Al Ustadz Ja'far Umar Thalib, Artikel Islami

Artikel Islam : [Bag. 04] Tauhid Adalah Asas Kehidupan Dunia


TAUHID ADALAH ASAS KEHIDUPAN DUNIA

Penulis : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib  حفظه الله 

 Artikel Islami

Memahami Tauhid Asma’ Wa Sifat

Perkara Tauhidul Asma’ wa Sifat adalah kesempuranaan tauhid kita dalam mengenal Allah ta’ala. Makna Tauhidul Asma’ wa Sifat ialah mentauhidkan Allah Ta’ala pada nama-namaNya yang mulia dan sifat-sifatNya yang Maha sempurna dalam keagungan-Nya. Yaitu meyakini bahwa tidak ada yang berhak memiliki sifat-sifat yang sempurna dalam kemuliaan-Nya kecuali hanya Allah ta’ala dan tidak ada yang pantas memiliki nama-nama yang maknanya sempurna dalam kemuliaan kecuali hanya Allah ta’ala.

Nama-nama Allah itu dikatakan dalam Al-Qur’an dengan Asma’ul Husna (yakni nama-nama yang baik). Allah Ta’ala berfirman dalam rangka memperkenalkan diriNya :

وَلِلَّـهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚسَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴿١٨٠﴾

Dan Allah mempunyai asma’ul Husna (yakni nama-nama yang baik), maka berdo’alah kalian dengan menyebut nama2 itu. Dan biarkanlah orang2 yang menyimpang dalam memahami nama-namaNya. Mereka akan dibalas atas segala amalan mereka.” {QS. Al A’raf (7) : 180}

Juga Allah ta’ala berfirman :

اللَّـهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ﴿٨﴾ vb

Allah itu adlah dzat yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia, dan bagiNya Al Asma’ul Husna”. (QS. Thaha : 8)

Telah diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari (dalam shahihnya hadits no. 2736, 6410, 7392) dan Muslim (dalam hadits shahih no. 2677) sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam :

“Allah mempunyai sembilan puluh Sembilan nama yaitu seratus kurang satu. Tidaklah seorang mulim memahami dan menghafalnya dan mengimani segala maknanya kecuali dia akan masuk surga”.

Al Imam At Tirmidzi membawakan rincian Asma’ul Husna ini dengan menyebut satu persatu nama Allah Ta’ala.

Prinsip-Prinsip Ahlussunnah Wal Jama’ah

Ada beberapa prinsip Ahlussunnah wal jama’ah berkenaan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala. Prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut :

  1. Nama-nama Allah Ta’ala itu mengandung makna sifat-sifatNya yang Maha Mulia.
  2. Nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala itu tak terhingga, sebagaimana kemuliaan Allah Ta’ala juga tak terhingga. Hal ini telah dinyatakan dalam do’a yang dipanjatkan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam : “…….. aku memohon kepadaMu ya Allah dengan segenap namaMu yang Engkau namai diriMu dengannya, atau nama yang Engkau sebutkan dalam kitab yang Engkau turunkan, atau nama yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhlukMu, atau namaMu yang Engkau ketahui sendiri dalam ilmu ghaib yang ada di sisiMu…….” (HR. Ahmad dalam musndanya jilid 1 halaman 391, 452, juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban hadits nio. 2372 dalam Mawarid Adh Dham’an, diriwayatkan pula oleh Al Hakim dalam Mustadraknya jilid 1 halaman 509, At Thabrani meriwayatkannya dalam Al Mu’jamul Kabir hadits no.10352, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu).
  3. Dalam hadits ini telah tegas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa ada nama-nama Allah yang tidak diberitakan kepada kita dan hanya diketahui oleh Allah sendiri dalam ilmuNya yang ghaib. Jadi dengan demikian, nama-nama Allah yang diberitakan kepada kita di dalam Al-Qur’an dan dalam hadits-hadits shohih itu hanyalah sebagian dari kemuliaanNya dan tidaklah kemuliaan itu dapat dibatasi oleh angka tertentu yang dikenal oleh manusia.
  4. Mengenal sifat-sifat dan nama-nama Allah Ta’ala itu adalah perkara tauqiffiyah (yakni perkara yang telah baku dan tidak bisa dikembangkan dalam ijtihad seseorang). Yaitu bahwa sifat-sifat dan nama-namaNya itu hanyalah sebatas yang diperkenalkan kepada kita dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits yang shohih. Yakni kita tidak boleh membuat nama-nama atau sifat-sifat Allah dari hasil pikiran atau renungan siapapun.
  5. Kita juga mengartikan apa yang tersebut pada keduanya sebatas pengertian bahasa Arab dan kita tidak boleh membelokkan arti dari sifat-sifat Allah tersebut kepada makna lain dari makna dzahirnya, kecuali bila terdapat keterangan dari Al-Qur’an dan Al Hadits shohih yang membelokkannya kepada makna lain dari selain makna dzahirnya itu.
  6. Kita juga dilarang untuk membahas tentang bagaimana bentuknya atau caranya Allah Ta’ala bersifat dengan sifatnya tersebut. Karena sifat dan nama Allah Ta’ala itu tidak bisa dibayangkan atau diserupakan atau diukur dan difahami dengan apapun dari segala yang selainNya. Maha suci Allah untuk serupa atau sebanding dengan apapun yang selainNya. Hal ini ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam firmanNya : “Tidaklah serupa denganNya apapun dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” ( Asy-Syura : 11). Juga firmanNya : “Dan tidak sebanding denganNya siapapun”. (QS Al Ikhlas : 4). Juga firmanNya : “Dia Allah, Tuhan pemilik dan pengatur serta penguasa segenap langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya, maka beribadahlah kepadaNya semata dan bersabarlah kalian dalam beribadah kepadaNya. Apakah kalian mendapati sesuatu yang sebanding denganNya ? (QS. Maryam : 65)
  7. Bisa saja nama-nama dan sifat-sifat Allah itu serupa dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluq dari sisi kata dan bahasa. Namun dari sisi bagaimana bentuk dan caranya, tentu tidak pernah dan tidak akan sama antara nama dan sifat yang ada pada makhluk dengan yang ada pada Allah Ta’ala.
  8. Nama-nama Allah itu mengandung makna sifat-sifatNya, tetapi sifat-sifatNya tidak mesti menjadi nama-namaNya. Maka Allah Ta’ala tidaklah dinamakan Maakir, meskipun Dia bersifat Makar yaitu membalas setiap makar dari musuh-musuhNya. Allah Ta’ala tidaklah dinamakan Muntaqim, meskipun Dia bersifat Yantaqim, yakni membalas perbuatan jahat dengan kejahatan pula. Jadi tidaklah mesti setiap sifatNya kemudian dijadikan namaNya, tetapi setiap namaNya selalu menunjukkan makna sifatNya. Seperti nama Allah menunjukkan makna sifatNya sebagai sesembahan segenap makhlukNya. Nama Ar-Rahman menunjukkan sifatNya yang Maha Pengasih dan demikian selanjutnya.
  9. Allah Ta’ala telah memperkenalkan diriNya di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan menyebut sifat-sifat bagi DzatNya (diistilahkan oleh para ulama dengan sifat Dzatiyah) dan juga Dia menyebut sifat-sifat bagi perbuatanNya (diistilahkan oleh para ulama dengan sifat Fi’liyah). Semua itu hanya kita fahami dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits shohih.

Maka dengan kita memahami prinsip-prinsip ahlussunnah wal jama’ah tersebut diatas, kita akan dengan mudah memahami segala berita dari Allah Ta’ala dan RasulNya tentang nama-nama dan sifat-sifatNya yang Maha Mulia.

Sifat-Sifat Allah Dalam Al-Qur’an Dan Al-Hadits

Berikut ini kita berkenalan dengan sifat-sifat Allah Ta’ala sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur’an dan Al Hadits shohih. Allah Ta’ala berfirman :

هُوَ اللَّـهُ الَّذِي لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَـٰنُ الرَّحِيمُ ﴿٢٢﴾ هُوَ اللَّـهُ الَّذِي لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّـهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ ﴿٢٣﴾ هُوَ اللَّـهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿٢٤

Dia Allah Yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali hanya Dia, Yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dan segala yang tampak. Dia Ar Rahman (Maha Pengasih) dan Ar Rahim (Maha Penyayang). Dia Allah Yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali hanya Dia, Al Malik (Raja diraja) Al Quddus (Yang Maha Suci) As Salamu (Yang selalu selamat dari segala aib dan kekurangan) Al Mu’min (Yang Maha member jaminan keamanan bagi makhlukNya) Al Muhaimin (Yang Maha menjadi saksi atas segala perbuatan makhlukNya) Al Jabbar (Yang Maha memaksakan kehendakNya dan tidak bias dihalangi kehendakNya) dan Al Mutakabbir (selalu membesarkan diriNya). Maha suci Allah dari segala bentuk pensejajaran dengan makhlukNya sebagaimana yang disangkakan oleh kaum musyrikin. Dia Allah Al Khaliq (Sang Pencipta) Al Baari (Yang Menentukan segala kejadian) dan Al Mushawwir (Maha membentuk segala ciptaanNya). BagiNyalah nama-nama yang baik, bertasbih kepadaNya segala apa yang di langit dan di bumi. Dia Al Aziz (Maha Mulia) dan Al Hakim (Maha Sempurna hikmahNya).” (QS. Al Hasyr : 22-24)

Demikianlah sifat-sifat Allah Ta’ala yang dapat dipahami dari nama-namaNya yang serba baik. Allah Ta’ala juga memberitakan tentang sifat DzatNya, yaitu bahwa DzatNya mempunyai wajah, sebagaimana firmanNya :

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ﴿٢٦﴾ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ﴿٢٧

Segala apa yang dimuka bumi ini akan binasa dan yang akan kekal adalah wajah Tuhanmu Yang mempunyai Keagungan dan Kemuliaan.” (QS. Ar Rahman : 26-27)

Ketika orang-orang Yahudi menyatakan bahwa kedua tangan Allah terbelenggu yakni kikir dan tidak suka member sebagaimana keadaan orang yang kedua tangannya terbelenggu. Maka Allah ta’ala membantah pernyataan itu dengan memberitakan sifat DzatNya bahwa Dia mempunyai dua tangan yang selalu terbentang untuk memberi, karena Dia Maha Memberi, Dia berfirman :

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّـهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم مَّا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا ۚ وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۚ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِّلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّـهُ ۚ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا ۚ وَاللَّـهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ ﴿٦٤﴾

Dan telah berkata orang-orang Yahudi : “Tangan Allah terbelenggu”. Bahkan tangan merekalah sesungguhnya yang terbelenggu (karena mereka ini sangat kikir) dan mereka telah dikutuk dengan sebab perkataan itu. Bahkan kedua tangan Allah selalu terbentang, Allah memberi kepada siapa yang dikehendakiNya.” (QS. Al-Maidah : 64)

Allah Ta’ala juga memberitakan bahwa diantara sifat DzatNya Yang Maha Mulia adalah bahwa Dia mempunyai mata. Berita Allah Ta’ala tentang mataNya dinyatakan dalam firmanNya :

أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِّي وَعَدُوٌّ لَّهُ ۚ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِي ﴿٣٩

Maka letakkanlah bayi Musa itu di peti dan hanyutkanlah peti itu di sungai Nil, nanti dia akan dibawa oleh arus sungai itu ke pinggiran istana fir’aun yang akan jadi musuhnya dan musuh-Ku, dan aku akan memasukkan di hati fir’aun itu kecintaan kepadamu sebagai anugerah dariKu dan agar engkau diperlakukan dengan penglihatan MataKu.” (QS. Thaha : 39)

Di ayat ini tegas dinyatakan oleh Allah Ta’ala bahwa Dia mempunyai mata yang memandang segala perbuatan hambaNya. Adapun mata Allah Ta’ala telah dijelaskan dengan gamblang oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau berikut :

Sesungguhnya Allah itu tidaklah buta sebelah. Ketahuilah sesungguhnya Dajjal itu buta pada matanya yang sebelah kanan, seakan matanya yang rusak itu menonjol keluar seperti anggur kering.” (HR. Bukhari dan Muslim dalam shahih keduanya).

Maka dengan hadits ini telah jelas bahwa mata Allah Ta’ala itu ada dua untuk menolak pengakuan Dajjal nanti bahwa dirinya adalah penjelmaan Allah. Karena kedua mata Allah tidaklah rusak sebelah, sedangkan Dajjal yang mengaku sebagai penjelmaan Allah ternyata matanya rusak sebelah.

Diberitakan pula oleh Allah Ta’ala bahwa dari sifat DzatNya ialah bahwa Dia mempunyai betis. Allah berfirman :

يَوْمَ يُكْشَفُ عَن سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ ﴿٤٢﴾

Pada hari kiamat ini akan disibakkan betis Allah, kemudian diserulah mereka untuk bersujud kepadaNya. Akan tetapi mereka tidak mampu bersujud.” (QS. Al Qalam : 42)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan lebih gamblang bahwa yang dimaksud betis dalam ayat ini adalah betis Allah Ta’ala :

Tuhan kita di hari masyar akan menyibakkan betisNya, maka akan bersujud padaNya setiap mukmin pria dan wanita, sedangkan mereka yang didunia biasa bersujud karena riya’ (ingin dilihat orang) dan karena sum’ah (ingin didengar orang), maka mereka tidak bisa sujud. Mereka berusaha untuk ikut sujud, namun di punggungnya ada ganjalan yang menghalanginya sujud kepada Allah.” (HR Bukhari no 4909 dari Abu Sa’id Al Khudri).

Allah Ta’ala memberitakan juga dalam Al-Qur’an tentang sifat DzatNya bahwa Dia menggengam dengan telapak tanganNya yang kanan. Allah Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿٦٥﴾

Dan mereka kaum musyrikin itu tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benar pengagungan, padahal bumi semuanya digenggam olehNya pada hari kiamat dan langit yang tujuh digulung oleh tangan kananNya. Maha suci Allah dan Maha Tinggi, lebih mulia dari apa yang mereka sekutukan.” (QS. Az Zumar : 67)

Lebih jauh telah ditegaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa Allah Ta’ala mempunyai jari jemari, dari hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menceritakan :

Telah datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam seorang ulama Yahudi dan dia berkata : “Hai Muhammad, sesungguhnya kami mendapati keterangan (dalam Taurat) bahwa Allah di hari kiamat meletakkan langit yang tujuh di satu jariNya dan bumi di satu jariNya yang lain dan gunung-gunung serta pepohonan di satu jariNya yang lain lagi dan air serta tanah di satu jariNya yang lainnya dan segenap makhluk di satu jariNya yang lain, kemudian Allah berfirman : “Akulah Raja diraja”. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tertawa lebar sehingga tampak gigi taringnya karena kagum dan membenarkan perkataan ulama yahudi tersebut, kemudian beliau membaca ayat ini (Az Zumar : 67)”. (HR. Bukhari dalam shahihnya no. 4811 dan Imam Muslim dalam shahihnya no. 2786).

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam memberitakan bahwa Allah Ta’ala mempunyai telapak kaki, beliau bersabda :

Ditanyakan kepada neraka Jahanam : “Apakah kalian telah penuh dengan penghuni ?”, maka neraka menjawab : “Apakah masih ada tambahan lagi ?”, maka Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi meletakkan telapak kakiNya di atas mulut neraka sehingga neraka pun menyatakan : “sudah cukup, sudah cukup, demi KeagunganMu”. Sehingga berhimpitan kedua tepi neraka Jahanam antara satu dengan yang lainnya.” (HR. Bukhari dalam shahihnya no. 4848 dan Muslim dalam shahihnya no. 2848 dari Anas bin Malik).

Demikianlah sifat-sifat Dzatiyyah (yakni sifat Dzat Allah) dan tidaklah dengan beberapa dalil ini menunjukkan bahwa Allah diserupakan dengan jasmani yang ada pada makhluk. Akan tetapi Dzat Allah Ta’ala itu tidaklah serupa dengan apapun yang ada pada makhluk. Maka wajah Allah tidak serupa dengan wajah siapapun dan bentuk wajahNya sesuai dengan KeagunganNya yang tidak terhingga. Kedua mata Allah tidak serupa dengan mata siapapun dan bentuk kedua mataNya sesuai dengan KeagunganNya yang tak terhingga. Kedua tangan Allah tidak serupa dengan tangan siapapun dan bentuk kedua tangan Allah sesuai dengan KeagunganNya yang tak terhingga. Jari jemari Allah Ta’ala tidak serupa dengan jari jemari siapapun dari makhlukNya dan bentuk jari jemari Allah Ta’ala sesuai dengan KeagunganNya yang tak terhingga. Betis Allah Ta’ala tidak serupa dengan betis siapapun dari makhlukNya dan bentuk betis Allah Ta’ala sesuai dengan KeagunganNya yang tak terhingga. Demikian pula telapak kaki Allah Ta’ala tidak serupa dengan telapak kali siapapun dari makhlukNya dan bentuk telapak kaki Allah Ta’ala sesuai dengan KeagunganNya yang tak terhingga. Kita hanya meyakini makna dzahir dari semua berita tentang sifat-sifat Allah Ta’ala tersebut dan kita tidak boleh mempermasalahkan tentang bentuknya. Karena bentuknya tidak bisa diukur atau dibandingkan dengan apa yang ada pada makhlukNya dan semua yang ada pada Dzat Allah Ta’ala itu sesuai dengan KeagunganNya. Sementara KeagunganNya tidak bisa dibandingkan atau diukur dengan ukuran manapun, karena KeagunganNya tidaklah terhingga.

Demikian pula kita memahami berita-berita Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih tentang sifat-sifat perbuatan Allah (sifat-sifat Fi’liyyah). Ketika diberitakan bahwa Allah mencintai hambaNya, membenci hambaNya, Dia turun ke langit dunia di sepertiga akhir malam, Merahmati hambaNya, tertawa, melihat perbuatan hambaNya dan lain sebagainya. Kita memahaminya dengan tidak menyerupakan perbuatan itu dengan perbuatan makhluk dan kita meyakini bahwa bentuk dan cara Allah melakukan berbagai perbuatan itu tentunya sesuai dengan KeagunganNya yang tidak terhingga. Inilah jalan yang paling selamat dalam mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala dan inilah yang dikatakan keyakinan Tauhid Asma’ wa Sifat. Dan melalui pengenalan terhadap Allah ta’ala ini kita akan mendapat jalan untuk mencintaiNya.

(Dinukil dari Majalah Salafy  : http://www.majalah-salafy.com )

About Salafiyyin

Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh konten blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil, serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,..

Discussion

No comments yet.

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,171 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]

%d bloggers like this: