Majalah Salafy

Artikel Islam : Membela Sunnah Nabawiyyah


Bismillah …

Artikel Islami

 

Hari ini, dengan linangan air mata kita menyaksikan tragedi yang menimpa kaum muslimin di mana-mana. Umat Islam dewasa ini telah ditimpa musibah hampir di segala bidang. Pengetahuan mereka terhadap syariat Islam semakin krisis. Hal ini merupakan kemerosotan yang luar biasa jika dibandingkan dengan jaman-jaman sebelumnya.

Namun alhamdulillah, sebagian besar kaum muslimin telah memahami kelemahan dan kemerosotan ini dan berlomba-lomba memperbaiki keadaan diri dan umatnya. Akan tetapi sungguh sangat disesalkan apabila mereka bergerak dengan semangat saja tanpa merujuk (berpegang) kepada al-kitab dan as-sunnah. Mereka masing- masing mencari dan memutuskan metode dan ide-ide baru (baca: bid’ah). Di mana yang setiap “ide” tersebut memiliki pendukung dan pengikut. Akhirnya muncullah musibah berikutnya yaitu pelecehan terhadap sunnah nabawiyyah, karena setiap ide bid’ah tidak akan pernah cocok dengan sunnah. Dan orang yang telah puas dengan bid’ah, tidak akan merasa perlu dengan sunnah.

Baiklah, marilah kita simak ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang masalah ini dalam kitabnya Iqtidla As-Shirathil Mustaqim: “… jika seorang hamba memenuhi beberapa kebutuhannya dengan selain amal-amal yang disyariatkan, akan berkurang keinginannya terhadap perkara-perkara yang disyariatkan. Dan berkuranglah manfaat yang dia peroleh, sesuai dengan banyaknya perkara baru (bid’ah) yang dia penuhi. Berbeda dengan seorang yang mengarahkan keinginan dan semangatnya pada yang disyariatkan. Maka sungguh akan semakin besar kecintaan dan manfaatnya yang dia peroleh, hingga makin sempurnalah agamanya dan makin lengkaplah keislamannya. Oleh karena itu engkau jumpai orang yang banyak mendengar sya’ir-sya’ir untuk memperbaiki hatinya, akan berkurang kemauannya untuk mendengarkan Al-Qur`an bahkan sampai tidak menyukainya. Seseorang yang banyak bepergian untuk berziarah ke tempat-tempat keramat atau sejenisnya, maka tidak akan tersisa di dalam hatinya kecintaan dan pengutamaan terhadap haji ke baitul haram sebagaimana kecintaan sesorang yang hatinya dipenuhi sunnah. Seseorang yang gandrung mengambil hikmah dan adab-adab dari tokoh-tokoh hikmah Romawi dan Persia, tidak akan tersisa tempat di dalam hatinya untuk mengambil hikmah-hikmah dan adab-adab Islam. Demikian pula seseorang yang gandrung terhadap cerita raja-raja dan perjalanan hidup mereka, tidak akan tersisa perhatiannya terhadap kisah-kisah para Nabi dan riwayat hidup mereka. Hal seperti ini sangat banyak terjadi.

Perhatikanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Tidaklah suatu kaum mengada-adakan satu kebid’ahan, kecuali Allah akan mencabut dari mereka satu sunnah yang sebanding dengannya (HR. Imam Ahmad 4/105 dan disebutkan oleh Imam Suyuthi dalam Jami’us Shaghir, juz 2 hal. 480 hadits no. 7790. Beliau berkata: hadits ini hasan, demikian dalam Tahqiq Iqtidla. Adapun Abdus Salam bin Barjas menyatakan bahwa sanad hadits ini lemah, lihat Al-Hujaj Al- Qawiyyah, hal. 86).

Hal ini akan didapati oleh seorang yang melihat dirinya dari kalangan orang berilmu, ahli ibadah, para pemerintah atau pun orang awam.” (Iqtidla As-Shirathil Mustaqim 1/483-484).

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu berkata:
Tidaklah suatu ummat mengada-adakan suatu bid’ah dalam Dien mereka, kecuali akan Allah angkat dari mereka suatu sunnatul huda dan tidak akan kembali selamanya. (diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr dalam kitab As-Sunnah, hal. 24; lihat Al-Hujaj Al-Qawiyyah, hal. 41).

Perhatikan pula ucapan Ahmad bin Sinan Al-Qaththan:
Tidak ada seorang mubtadi’ pun di dunia, kecuali ia membenci ahlul hadits. Jika seseorang mengada-adakan suatu bid’ah, maka akan dicabut kemanisan hadits (sunnah) dari hatinya. (diriwayatkan oleh Abu Utsman As-Shabuni dalam Aqidatus Salaf Ashabil Hadits, hal 116-117. Berkata Syaikh Badr Al-Badr dalam Tahqiqnya: Riwayat ini sanadnya hasan).

Demikian pula perhatikanlah ucapan Imam Al-Auza’i yang senada dengan ucapan di atas. Beliau berkata:
Tidak ada seorang pun dari ahlul bid’ah yang engkau ajak bicara dengan hadits yang tidak sesuai dengan bid’ahnya, kecuali dia mesti membenci hadits itu. (Diriwayatkan oleh Imam Al-Lalika`i, lihat Sallus Suyuf, hal. 84).
Dan masih banyak lagi ucapan para ulama yang senada yang menjelaskan bahwa pelaku bid’ah atau ahlul bid’ah pasti akan membenci sunnah sesuai dengan tingkat kebid’ahannya. Semakin tinggi kebid’ahannya, semakin tinggi pula kebenciannya terhadap sunnah dan ahlus sunnah. Fenomena ini telah nyata terbukti sejak dulu hingga sekarang ini.

Sebagai contoh kita lihat bagaimana permusuhan AMR BIN UBAID terhadap sunnah. Dia adalah seorang mu’tazili (berpemahaman Mu’tazilah atau rasionalis) yang tidak mau menerima dari syariat, kecuali jika cocok dengan akalnya. Maka dia sangat membenci kepada sunnah dan ahlus sunnah. Dia berkata tentang ilmu yang disampaikan Al-Hasan Al-Bashri dan Ibnu Sirin: “Tidaklah ucapan Al-Hasan dan Ibnu Sirin ketika kalian mendengarkannya, kecuali hanya secarik kain haid yang dibuang.” (Al-I’tisham, jilid 1 hal. 296).

Juga ucapannya tentang fikih dan para fuqaha: “Ilmunya Imam Syafi’i dan Abu Hanifah seluruhnya tidak keluar celana perempuan.” (Al-I’tisham hal. 433). Bahkan dia mengatakan tentang Ayyub As-Sikhtiyani dan Yunus bin ‘Aun At-Taimi (tokoh- tokoh ulama ahlus sunnah) dengan ucapan: “Mereka orang-orang kotor dan najis, mereka orang-orang mati dan tidak hidup.” (Al-I’tisham 1/295).

Demikian pula celaannya yang lain terhadap sunnah dan ahlus sunnah. Celaan- celaan seperti ini terucap kembali dari mulut orang-orang barisan rasionalis pengikut Amr bin ‘Ubaid dan barisan HIZBIYYUN yang menamakan dirinya HARAKAH ISLAMIYYAH. Mereka mengucapkan celaan-celaan terhadap sunnah dan ahlus sunnah seperti para pendahulunya. Di antaranya mereka mengatakan tentang ulama ahlus sunnah dengan sebutan ulama haid dan nifas. Atau mumi-mumi hidup yang berbicara tentang permasalahan-permasalahan kuno. Ucapan ini selain mencela ulama juga mencela apa yang mereka ajarkan, yaitu permasalahan fikih yang berkaitan dengan haid dan nifas serta masalah aqidah atau bantahan terhadap aliran bid’ah. Semua itu mereka anggap sebagai permasalahan kuno.

Ucapan-ucapan yang meremehkan ilmu fikih, hukum-hukum syariah, bantahan terhadap ahlul bid’ah atau dengan kata lain meremehkan sunnah muncul karena pemikiran bid’ah yang ada pada mereka yaitu usaha menggabungkan berbagai macam aliran dan pemahaman bid’ah ke dalam satu organisasi dan satu pimpinan dalam rangka mendirikan DAULAH ISLAMIYYAH. Pemikiran bid’ah ini muncul hampir pada setiap organisasi hizbiyyah. Di mana dengan pemikiran tersebut mereka menganggap bahwa bantahan terhadap ahlul bid’ah, membicarakan hukum-hukum fikih, bahkan berbicara tentang tauhid dan syirik atau tauhid asma` dan sifat sebagai perkara-perkara yang tidak penting. Ia hanya akan membuat perpecahan. Mereka kemudian menamakannya dengan istilah JUZ’IYYAH (perkara parsial), qusyur (kulit), atau furu’ (cabang).

Lihatlah ucapan DR. Yusuf Qardlawi: “Di antara bukti-bukti dangkalnya ilmu dan termasuk bentuk-bentuk kelemahan pandangan dalam Dien adalah kesibukan mereka dengan kebanyakan perkara-perkara juz’iyyah dan masalah-masalah furu’. Mereka justru melupakan perkara besar yang berhubungan dengan terbentuknya umat, sifat dan perjalanannya. Maka kita lihat kebanyakan mereka mendirikan dunia dan mendudukkannya (istilah yang bermakna usaha besar, pent) hanya karena masalah mencukur jenggot atau mengambil sebagiannya. Memanjangkan pakaian (lebih dari mata kaki), masalah menggerakkan jari tangan ketika tasyahud, membuat gambar-gambar fotographi atau yang seperti itu, dari masalah-masalah yang telah panjang perdebatan padanya. Dan banyak ucapan katanya dan katanya … dst.” (Dalam bukunya Shafwah Islamiyyah hal 70-71).

Lihat juga ucapan Ahmad Abdul Majid (tokoh Ikhwanul Muslimin): “Dalam masa DAKWAH dan TARBIYYAH, wajib untuk tidak menyibukkan diri atau menengok perkara-perkara juz’iyyah yang melalaikan dari yang penting, menyia-nyiakan kekuatan dan memasukkan para dai pada peperangan sampingan dan usaha yang berantakan.” (Ikhwan dan Abdun Nashr hal. 360).

Demikian pula perkataan DR. Abdullah ‘Azzam rahimahullah: “Akhirnya (pada saat ini) saya tidak berpendapat untuk membahas perkara-perkara juz’iyyah dalam Dien ini pada tingkah laku manusia seperti minum dengan tangan kanan, meninggalkan rokok, atau minum sambil duduk dan lain sebagainya dari perkara-perkara rinci.” (Aqidah wa Atsaruha fil Bina`il Jail, hal. 19).

Perhatikanlah! Bagaimana mereka meremehkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menganggapnya sebagai suatu yang melalaikan perkara yang penting dan menghilangkan kekuatan. Bahkan para ulama yang mengajarkan atau menulis buku tentang masalah-masalah fikih dianggap dangkal ilmu dan sempit pandangan Islamnya seperti yang dinyatakan Qardlawi di atas.

Lalu apakah yang mereka anggap penting! Sementara sunnah dianggap melalaikan? Apakah mereka meremehkan sunnah (mandub) untuk mementingkan yang wajib- wajib? Sungguh hal itu adalah suatu kekeliruan, karena minum dengan tangan kanan merupakan kewajiban, membiarkan jenggot merupakan kewajiban … dst.

Bahkan tokoh besar mereka Abul A’la Al-Maududi menganggap shalat, zakat, puasa, haji dan seterusnya hanya merupakan kurikulum latihan untuk menuju ibadah besar yang hakiki?! (Lihat Dasar-dasar Islam, Al-Maududi).

Kalau begitu apa yang mereka anggap penting? Mana yang lebih penting dari sunnah dan kewajiban? Mungkin yang mereka maksudkan adalah aqidah karena aqidah adalah dasar diterimanya semua amalan. Dengan aqidah kufur dan syirik akan gugur semua amalan. Tetapi ternyata dugaan ini keliru, karena mereka juga melecehkan aqidah dan meremehkan masalah tauhid. Mereka mengatakan bahwa pembahasan tauhid uluhiyyah, rububiyyah dan asma` wa sifat tidak akan menyelesaikan permasalahan umat.

Abdurrahman Abdul Khaliq (tokoh yang asalnya juga dari Ikhwan dan masih membawa pemikiran Ikhwan) berkata: “Kita dapati misalnya sebagian orang yang menamakan dirinya salafy atau salafiyyin. Mereka tidak mengerti aqidah salaf, kecuali hanya permasalahan-permasalahan yang terjadi pada enam, tujuh atau sepuluh tahun yang lalu. Mereka hanya tahu bagaimana menyelesaikan permasalahan tersebut. Maka mereka ini adalah salafy taqlidi yaitu yang berbicara dengan taqlid semata, bukan dengan ijtihad. Misalnya (mereka membicarakan pendapat) AL-QUR`AN ADALAH MAKHLUK dan bagaimana membantah orang yang mengatakan demikian, begini dan begini …. Padahal kita sekarang menghadapi permasalahan baru. Adapun permasalahan Al-Qur`an adalah makhluk sudah selesai.” (Dalam kaset Madrasah Salafiyyah, lihat Jama’ah Wahidah hal. 23).

Subhanallah! Apakah kaum muslimin pada hari ini sudah menjadi ahlus sunnah dalam pemahaman asma dan sifat Allah? Apakah perkara pendapat “Al-Qur`an adalah makhluk” dan yang sepertinya berupa penyelewengan asma dan sifat sudah selesai?

Dalam bukunya Khututh Ra`isiyyah, ia mengatakan: “… Dan pada hari ini –sayang sekali- kita memiliki syaikh-syaikh yang hanya mengerti qusyur (kulit) Islam yang setingkat dengan masa-masa lalu…” (lihat Jama’ah Wahidah hal. 40).

Lihatlah! Di antara mereka ada yang menjuluki sunnah dengan istilah Juz’iyyah (parsial). Sebagian yang lain menjulukinya dengan masalah furu’ (cabang) dan Abdurrahman menjulukinya dengan istilah qusyur (kulit). Semuanya bertujuan satu yaitu merendahkan dan meremehkan sunnah. Dan karena sebab yang sama pula mereka beranggapan adanya sesuatu yang lebih penting dari semua itu. Lebih dari masalah asma` dan sifat Allah, bahkan lebih dari masalah tauhid uluhiyyah atau rububiyyah yaitu wawasan politik yang diistilahkan IM dengan Tsaqafah Islamiyyah dan oleh Abdurrahmaniyyah diberi istilah shifatul ashr atau istilah sururiyyah fiqhul waqi’. Adapun istilah hizbiyyun yang berkembang di Indonesia dari kalangan NII dan berbagai pecahannya adalah tauhid mulkiyyah. Dan mereka menganggap bahwa tauhid ini lebih penting dari segalanya.

Apa yang mereka maksud dengan mulkiyyah? Bukankah para ulama ahlus sunnah telah membahas sifat mulkiyyah (pemilikian kekuasaan dan pengaturan) dalam tauhid rububiyyah?

Jelas! Yang mereka maksud bukan tauhid rububiyyah ataupun uluhiyyah. Yang mereka maksudkan adalah berdirinya “Khilafah Islamiyyah” model mereka serta semua pembahasan yang berhubungan dengannya. Itulah kurang lebih tauhid mulkiyyah menurut mereka dan dianggap lebih penting dari masalah fiqih sunnah dan aqidah.

Mereka terpengaruh dengan ucapan-ucapan tokoh-tokoh tadi. Di antaranya ucapan Abul A’la Al-Maududi: “Tujuan Dien yang hakiki adalah mewujudkan IMAMAH (khilafah) yang shalih dan lurus.” (Dalam kitabnya Al-Usus Al-Akhlaqiyyah hal. 22, lihat Manhaj Al-Anbiya oleh Syaikh Rabi’ hal 144). Ucapan ini diucapkan oleh hampir semua tokoh ikhwan dan hizbiyun dengan redaksi yang berbeda-beda.

Pemikiran mereka ini persis seperti apa yang diucapkan oleh penulis Syiah Imamiyyah Ibnu Muthahir yang berkata: “Amma Ba’du. Ini adalah risalah yang mulia dan makalah yang baik. Mengandung perkara yang baik dari perintah-perintah Dien dan permasalahan kaum mukminin yang paling tinggi, yaitu masalah imamah yang akan didapatkan dengan terwujudnya derajat kemuliaan. Ia termasuk salah satu rukun iman yang dengannya akan didapatkan kekekalan di dalam surga dan terhindar dari adzab Ar-Rahman.”

Sebagai jawaban terhadap kaum hizbiyun yang lebih mementingkan masalah politik dan para ulama FIQHUL WAQI’, kami nukilkan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika menjawab ucapan tokoh Syiah di atas. Beliau berkata: “Bantahan untuk ucapan ini ada beberapa sisi:

Pertama, kita katakan: ‘Orang yang mengatakan bahwa masalah imamah adalah perintah yang paling penting dalam hukum-hukum Dien dan permasalahan kaum muslimin yang paling tinggi adalah berdusta menurut ijma’ kaum muslimin, sunni maupun syiah mereka. Bahkan merupakan kekufuran karena sesungguhnya iman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah masalah yang lebih penting dari masalah imamah. Perkara ini sudah dimaklumi menurut aksioma agama Islam. Seorang yang kafir tidak akan menjadi mukmin, hingga mempersaksikan bahwa tiada yang patut diibadahi, kecuali Allah dan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah. Karena perkara inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi kaum kuffar pertama kali sebagaimana diriwayatkan dengan khabar yang mustafidl dalam kitab-kitab shahih bahwa beliau bersabda:

Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada sesembahan yang patut diibadahi kecuali Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah, mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka apabila mereka telah mengerjakan semua itu harta dan darah mereka akan terlindung dariku kecuali dengan haknya. (HR. Bukhari Muslim)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin di mana saja kamu jumpai mereka dan tangkaplah mereka. Kepung dan intailah mereka di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat serta menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Taubah: 5).

Demikian pula yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan kepada Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu ketika beliau mengutusnya. Juga tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berperang melawan orang-orang kafir, beliau menjaga darah mereka dengan taubat mereka dari kekufuran. Beliau sama sekali tidak menyinggung masalah imamah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman setelah itu:
Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. (At-Taubah: 11)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka sebagai saudara-saudara seagama dengan taubat. Karena sesungguhnya orang-orang kafir di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika masuk Islam, mereka akan diberlakukan hukum- hukum Islam, tetapi beliau sama sekali tidak menyinggung masalah imamah kepada mereka. Tidak ada seorang pun dari kalangan ulama yang menukil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik secara khusus maupun umum. Bahkan kita mengetahui dengan pasti bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyebutkan kepada manusia ketika mereka ingin memasuki Dien-Nya tentang imamah, tidak secara mutlak tidak pula tertentu. Maka, bagaimana imamah dikatakan sebagai perintah yang paling penting dalam hukum-hukum Dien?!

Kedua, kita katakan: Iman kepada Allah dan Rasul-Nya di setiap masa dan tempat selalu lebih besar dari permasalahan imamah. Oleh karena itu tidak pernah ada pada suatu waktu, imamah menjadi lebih penting dan lebih mulia. (Pernyataan ini cukup sebagai bantahan terhadap orang-orang yang menganggap bahwa: “Pada masa mereka (ulama) imamah memang tidak penting karena sudah ada khilafah, tetapi sekarang imamah adalah perkara yang paling penting.” Maka perhatikanlah dan ambillah pelajaran darinya! peny).

Ketiga, kita katakan: “Mestinya wajib bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjelaskan hal ini kepada umat yang akan tetap ada setelah beliau wafat sebagaimana beliau telah menjelaskan masalah shalat, zakat, puasa, dan haji, sebagaimana beliau menentukan keimanan kepada Allah, mentauhidkan-Nya dan keimanan kepada hari akhir…”

Beliau (Ibnu Taimiyyah) melanjutkan: “Juga merupakan sesuatu yang sudah diketahui bahwa perkara kaum muslimin yang paling mulia dan perintah-perintah agama yang paling penting seharusnya disebutkan dalam Al-Qur`an dengan penyebutan yang lebih besar dari yang lainnya. Begitu pula penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya akan lebih mengutamakannya dari yang lainnya. Kenyataannya Al-Qur`an banyak sekali menyebutkan tentang permasalahan tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, bukti- bukti kekuasaan-Nya, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, kisah-kisah, perintah dan larangan. (Namun) tidak seperti halnya masalah imamah. Maka, bagaimana mungkin Al-Qur`an penuh dengan perkara-perkara yang bukan perkara yang paling penting dan paling mulia?” (Minhajus Sunnah 1/21)

Mungkin ada yang mengatakan: “Bukankah imamah juga termasuk perintah dan larangan!!!” Kita katakan: “Kalaupun termasuk perintah, maka yang paling tinggi adalah seperti shalat, zakat dan lain-lain yang juga perintah-perintah Allah. Bagaimana mungkin hanya imamah saja yang dianggap sebagai permasalahan kaum muslimin yang paling penting dan paling mulia serta perintah Dien yang paling penting!” (Minhajus Sunnah 1/29)

Atau mungkin mereka mengatakan bahwa perkara imamah ini termasuk nash-nash umum dalam perintah-perintah hukum hadd seperti qisas bagi pembunuh, atau potong tangan bagi pencuri dan lain-lain, sehingga dengan kaidah:
Apa yang tidak sempurna kewajiban kecuali dengan sesuatu maka sesuatu itupun wajib.

Berarti mendirikan imamah untuk melaksanakan hukum hadd adalah wajib!

Kita katakan: Bahwa inipun adalah alasan kuno yang sudah dibantah oleh Syaikhul Islam juga. Beliau mengatakan (secara ringkas): “Walaupun benar kaidah itu, namun paling tinggi dia hanya sebagai masalah-masalah istimbath yang kadang- kadang diistilahkan sebagai furu’ oleh para fuqaha. Lalu bagaimana mungkin dijadikan sebagai rukun dari rukun-rukun Islam!?” (Minhajus Sunnah 1/33).

Bagi kita yang menyaksikan keadaan hizbiyyun pada hari ini akan mengetahui dengan jelas bahwa alasan mereka inipun perlu dipertanyakan. Karena seperti kita lihat dalam kenyataan, hukum hadd mana yang sudah ditegakkan dalam daulah Islamiyyah di Sudan, yaitu daulahnya Hasan At-Turabi yang sudah jelas sekularis!?

Sesungguhnya hukum-hukum hadd yang harus ditegakkan itu tidak hanya terhadap peminum khamr dan pencuri saja, tetapi juga terhadap para penyeleweng ajaran Islam dan kaum murtadin (orang-orang murtad). Maka bagaimana kira-kira kalau hizbiyyun berhasil memegang kekuasaan?! Mereka mesti akan mengatakan kepada para penyeleweng dan murtadin: “Kita tolong-menolong pada apa yang kita sepakati dan saling menghormati dalam perkara yang kita berbeda?!”

Barangkali pembaca terkejut karena kami juga menuliskan para murtadin di atas. Yah… paling tidak ini adalah apa yang kita saksikan sendiri dari ucapan Hasan At- Turabi yang membolehkan berganti-ganti agama. Dia berkata: “Dan aku suka untuk berkata bahwasanya dalam lingkup daulah yang satu dan perjanjian yang satu boleh bagi seorang muslim –sebagaimana boleh pula bagi seorang Nashrani- untuk mengganti agamanya.” Innalillahi wainna ilaihi raji’un (Ucapan ini dia ungkapkan di Universitas Khurtum sebagaimana dinukil pula oleh Ahmad bin Malik dalam bukunya As-Sharimul Maslul fi Raddi ‘ala At-Turabi Syatimi Ar-Rasul hal. 12, melalui kitab Aqlaniyyun oleh Ali Hasan Abdul Hamid hal. 69).

Bid’ahnya Pembagian Masalah Ushul dan Masalah Furu’

Demikianlah, mereka menjadikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai perkara furu’, qusyur atau juz’iyyah. Mereka selanjutnya menjadikan wawasan politik, fiqhul waqi’, sifatul ashr, atau tsaqafah Islamiyyah sebagai perkara ushul dan salah satu rukun Islam. Setelah itu mereka menetapkan kaidah: “Kita wajib mementingkan perkara ushul dan jangan disibukkan dengan perkara furu’.”

Hal itu sebagaimana ucapan tokoh mereka Abdurrahman Abdul Khaliq dalam kitabnya Al-Khutut Ar-Ra`isiyyah hal. 73: “Sesungguhnya kewajiban para pembuat kurikulum di universitas-universitas Islam yang hanya mengajarkan Dien saja adalah memasukkan pengajaran undang-undang dan hubungan kenegaraan Islam secara luas berupa penjelasan perbandingan antara Islam dengan kafir. Dan agar mereka mengurangi sekecil mungkin pengajaran kepada para mahasiswa tentang adab buang air, syarat-syarat air, dan madzhab para ulama terhadap orang yang mengatakan pada istrinya: “Engkau kucerai talak satu, dua, atau tiga.” Apakah dianggap talak tiga atau satu? Ajarkan pada anak-anak kaum muslimin di universitas-universitas hukum-hukum hadd dalam Islam terhadap pembunuhan, zina, minum khamr, pencurian dan perampasan! Kemudian bandingkanlah kebersihan hukum Islam dengan kekotoran hukum selainnya! Ajarkan hukum- hukum perdamaian, peperangan, perjanjian-perjanjian damai dan undang-undang politik secara syar’i antara pemerintah dengan rakyat dan antara negara-negara Islam dengan negara-negara kafir! Tinggalkanlah pengajaran adab buang air bagi para pelajar, agar ibu-ibu merekalah yang mengajari anak-anaknya sewaktu mereka berumur tiga atau empat tahun! Buanglah pengajaran bab-bab haid dan nifas di universitas-universitas bagi laki-laki dan cukupkan pengajarannya bagi wanita…”

Demikianlah ucapan Abdurrahman Abdul Khaliq tentang idenya untuk lebih mementingkan hukum-hukum politik kenegaraan di atas hukum-hukum fikih yang lainnya. Hingga kemudian dia berkata: “Pada hari ini sayang sekali kita memiliki syaikh-syaikh yang hanya mengerti qusyur Islam yang setingkat dengan masa-masa lalu, yang akan berubah setelahnya aturan-aturan kehidupan manusia dan cara-cara hubungan mereka.” (Lihat Jama’ah Wahidah hal. 28-29).

Subhanallah! Apakah ada dalam Islam ini istilah qusyur (kulit) yang disisihkan kemudian dibuang?

Sesungguhnya pembagian Dien menjadi qusyur (kulit) dan lubab (isi) atau ushul dan furu’ untuk kemudian merendahkan, meremehkan, dan mengesampingkan qusyur dan furu’ adalah pembagian yang batil. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Syaikh Al-Albani dan para ulama lainnya. Anehnya, meskipun mereka namakan furu’, namun ternyata mereka tidak dapat menjelaskan dengan pasti definisi furu’/qusyur tersebut dan mereka pun berselisih tentangnya.

Sebagian mereka berkata bahwa ushul adalah perkara-perkara yang kalau ditinggalkan pelakunya menjadi kafir. Sedangkan furu’ adalah perkara-perkara yang kalau ditinggalkan pelakunya tidak dikatakan kafir.

Dengarlah ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang masalah ini dalam Fatawanya. Beliau berkata: “…Barangsiapa yang sungguh-sungguh berusaha mencari yang hak namun dia keliru, maka Allah akan mengampuninya apapun kesalahannya. Sama saja apakah dalam masalah teori keilmuan atau praktek amalan. Inilah pendapat para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jumhur para imam kaum muslimin. Mereka tidak membagi permasalahan menjadi masalah ushul yang dikafirkan orang yang mengingkarinya dan masalah furu’ yang tidak dikafirkan orang yang mengingkarinya…”

Demikianlah Syaikhul Islam menjelaskan bahwa pengkafiran tidak dilihat dari apakah yang ditinggalkan itu termasuk amalan ushul atau furu’ melainkan dalam masalah apakah dia mengingkarinya dengan juhud (menentang dan menantang), karena keliru dan salah dalam berijtihad, atau tidak mengerti. Kalau dia menentang sesuatu atau meninggalkannya karena keliru atau salah dalam berijtihad, maka ia tidak dikafirkan. Sama saja apakah dalam masalah-masalah yang dianggap furu’ ataupun masalah ushul.

Kemudian Syaikhul Islam berkata: “…pembagian suatu amalan dengan nama USHUL dan macam yang lain dengan nama FURU’ tidak ada asalnya dari shahabat radliallahu ‘anhum, tabi’in yang mengikuti mereka dengan ihsan, tidak pula dari para imam kaum muslimin. Sesungguhnya pembagian ini hanyalah diambil dari Mu’tazilah dan orang-orang yang semodel dengan mereka dari kalangan Ahlul Bid’ah. Dari merekalah pembagian itu diambil, sehingga para fuqaha menyebutnya dalam kitab- kitab mereka, padahal ini adalah pembagian yang saling bertentangan.” (Fatawa 23/346).

Adapun para fuqaha yang mengambil istilah ushul dan furu’ dalam kitab mereka tidak sama dengan mu’tazilah dan hizbiyyun dalam dua hal:
a) Mereka memaksudkan dengan perkara furu’ adalah perkara ijtihadiyyah.
b) Mereka tidak bermaksud merendahkan permasalahan tersebut dengan istilah furu’.
Semoga Allah merahmati dan mengampuni kesalahan mereka.

Kalau sudah diketahui oleh para ulama bahwa masalah pembagian ini tidak ada asalnya, maka pembagian ini adalah perkara bid’ah. Namun jangan bertanya: “Apa dalilnya kalau perkara ini dikatakan bid’ah?” Justru kita yang bertanya apa dalilnya kalau perkara itu sunnah?

Ada ucapan baik yang kami (penulis) dengar dari Syaikh Muhammad Shalih Al- Utsaimin hafidhahullah ketika ditanya tentang suatu masalah: “Apa dalilnya engkau mengatakan bid’ah?” Beliau menjawab, ”Dalilnya adalah tidak adanya dalil”.

Adapun apa yang dikatakan oleh Syaikhul Islam bahwa ini adalah pembagian yang bertentangan adalah karena tidak ada batasan yang jelas bagi perkara-perkara yang dinamakan USHUL yang dikafirkan orang-orang yang menyelisihinya dan apa perbedaannya dengan masalah FURU’.

Kalau mereka mengatakan bahwa masalah-masalah ushul adalah masalah-masalah aqidah (keyakinan), sedangkan masalah furu’ adalah masalah-masalah amal lahir. Maka kita katakan: “Telah berselisih para shahabat radliallahu ‘anhum dan para ulama tentang apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabbnya atau tidak?” Bukankah ini adalah masalah-masalah keyakinan dan masalah aqidah?

Apakah sebagian mereka mengkafirkan yang lainnya? Tidak ada yang dikafirkan dalam masalah ini dengan kesepakatan para ulama (Lihat pembahasan semakna dalam Fatawa 23/346). Sebaliknya kewajiban-kewajiban shalat, zakat, puasa, hajji dan lain-lain, bukankah ini masalah amal lahir? Tetapi orang yang menentang dan mengingkarinya dikatakan kafir dengan kesepakatan ulama (lihat sumber yang sama hal. 347).

Kalau mereka berkata: “Sesungguhnya masalah ushul adalah permasalahan- permasalahan yang qath’i (pasti dan tegas), sedangkan masalah furu’ adalah masalah-masalah yang dhanni (belum pasti). Maka kita katakan bahwa masalah qath’i dan dhanni adalah masalah yang relatif. Banyak masalah-masalah amal lahir yang qath’i dan banyak pula masalah-masalah i’tiqad yang dhanni. Bahkan ada beberapa masalah yang qath’i bagi seseorang dan dhanni bagi yang lain. Seperti ketika ada seorang yang mendengar nash dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung dan dia yakin apa yang dimaksud oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bagi dia permasalahan itu adalah permasalah yang pasti dan qath’i. Tetapi bagi orang lain yang tidak mendengar nash itu, maka baginya dhanni pun tidak apalagi qath’i. Atau orang yang sampai kepadanya nash dari orang yang dia tidak tsiqah (percaya) kepadanya, atau dia tsiqah tetapi tidak mampu memahaminya, maka bagi dia tidaklah qath’i… dst. (Lihat Fatawa 23/347).

Apalagi Mu’tazilah yang menganggap bahwa selain hadits mutawatir adalah dhanni. Maka berarti kurang lebih dua pertiga syariat dianggap tidak penting kemudian diremehkan atau dianggap furu’ dan qusyur (kulit) yang disisihkan kemudian dibuang? Na’udzubillah. Kita berlindung kepada Allah dari kesesatan seperti ini!

Imam Al-Muhaddits Syaikh Al-Albani hafidhahullah berkata: “…yang kita dengar tentang pembagian ushul dan furu’ dari setiap para da’i Islam pada hari ini yang tidak bermanhaj dengan manhaj salafus shalih, sebagaimana telah kita sebutkan tentang pembagian lubb (inti) dan qusyur (kulit) adalah corengan zaman yang akan menghancurkan kaum muslimin dan menjadikan mereka jauh dari Islam ketika mereka menginginkan untuk mendekat kepadanya!

Sekarang dengan TSAQAFAH (wawasan) yang kalian miliki dan ilmu yang kami miliki, tidak dapat membedakan ushul dari furu’? Kecuali apa yang mereka maksudkan dengan ushul adalah masalah yang berhubungan dengan aqidah saja dan tidak masuk di dalamnya apa-apa yang berhubungan dengan hukum-hukum.
Kalau begitu shalat yang merupakan rukun kedua (dalam rukun Islam, pent) tidak termasuk dalam ushul dan hanya termasuk dalam furu’? Mengapa? Karena shalat tidak termasuk dalam masalah aqidah mahdhah!!! Pembagian ini (sungguh) berbahaya dan berbahaya sekali!!” (Dalam kaset beliau Hifdhul Qusyur, lihat kitab Dharuratul Ihtimam Bis Sunnah oleh Abdus Salam bin Barjas hal. 15-16).

Kesimpulan dari pembahasan ushul dan furu’ adalah sebagaimana yang diucapkan oleh Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah: “Setiap pembagian yang tidak diperkuat dengan Al-Kitab dan As-Sunnah atau kaidah-kaidah syariat, maka ia adalah pembagian yang batil dan wajib untuk dibuang. Pembagian ini adalah dasar dari dasar-dasar kesesatan.” (Shawa’iq Al-Mursalah 2/415, lihat kitab Dlaruratul Ihtimam hal. 112).

Setelah pembagian bid’ah ini mereka berkata: “Ikhtilaf dalam masalah furu’ adalah sesuatu yang remeh.” Bandingkan dengan ucapan Imam Malik rahimahullah ketika ditanya tentang suatu masalah, beliau menjawab: “Saya tidak tahu.” Berkatalah orang tersebut: “Ini permasalahan ringan dan mudah, sesungguhnya aku hanyalah ingin memberi tahu amir.” Maka marahlah Imam Malik dengan ucapan ini dan berkata: “Masalah ringan dan mudah? Tidak ada dalam ilmu ini (syari’at) permasalahan yang ringan! Tidakkah kau dengar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. (Al- Muzammil: 5)

Maka ilmu ini semuanya berat, apalagi ilmu yang akan dipertanyakan di hari kiamat.” (Tartibil Madarik oleh Qadli Iyadl, lihat Dharuratul Ihtimam bis Sunnah hal. 117).

Ucapan mereka yang menganggap kecil sunnah ini membawa para pemuda meremehkan fikih dan sinis kepada para ulama yang menulis buku tentang masalah bacaan Al-Fatihah di belakang imam, sunnah dzikir setelah shalat, bid’ah mihrab, dll. Pada akhirnya mereka bertambah jauh dari syariat Islam, menyerukan perjuangan Islam dalam keadaan tidak tahu tentang hukum-hukum Islam.

Di antara syubhat yang mereka lemparkan adalah ucapan mereka: “Kaum muslimin dalam keadaan lemah dikuasai musuh-musuhnya. Sebagian mereka dibantai, ditindas dan lain-lainnya. Tetapi dalam waktu seperti ini muncul kaum yang menyerukan untuk berpegang kepada sunnah dan tenggelam di dalamnya? Apakah mereka buta terhadap keadaan lingkungannya!” Kalimat ini terucap karena pemahaman batil mereka yang menganggap bahwa berpegang dengan sunnah bertentangan dengan perjuangan dan jihad membela kaum muslimin.

Sesungguhnya hal itu sama sekali tidak bertentangan, bahkan mendukung perjuangan dan jihad. Tidakkah mereka ingat hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan bahwa tidak akan dicabut kehinaan dan kerendahan, kecuali kalau kaum muslimin kembali kepada agamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Jika kalian telah berjual beli dengan ‘iinah dan kalian telah mengambil ekor-ekor sapi, kalian ridla dengan ladang-ladang dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan kuasakan (timpakan) atas kalian kerendahan hingga kalian kembali kepada Dien kalian. (HR. Abu Dawud 3/740 dari Ibnu Umar)

Demikianlah beliau menjelaskan bahwa kerendahan dan kehinaan akan menimpa kaum muslimin ketika mereka meninggalkan hukum-hukum Allah termasuk di dalamnya jihad, tidak memerangi kekufuran, kesyirikan, kebid’ahan dan ridla dengan dunia. Beliau juga menjelaskan bahwa jalan satu-satunya untuk melepaskan diri dari kerendahan dan kehinaan ini adalah kembali kepada syariat Dien ini. Beliau tidak membedakan ushul dan furu’nya, qusyur atau lubabnya, aqidah atau ibadahnya dan seterusnya.

Allah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithan karena sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagimu. (Al Baqarah: 208)

Berkata Ibnu Abbas: “As-Silmi adalah Islam dan kaffah adalah keseluruhan.” Kemudian beliau berkata mengenai tafsir ayatnya: “…masuklah ke dalam syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan jangan tinggalkan darinya sedikitpun.” Berkata Mujahid rahimahullah: “Yakni, beramallah dengan seluruh amalan-amalan dan seluruh kebaikan.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/265-266).

Jadi, kembali pada syariah dan mengamalkan seluruh sunnah adalah jalan kemenangan.

Pentingnya Sunnah Walaupun Sunat (Mustahab)

Mereka juga berkata: “Yang kami maksud dengan furu’ adalah yang sunnat-sunnat (yang tidak wajib). Mengapa kita harus disibukkan dengan yang sunnat-sunnat, bukankah banyak perkara-perkara yang lebih penting?

Lihatlah ucapan mereka! Apakah perkara-perkara sunnat tidak penting?
Identik dengan ucapan sebelumnya, kalimat inipun terucap karena mereka menganggap bahwa amal-amal sunnat menghalangi “yang lebih penting.” Kalau kita desak apakah yang lebih penting itu? Kembali mereka akan mengatakan “dakwah dan jihad”, seakan-akan dakwah dan jihad bertentangan dengan perkara menghidupkan sunnah.

Sesungguhnya jika dakwah dan jihad itu dengan cara sunnah, tidak mungkin bertentangan dengan perkara-perkara sunnat. Bahkan sesungguhnya perkara- perkara sunnat adalah pelengkap perkara-perkara wajib dan pendukungnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya amal pertama dihisabnya manusia di hari kiamat adalah masalah shalat. Beliau berkata: Rabb kita ‘Azza wa Jalla berfirman kepada para malaikat-Nya: Lihatlah shalat hamba-Ku! Dia menyempurnakan atau menguranginya? Jika shalat itu sempurna, maka ditulislah baginya sempurna, dan kalau ada kekurangan padanya, Allah berfirman: Lihatlah! Apakah hamba-Ku memiliki shalat-shalat sunnat? Kalau dia memiliki shalat-shalat sunnat, Dia berfirman: sempurnakan kewajiban hamba-Ku dengan sunat-sunatnya! Kemudian diambillah (seluruh) amalan-amalan seperti itu.” (HR. Abu Dawud).

Lihatlah hadits ini dengan teliti! Akan tampak bagi kita betapa pentingnya perkara- perkara sunnat karena Dia merupakan penambah apa-apa yang kurang dari perkara wajib.

Berkata Syaikh Abdus Salam Barjas: “…termasuk sesuatu yang tidak perlu diragukan bahwa melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagaimana Allah perintahkan (dengan sempurna, peny) adalah sesuatu yang berat bagi rata-rata manusia. Karena amal mereka tidak lepas dari kekurangan-kekurangan, seperti ditinggalkannya kekhusyu’an dalam shalat atau tidak tuma’ninah padanya. Juga seperti berbuat sia-sia, ghibah dan namimah dalam puasa atau berbuat kefasikan dan perdebatan dalam haji dll. Semua ini dan yang semodel dengannya akan menyebabkan seorang hamba dibalas dan berkurang pahala kewajibannya.

Tetapi sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla yang banyak fadlilah-Nya dan luas rahmat- Nya menjadikan untuk hamba-Nya sesuatu yang akan menyempurnakan kekurangan itu dan memperbaiki kerusakannya, yaitu dengan menjaga apa yang disyariatkan-Nya dari pahala-pahala sunnat.

Untuk itu tidaklah pantas bagi seorang yang berakal meremehkan sesuatu yang menyempurnakan kewajiban-kewajibannya dan mendekatkan kepada keridlaan Rabb-Nya. (Dlaruratul Ihtimam bis Sunnah hal. 47-48).

Kemudian Syaikh Abdus Salam Barjas menukil ucapan Imam Syathibi dalam Muwafaqat 1/92, beliau berkata: “Sesuatu yang mandub (sunnat) jika engkau lihat dengan pandangan yang lebih luas dari pandangan sebelumnya, maka akan kau dapati bahwa perkara-perkara sunnat adalah pembantu bagi yang wajib, karena dia bisa jadi sebagai pembukaan bagi yang wajib, penyempurna atau pengingatnya.” (Dlaruratul Ihtimam hal 48).

Demikianlah sesungguhnya tidak pantas bagi seorang muslim yang mukhlis untuk meremehkan masalah sunnah walaupun sunnat. Apa lagi mencelanya. Wallahu a’lam.

Keutamaan Menghidupkan Sunnah

Lafadh sunnah dalam syariat adalah semua ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah masalah aqidah, amaliyah yang wajib ataupun yang sunnat (untuk melihat pembahasan yang lebih detail, silahkan baca Dlaruratul Ihtimam bis-Sunnah hal. 19- 33).

Menghidupkan sunnah adalah dengan mempelajari, mengamalkan, dan menyampaikannya kepada umat. Ini memiliki keutamaan-keutamaan dan faidah- faidah yang sangat besar.

Di antaranya:

1. Dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Katakanlah, jika kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku. niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang. (Ali Imran: 31)

Dalam ayat ini Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menyampaikan bahwa bukti kecintaan seorang hamba kepada Allah adalah mengikuti sunnah nabawi, dan menyampaikan bahwa keutamaan mengikuti sunnah nabawi adalah DICINTAI ALLAH dan DIAMPUNI dosa-dosanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits qudsi:

Sesungguhnya Allah berfirman: Barangsiapa memusuhi wali-Ku maka akan aku umumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan tetap hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan NAWAFIL (yang sunat-sunat) hingga Aku mencintainya. Maka jika Aku telah mencintainya maka Aku-lah pendengarannya yang dia pakai untuk mendengar, pandangannya yang dia pakai untuk memandang, tangannya yang dia pakai untuk memukul, dan kakinya yang dia pakai untuk berjalan. Kalau dia meminta kepada-Ku pasti akan Aku beri dan kalau meminta perlindungan kepada-Ku pasti akan Aku lindungi. (HR. Bukhari)

Hadits ini merupakan dalil bahwa perkara-perkara sunnat merupakan penyebab kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Kalau Allah sudah cinta, maka Dia akan memberikan taufiq kepadanya dalam menggunakan anggota badannya sesuai dengan apa yang Allah kehendaki serta pasti Dia akan mengabulkan doanya dan melindunginya.

2. Mendapatkan pahala lima puluh kali para shahabat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya di belakang kalian ada “hari-hari sabar” bagi orang-orang yang berpegang pada hari tersebut dengan apa yang kalian ada di atasnya, akan mendapatkan pahala lima puluh kali pahala kalian.” Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah lima puluh kali mereka?” Beliau bersabda: “Bahkan lima puluh kali (pahala) kalian.” (HR. Tirmidzi dan yang lainnya)

Dalam riwayat yang lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang kesabaran padanya (pada hari itu, pent) seperti memegang bara api. Orang yang beramal padanya seperti pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalan kalian.” (HR. Abu Dawud dalam ‘Aunul Ma’bud 11/493, Ibnu Majah 2/1330, Ibnu Hibban dalam Al-Ihsan 2/108, Al-Hakim dalam Mustadrak 4/322. Beliau berkata: ‘Sanadnya shahih’, tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dan disepakati oleh Imam Dzahabi. Demikian dikatakan oleh Abdus Salam bin Barjas dalam Dlaruratul Ihtimam hal. 49)

Berkatalah Ibnul Qayyim dalam Nuniyyahnya:

Ini bagi para pemegang sunnah,
orang pilihan ketika rusaknya jaman,
pahala yang besar, tidaklah menetapkan ukuran,
kecuali yang memberinya kepada insan,

(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan, dan juga oleh Ahmad Asy-Syaiban. Riwayat yang berisi tentang pahala lima puluh shahabat Rasul, utusan Allah yang Maha Rahman. (Syarah Ibnu ‘Isa lin Nuniyyah 2/458, lihat Dlaruratul Ihtimam hal. 49-50))

Demikianlah keutamaan yang sangat besar bagi para pemegang sunnah khususnya di kala rusaknya jaman dan dijauhinya sunnah.

3. Memegang sunnah merupakan keselamatan

Berkata Ibnu Abbas radliallahu ‘anhu:

Tidaklah muncul pada manusia satu tahun kecuali mereka mengada-adakan bid’ah dan mematikan padanya satu sunnah hingga hiduplah bid’ah dan matilah sunnah. (Riwayat Ibnu Wadhah dalam Al-Bida’ wan Nahi ‘Anha, lihat Dlaruratul Ihtimam, hal. 52).

Abu Muhammad Abdullah bin Munazzil rahimahullah:

Tidaklah seseorang melalaikan kewajiban-kewajiban, kecuali pasti dia terfitnah dengan melalaikan sunnah-sunnah. Dan tidaklah dia melalaikan sunnah-sunnah kecuali mesti sebentar lagi dia akan terfitnah dengan bid’ah-bid’ah.

Dan lain-lain dari ucapan para ulama yang menjelaskan bahwa jika kita meninggalkan sunnah, maka akan terancam dengan bahaya bid’ah. Sebaliknya berpengang dengan sunnah merupakan keselamatan.

Oleh karena itu berkata para salafus shalih sebagaimana dinukil oleh Imam Asy- Syathibi dalam Al-I’tisham:

Berpegang dengan sunnah adalah keselamatan.

Ucapan mereka ini sesuai dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan ketika terjadi fitnah perpecahan:

Sesungguhnya barangsiapa yang hidup di antara kalian nanti, akan melihat perselisihan yang banyak. Maka atas kalian untuk berpengang dengan sunnahku…” (HR. Ashabus Sunan kecuali Nasa`i, berkata Tirmidzi: Hadits ini hasan shahih, dan berkata Imam Hakim: hadits ini shahih dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Demikian dalam Dlaruratul Ihtimam, hal. 37)

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa keselamatan di kala perpecahan adalah dengan berpegang kepada sunnah.

4. Mendapatkan pahala sunnah dan pahala orang yang mengikutinya.

Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Barangsiapa menjalankan satu sunnah yang baik dalam Islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang beramal dengannya setelahnya (mengikutinya, pent) tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun…” (HR. Muslim 2/704)

Demikianlah keutamaan-keutamaan seorang yang memegang sunnah dan sebenarnya masih banyak lagi keutamaan-keutamaan yang lain bagi para pemegang sunnah khususnya di kala jauhnya umat dari Islam dan sunnah.

Wallahu A’lam

Maraji’:

1. Al-Hujjaj Al-Qawiyyah, Abdus Salam bin Barjas.
2. Iqtidla` As-Shirath Al-Mustaqim, Ibnu Taimiyyah.
3. Aqidatus Salaf Ash-habul Hadits, Abu Utsman Ash-Shabuni.
4. Sallus Suyuf wal Asinnah ‘ala Ahlil Ahwa`, Tsaqil bin Shalfiq Al-Qashimi.
5. Al-I’tisham, Asy-Syathibi.
6. Jama’ah Wahidah, Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali.
7. Manhaj Al-Anbiya`, Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali.
8. Minhajus Sunnah, Ibnu Taimiyyah.
9. Al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah.
10. Al-‘Aqlaniyyun, Ali bin Hasan bin Ali bin Abdil Hamid.
11. Dlaruratul Ihtimam bis Sunnah, Abdus Salam bin Barjas.
12. Dasar-dasar Islam, Al-Maududi.

Sumber: Majalah Salafy edisi XIII, Sya’ban – Ramadhan 1417 H, Judul : Membela Sunnah Nabawiyah

About Salafiyyin

Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh konten blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil, serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,..

Discussion

No comments yet.

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,071 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]

%d bloggers like this: