Al Ustadz Ja'far Umar Thalib, Artikel Islami

Materi Khutbah : Iedul Adha Adalah Pendidikan Untuk Menta’ati Syari’ah Allah


Bismillah …

Artikel Islami

Iedul Adlha ma’nanya  adalah hari raya penyembelihan hewan kurban. Iedul Adlha disyariatkan oleh Allah Ta’ala untuk dirayakan di setiap tahun. Diantara hikmahnya ialah untuk mengingatkan kita kepada peristiwa besar dalam sejarah para Nabi, yaitu peristiwa keta’atan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ketika diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk menyembelih putranya yang bernama Ismaiel ‘alaihis salam. Peristiwa besar ini telah diceritakan di dalam Al Qur’an dan As Sunnah secara rinci, lengkap dengan pelajaran yang dapat kita ambil dari peristiwa tersebut. Allah Ta’ala berfirman (artinya) :

“Maka kaumnya berkehendak untuk membuat makar jahat terhadap dia (Ibrahim ‘alaihis salam), dan Kami jadikan mereka (yakni kaumnya Nabi Ibrahim) sebagai pihak yang hina. Dan berkatalah Ibrahim: Sesungguhnya aku berhijrah kepada Tuhanku, dimana Dia akan menunjuki aku kepada jalan yang benar. Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku anak turunan yang shaleh. Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan akan lahirnya anak laki-laki yang bijak. Maka setelah lahirnya anak laki-laki itu kemudian tumbuh besar, sehingga ia mulai dapat membantu ayahnya dalam menjalankan berbagai pekerjaan, berkatalah Ibrahim kepada putranya yang mulai beranjak remaja itu : Hai anakku, aku melihat dalam mimpi ketika aku tidur bahwa aku diperintah oleh Allah untuk menyembelihmu, maka coba kau pikirkan bagaimana menurut pandanganmu ? Anak muda itupun menjawab : Wahai ayahku, kerjakanlah apa saja yang Allah telah perintahkan kepadamu, engkau akan mendapati aku insyaallah termasuk orang-orang yang sabar.  Maka ketika keduanya (Ibrahim dan putranya ‘alaihimas salam) telah pasrah untuk menunaikan perintah Allah dan anaknya disiapkan untuk disembelih dengan ditelungkupkan pada wajahnya (sehingga rencananya sang anak akan disembelih dari tengkuknya karena tidak tega menatap wajahnya), Kami memanggilnya : Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah benar menunaikan  perintah yang ada dalam mimpimu, sesungguhnya demikianlah caranya Kami membalas ketaatan orang-orang yang baik. Sesungguhnya yang demikian itu adalah cobaan yang nyata. Dan Kami jadikan pengganti bagi penyembelihan anak Ibrahim itu dengan kambing yang besar dan gemuk. Dan Kami jadikan peristiwa ketaatan yang luar biasa yang dilakukan oleh Ibrahim dan putranya itu sebagai sejarah yang dikenang dengan penuh pujian bagi generasi yang datang belakangan. Pujian istimewa bagi Ibrahim. Demikianlah Kami membalas orang-orang yang berbuat kebaikan. Sesungguhnya dia adalah dari hamba-hamba Kami yang beriman”.(Q S. As Shaaffat 98 – 111).

Lebih lengkap lagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam menceritakan sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dalam riwayat Ahmad dalam Musnadnya (hadits ke 2707), bahwa ketika Isma’il ditelungkupkan oleh Ibrahim untuk disembelih, maka Isma’il menyatakan kepada ayahnya : Wahai ayah, aku mempunyai jubah putih hanya yang aku pakai sekarang ini. Karena itu, sebaiknya aku lepas dulu jubahku ini agar bisa nanti engkau pakai sebagai kain kafanku untuk membungkus jenazahku. Maka ketika Isma’il melepas jubahnya, maka Ibrahim dipanggil dari belakangnya oleh Malaikat : Wahai Ibrahim engkau telah menunaikan dengan benar perintah yang ada dalam mimpimu. Maka Ibrahim pun menoleh ke belakang dan beliau mendapati kambing kibas berwarna putih yang menyenangkan bila dipandang”. Hadits ini dishahihkan oleh Al Allamah Ahmad Syakir rahimahullah.

Demikianlah perintah Allah Ta’ala yang datang kepada Nabi Ibrahim dalam mimpi beliau. Dan sesungguhnya mimpi seorang Nabi itu adalah pasti sebagai wahyu dari Allah Ta’ala. Adapun mimpi selain Nabi maka harus dilihat dengan Syariat Allah. Bila mimpi itu tidak melanggar Syariat-Nya, maka boleh dijalankan. Tetapi bila mimpi itu melanggar Syariat-Nya, maka mimpi itu harus diabaikan. 

Al Imam Qatadah bin Di’amah rahimahullah (beliau adalah murid senior Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma) menerangkan : “Mimpi para Nabi itu adalah benar, apabila mereka melihat dalam mimpinya itu satu perintah, maka mereka segera melakukannya”.

Al Imam Muqatil bin Hayyan rahimahullah (murid Al Imam Qatadah bin Di’amah) menerangkan : “Bahwa Ibrahim bermimpi diperintah menyembelih Isma’il dengan mimpi berulang-ulang tiga kali dalam tiga malam berturut-turut”.

Peristiwa ketaatan Nabi Ibrahim dan putranya yaitu Nabi Isma’iel, menjadi teladan bagi kita kaum Mu’minin dalam beragama. Dimana bila agama memerintahkan sesuatu, meskipun perintah itu bertentangan dengan akal dan perasaan, maka perintah itu harus dilaksanakan. Dan sebaliknya bila agama telah melarang suatu perkara, meskipun perkara yang dilarang itu disenangi oleh akal dan perasaan, maka perkara itu harus ditinggalkan. Sehingga dengan ketaatan Nabi Ibrahim ini, Allah Ta’ala telah menjadikannya sebagai teladan bagi segenap kaum Mu’minin sampai hari kiamat. Dan Allah Ta’ala memuji dan menyanjung Nabi Ibrahim ‘alaihis salam di dalam Al Qur’an. Allah Ta’ala berfirman menegaskan kemuliaan Ibrahim :

(Artinya)“Sesungguhnya Ibrahim itu adalah seorang pelopor ketaatan kepada Allah yang selalu condong kepada Tauhid dan dia tidak termasuk golongan orang-orang musyrik. Dia selalu bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmatNya, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya di dunia dengan kebaikan dan dia nantinya di akherat termasuk golongan orang-orang yang shaleh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (hai Muhammad), hendaknya engkau mengikuti agama Ibrohim yang condong kepada Tauhid dan dia sama sekali bukan dari kalangan orang-orang musyrik”. (QS. An Nahl 120 – 123).

Juga Allah Ta’ala telah menjadikan Ibrahim ‘alaihis salam sebagai suri tauladan dalam menjalankan ketauhidan kepada Allah Ta’ala, sebagaimana firmanNya berikut ini :

(artinya): ”Sungguh bagi kalian telah ada teladan yang baik pada diri Ibrahim dan para Nabi yang besertanya, dimana mereka menyatakan kepada kaumnya : Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan berlepas diri dari segala yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari sesembahan kalian selain Allah dan mulailah antara kami dengan kalian terjadi permusuhan dan kebencian selama-lamanya sehingga kalian mau beriman dengan beribadah kepada Allah semata….”. (QS. Al Mumtahanah 4).

Maka Ibrahim ‘alaihis salam adalah pelopor ketaatan kepada Allah Ta’ala dan pelopor keikhlasan tauhid dalam mempersembahkan ibadah kepada Allah Ta’ala. Dengan Iedul Adlha kaum Mu’minin diingatkan bahwa dalam sejarah gemilang para Nabi terdahulu, telah hadir sosok pemberani dan gigih serta istiqamah dalam mengajak manusia kepada Tauhidul Ibadah dan memberantas kemusyrikan di kalangan ummat manusia. Kita disuruh meneladani beliau dalam kesuksesannya menjadi pelopor ketaatan kepada Allah Ta’ala sampai mati. Karena memang keimanan dan keislaman kita tidak ada artinya apa-apa di dunia dan di akhirat kalau tidak dijiwai dengan ketaatan kepada syariat Allah Ta’ala.

Menyembelih Kurban Sebagai Amalan Ketaatan

Ada beberapa ketentuan dalam pelaksanaan ibadah menyembelih hewan kurban, dalam rangka mendidik ketaatan kaum Mu’minin kepada Allah Ta’ala. Beberapa ketentuan itu adalah sebagai berikut :

 

1. Dalam merayakan Iedul Adlha, kita dianjurkan untuk menyembelih hewan kurban dengan ikhlas karena Allah Ta’ala. Bahkan dicela orang yang mempunyai kemampuan menyembelih kurban namun tidak menyembelihnya. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dari Abi Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Barangsiapa mendapat kelapangan harta, kemudian dia tidak mau menyembelih kurban, maka janganlah ia mendekat ke tempat kami shalat Ied”. (HR. Ahmad dalam Musnadnya dan Ibnu Majah dalam Sunannya).

Al Hafidl Ibnu Hajar Al Asqalani menyatakan : Rawi-rawi hadits ini adalah orang-orang yang terpercaya, akan tetapi hadits ini diperselisihkan oleh para Ulama’ tentang apakah ini sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam ataukah perkataan Abu Hurairah. Namun tampaknya pendapat yang menyatakan bahwa hadits ini adalah perkataan Abu Hurairah, lebih tepat. Para Imam Ahlis Sunnah Wal Jama’ah menerangkan tentang hukum menyembelih kurban, antara lain Al Imam As Syafi’ie dan Jumhur Ulama’ menyatakan bahwa menyembelih kurban itu adalah sunnah mu’akkadah dan dalam riwayat lain menyatakan bahwa menyembelih kurban itu adalah fardlu kifayah.

Al Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa menyembelih kurban itu wajib atas orang yang mempunyai kemudahan rezeki dan tinggal di negerinya. Imam Malik menyatakan bahwa menyembelih kurban itu adalah wajib baik muqim maupun musafir yang mempunyai kelapangan rezeki. Demikian pula berpendapat, Imam Al Auza’ie, Rabi’ah dan Al Laits.

Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa makruh bagi orang yang lapang hidupnya, bila tidak menyembelih kurban. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Imam Ahmad menyatakan wajibnya menyembelih kurban atas orang yang lapang rezekinya”[1].

2. Ditegaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bahwa waktu penyembelihan kurban itu haruslah sesudah shalat Iedul Adlha. Demikian diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari dalam Shahihnya (hadits ke 5546) dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

“Barangsiapa yang menyembelih hewannya sebelum shalat Ied, maka itu adalah sembelihan untuk keperluan pribadinya (yakni bukan bernilai kurban), akan tetapi yang menyembelihnya sesudah shalat Ied, maka sungguh dia telah sempurna ibadah kurbannya dan telah mencocoki sunnahnya kaum Muslimin”. (HR. Bukhari no. 5546)

3. Tempat penyembelihan kurban itu yang paling utama adalah di lapangan tempat dilaksanakannya shalat Ied. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam sebagaimana telah diberitakan hal ini oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhumasebagaimana diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari dalam Shahihnya hadits ke 5552. Tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam juga menganjurkan kaum Muslimin untuk menyembelih kurban di tempatnya masing-masing. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari (hadits ke 5560) dari Al Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

“Sesungguhnya yang pertama kita lakukan di hari raya kita ini adalah kita melakukan shalat Ied berjama’ah, kemudian setelah itu kita pulang ke rumah masing-masing untuk kita sembelih hewan kurban kita”.

4. Hewan yang akan kita sembelih sebagai kurban haruslah hewan yang musinnah (yakni yang telah keluar gigi taringnya). Hal ini telah diterangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam dalam sabda beliau :

“Jangan kalian menyembelih hewan untuk kurban kecuali yang musinnah, kecuali bila kalian tidak mendapatkan yang musinnah maka boleh kalian menyembelih jadza’ah dari jenis kambing adl-dla’nu”. (HR. Muslim dalam Shahihnya, hadits ke 1963).

Al Fairuz Abadi dalam Qamus Al Muhith menyatakan bahwa adl-dla’nu (أَضعن) itu adalah semua jenis kambing yang selain kambing jawa (yakni selain kambing jawa adalah kambing domba).

Al Imam An Nawawi menerangkan : Jadza’ah dari jenis kambing domba ialah kambing yang berusia sempurna satu tahun. Berkata para Ulama’ bahwa yang namanya musinnah itu ialah hewan berkaki empat yang telah mulai keluar gigi taringnya baik dari kalangan onta, atau sapi atau kambing.

5. Hewan yang akan kita sembelih sebagai kurban haruslah sempurna keadaannya. Hal ini telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahihnya (hadits ke 5558) dari Anas bin Malikradhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam berkurban dengan dua ekor kambing kibas yang gemuk-gemuk, maka aku melihat beliau meletakkan telapak kaki beliau pada salah satu rusuk kambing itu kemudian beliau mengucapkan bismillah dan bertakbir dan beliau menyembelih kedua ekor kambing itu dengan tangan beliau.

Diriwayatkan pula oleh Al Imam Al Baihaqi dalam As Sunanul Kubra jilid 9 halaman 268, juga diriwayatkan oleh Al Imam At Thahawi dan Abu Ya’la dalam Musnadnya, bahwa Jabir bin Abdillah memberitakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam didatangkan kepadanya dua ekor kambing kibas yang gemuk dan besar dengan dua tanduk yang bulu tubuhnya berwarna putih bersih, kemudian salah satu dari kedua ekor kambing itu di tidurkan dan disembelih dengan mengucapkan Bismillahi Wallahu Akbar Allahumma ‘an Muhammad wa ummatihi man syahida laka bit tauhid wa syahida li bil balagh.

Bahkan telah diriwayatkan oleh Abu Dawud, An Nasa’ie, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad Darimi dalam Sunan mereka dan juga diriwayatkan oleh Malik dalam Muwattha’nya dan Ahmad dalam Musnadnya dari Al Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

“Empat jenis hewan yang tidak boleh dipersembahkan untu kurban, yaitu hewan yang rusak salah satu matanya yang nampak jelas kerusakan matanya itu, hewan yang sakit yang nampak jelas sakitnya, hewan yang pincang yang tampak jelas pincangnya, hewan yang pecah telingannya atau tulangnya yang nampak jelas cacatnya”.

6. Hewan kurban yang kita sembelih itu bukanlah seperti kedudukan zakat atau shadaqah dalam pembagiannya. Akan tetapi dia dibagi diantara keperluan makan keluarga dan memberi makan orang-orang miskin dan memberi hadiah bagi orang kaya atau teman dan tetangga, serta karib-kerabat handai taulan. Dan tidak boleh orang yang menyembelih kurban itu menjual salah satu bagian dari tubuh hewan kurban dan tidak boleh pula untuk biaya jasa penyembelihan. Hal ini sebagaimana telah diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau menyatakan : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam menyuruh aku untuk menyembelih seekor onta sebagai hewan kurban dan beliau memerintahkan kepadaku untuk aku membagikan kulitnya dan kakinya dan aku tidak memberi dari bagian hewan kurban itu sedikitpun untuk biaya bagi tukang sembelihnya. Akan tetapi kami memberinya dari harta kami sendiri”.

Diriwayatkan pula oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau menyatakan : Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

“Barangsiapa yang menjual kulit hewan kurbannya, maka dia dianggap tidak berkurban”. (HR Al Hakim dalam Mustadraknya dan beliau menyatakan bahwa hadits ini shahih).

7. Pembagian daging hewan kurban, disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat. Bila dalam kondisi terjadi kelaparan atau dalam kondisi terjadi bencana sehingga banyak orang yang perlu diberi bantuan makanan, maka daging kurban harus dibagi habis ketika berakhir hari tasyrik (yaitu tiga hari setelah hari raya). Namun bila keadaan lapang dan masyarakat dalam kemakmuran, maka boleh daging hewan kurban disimpan sampai berapa lamapun sesuai dengan keperluan. Dalam hal ini telah diriwayatkan oleh Nubasyah Al Hudzali, beliau menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

“Kami dulunya melarang kalian untuk makan daging kurban lebih dari tiga hari, agar daging itu dibagi mencukupi semua kaum Muslimin. Namun sekarang Allah Ta’ala telah menjadikan kelapangan hidup bagi kalian. Oleh sebab itu sekarang silakan kalian makan daging kurban itu dan sebagiannya silakan disimpan dan sebagiannya lagi silakan dishadaqahkan. Ketahuilah sesungguhnya hari-hari ini adalah hari-hari makan dan minum dan berdzikir kepada Allah”. (HR. Ahmad dalam Musnadnya, hadits ke 20723).

Keutamaan  Menyembelih Kurban

Karena Syariat Allah Ta’ala ingin mendidik Ummat Islam meneladani ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam kepada Syari”at Allah, maka untuk membangkitkan semangat ummat dalam berkurban, telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam tentang keutamaan berkurban di sisi Allah Ta’ala. Dalam hal ini telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan At Tirmidzi dalam Sunan keduanya dari A’isyah  Ummul Mukmininradhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

“Tidaklah anak Adam beramal di hari raya kurban dengan amalan yang lebih baik dari amalan mengalirkan darah hewan kurban (dengan menyembelihnya). Dan sesungguhnya dari bagian tubuh hewan kurban itu akan datang di hari kiamat dengan tanduk-tanduknya dan kuku-kukunya dan rambutnya (sebagai bukti amalan shaleh yang dicintai oleh Allah) dan sesungguhnya darah hewan kurban yang disembelih itu akan jatuh ketempat di sisi Allah sebelum ia jatuh ke bumi. Oleh karena itu, perlakukanlah dengan baik hewan kurban itu dan perlakukanlah dengan baik dalam menyembelihnya”. Al Imam At Tirmidzi menyatakan bahwa hadits ini kedudukannya hasan gharib.

Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhubahwa beliau menyatakan : Aku katakan atau mereka katakan : Wahai Rasulullah apa sesungguhnya penyembelihan hewan-hewan kurban ini ? Beliau menjawab : “Ini adalah ajaran dari ayah kalian yaitu Ibrahim ‘alaihis salam”. Mereka bertanya lagi : Lalu apa pahalanya bagi kami dengan melakukan penyembelihan tersebut ? Beliau menjawab : “Pada setiap helai rambut hewan kurban itu ada pahala yang baik bagi kalian”. Mereka bertanya lagi : Kalau kambing domba ? Beliau menjawab : “Setiap helai rambut dari kambing domba itu ada pahala yang baik bagi yang menyembelih kurban itu”.

Penutup

            Demikianlah Iedul Qurban itu disyariatkan oleh Allah Ta’ala dengan Sunnah Nabi-Nya dalam rangka mendidik ummat untu meneladani kehidupan Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salam dalam menta’ati Allah Ta’ala dan dalam menyatakan Al Wala’ (loyalitas, kesetiaan dan kecintaan tunggal) untuk Allah dan Rasul-Nya dan menyatakan Al Bara’ (berlepas diri dan kebencian) terhadap  syirik serta kaum musyrikin dan terhadap bid’ah serta ahlul bid’ah. Iedul Qurban mengajarkan semangat berkurban dengan apa saja yang kita cintai dan apa saja yang kita punyai untuk menjunjung tinggi kemuliaan agama Allah dan Rasul-Nya dan sekaligus untuk beribadah kepada Allah semata dengan mengikhlaskan segala amalan ibadah itu untuk-Nya dalam rangka mengharap pahala hanya dari sisi-Nya. Iedul Qurban mengajarkan semangat kepedulian sosial dan semangat ukhuwah Islamiyah diantara kaum Muslimin dengan tidak membedakan status sosialnya. Iedul Qurban mendidik jiwa rahmah terhadap kaum Muslimin dan bahkan jiwa rahmah terhadap hewan, khususnya hewan yang akan dipersembahkan kepada Allah Ta’ala dalam ibadah Qurban.


1). Fathul Bari Syarah Shahih Al Bukhari, Al Hafidl Ibnu Hajar Al Asqalani, jilid 10 halaman 3.

Sumber : Majalah Salafy

About Salafiyyin

Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh konten blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil, serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,..

Discussion

No comments yet.

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,071 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]

%d bloggers like this: