sampai ke ketiak (padahal dalam Islam tangan pencuri itu dipotong sampai pergelangan tangan –pent), dan mereka mewajibkan shalat atas wanita yang sedang berhaid. Mereka menganggap kafir siapa saja dari kaum Muslimin yang mempunyai kekuatan namun tidak menunaikan kewajiban amar ma’ruf (menyeru kepada kebaikan) dan nahi munkar (mencegah kemungkaran), namun kaum Muslimin yang tidak mempunyai kekuatan, dianggap berdosa besar kalau tidak menjalankan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar. Mereka juga menganggap kafir setiap Muslim yang melakukan dosa besar. Mereka menahan diri untuk tidak menyentuh harta orang kafir dzimmi secara mutlaq, namun mereka menghukumi orang Islam dengan membunuhnya dan menawannya serta merampas harta Muslimin. [1]

Maka dari itu, kaum muslimin diajari untuk tetap sabar dalam menjunjung tinggi kewibawaan penguasanya, meskipun keadaan akhlaq penguasa telah sangat rusak dan sangat dhalim. Namun adanya penguasa dan pemerintahan yang demikian masih tetap lebih baik di banding kalau bubar pemerintahan itu karena berbagai pemberontakan dan pembangkangan umum rakyatnya yang termakan oleh fitnah rivalitas politik.

Namun bila terjadi bubarnya negara atau pemerintahan, maka kaum Muslimin dituntunkan untuk menyelamatkan diri dan dari perbuatan membunuh sesama Muslimin. Sehingga dituntunkan dalam keadaan demikian untuk lari ke gunung-gunung dan mengasingkan diri disana dan tidak melibatkan diri dalam perebutan kekuasaan yang sedang berkecamuk diantara sesama kaum Muslimin. Di saat demikian dituntunkan untuk banyak berdo’a dan banyak beribadah kepada Allah Ta’ala dan kalaupun didatangi oleh seorang Muslim  yang menyerang dengan senjatanya maka bersabarlah untuk menjadi seorang Muslim yang dibunuh saudaranya daripada membunuh saudaranya. Demikian dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam : “Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu menceritakan :” Telah berwasiat kepadaku Abul Qasim (Yakni Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam) bila aku mendapati fitnah yang diberitakan oleh Beliau bakal terjadi. Agar aku memecahkan pedangku (agar aku tidak ikut bertempur), dan kemudian aku duduk di rumahku. Maka bila ada yang masuk kerumahku dari Muslimin yang saling membunuh itu, maka aku pun akan bersembunyi di gudang makananku. Dan bila ternyata dia masuk kepadamu di gudang itu, maka beliau menasehatkan kepadaku : Berlututlah kamu pada kedua lutumu dan katakan kepada Muslim yang akan membunuh engkau. Silahkan engkau tanggung dosaku dan dosamu, sehingga engkau akan menjadi penghuni neraka, yang demikian itu adalah balasan bagi orang yang berbuat dhalim.” (HR. Ahmad dan Bazzar dalam Musnad keduanya).

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam sangat menganjurkan untuk tetap sabar menahan diri dari godaan membunuh sesama Muslim dalam suasana fitnah itu. Beliau menasehatkan : “Sesungguhnya orang yang berbahagia itu adalah orang yang dijauhkan dari fitnah, sesungguhnya orang yang berbahagia itu adalah orang yang dijauhkan dari fitnah, sesungguhnya orang yang berbahagia itu adalah orang yang dijauhkan dari fitnah, dan juga orang yang berbahagia itu adalah orang Islam yang ditimpa petaka fitnah itu dan tetap sabar untuk tidak terlibat dengan fitnah itu. Wahai betapa bahagianya orang yang demikian ini.” (HR. Abu Dawud dalam Sunnannya)

Dijauhkan dari fitnah itu ialah tidak terlibat secara langsung atau tidak langsung dalam perang saudara antara sesama Muslimin. Di saat demikian ini seorang Muslim di tempat pengasingannya dituntunkan untuk banyak beribadah kepada Allah Ta’ala dan banyak berdo’a kepada Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam bersabda : “Beribadah kepada Allah di zaman banyak pembunuhan di antara sesama kaum Muslimin adalah seperti nilai ibadah hijrah kepadaku.” (HR. Muslim, Tirmidzi dan lain-lainnya)

Juga Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam bersabda: “Akan terjadi fitnah, tidak akan ada yang bisa selamat darinya kecuali orang yang banyak berdo’a dengan penuh ketulusan seperti do’anya orang yang akan tenggelam minta tolong supaya selamat dari maut.” (HR. Al-Hakim dalam Mustadraknya)

Maka dalam suasana darurat yang paling genting itu, setiap Muslim sangat diperingatkan untuk jangan membunuh seorang Muslimpun. Adapun berjihad untuk memerangi musuh-musuh Islam dari kalangan orang-orang kafir, maka tetap yang demikian itu sangat dianjurkan dalam segala keadaan, bila kaum Muslimin mempunyai kemampuan untuk itu. Hal ini telah ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam :

“Akan menimpa kalian fitnah bagaikan kegelapan di malam yang kelam. Orang yang paling selamat di saat itu ialah seorang Muslim yang tinggal dipegunungan dan makan dari berternak kambing. Atau juga termasuk orang yang paling selamat di saat fitnah itu, adalah seorang Muslim yang memegang tali kekang kudanya untuk menungganginya dalam berjihad memerangi musuh dari kalangan orang-orang kafir, dan hidupnya dengan memakan dari hasil rampasan perang yang diperolehnya dengan pedangnya.” (HR. Al-Hakim dalam Mustadraknya, beliau menshahihkan hadits ini dan Adz-Dzahabi menyetujui penshahihan beliau ini )
PENUTUP

Sesungguhnya sikap politik seorang Muslim itu adalah merupakan bagian dari prinsip agamanya. Bila seorang Muslim keliru dalam mengambil sikap politiknya, maka Iman dan Islamnya akan sangat terancam rusak. Sedangkan kerusakan Iman dan Islam seseorang Muslim itu akan merusakkan masa depannya di akherat kelak. Maka dari itu sikap politik kaum Muslimin, sesungguhnya dibangun di atas kesabaran dalam mentaati bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman para Shahabat Nabi dan Tabi’in, serta sabar menahan diri dari godaan melanggar garis-garis politik yang telah ditetapkan oleh Syari’ah Islamiyah, dan juga sabar dalam menerima cobaan perlakuan buruk penguasanya yang dhalim terhadap hak pribadinya demi menyelamatkan kepentingan bangsa dan negaranya atau dengan kata lain demi menyelamatkan kepentingan Ummat Islam.

-oOo-

(Dinukil dari Majalah Salafy Edisi 07/TH V/1429 H/2008M , Penulis Al-Ustadz Ja’far Umar Thalib)

 

[1]Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani, jilid 2 halaman 285, Al-Maktabah As-Salafiyah, tanpa tahun.

 

Download PDF (lengkap) : Tuntunan Syariah Dalam Berpolitik

About Salafiyyin

Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh konten blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil, serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,..

Discussion

One thought on “Artikel Islam : [Bag. 4/4] Tuntunan Syariah Dalam Berpolitik

  1. Betul untuk menasehati pemimpin harus bijak. Namun Syariat Nabi terdahulu adalah khusus bagi umat tertentu, sementara syariat islam adalah syariat umum yang menasakh syariat-syaiat terdahulu. Kita tidak mengikuti syariat Musa, juga tidak mengikuti Syariat Nabi Adam yang boleh menikahkah kakak beradik….

    Posted by 'Aisyiyah | 12 July 2016, 6:06 AM

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,071 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]

%d bloggers like this: