Al Ustadz Ja'far Umar Thalib, Artikel Islami

Artikel Islam : Musuh-Musuh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah


Bismillah…

Artikel Islami

 

Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah simbol para Ulama’ Ummat Islam yang mempunyai semangat pemahaman agama yang merujuk kepada As-Sunnah (yakni segenap ajaran Nabi Muhammadshallallahu `alaihi wa alihi wasallam) dan kepada Al-Jama’ah (yakni pemahaman para Shahabat Nabi terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah). Pada prinsipnya mayoritas Ummat Islam adalah pengikut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dengan asumsi bahwa pada dasarnya Ummat Islam itu adalah orang yang memuliakan Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dan memuliakan pula para Shahabat Nabi. Dan yang demikian ini adalah sikap mayoritas Ummat Islam. Pandangan yang demikian ini telah dinyatakan oleh para Ulama’ Ahlul Hadits, antara lain oleh As-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’ie rahimahullah. Beliau mengatakan :

“Sesungguhnya kalian, wahai Ahlus Sunnah wal Jama’ah, adalah mayoritas Ummat Islam di dunia ini. Karena itu kalian adalah pihak yang sepantasnya membuat perubahan positif pada Ummat Islam.”

Dengan prinsip yang demikian ini, maka apa yang dikatakan sebagai musuh Ahlus Sunnah wal Jama’ah berarti juga sebagai musuh Ummat Islam. Karenanya para musuh itu sesungguhnya merupakan musuh bersama Ummat Islam dan bukan musuh kelompok tertentu saja. Itulah sebabnya tulisan ini disuguhkan kepada segenap pembaca yang budiman, untuk kita memahami medan pertempuran yang sedang berkecamuk di dunia ini.

MISI PERJUANGAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Sebelum kita mengenal musuh-musuh itu, kita perlu mengenali dari dekat tentang misi perjuangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Sehingga diharapkan dengan demikian, kita dapat mengenali pula betapa bahayanya berbagai gerakan musuh Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu. Misi perjuangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah juga misi perjuangan mayoritas Ummat Islam. Karena itu misi perjuangan ini adalah perjuangan dari Ummat, untuk kepentingan Ummat, oleh Ummat. Adapun misi perjuangan tersebut adalah sebagai berikut: 

1). Mengajarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya kepada segenap manusia baik Muslimnya maupun orang-orang kafirnya. Tentu yang diajarkan ialah pemahaman para Shahabat Nabi dan para Tabi’in terhadap Al-Qur’an dan Al-Hadits itu. Dan tidaklah pemahaman-pemahaman lain yang sangat banyak aneka ragamnya.

2). Mempelopori pengamalan Al-Qur’an dan Al-Hadits dengan pemahaman demikian dalam kehidupan sehari-hari.

3). Membersihkan berbagai kekeliruan pemahaman dan penyimpangan dari pemahaman para Shahabat dan Tabi’in terhadap Al-Qur’an dan Al-Hadits, dalam bentuk bid’ah, syirik dan segala tahayyul dan khurafat.

Dengan ketiga misi perjuangan ini, Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang berciri khas sebagai berikut:

1). Para pejuangnya mempunyai ilmu dan bashirah (yakni kepekaan dalam memahami situasi dan kondisi ataupun dalam memperhitungkan kejadian yang akan datang). Karena perjuangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dilancarkan di atas ilmu dan bashirah.

2). Para ulama’ sebagai rujukan dan sekaligus bimbingan dalam menjalankan tiga misi perjuangan tersebut di atas.

3). Tidak mengekor atau bertaqlid kepada siapapun dalam memahami dan mengamalkan agamanya. Karena Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa tidak ada yang ma’shum kecuali Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam. Selain beliau tetap mempunyai kemungkinan untuk bersalah.

4). Yang dinamakan ilmu itu hanyalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, sedangkan yang lainnya adalah berbagai pengetahuan yang harus ditundukkan kepada keduanya dan dikontrol oleh keduanya. Karena semua orang wajib mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sedangkan ilmu-ilmu selain keduanya kewajibannya sesuai dengan keperluan kaum Muslimin untuk kemaslahatan kehidupannya di dunia dan paling jauh dalam kewajibannya adalah wajib kifayah.

5). Shabar dan istiqamah dalam melancarkan misi perjuangan dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip utama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam segala keadaan.

6). Ikhlas dalam perjuangannya untuk Allah semata dan tidak untuk yang lain-Nya. Dalam rangka mengikhlaskan perjuangan ini, maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah sangat tegas dalam perkara ketauhidan dan sangat anti pati terhadap segala bentuk perbuatan syirik.

7). Al-Ittiba’ yakni selalu mengikuti tuntunan Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dalam segala perkara. Oleh karena itu Ahlus Sunnah wal Jama’ah selalu menjunjung tinggi As-Sunnah An-Nabawiyah dan menentang Al-Bid’ah Adl-Dlalalah.

8). Sangat mengutamakan persatuan dan kesatuan Muslimin di atas prinsip-prinsip Al-Qur’an dan As-Sunnah An-Nabawiyah serta menentang segala bentuk perpecahan dalam berpegang teguh dengan keduanya.

9). Dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan tersebut, Ahlus Sunnah wal Jama’ah sangat gigih menyerukan kepada kaum Muslimin untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan cara pemahaman As-Salafus Shalih dan tidak menyimpang dari mereka. Sebab salah satu sumber utama perpecahan ummat Islam itu ialah bila terjadi kesimpangsiuran pemahaman terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah.

10). Merujukkan pemahaman Islam kepada As-Salafus Shalih, yakni generasi para Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam yang mereka ini belajar Islam langsung dari beliau, kemudian generasi para Tabi’in sebagai genarasi Muslimin yang belajar Islam dari para Shahabat. Dan generasi Tabi’it Tabi’in sebagai generasi Muslimin yang belajar Islam dari para Tabi’in. Tiga generasi tersebut dinamakan As-Salafus Shalih. Generasi-generasi inilah yang selamat dari dominasi bid’ah dan syirik dalam pemahaman maupun pengamalan mereka terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena Allah dan Rasul-Nya memuji mereka sebagai sebaik-baik generasi.

11). Membangkitkan semangat kaum Muslimin untuk mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan cara yang benar, sebagai satu-satunya solusi segala problem Ummat Islam di seluruh dunia.

12). Memerangi dan memberantas segala bentuk kemusyrikan, kebid’ahan dan kemaksiatan sebagai sumber-sumber kesialan dan malapetaka atas kaum Muslimin. Memerangi dan memberantasnya itu maksudnya adalah membebaskan kaum Muslimin dari kungkungannya.

Demikianlah beberapa langkah misi perjuangan dan ciri khas Ahlus Sunnah wal Jama’ah dimanapun mereka berada dan kapanpun mereka hidup serta siapapun dia dengan berbagai latar belakang bangsa, suku dan budayanya.

BEBERAPA BENTUK PENJEGALAN DAN PENGHADANGAN

Adalah merupakan Sunnatullah di dalam kehidupan ini bahwa perjuangan di jalan Allah itu harus berhadapan dengan berbagai bentuk penjegalan dan penghadangan. Hal ini telah dinyatakan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya:

“Demikianlah Kami jadikan bagi setiap Nabi itu, musuh dalam bentuk setan dari kalangan manusia maupun dari kalangan jin yang saling mengilhamkan satu dengan lainnya omongan-omongan palsu yang menipu. Seandainya Tuhanmu berkehendak, niscaya mereka tidak akan melakukannya. Oleh karena itu, biarkanlah mereka berbuat dengan berbagai kepalsuan yang mereka lakukan. Yang demikian itu Kami jadikan adalah agar condong kepada mereka hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat dan agar mereka ridla dengan berbagai kepalsuan itu dan agar mereka semakin tenggelam dalam berbagai penyimpangan itu.” (Al-An’am: 112 – 113)

Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam menjelaskan:

“Tidaklah seorangpun membawa ajaran seperti yang aku bawa, kecuali mesti dia dimusuhi (oleh masyarakatnya).” (Ibnu Katsir berkata: Diriwayatkan oleh Al-Bukhari juz 1 hal. 22 danMuslim juz 1 hal. 139. Keduanya dari hadits Ummul Mu’minin Aisyah radliyallahu `anha, lihatTafsir Ibnu Katsir juz 3 hal. 388)

Demikianlah sunnatullah, bahwa jalan perjuangan ini penuh perlagaan melawan musuh-musuh dakwah di dunia ini. Sehingga dimanapun dan kapanpun serta siapapun yang mengibarkan bendera perjuangan Dakwah Salafiyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, pasti akan berhadapan dengan musuh-musuh dakwah dan pasti akan menghadapi berbagai bentuk penjegalan dan penghadangan dari para musuh-musuh dakwah itu.

Oleh karenanya, kita perlu mengenali dari dekat berbagai bentuk penjegalan dan penghadangan terhadap dakwah ini, agar kita lebih dini dalam menyiapkan mental dalam menghadapinya. Bentuk-bentuk penjegalan dan penghadangan itu antara lain adalah sebagai berikut:

1). Mencerca para pejuang dakwah tersebut, untuk menjauhkan kaum Muslimin dari dakwah yang diserukannya. Hal ini diceritakan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat jahat itu, mereka selalu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang Mu’min itu lewat di hadapan mereka, maka mereka pun saling memberi isyarat ejekan terhadap kaum Mu’minin. Dan apabila mereka kembali pulang ke rumahnya, mereka pulang dengan perasaan besar diri. Dan apabila mereka melihat kaum Mu’minin, merekapun menyatakan: Sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang sesat.” (Al-Muthaffifin: 29 – 32).

2). Mendengki terhadap segala kenikmatan dan kemuliaan yang Allah berikan kepada para pejuang dakwah ini dan senang bila musibah menimpa para pejuang itu. Hal ini telah diceritakan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya sebagai berikut:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang dari     selain kalian sebagai orang dekat kalian. Karena mereka itu tidak kurang-kurangnya semangat mereka untuk menimpakan kepada kalian berbagai malapetaka. Mereka sangat kuat ambisinya untuk menyulitkan kalian. Sungguh telah nyata kebencian mereka kepada kalian dari mulut-mulut mereka dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih besar. Sungguh Kami telah terangkan kepada kalian bukti-bukti tersebut bila memang kalian adalah orang-orang yang berakal. Kalau kalian mencintai mereka, maka mereka sesungguhnya tidak mencintai kalian. Padahal kalian beriman kepada segenap isi Al-Qur’an ini. Apabila mereka berjumpa dengan kalian, maka mereka pun akan menyatakan: Kami beriman. Dan apabila mereka sendirian dengan sesama mereka, maka mereka pun menggigit jari mereka karena menahan kemarahan mereka kepada kalian. Katakanlah kepada mereka: Mampuslah kalian dengan berbagai kemarahan kalian. Sesungguhnya Allah Maha Tahu apa saja yang terbetik di hati. Bila kalian mendapat keberuntungan, merekapun merasa sakit hati, dan bila kalian mendapat malapetaka, merekapun gembira karenanya. Akan tetapi bila kalian dalam menghadapi sekala sikap mereka itu dengan tetap bersabar dalam mentaati Allah dan tetap bertaqwa kepada-Nya, maka segala makar mereka itu tidak akan merugikan kalian sama sekali. Sesungguhnya Allah Maha menguasai segala apa yang mereka lakukan.” (Ali Imran: 118 – 120).

3). Melakukan upaya pengkaburan agama dengan menyimpangkan segala pengertian agama kepada apa yang dimaukan oleh hawa nafsunya. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya sebagai berikut:

“Maka celakalah bagi orang-orang kafir dengan ancaman adzab yang pedih. Yaitu orang-orang yang lebih mencintai kehidupan dunia daripada kehidupan akherat dan menghalangi manusia dari jalan Allah serta mengupayakan untuk menyimpangkan jalan Allah itu. Mereka yang demikian itu dalam kesesatan yang jauh.” (Ibrahim: 2 – 3).

Juga firman Allah Ta`ala yang menegaskan:

“Dan orang-orang kafir itu pimpinan mereka ialah para thaghut (setan), yang mengeluarkan mereka dari cahaya kebenaran kepada kegelapan. Mereka itulah para penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 257).

4). Mencegah kaum Mu’minin untuk berdzikir kepada Allah di masjid-masjid Allah dan mencegah mereka untuk mempelajari agama-Nya dan merusakkan masjid-masjid itu secara maknawi maupun secara hakiki. Padahal masjid adalah salah satu simbol utama pelaksanaan agama Allah dan peribadatan kepada-Nya. Hal ini dinyatakan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya berikut ini:

“Dan siapakah yang lebih dhalim dari orang-orang yang melarang orang untuk berdzikir kepada Allah di masjid-masjid-Nya dan berupaya untuk merusakkan masjid-masjid itu. Maka akibat kejahatan mereka itu, mereka dihukum dengan tidak akan memasuki masjid-masjid itu kecuali dalam keadaan takut dan hina. Mereka di dunia ini akan mendapatkan kehinaan dan di akhirat nanti akan mendapat adzab yang besar.” (Al-Baqarah: 114).

Cara mereka mencegah kaum Muslimin untuk berdzikir di masjid-masjid Allah itu bisa jadi dengan melarangnya secara langsung tanpa alasan yang syar’i, atau melarangnya dengan alasan yang seolah-olah syar’i. Umpamanya dengan dugaan bahwa majlis dzikir yang ada di masjid itu diajarkan padanya berbagai kesesatan. Padahal itu hanya dalam bentuk dugaan belaka tanpa didasari oleh kepastian ilmiah untuk membikin dugaan itu. Yang demikian ini adalah bentuk-bentuk pelarangan kaum Muslimin untuk berdzikir di masjid-masjid Allah yang akan diancam dengan kehinaan di dunia dan adzab yang berat di akherat.

5). Menakut-nakuti kaum Muslimin untuk beriman dan berislam dengan berbagai kengerian resiko beriman dan berislam itu. Cara ini dilakukan oleh para setan untuk mencegah adanya arus kegairahan beriman dan berislam di kalangan manusia dan jin. Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya berikut ini:

“Hanyalah para setan itu selalu menakut-nakuti para pengikutnya atau menakuti kalian dengan para pengikutnya. Oleh karena itu, janganlah kalian takut mereka tetapi hendaklah kalian hanya takut kepada-Ku bila kalian memang benar-benar sebagai orang yang beriman.” (Ali Imran: 175)

Bahkan diberitakan oleh Allah Ta`ala tentang alasan mengapa kaum musyrikin Arab itu menolak beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam, sebagaimana pernyataan mereka sendiri:

“Dan mereka berkata: Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami diusir dari negeri kami.” (Al-Qashas: 57).

Jadi bayangan ketakutan kehilangan dunia terus menghantui orang-orang yang ingin beriman dan berislam. Sehingga orang yang setengah-setengah dalam niatnya ingin beriman dan berislam, akan terpelanting dari jalan Allah ini. Atau minimal orang yang telah beriman dan berislam, akan dijangkiti oleh perasaan rendah diri dan penuh kekuatiran dalam menyatakan keimanan dan keislamannya.

Demikianlah berbagai bentuk penjegalan dan penghadangan yang dilakukan oleh musuh-musuh dakwah ini dalam peperangan yang mereka lancarkan terhadap misi perjuangan Dakwah Salafiyah Ahlis Sunnah wal Jama’ah.

P E N U T U P

Hidup di dunia memang adalah medan perlagaan antara pengikut hidayah dan taufiq Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam berhadapan dengan para pengikut setan yang menghendaki untuk menyimpang dari hidayah dan taufiq Allah Ta`ala. Hanya orang yang dibimbing oleh hidayah dan taufiq Allah saja yang akan keluar sebagai pemenang dalam perlagaan ini. Orang-orang yang tidak mendapatkan hidayah dan taufiq itu, akan larut dalam berbagai manuver syaithaniyah yang selalu menjauhkan orang yang masuk dalam perangkapnya dari jalan Allah dan Rasul-Nya. Semoga kita semua diselamatkan oleh Allah Ta`ala dari berbagai jebakan kesesatan para tentara setan itu dan selalu melaimpahkan kepada kita semua hidayah dan taufiq-Nya. Aamiin ya mujibas sailin.

Ditulis oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib hafizhahullah
Dicopy dari : http://majalahsalafi.wordpress.com/2014/06/29/musuh-musuh-ahlus-sunnah-wal-jamaah/

About Salafiyyin

Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh konten blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil, serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,..

Discussion

No comments yet.

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,171 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]

%d bloggers like this: