Al Ustadz Ja'far Umar Thalib, Artikel Islami

Artikel Islam : [Bag. 03] Tauhid Adalah Asas Kehidupan Dunia


TAUHID ADALAH ASAS KEHIDUPAN DUNIA

Penulis : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib  حفظه الله 

 Artikel Islami

Macam-Macam Syirik

Meskipun syirik itu begitu gambling kekejiannya, namun tetap saja banyak orang yang terkecoh dan terjatuh dalam perbuatan syirik. Hal ini dikarenakan kamuflase syaithan dalam menyuguhkan penawaran untuk orang yang beriman agar berbuat syirik dengan berbagai macam penawaran. Oleh karena itu, para ulama Ahlus Sunnah membagi syirik dalam tiga macam agar kaum muslimin mudah mendeteksi sedini mungkin tipu muslihat syaithan ini. Tiga macam syirik itu ialah :

  1. Syirik Akbar

Yaitu perbuatan syirik dengan meyakini dan memberlakukan selain Allah Ta’ala sebanding dengan-Nya. Seperti sujud kepada selain Allah, Thawaf di kuburan yang dianggap keramat dengan niat memuliakan kuburan itu seperti orang yang thawaf di Ka’bah untuk ibadah kepada Allah, tawakal kepada selain Allah dengan menyandarkan keselamatan hidup padanya. Misalnya menyandarkan keselamatan hidup kepada keris yang diyakininya memiliki kesaktian untuk menangkal bahaya. Sehingga keris itu diperlakukan khusus, seperti dimandikan pada waktu tertentu dengan ritual tertentu pula. Taubat untuk selain Allah yaitu ketika orang bertaubat dari dosa-dosanya karena takut kepada seseorang yang diyakini memiliki kekuatan yang bisa mengawasi gerak-geriknya di manapun dia berada. Cinta dan benci untuk selain Allah yaitu cinta yang sampai pada tingkatan menghinakan diri dihadapan orang yang dicintainya demi memperoleh kasih sayang dari selain Allah. Sehingga dia membenci siapa saja yang menghalangi cintanya kepada pujaan hatinya hingga siap berkorban jiwa raga demi orang yang dicintainya selain Allah itu. Takut yang berlebihan kepada selain Allah, dengan keyakinan bahwa yang dia takuti selain Allah itu dapat membahayakan dirinya. Sehingga dipersembahkan kepada pihak yang ditakuti selain Alla itu berbagai peribadatan. Dan masih banyak lagi perbuatan syirik akbar lainnya. Yang mana apabila seseorang terjatuh ke dalam perbuatan syirik akbar, maka keimanan dan keislamannya menjadi batal. Sehingga untuk bertaubat dari perbuatan tersebut, dia harus memperbaiki syahadatnya dengan niat memperbaharui keislamannya.

  1. Syirik Asghar

Yaitu syirik yang lebih kecil dari syirik akbar, yang tidak menggugurkan keimanan dan keislaman seseorang. Meskipun demikian, syirik asghar adalah perbuatan yang lebih keji dan lebih besar dosanya daripada dosa-dosa besar selain syirik sepeti berzina, minum khamr, berjudi, mencuri, membunuh, dan dosa besar lainnya. Sehingga jika seseorang melakukan syirik asghar, maka akan merusak dan menurunkan tingkat keimanan dan keislaman seseorang. Lebih-lebih amalan ibadah yang tercampur oleh perbuatan syirik asghar, maka amalan tersebut sia-sia di sisi Allah. Yang termasuk perbuatan syirik asghar yaitu riya’ (beramal supaya dipuji atau dilihat orang lain), sum’ah (beramal supaya didengar lain sehingga mendapat pujian dari orang lain).

Dan termasuk kategori syirik asghar ialah meyakini keselamatan rumahnya dari pencurian karena dijaga oleh anjing piaraannya, padahal keselamatan itu anugerah dari Allah Ta’ala semata. Oleh karena itu, janganlah mengatakan : “untung ada anjing piaraan saya sehingga maling tidak berani masuk ke rumah say”. Tetapi katakanlah : “Alhamdulillah di sini ada anjing piaraan saya, sehingga maling itu takut masuk ke rumah saya”. Dan termasuk syirik asghar ialah berdoa kepada Allah Ta’ala di kuburan Nabi atau Wali Allah dengan disertai keyakinan bahwa doa yang dipanjatkan di situ lebih didengar oleh Allah Ta’ala. Sedangkan berdoa kepada kuburan Nabi atau Wali Allah itu adalah syirik akbar. Dan termasuk kategori syirik asghar itu ialah meyakini bahwa kesembuhan dari penyakit karena obat tertentu. Padahal kesembuhan dari penyakit apapun hanyalah dari Allah Ta’ala, dan obat harus diyakini sebagai sebab yang Allah pilih untuk kesembuhan penyakitnya.

  1. Syirik Khofi

Yaitu syirik yang lebih tersembunyi dari syirik asghar, di mana syirik jenis ini digambarkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

“Syirik itu lebih tersembunyi di dalam hati daripada langkahnya seekor semut” (HR. Abu Ya’la dalam musnadnya dan Ibnul Mundzir dari shahabat Hudzaifah bin Al Yaman dari Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhum)

Syaithan mampu masuk ke urat nadi bani Adam dan menyelinap dalam hati dan pikiran. Kemudian ia membisikkan kepadanya berbagai ajakan untuk berbuat syirik dan kufur. Sehingga kalau seorang Muslim tidak peka dalam mendeteksi adanya ajakan syaithan itu, maka tanpa dia sadari terjatuh ke dalam keyakinan atau perbuatan syirik. Oleh karena itu, setiap Muslim wajib membekali dirinya dengan ilmu Al Qur’an dan As-Sunnah agar terus meningkat kewaspadaannya dari bahaya syirik khofi tersebut.

Demikianlah bahaya syirik yang bisa merusak atau bahkan menghancurkan keimanan dan keislaman seseorang. Karena itu, setiap Muslim wajib mengoreksi keimanan dan keislamannya dari kemungkinan rongrongan syirik dan kufur. Dan Allah Ta’ala telah membimbing kita untuk selalu berdoa dalam setiap rekaat shalat dengan doa :

  اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴿٧

Tunjukilah Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai (yaitu jalan hidup orang-orang Yahudi yang menyembah Uzair, di mana mereka semangat menuntut ilmu agama namun tidak beramal dengannya) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (yaitu orang-orang Nashara yang menyembah orang yang disalib, di mana mereka semangat dalam beramal tapi didukung dengan ilmu agama)”. {QS. Al Fatihah (1) : 6-7}

Jika shalat wajib dalam lima waktu kita kerjakan tujuh belas rekaat, maka kita berdoa kepada Allah dengan doa ini minimal tujuh belas kali dalam sehari semalam. Apalagi kalau ditambah dengan shalat sunnah, tentu lebih banyak lagi kita berdoa kepada Allah dengan doa tersebut. Yang demikian itu karena detik-detik kehidupan kita tidak akan lepas dari bayang-bayang ancaman perbuatan syirik dan kufur yang akan merusak Iman dan Islam.

 -bersambung-

About Salafiyyin

Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh konten blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil, serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,..

Discussion

No comments yet.

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,171 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]

%d bloggers like this: