Al Ustadz Ja'far Umar Thalib, Artikel Islami

Artikel Islam : Pejuang Ideal Dalam Pandangan Allah Ta’ala


Bismillah…

Artikel Islami

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَ فِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْئٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانُ

Dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam telah bersabda: “Seorang Mu’min yang kuat, lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada Mu’min yang lemah dan semua mereka (yang kuat maupun yang lemah) ada kebaikannya. Berupayalah untuk mencapai apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan kamu lemah semangat untuk meminta kepada-Nya. Dan bila kamu ditimpa suatu malapetaka maka janganlah kamu menyatakan: Seandainya aku lakukan hal ini dan itu niscaya kejadiannya akan begini dan begitu. Akan tetapi mestinya kalian katakan: Qaddarallahu ma sya’a fa’al (artinya: Kejadian ini adalah perkara yang telah Allah taqdirkan. Apa yang Dia kehendaki, maka pasti akan terjadi). Karena kata : “Seandainya ……” adalah kata yang membukakan pintu bagi amalan setan.” (HR. Muslim dalam Shahihnya hadits ke 2664 / 34).

KOSA KATA

اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ

: “Orang yang beriman yang kuat.” Yakni orang yang beriman kepada Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dengan kekuatan semangat untuk beramal bagi kebaikannya di dunia dan akherat.

خَيْرٌ وَأَحَبُّ

“Lebih baik dan lebih dicintai.” Yakni lebih baik kedudukannya di sisi Allah dan lebih dicintai oleh-Nya. Karena lebih banyak pahala dan keutamaan Allah yang dapat diraihnya dan lebih banyak peluangnya untuk beramal dengan amalan-amalan yang dicintai oleh Allah. Yaitu amalan-amalan yang membutuhkan keberanian dan kesungguhan serta keistiqamahan dalam segala tempat dan keadaan.

إِلَى اللهِ

“Bagi Allah Ta`ala.” Yakni kebaikan dan cinta bagi orang mu’min yang kuat itu datangnya dari sisi Allah Ta`ala. Kebaikan dari-Nya itu ialah pahala, rahmat dan keutamaan-Nya. Sedangkan cinta dari-Nya itu ialah Dia mencintai hamba-Nya dengan cara cinta yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.
الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ

“Orang beriman yang lemah.” Yakni orang yang beriman tetapi lemah kemauannya untuk meraih amalan-amalan yang paling utama.

فِي كُلٍّ خَيْرٌ

“Dan pada semuanya ada kebaikan.” Yakni baik pada Mu’min yang kuat maupun pada Mu’min yang lemah, pada kedua golongan Mu’min tersebut terdapat kebaikan pada masing-masingnya. Karena kedua golongan tersebut sama-sama mempunyai iman.

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ

“Berupayalah dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu.” Yakni berupayalah dengan sungguh untuk beramal dengan amalan yang bermanfaat bagi duniamu dan akhiratmu dengan bersungguh-sungguh mentaati Allah Ta`ala.

وَاسْتَعِنْ بِاللهِ

“Dan minta tolonglah kamu kepada Allah Ta`ala.” Yakni minta tolonglah kamu kepada-Nya untuk menjalankan segala upayamu untuk meraih segala keutamaan dan rahmat-Nya. Karena tanpa pertolongan-Nya, kamu tidak akan mampu menjalankan segala upayamu itu.

وَلاَ تَعْجِزْ

“Dan janganlah kamu lemah.” Yakni janganlah engkau malas atau lemah semangat dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Dan jangan lemah semangat pula dalam meminta pertolongan dari-Nya.

وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْئٌ

“Dan bila menimpa engkau sesuatu.” Yakni bila menimpamu apapun dari kejadian yang tidak kamu senangi. Yang sering dinamakan musibah.

لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا

“Seandainya aku lakukan niscaya akan terjadi demikian dan demikian.” Yakni berandai-andai setelah datangnya musibah, dengan menyatakan bahwa seandainya aku lakukan ini dan itu niscaya keadaannya akan begini dan begitu dan tidaklah terjadi musibah ini.

قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“Allah telah taqdirkan apa yang Dia kehendaki terjadi.” Yakni ucapan ini sebagai ganti kalimat berandai-andai dalam musibah. Sehingga dengan mengucapkan kalimat tersebut dan menahan lisan untuk tidak mengucapkan kalimat berandai-andai, maka akan tertutuplah peluang setan untuk menumbuhkan di hati orang yang terkena musibah itu berbagai sangka buruk kepada Allah Ta`ala yang menaqdirkan terjadinya musibah itu dengan keadilan-Nya dan hikmah-Nya yang maha sempurna.

فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانُ

“Karena sesungguhnya ‘seandainya’ adalah kata yang membuka amalan setan.” Yakni dengan orang yang terkena musibah itu mengucapkan kata-kata ‘seandainya’ dalam berandai-andai, maka setan akan berpeluang untuk membisik-bisikkan kepadanya berbagai sangkaan buruk kepada Allah Ta`ala.

(Demikian kami terangkan kata-kata tersebut dengan bersandar kepada keterangan Al-Imam An-Nawawi dalam kitabnya Al-Minhaj fi Syarah Shahih Muslim bin Al-Hajjaj, juz 16 hal. 163 – 164).

BEBERAPA PELAJARAN PENTING 

1). Menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menunaikan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya adalah amalan yang perlu kekuatan mental dengan segala sisinya. Karena untuk kita dapat mewujudkan ketaatan itu, harus menempuh perjuangan menghadapi berbagai tantangan dan halangan dari dalam diri kita sendiri maupun dari luar diri kita. Kekuatan mental dalam perjuangan menghadapi semua itu adalah anugerah Allah Ta`ala kepada kaum Mu’minin. Tanpa anugerah Allah, tentu kita tidak tahan menghadapi godaan dan halangan itu. Bahkan kita akan sesat dari jalan Allah Ta`ala dan berbuat dhalim. Hal ini dinyatakan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya sebagai berikut:

يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللهُ الظَّالِمِيْنَ وَيَفْعَلُ اللهُ مَا يَشَاءُ

“Allah mengokohkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang kokoh dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan akherat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang dhalim. Allah berbuat apa saja yang Dia maukan.” (Ibrahim: 27)

Perkataan yang kokoh itu maknanya ialah perkataan yang berbunyi La ilaha illallah (maknanya: Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah). Yaitu perkataan yang mengandung pernyataan keyakinan ketauhidan ibadah bagi Allah semata).

2). Bahkan Allah Ta`ala menjamin kaum Mu’minin dengan kekuatan untuk menghadapi berbagai manuver permusuhan iblis yang ingin menyesatkan kaum Mu’minin. Jaminan Allah itu dinyatakan oleh-Nya sebagai jawaban terhadap tekad iblis yang dinyatakan di hadapan-Nya dengan bersumpah akan menyesatkan bani Adam seluruhnya dari jalan Allah Ta`ala. Jaminan tersebut dinyatakan dalam firman-Nya sebagai berikut:

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلاَّ مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak akan dapat engkau wahai iblis menguasai mereka, kecuali mereka yang memang telah mengikuti jejakmu dari kalangan orang-orang yang menyimpang.” (Al-Hijr: 42)

3). Godaan dan penghadangan iblis serta para pengikutnya terhadap kaum Mu’minin dilakukan dengan berbagai macam cara, sebagaimana yang diterangkan oleh Allah dan Rasul-Nya berikut ini:

a). Godaan dengan hawa nafsu, sebagaimana hal ini diterangkan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya:

وَإِنَّ كَثِيْرًا لَيُضِلُّوْنَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِيْنَ

“Dan sesungguhnya kebanyakan orang akan menyesatkan yang lainnya dengan hawa nafsu mereka tanpa ilmu. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.” (Al-An’am: 119)

Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At-Thabari dalam tafsirnya menerangkan: “Para pimpinan kesesatan itu mendebat kalian adalah untuk menyesatkan pengikutnya dengan hawa nafsu mereka dengan tanpa ilmu, agar mengesankan kepada pengikutnya bahwa apa yang mereka ucapkan itu adalah benar. Padahal mereka itu tidak punya bukti kebenaran tentang apa yang mereka ucapkan, kecuali hanya mengikuti hawa nafsu mereka, dan dalam rangka sengaja melanggar dan menyelisihi perintah Allah dan laranganNya, dan dalam rangka mentaati para syaithan.” (Tafsir At-Thabari)

Abul Faraj Jamaluddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad Al-Jauzi Al-Qurasyi Al-Baghdadi rahimahullah menerangkan: “Yang dimaukan disini ialah bahwa mereka para pemimpin itu menyesatkan yang lainnya. Posisi demikian itu adalah kesesatan yang paling jauh. Karena siapa yang menyesatkan yang lainnya, pastilah dia adalah orang yang sesat dan tidaklah mesti orang yang sesat itu menyesatkan yang lainnya.” (Zadul Masir fi Ilmit Tafsir, Ibnil Jauzi).

Demikianlah kenyataannya, hawa nafsu itu menjadi kendaraan iblis dan tentaranya dalam melakukan gerakan penyesatan hamba-hamba Allah Ta`ala. Dan yang paling dekat dengan kesesatan model demikian ini adalah para pemimpin.

b). Godaan dengan mengesankan keindahan segala perkara yang sesat dan memanjangkan angan-angan, seakan-akan umur masih panjang sehingga semakin tenang dan berani dalam berbuat kemaksiatan dan berbagai kesesatan. Hal ini telah diberitakan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya sebagai berikut :

إِنَّ الَّذِيْنَ ارْتَدُّوْا عَلَى أَدْبَارِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَى لَهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang murtad berpaling dari agama Allah setelah jelas bagi mereka tentang petunjuk kepada kebenaran, maka setan pun memperindah perbuatan kedurhakaan mereka dan memanjangkan angan-angan mereka.” (Muhammad: 25)

c). Godaan dengan membangkitkan semangat mendebat kebenaran dengan cara mengandalkan kepandaian bersilat lidah. Hal ini telah diberitakan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya sebagai berikut:

وَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لَيُوْحُوْنَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوْهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُوْنَ

“Dan sesungguhnya para setan itu mengilhamkan (membisikkan) kepada orang-orang dekatnya berbagai perkataan untuk mendebat kalian. Dan bila kalian mentaati mereka, maka sesungguhnya kalian akan menjadi orang-orang musyrik.” (Al-An’am: 121).

d). Godaan dengan membangkitkan keberanian untuk berbicara tentang Agama Allah tanpa ilmu. Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأرْضِ حَلالا طَيِّبًا وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (١٦٨) إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ (١٦٩)

“Dan janganlah kalian mengikuti jejak langkah para syaithan. Sesungguhnya ia itu adalah musuh kalian yang nyata. Dia hanyalah memerintahkan kalian untuk kalian berbuat kejelekan dan kekejian dan dia menyuruh kalian untuk berkata tentang agama ini dalam perkara yang kalian tidak ada ilmu tentangnya.” (Al-Baqarah: 168 – 169)

e). Godaan dengan langsung mengondisikan hati, perasaan dan akal pikiran untuk membenarkan dan menuruti tuntunan syaithan. Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dalam sabda beliau sebagai berikut:

إِنَّ شَيْطَانَ يَجْرِيْ مِنْ اِبْنِ آَدَمِ مَجْرَى الدَّمِ

“Sesungguhnya syaithan mengalir pada urat nadi anak Adam.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya, Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya, Abu Dawud dalam Sunannya, dari Anas bin Malik)

Al-Manawi menerangkan dalam Al-Faidhul Qadir jilid 2 hal. 358 sebagai berikut: “Maknanya ialah bahwa syaithan itu mampu untuk menyimpangkan dan menyesatkan anak Adam dengan kemampuan yang sempurna dan mampu berbuat dalam upaya penyesatannya dengan kemampuan yang paling hebat.”

Setelah itu Al-Manawi membawakan keterangan Ibnu Abbas yang dibawakan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya sebagai berikut:

“Tidaklah seorang anak Adam lahir kecuali di hatinya sudah ada bisikan-bisikan syaithan. Maka bila dia beramal shalih dan berdzikir kepada Allah, maka syaithan yang membisikkan itu akan mengkerut (yakni tidak membisikkan lagi). Dan apabila anak Adam itu lupa dari berdzikir, maka syaithan itupun melanjutkan aksinya untuk terus membikin bisikan-bisikan jelek.”

f). Godaan dengan cara membikin fitnah perpecahan di kalangan kaum Muslimin. Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam berikut ini:

قَالَ ابْنُ نَمِيْرٍ رضي الله عنه: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ شَيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدُوْهُ الْمُصَلُّوْنَ وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيْشِ بَيْنَهُمْ

“Ibnu Namir radliyallahu `anhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya syaithan telah berputus asa untuk mengajak orang yang shalat untuk menyembahnya. Akan tetapi dia tidaklah putus asa dalam membikin perpecahan di kalangan kalian.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya jilid 3 hal. 313)

g). Godaan dengan cara menghalangi hamba Allah Ta`ala yang ingin berislam dan ingin mencapai amalan-amalan yang termulia, yaitu jihad dan hijrah. Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dalam sabda beliau berikut ini:

إِنَّ شَيْطَانَ قَعَدَ ِ لإِبْنِ آَدَمَ بِأَطْرُقِهِ فَقَعَدَ لَهُ بِطَرِيْقِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ: تُسْلِمْ، وَتَذَرُ دِيْنَكَ وَدِيْنَ أَبَائِكَ وَآَبَاءِ آَبَائِكَ؟ فَعَصَاهُ، فَأَسْلَمَ، ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيْقِ الْهِجْرَةِ فَقَالَ: تُهَاجِرُ أَرْضَكَ وَسَمَائِكَ؟ وَإِنَّمَا مَثَلُ مُهَاجِرِ كَمَثَلِ الْفَرَسِ فِي الطِّوَلِ فَعَصَاهُ، فَهَاجَرَ. ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيْقِ الْجِهَادِ فَقَالَ: تُجَاهِدُ؟ فَهُوَ جَهْدُ النَّفْسِ وَالْمَالِ فَتُقَاتِلُ فَتُقْتَلُ فَتُنْكِحُ الْمَرْأَةُ وَيُقْسِمُ الْمَالُ؟ فَأَصَاهُ فَجَاهَدَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ قُتِلَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَإِنْ غَرِقَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَإِنْ قَصَتْهُ دَآبَّتُهُ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya syaithan duduk menghadang di jalan-jalan hidupnya anak Adam. Syaithan duduk di jalan menuju Islam. Maka dia pun menyatakan kepada ibnu Adam yang hendak menempuh jalan itu: <Mengapa engkau mau masuk Islam, apakah engkau mau meninggalkan agamamu dan agama bapakmu dan agama kakek buyut kamu?!> Maka anak Adam itupun menentang ajakan syaithan itu sehingga iapun masuk Islam. Kemudian setelah dia masuk Islam, syaithan duduk di jalan hijrah. Maka ketika anak Adam itu berangkat untuk berhijrah, syaithan pun menyatakan kepadanya: <Apakah engkau akan hijrah meninggalkan tanah airmu, permisalan tentang orang yang berhijrah itu hanyalah seperti kuda yang ditambatkan (yakni berputar-putar dan tidak bisa lepas dari tanah airnya)!> Tetapi si Mu’min tersebut tidak mau menuruti omongan syaithan tersebut dan ia terus berangkat hijrah. Kemudian syaithan duduk di jalan jihad. Maka ketika si Mu’min itu mau berangkat jihad, syaithan menyatakan kepadanya: <Apakah engkau akan berjihad, dan ia berarti jihad dengan jiwa ragamu, akibatnya engkau akan berperang sehingga engkau akhirnya terbunuh. Kalau begitu nanti setelah engkau mati, maka harta bendamu akan dibagi-bagi sebagai harta warisan dan istrimu akan menjadi janda sepeninggalmu sehingga ia akan dinikahi orang lain?!> Maka si Mu’min itu tidak mau menuruti omongan syaithan tersebut sehingga dia terus berangkat jihad. Maka barangsiapa yang berbuat demikian, Allah mewajibkan diri-Nya untuk memasukkannya ke sorga. Dan siapa dari orang yang berbuat demikian ini terbunuh, maka Allah telah wajibkan diri-Nya untuk memasukkannya ke sorga. Dan siapa yang berbuat demikian ini tenggelam (di laut atau di sungai) dalam perjalanan menuju medan jihad, maka juga Allah wajibkan diri-Nya untuk memasukkannya ke sorga. Juga kalau dari mereka ini mati karena dilempar atau diinjak oleh kuda atau untanya, maka Allah telah mewajibkan diriNya untuk memasukkannya ke sorga.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya, An-Nasa’i dalam Sunannya, Ibnu Hibban dari Saburah bin Abi fakah).

Demikian beragam godaan iblis dan anak buahnya untuk menghadang dan menyimpangkan kaum Mu’minin dari jalan agama Allah Ta`ala yaitu agama Islam. Lebih-lebih lagi diberitakan oleh Allah Ta`ala bahwa mereka itu dapat mengintai manusia dari posisi yang manusia tidak dapat melihat mereka (Surat Al-A’raf 27). Juga diberitakan oleh Allah Ta`ala bahwa jumlah mereka lebih banyak dari jumlah kaum Mu’minin baik dari kalangan manusia dan jin (Al-An’am 128).

Maka dengan berbagai kelemahan manusia dan dengan kenyataan demikian gigihnya iblis dan kaumnya untuk menyesatkan segenap manusia dan jin dari jalan Allah Ta`ala, amat nyata bagi kita semua bahwa untuk menghadapi semua itu dan untuk tetap istiqamah di jalan Allah, kita semua amat membutuhkan kekuatan dalam menolak berbagai godaan itu. Sehingga pantaslah kalau Mu’min yang kuat lebih dicintai Allah daripada Mu’min yang lemah.

PENUTUP

Bila kita telah mengerti berbagai kelemahan diri kita sebagai manusia dalam menghadapi segenap godaan musuh-musuh kita dan penghadangan mereka agar kita menyimpang dari jalan Allah, dan bila kita juga telah mengerti betapa banyaknya sarana dan prasarana para musuh kita dalam melakukan berbagai godaan dan penghadangan itu, maka mestinya kita tahu bahwa pada dasarnya kita ini tidak mampu dan tidak kuat menghadapi berbagai manuver iblis dan anak buahnya itu. Oleh karena itu kita perlu mendapatkan bantuan kekuatan dari pihak yang mempunyai kekuatan yang tak tertandingi oleh siapapun. Dan pihak yang mempunyai kekuatan demikian hanyalah Allah Ta`ala semata. Sedangkan pertolongan kekuatan dari Allah untuk menghadapi iblis dan tentaranya hanyalah dapat diperoleh dengan iman dan beramal shalih yang diridlai oleh-Nya. Adapun untuk mencapai iman dan amal shalih itu, hanyalah melalui ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah serta beramal dengannya. Dengan kekuatan yang demikian itulah seorang Mu’min akan mampu berlaga memukul mundur dan membikin serangan balik terhadap iblis dan tentaranya. Mu’min yang demikian inilah yang lebih dicintai oleh Allah Ta`ala.

Penulis : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib  حفظه الله
Diposting ulang dari Artikel : http://www.majalahsalafi.wordpress.com

About Salafiyyin

Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh konten blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil, serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,..

Discussion

No comments yet.

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,071 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]

%d bloggers like this: