Al Ustadz Ja'far Umar Thalib, Artikel Islami

Artikel Islam : [Bag. 02] Tauhid Adalah Asas Kehidupan Dunia


TAUHID ADALAH ASAS KEHIDUPAN DUNIA

Penulis : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib  حفظه الله 

 Artikel Islami


Syirik Mendatangkan Kemarahan Alam

Secara istilah syar’i syirik maknanya ialah keyakinan atau perbuatan atau perkataan yang mensejajarkan Allah Ta’ala dengan makhluk-Nya. Keyakinan adanya kekuatan selain Allah Ta’ala di alam semesta ini yang mampu mempengaruhi kehidupan manusia, sehingga kekuatan itu ditakuti dan digantungkan kepadanya harapan sebagaimana digantungkan harapan kepada Allah. Sehingga dengan keyakinan itu para pelaku kesyirikan mempersembahkan ibadah kepada pihak yang diyakininya itu. Dengan syirik ini manusia melakukan penghinaan kepada Allah Ta’ala dan meragukan kemahakuasaan-Nya.

Bagaimana mungkin Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa disejajarkan dengan makhluk yang serba lemah dan terbatas kemampuannya. Allah yang Maha Pencipta disejajarkan dengan makhluk yang diciptakan dan dikendalikan oleh-Nya. Allah yang menjamin kehidupan dan kesejahteraan dasejajarkan dengan makhluk yang bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Semua ini adalah pensejajaran yang sama sekali tidak adil. Oleh karena itu, pantaslah jika syirik itu merupakan oerbuatan yang sangat dimurkai Allah Ta’ala. Sehingga perbuatan sebaik dan sebanyak apapun yang dilakukan oleh hamba-Nya, tidak ada artinya sama sekali di sisi Allah jika hamba tersebut melakukan kesyirikan. Allah Ta’la berfirman :

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿٦٥﴾

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika engkau berbuat syirik, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. {QS. Az Zumar (39) : 65}

Sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabi sebelum beliau adalah hamba-hamba Allah Ta’ala yang paling baik dan paling banyak amalannya. Namun jika mereka berbuat syirik, maka seluruh amalan mereka akan sia-sia. Apalagi orang-orang selain Nabi dan Rasul.

Allah Ta’ala Maha lua rahmat-Nya, meliputi segala sesuatu. Akan tetapi rahmat Allah diharamkan bagi hamba-Nya yang mati dalam keadaan berbuat syirik kepada Allah. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya :

إِنَّ اللَّـهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّـهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا ﴿٤٨﴾

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang sangat besar”. {QS. An Nisa’ (4) : 48}

Alam raya yang selalu bertasbih dan bertahmaid kepada Allah dan selalu taat kepada perintah-Nya ikut terguncang dengan perbuatan syirik ini, alam semesta amat murka dengan perkataan atau perbuatan syirik yang merupakan pelecehan terhadap kemuliaan Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana diberitakan Allah Ta’ala dalam firman-Nya :

تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا ﴿٩٠﴾ أَن دَعَوْا لِلرَّحْمَـٰنِ وَلَدًا ﴿٩١﴾ وَمَا يَنبَغِي لِلرَّحْمَـٰنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا ﴿٩٢﴾ إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَـٰنِ عَبْدًا ﴿٩٣﴾ لَّقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا ﴿٩٤﴾ وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا ﴿٩٥

Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri”. {QS. Maryam (19) : 90-95}

Kalau ada yang bertanya, kenapa pada kenyataannya langit dan bumi serta gunung-gunung tidak hancur, padahal ucapan dan perbuatan syirik masih semarak dilakukan? Jawabannya adalah firman Allah Ta’ala :

تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِن فَوْقِهِنَّ ۚوَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَن فِي الْأَرْضِ ۗأَلَا إِنَّ اللَّـهَ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿٥

Hampir saja langit itu pecah dari atas mereka. Namun malaikat-malaikat Allah bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Penyayang”. {QS. Asy-Syura’ (42) : 5}

Rahmat Allah dan ampunan-Nya yang menjadikan bumi dan langit tidak pecah berantakan adalah untuk kaum mukminin dari penduduk bumi yang tetap bertauhid dan mengajak ummat manusia menegakkan tauhid dan menjauhi syirik. Hal ini sebagaimana firman Allah :

وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَـٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ ۚقَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ ۖ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚفَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ﴿١٥٦﴾

 “Allah berfirman: “Dan adzab-Ku akan Kutimpakan kepada siapa saja yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”. {QS. Al A’raf (7) : 156}

Dari ayat-ayat tersebut kita dapat memahami bahwa alam semesta ini dapat berubah menjadi buas dan terus-menerus menimpakan bencana yang membinasakan kehidupan manusia di berbagai tempat karena alam marah kepada manusia yang telah mengabaikan prinsip tauhid dan merebaknya berbagai amalan syirik.

Syirik Merusak Hubungan Sosial Manusia

Perbuatan syirik tidak hanya merusak alam, akan tetapi syirik juga merusak hubungan social ummat manusia. Allah menceritakan tentang sejarah perpecahan ummat manusia dalm firman-Nya :

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّـهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّـهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴿٢١٣

Dulunya manusia itu adalah umat yang satu dengan satu agama, kemudian terjadi perbuatan syirik, hingga mereka bercerai-berai. Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih dalam agama kecuali dimulai dari orang-orang yang berilmu setelah datang keterangan dari Allah, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus”. {QS. Al Baqarah (2) : 213}

Dan dalam ayat lain Allah menerangkan lebih jauh perpecahan itu, sebagaiman firman-Nya :

وَإِنَّ هَـٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ ﴿٥٢﴾ فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُرًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ ﴿٥٣

Sesungguhnya ummat kalian wahai para Nabi adalah ummat yang satu, dan aku adalah Tuhanmu, Maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah (dengan berbuat syirik) menjadi beberapa kelompok, tiap-tiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)”. {QS. Al Mukminun (23) : 52-53}

Oleh karena itu, Allah melarang kita berperangai seperti perangai orang-orang yang berbuat syirik, yang selalu menjadi sumber perpecahan dan permusuhan di kalangan manusia. Allah Ta’ala berfirman :

 مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿٣١﴾ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖكُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ ﴿٣٢

Dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. {QS. Ar Rum (30) : 31-32}

Demikianlah akibatnya apabila prinsip tauhid diabaikan dan digantikan dengan kesyirikan. Maka ia akan menjadi sumber konflik dan perpecahan di antara manusia. Dan konflik itu sendiri adalah petaka yang dahsyat bagi manusia, yang tidak kalah dahsyatnya dari bencana alam. Mungkin ada yang bertanya, mengapa ada sebuah negeri yang di dalamnya banyak terjedi kesyirikan dan kekafiran, tetapi negeri itu tidak terkena bencana alam ataupun konflik sosial? Jawabannya adalah firman Allah Ta’ala :

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ ﴿٤٤﴾

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami datangkan siksa bagi mereka dengan tiba-tiba, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”. {QS. Al An’am (6) : 44}

Demikianlah jawaban Allah Ta’ala yang sekaligus sebagai peringatan keras bagi manusia agar mereka mentauhidkan Allah Ta’ala dan menjauhi segala bentuk kesyirikan dan kekafiran kepada-Nya.

Bahaya Syirik Terhadap Iman dan Islam

Telah kita ketahui bahwa syirik merupakan perbuatan yang sangat keji dan kezhaliman yang paling besar. Syirik adalah perbuatan mensejajarkan makhluq dengan Allah Ta’ala. Para pelaku kesyirikan mempersembahkan amal ibadah kepada selain Allah, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Hal ini merupakan penghancuran total terhadap tauhid yang merupakan pondasi utama Iman dan Islam. Dan Allah Ta’ala sangat murka kepada para pelaku kesyirikan, Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئِينَ وَالنَّصَارَىٰ وَالْمَجُوسَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا إِنَّ اللَّـهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ إِنَّ اللَّـهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ ﴿١٧﴾ أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّـهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ ۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ ۗ وَمَن يُهِنِ اللَّـهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ ۚ إِنَّ اللَّـهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ ۩ ﴿١٨﴾  هَـٰذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ ۖ فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِّن نَّارٍ يُصَبُّ مِن فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ ﴿١٩﴾ يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ ﴿٢٠﴾ وَلَهُم مَّقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ ﴿٢١﴾ كُلَّمَا أَرَادُوا أَن يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ﴿٢٢﴾ إِنَّ اللَّـهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖوَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ ﴿٢٣﴾وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَىٰ صِرَاطِ الْحَمِيدِ ﴿٢٤﴾

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin[agama asli bangsa Babilonia yang menyembah bintang], orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? dan banyak pula di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya karena tidak mau sujud kepada Allah, dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Yang mana dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (kepada mereka dikatakan), “Rasakanlah azab yang membakar ini”. Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera. Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang Terpuji”. {QS. Al Hajj (22) : 17-24}

Begitulah Allah Ta’ala menerangkan betapa murkanya Dia terhadap orang-orang yang berbuat syirik. Sementara dengan kemahabesaran-Nya segala yang di langit dan bumi, gunung-gunung, bintang, bulan dan matahari sujud kepada-Nya. Kemudian orang-orang musyrik justru mensejajarkan Allah Ta’ala dengan makhluk-Nya dengan mempersembahkan ibadah kepada mereka disamping meyembah Allah Ta’ala. Ini merupakan penghinaan terhadap kemuliaan Allah dan merupakan kezhaliman yang paling besar.

Maka pantaslah jika Allah Ta’ala menyiapkan adzab yang sangat pedih dan mengerikan bagi mereka dan segala amal kebaikan yang mereka kerjakan di dunia tidak akan berguna untuk menolong mereka dari adzab Allah.

-bersambung-

About Salafiyyin

Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh konten blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil, serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,..

Discussion

No comments yet.

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,071 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]

%d bloggers like this: