Al Ustadz Ja'far Umar Thalib, Klarifikasi/Rudud/Bantahan

NASEHAT USTADZ JA’FAR UMAR THALIB TENTANG UDZUR BIL JAHL FII A’MALIS SYIRK AKBAR


Tegak dan Ittiba dalam Manhaj Salaf

Nasehatku untuk Ananda Jabir, Adam Abu Hafsh, dan Ja’far Shaleh serta Orang-Orang yang Bersama Mereka

Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib hafizhahullah

بسم لله الرحمن الرحيم

الحمدللله ربالعالمين وبه نستعين على امورالدني والدين.

اشهدان لا اله الا لله واشهد ان محمداعبده ورسوله

للهم صل علي محمد وعلي اله وصحبه ومنتبعهم ب احسان الي يوم الدين

ياايها الذين آمنوا اتقوالله حق تقا ته ولا تموتن الاوانتم مسلمون

ياايهاالناس اتقواربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوالله الَّذِي تساءلون به والارحام ان لله كان عليكم رقيبا

ياايها الذين آمنوا اتقوالله وقولوا قولاسديدا . يصلح لكم اعمالكم ويغفرلكم ذنوبكم ومن يطع لله ورسوله فقد فازفوزاعظيما

أمابعد :

فان اصدق الحديث كتاب لله وخيرالهدي هدي محمد صلى لله عليه واله وسلم وشرالامور محدثا تها فان كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.

Berkenaan dengan Al Udzur Bil Jahli fi A’malis Syirkil Akbar, saya melihat adanya gejala yang aneh pada ikhwan-ikhwan Salafiyyin dalam masalah ini. Seperti ananda Jabir, Adam Abu Hafes, Ja’far Shaleh dan lain-lainnya. Keanehannya ialah pada keributan mereka dengan aqwal Ulama’ dalam masalah ini. Padahal aqwal Ulama itu tidak menentukan tentang benar dan salahnya sesuatu. Karena yang menentukan benar dan salahnya sesuatu itu adalah dalil dan yang dinamakan dalil itu hanya Al Qur’an dan Al Sunnah As Shahihah saja. Allah Ta’ala berfirman :

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (٥٩

Maka kalau kalian bertikai tentang sesuatu perkara, maka rujuklah kepada Allah ( yakni Al-Qur’an ), dan kepada RasulNya (yakni As Sunnah ). Kalau memang kalian berikan kepada Allah dan hari qiamat. Yang demikian itu baik dan akan lebih baik lagi akibatnya “. (QS. An Nisa: 59)

Juga Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ (١٠)

Dan apa saja yang kalian pertikaikan tentang sesuatu masalah, maka hukumnya dirujukkan kepada Allah”.(QS. As Syura : 10)

Al Hafizh Ibnu Katsir menerangkan :

Kembalikanlah segala pertikaian dan ketidaktahuan kepada Kitabullah dan Sunnah RasulNya, maka bertahkimlah kalian semua kapada keduanya dalam segala apa yang kalian pertikaikan diantara kalian, kalau memang kalian beriman kepada Allah dan hari akherat. Ayat ini menunjukkan, bahwa siapa yang tidak mau berhukum dalam pertikaiannya kepada Al Qur’an dan As Sunnah, maka dia bukanlah sebagai orang yang beriman kepada Allah dan tidak pula beriman kepada adanya hari kiamat”.

Mengapa Salafiyin yang meributkan masalah ini, tidak membicarakan dalil atau sedikit sekali membicarakan dalil, justru yang dibicarakan ialah “Qala fulan, qala Allan, dan qala fulain”. Ini saya kuatir akan menjadi gejala bahwa Salafiyyin, mulai berorientasi kepada sikap taqlid (yakni membebek) kepada para Masyayaikh. Dan sikap taqlid itu telah diharamkan oleh Allah Ta’ala sebagaimana dinyatakan dalam firmanNya berikut ini :

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا (٣٦)

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya, sesungguhnya pendengaran dan penglihatan dan akal pikiran itu, semuanya adalah nikmat Allah yang akan dipertanggung jawabkan di hari kiamat”. (QS. Al Isra’ : 36)

Al Allamah Abul Qasim Hibatullah bin Hasan bin Mansur At Thabari Al Laalikai (wafat th.418 H dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah membawakan riwayat keterangan Mujahid terhadap QS. AN nisa’ ayat 59 sebagai berikut :

“Taatilah oleh kalian Allah dan RasulNya dan Ulil Amri Minkum” artinya Ulil Amri Minkum disini ialah Ahlul Ilmi dan Ahlul Fiqih. Kemudian firmanNya “Maka bila kalian bertikai dalam satu masalah, kembalikanlah pertikaian itu kada Allah dan RasulNya”, kata Mujahid : “Rujukkanlah pertikaian itu kepada Kitabullah dan Sunnah RasulNya dan jangan kalian rujukkan pertikaian itu kepada Ulil Amri Minkum (yakni jangan kamu rujukkan pertikaian itu kepada Ahlil Ilmi dan Ahlul Fiqhi) sedikitpun”.

Juga Al Laalikai membawakan riwayat dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang menegaskan :

لايزال الناس بخير ما أتاهم العلم من قبل كبرائهم فإذا أتاهم العلم من قبل أصاغرهم هلكوا

“Tidak akan sirna kebaikan pada kaum Muslimin selama ilmu agama yang datang kepada mereka itu dari orang-orang besar dari mereka, maka bila ilmu itu datang dari anak-anak kecil dari mereka, maka merekapun binasa”.

Terhadap riwayat ini Al Laalika’ie membawakan riwayat Ibrohim Al Harbi’ yang menerangkannya sebagai berikut : “Maknanya ialah, orang muda bila mengambil sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam dan para Shahabat dan para Tabi’in, maka ia menjadi orang besar yang senior, sedang orang yang sudah lanjut usia, kalau dalam berilmu itu hanya mengambil ilmu dari omongan Abu Hanifah dan meninggalkan dalil-dalil dari Sunnah Nabi maka ia adalah orang kecil (yunior) dalam ilmu”. Riwayat Ibnu Mas’ud ini dishahihkan oleh Al Allamah Al Albani dalam Silsilah Al Ahaditsus Shahihah hadits ke 694 bahkan beliau menshahihkan hadits ini sebagai Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam.

Maka dari itu saya nasehatkan kepada ananda Jabir, Adam Abu Hafsh, Ja’far Shaleh dan lain-lainnya, agar lebih fokus kepada dalil dari Al Qur’an dan As Sunah dalam membahas apa saja dari perkara ilmiyah berkenaan dengan agama Allah ini. Jangan tersibukkan dengan aqwal (omongan-omongan ) Ulama’, sehingga lemah kemauannya untuk mendudukkan dalil dari al Qur’an dan as-Sunnah.

Sumber : http://jafarumarthalib.com/?p=143

About Salafiyyin

Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh konten blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil, serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,..

Discussion

8 thoughts on “NASEHAT USTADZ JA’FAR UMAR THALIB TENTANG UDZUR BIL JAHL FII A’MALIS SYIRK AKBAR

  1. Dalil yang melandasi pendapat ulama bahwa kejahilan dapat diterima sebagai ‘udzur dalam masalah ‘aqiidah antara lain adalah :

    1.     Hadits orang yang minta dibakar jasadnya.

    حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ الزُّهْرِيِّ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” كَانَ رَجُلٌ يُسْرِفُ عَلَى نَفْسِهِ فَلَمَّا حَضَرَهُ الْمَوْتُ، قَالَ: لِبَنِيهِ إِذَا أَنَا مُتُّ فَأَحْرِقُونِي ثُمَّ اطْحَنُونِي ثُمَّ ذَرُّونِي فِي الرِّيحِ فَوَاللَّهِ لَئِنْ قَدَرَ عَلَيَّ رَبِّي لَيُعَذِّبَنِّي عَذَابًا مَا عَذَّبَهُ أَحَدًا، فَلَمَّا مَاتَ فُعِلَ بِهِ ذَلِكَ فَأَمَرَ اللَّهُ الْأَرْضَ، فَقَالَ: اجْمَعِي مَا فِيكِ مِنْهُ فَفَعَلَتْ فَإِذَا هُوَ قَائِمٌ، فَقَالَ: مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ؟، قَالَ: يَا رَبِّ خَشْيَتُكَ فَغَفَرَ لَهُ

    Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin Muhammad : Telah menceritakan kepada kami Hisyaam : Telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhriy, dari Humaid bin ‘Abdirrahmaan, dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Dahulu ada seseorang yang melalaikan dirinya sendiri (dengan banyak berbuat dosa). Ketika maut hampir mendekati dirinya, ia berkata (kepada anak-anaknya) : ‘Jika nanti aku meninggal dunia maka bakarlah jasadku lalu tumbuklah menjadi debu, kemudian hamburkanlah agar tertiup angin. Demi Allah, seandainya Rabbku mampu menguasaiku, maka Dia akan menyiksaku dengan siksaan yang tidak akan ditimpakan kepada seorangpun’. Ketika orang itu meninggal dunia, wasiatnyapun dilaksanakan. Kemudian Allah memerintahkan bumi dengan berfirman : ‘Kumpulkanlah apa yang ada padamu’. Maka bumi melaksanakan perintah Allah. Ketika orang tadi telah berdiri (setelah dikumpulkan), Allah berfirman : ‘Apa yang mendorongmu melakukan itu?’. Orang itu menjawab : ‘Wahai Rabb, karena aku takut kepada-Mu’. Maka Allah ta’ala pun mengampuninya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3481].

    Ibnu Hazm rahimahullah berkata :

    فهذا إنسان جهل إلى أن مات أنَّ الله – عز وجل – يقدر على جمع رماده وإحيائه، وقد غفر له؛ لإقراره وخوفه وجهله

    “Orang ini jahil hingga meninggal dunia bahwasa Allah‘azza wa jalla mampu untuk mengumpulkan abunya dan mampu untuk menghidupkannya kembali. Sungguh, Allah telah mengampuninya dikarenakaniqraar-nya (atas iman kepada Allah), rasa takutnya, dan ketidaktahuannya (kejahilannya)” [Al-Fishaal, 3/252].

    Setelah menyebutkan hadits ini, Ibnu Taimiyyahrahimahullah berkata :

    فهذا رجلٌ شَكَّ في قدرة الله، وفي إعادته إذا ذُري؛ بل اعتقد أنه لا يُعاد، وهذا كُفْر باتِّفاق المُسلمينَ؛ ولكن كان جاهِلاً لا يعلم ذلك، وكان مُؤمنًا يخاف الله أنْ يعاقِبه، فغُفِر له بذلك

    “Orang ini telah ragu atas kekuasaan Allah dan dalam kemampuan-Nya untuk mengembalikannya apabila ia telah menjadi debu/abu (setelah dibakar). Bahkan ia meyakini Allah tidak akan membangkitkannya kembali (di akhirat). Ini adalah kekafiran berdasarkan kesepakatan (ijmaa’) kaum muslimin. Akan tetapi orang tersebut jaahil, tidak mengetahui perkara tersebut, dan ia sendiri seorang yang mukmin yang takut kepada Allah dan siksa-Nya. Maka ia diampuni (oleh Allah) karena hal tersebut” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 3/230-231].

    Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata saat membahas kufur juhuud (pengingkaran) :

    وأما جحد ذلك جهلا أو تأويلا يعذر فيه صاحبه فلا يكفر صاحبه به كحديث الذي جحد قدرة الله عليه وأمر أهله أن يحرقوه ويذروه في الريح ومع هذا فقد غفر الله له ورحمه لجهله إذ كان ذلك الذي فعله مبلغ علمه ولم يجحد قدرة الله على إعادته عنادا أو تكذيبا

    “Adapun orang yang mengingkarinya karena ketidaktahuannya atau karena ta’wiil, maka pelakunya diberikan ‘udzur, sehingga ia tidak dikafirkan dengannya. Hal itu sebagaimana hadits orang yang mengingkari kekuasaan Allah padanya, dimana ketika itu (sebelum meninggal) ia memerintahkan keluarganya agar membakar jasadnya dan menaburkan abunya di udara. Bersamaan dengan ini, Allah mengampuni dan merahmatinya karena kejahilannya. Perbuatan orang tersebut dilakukan sesuai batas pengetahuannya, tanpa adanya pengingkaran terhadap kekuasaan Allah untuk mengembalikan dirinya dengan penentangan atau pendustaan” [Madaarijus-Saalikiin, 1/338-339].

    2.     Hadits permintaan untuk membuatkan Dzaatu Anwaath.

    حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَخْزُومِيُّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سِنَانِ بْنِ أَبِي سِنَانٍ، عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا خَرَجَ إِلَى حُنَيْنٍ، مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ، يُقَالُ لَهَا: ذَاتُ أَنْوَاطٍ، يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “سُبْحَانَ اللَّهِ، هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى: اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ”

    Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin ‘Abdirrahmaan Al-Makhzuumiy : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Az-Zuhriy, dari Sinaan bin Abi Sinaan, dari Abu Waaqid Al-Laitsiy : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika keluar menuju Hunain melewati sebatang pohon yang disebut Dzaatu Anwaath, dimana orang-orang kafir menggantungkan senjata mereka di pohon tersebut. Para shahabat berkata : “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzaatu Anwaath sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath”. Lalu Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Subhaanallaah, perkataan ini seperti perkataan kaum Muusaa (kepada Muusaa) : ‘Buatkanlah untuk kami sesmbahan sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan’ (QS. Al-A’raaf ; 138). Demi Dzaat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kalian” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2180; dan ia berkata : “Hadits hasan shahih”].

    Sisi pendalilannya : Para shahabat meminta kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam satu hal yang termasuk syirik akbar dalam uluhiyyah. Namun beliaushallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak meminta mereka untuk memperbaharui keislaman mereka dan memberikan ‘udzur atas kejahilan mereka.

    Sebagian orang mengatakan bahwa permintaan shahabat tersebut bukanlah kufur akbar, akan tetapi kufur ashghar, karena mereka hanya sekedar minta dibuatkan hal yang semisal Dzaatu Anwaath agar mereka dapat menggantungkan senjata-senjata mereka dan bertabarruk padanya.

    Jawab : Perkataan ini tidak benar. Dalam sebagian lafadh disebutkan :

    خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى حُنَيْنٍ وَنَحْنُ حُدَثَاءُ عَهْدٍ بِكُفْرٍ، ولِلْمُشْرِكِينَ سِدْرَةٌ يَعْكُفُونَ عِنْدَهَا، ويَنُوطُونَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ يُقَالُ لَهَا: ذَاتُ أَنْوَاطٍ، قَالَ: فَمَرَرْنَا بِالسِّدْرَةِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ

    “Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain, dan kami ketika itu baru saja keluar dari kekafiran. Dan waktu itu, orang-orang musyrik mempunyai satu pohon bidara yang sering mereka pergunakan untuk beri’tikaf di sekitarnya, dan mereka menggantungkan senjata-senjata mereka padanya. Pohon itu bernama Dzaatu Anwaath. Lalu kami melewati pohon tersebut, dan kemudian berkata : “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzaatu Anwaath sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath…..” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir no. 3291; shahih].

    Para shahabat yang meminta kepada Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk dibuatkan Dzaatu Anwaath baru saja terlepas dari kekafiran, dan kekafiran yang mereka tinggalkan pada masa Jaahilyyah adalah jenis kekafiran akbar berupa penyembahan terhadap berbagai sesembahan selain Allah. Permintaan mereka untuk membuatkan Dzaatu Anwaath didasari pengetahuan bahwa pohon tersebut merupakan sesembahan orang-orang musyrik.

    Posted by Abu Nikmat | 6 February 2016, 7:37 PM
  2. Asy-Syaikh ‘Abdurrahmaan bin Hasan rahimahullahberkata :

    وقوله : (وللمشركين سدرة يعكفون عندها). العكوف : هو الإقامة على الشيء في المكان، ومنه قول الخليل عليه السلام : (مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عٰكِفُونَ) [الأنبياء : ٥٢]. وكان عكوف المشركين عند تلك السدرة تبركاً وتعظيماً لها

    “Dan perkataannya : (‘dan orang-orang musyrik mempunyai pohon bidara yang sering mereka pergunakan untuk beri’tikaf di sekitarnya’). Al-‘ukuufadalah berdiam untuk sesuatu di suatu tempat. Dan darinya adalah perkataan Al-Khaliil (Ibraahiim) ‘alaihis-salaam : ‘Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?’ (QS. Al-Anbiyaa’ : 52). I’tikaaf(berdiam diri)-nya orang-orang musyrik di sekitar pohon bidara tersebut adalah dalam rangka mencari berkah dan mengagungkannya[7]” [Fathul-Majiid, hal. 126].

    Oleh karena itu, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallammenyamakan permintaan mereka dengan permintaan kaum Nabi Muusaa ‘alaihis-salaam yang meminta untuk dibuatkan sesembahan.

    Asy-Syaikh ‘Abdurrahmaan bin Hasan rahimahullahkembali berkata :

    شبه مقالتهم هذه بقول بني إسرائيل، يجامع أن كلًّا طلب أن يجعل له ما يألهه ويعبده من دون الله، وإن اختلف الفظان. فالمعنى واحد فتغيير الاسم لا يغير الحقيقة

    “Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyamakan perkataan mereka dengan perkataan Bani Israaiil, bahwasannya kedua perkataan tersebut sama-sama menginginkan agar dibuatkan sesuatu untuk dipuja dan disembah selain Allah. Meskipun dua lafadh tersebut berbeda, namun maknanya satu, sehingga berubahnya nama tidak menyebabkan berubahnya hakekat” [Fathul-Majiid, hal. 127].

    3.     Hadits budak wanita yang bernyanyi.

    حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي الْحُسَيْنِ اسْمُهُ خَالِدٌ الْمَدَنِيُّ، قَالَ: كُنَّا بِالْمَدِينَةِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَالْجَوَارِي يَضْرِبْنَ بِالدُّفِّ، وَيَتَغَنَّيْنَ فَدَخَلْنَا عَلَى الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ، فَذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهَا، فَقَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَبِيحَةَ عُرْسِي، وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ تَتَغَنَّيَانِ، وَتَنْدُبَانِ آبَائِي الَّذِينَ قُتِلُوا يَوْمَ بَدْرٍ، وَتَقُولَانِ فِيمَا تَقُولَانِ: وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ، فَقَالَ: ” أَمَّا هَذَا فَلَا تَقُولُوهُ مَا يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إِلَّا اللَّهُ ”

    Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah : Telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Haaruun : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Abul-Husain Khaalid Al-Madaniy, ia berkata : Kami pernah berada di Madiinah ketika hari ‘Aasyuuraa’ dimana waktu itu budak-budak wanita memukul-mukul rebana dan bernyanyi. Lalu kami menemui Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz dan kami pun menyebutkan hal itu kepadanya. Kemudian ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallampernah masuk menemui kami pada hari pernikahanku di waktu pagi. Waktu itu, di sisiku ada dua orang budak wanita yang sedang bernyanyi, sementara di sisiku ada dua orang budak wanita yang sedang memukul rebana dan bernyanyi dengan memuji bapak-bapak kami yang gugur pada perang Badr. Hingga kemudian dua orang budak wanita itu mengatakan apa yang mereka berdua katakan : ‘padahal di sisi kami terdapat Nabi yang mengetahui kejadian di esok hari’. Mendengar itu beliaushallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Adapun perkataan itu, maka jangan engkau ucapkan. Tidak ada yang mengetahui kejadian di esok hari kecuali Allah” [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 1897; shahih].

    Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberikan ‘udzuratas kejahilan dua orang budak wanita yang memberikan sifat kepada beliau mengetahui hal ghaib, padahal sifat itu – jika dimutlakkan – hanyalah dimiliki oleh Allah ta’ala semata.

    Posted by Abu Nikmat | 6 February 2016, 7:40 PM
  3. 4.     Hadits terangkatnya ilmu di akhir jaman.

    حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ، عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ، عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْرُسُ الْإِسْلَامُ كَمَا يَدْرُسُ وَشْيُ الثَّوْبِ حَتَّى لَا يُدْرَى مَا صِيَامٌ وَلَا صَلَاةٌ وَلَا نُسُكٌ وَلَا صَدَقَةٌ وَلَيُسْرَى عَلَى كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي لَيْلَةٍ فَلَا يَبْقَى فِي الْأَرْضِ مِنْهُ آيَةٌ وَتَبْقَى طَوَائِفُ مِنْ النَّاسِ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْعَجُوزُ يَقُولُونَ أَدْرَكْنَا آبَاءَنَا عَلَى هَذِهِ الْكَلِمَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَنَحْنُ نَقُولُهَا فَقَالَ لَهُ صِلَةُ مَا تُغْنِي عَنْهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَهُمْ لَا يَدْرُونَ مَا صَلَاةٌ وَلَا صِيَامٌ وَلَا نُسُكٌ وَلَا صَدَقَةٌ فَأَعْرَضَ عَنْهُ حُذَيْفَةُ ثُمَّ رَدَّهَا عَلَيْهِ ثَلَاثًا كُلَّ ذَلِكَ يُعْرِضُ عَنْهُ حُذَيْفَةُ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِ فِي الثَّالِثَةِ فَقَالَ يَا صِلَةُ تُنْجِيهِمْ مِنْ النَّارِ ثَلَاثًا

    Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Muhammad : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awaanah, dari Abu Maalik Al-Asyja’iy, dari Rib’iy bin Hiraasy, dari Hudzaifah bin Al-Yaman ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “(Ajaran) Islam akan terkikis sebagaimana hiasan baju yang terkikis sehingga tidak di ketahui apa itu puasa, apa itu shalat, apa itu ibadah dan apa itu sedekah, dan akan ditanggalkan Kitabullah di malam hari, sehingga tidak tersisa di muka bumi satu ayat pun. Yang tersisa adalah beberapa kelompok manusia yang telah lanjut usia dan lemah, mereka berkata, ‘Kami menemui bapak-bapak kami di atas kalimat ‘Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah’, maka kami mengucapkannya”. Shilah berkata kepadanya : ” Apakah perkataan Laa ilaaha illallaahbermanfaat bagi mereka, meskipun mereka tidak mengetahui shalat, puasa, haji, dan shadaqah?”. Lalu Hudzaifah berpaling darinya, lantas ia (Shilah bin Zufar) mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Kemudian Hudzifah menjawab : “Wahai Shilah, kalimat itu (laa ilaaha illallaah) akan menyelamatkan mereka dari api neraka”. Hudzaifah mengucapkan itu sebanyak tiga kali [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 4049; shahih].

    Dhahir hadits ini menunjukkan adanya ‘udzur atas kejahilan ketika terangkatnya ilmu dan merajalelanya kebodohan, sehingga orang-orang tidak mengenal Islam kecuali kalimat tauhid. Mereka tidak mengetahui apa itu shalat, puasa, zakat, dan yang lainnya.

    5.     Dan yang lainnya.

    Pendapat yang menetapkan adanya ‘udzur dengan sebab kejahilan dalam masalah ‘aqiidah merupakan pendapat yang kuat. Kejahilan merupakan salah satu penghalang (mawaani’) dalam takfir mu’ayyan, karena keimanan tergantung pada ilmu, dan keberadaan ilmu bagi seorang mukmin merupakan syarat di antara syarat-syarat keimanan.

    Apakah ‘udzur ini dapat diberlakukan secara mutlak ?. Dengan melihat dalil dan beberapa penjelasan ulama – di antaranya telah disebutkan di atas – maka ‘udzur tersebut tidak dapat diberlakukan secara mutlak. Ia berbeda-beda tergantung keadaan orangnya, tempatnya, waktunya, tersebar tidaknya ilmu, dan kejelasan[8] perkara agama yang tidak diketahuinya.

    Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

    فالتكفير يختلف بحسب اختلاف حال الشخص، فليس كل مخطئ ولا مبتدع، ولا جاهل ولا ضال، يكون كافرًا، بل ولا فاسقًا، بل ولا عاصيا

    “Pengkafiran itu berbeda sesuai dengan keadaan individunya. Maka, tidak setiap orang yang bersalah,mubtadi’, jaahil, ataupun sesat otomatis menjadi kafir. Bahkan bisa jadi bukan seorang yang fasik dan bukan pula seorang yang durhaka” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 12/180]

    Lajnah Daaimah yang diketahui oleh Ibnu Baazrahimahullah berkata :

    اختلف الحُكم على الإنسان بأنْ يُعْذَر بالجهل في المسائل الدِّينية، أو لا يعذر، باختلاف البلاغ وعدمه، واختلاف المسألة نفسها وضوحًا وخفاءً، وتفاوُت مداركِ الناس قوةً وضعفًا

    “Hukum atas orang yang tidak mengetahui (jahl) dalam permasalahan agama apakah ia diberikan ‘udzur ataukah tidak, adalah berbeda-beda. Hal itu tergantung pada sampai tidaknya permasalahan itu padanya, jelas tidaknya permasalahan itu baginya, dan juga kuat tidaknya daya jangkau akal pikirannya” [Fataawaa Al-Jalnah Ad-Daaimah, 2/97 no. 11043].

    Dan satu lagi yang mesti diperhatikan, bahwa dalam hal ini mesti dibedakan antara orang yang kafir asli dengan muslim yang terjatuh dalam kekufuran. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimiin rahimahullah berkata :

    الجهل بالمُكَفِّر على نوعينِ :

    الأول : أن يكونَ مِن شخص يدين بِغَيْر الإسلام، أو لا يدين بشيء، ولو لم يكن يخطر بباله أن دينًا يخالف ما هو عليه، فهذا تَجْرِي عليه أحكام الظاهر في الدنيا – أي أحكام الكُفَّار – وأما في الآخرة فأمْرُه إلى الله – تعالى

    النوع الثاني : أن يكونَ من شخص يدين بالإسلام؛ ولكنه عاش على هذا المُكَفِّر، ولم يَكُن يخطر ببالِه أنه مخالفٌ للإسلام، ولا نَبَّهه أحدٌ على ذلك، فهذا تجري عليه أحكام الإسلام ظاهرًا، أما في الآخرة فأمْرُه إلى الله – عز وجل – وقد دَلَّ على ذلك الكتاب، والسنة، وأقوال أهل العلم

    “Ketidaktahuan (al-jahl) yang dapat mengkafirkan seseorang ada dua macam :

    Pertama; kejahilan dari seseorang yang tidak beragama Islam atau atheis, dan tidak terlintas dalam hatinya adanya agama yang menyelisihi apa yang ia anut, maka ia diperlakukan sesuai hukum dhahirnya di dunia – yaitu hukum-hukum terhadap orang kafir -, adapun kelak di akhirat, maka perkaranya diserahkan kepada Allah ta’ala.

    Kedua; kejahilan dari seorang muslim, akan tetapi ia hidup dalam perkara kekufuran, tidak terlintas dalam hatinya bahwa yang ia perbuat tersebut menyelisihi Islam, dan tidak ada seorang pun yang memberikan peringatan kepadanya akan hal tersebut, maka diperlakukan padanya hukum-hukum Islam secara dhahir, adapun kelak di akhirat, maka perkaranya diserahkan pada Allah ‘azza wa jalla. Hal ini ditunjukkan oleh Al-Qur’an, As-Sunnah, dan perkataan para ulama…..” [Majmuu Fataawaa wa Rasaail, 2/130-131].

    Demikianlah ringkasan permasalahan yang dapat dituliskan, semoga ada manfaatnya.

    Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

    Bahan bacaan :�At-Takfiir wa Dlawaabithuhu�oleh Dr. Ibraahiim Ar-Ruhailiy,�Dlawaabith Takfiir Al-Mu?ayyan�oleh Dr. ?Abdullah Al-Jibriin,�Al-Jahl bi-Masaailil-I?tiqaad wa Hukmuhu�oleh ?Abdurrazzaaq Ma?aasy (thesis, pembimbing : ?Abdurrahmaan Al-Barraak),�Al-?Udzru bil-Jahl war-Radd ?alaa Bid?atit-Takfiir�oleh Ahmad Fariid,�Al-Ilmaam bi-Syarh Nawaaqidlil-Islaam�oleh Dr. ?Abdul-?Aziiz Ar-Rays,Manhaj Ibni Taimiyyah fii Masa-alatit-Takfiir�oleh Dr. ?Abdul-Majiid Al-Mas?abiy,�Fathul-Majiid�oleh ?Abdurrahmaan bin Hasan Alusy-Syaikh, dan yang lainnya.

    Posted by Abu Nikmat | 6 February 2016, 7:43 PM
    • jazakallohu khairan atas tambahan ilmunya, dalam hal ini, apa yg antum sampaikan tidaklah bertentangan dengan apa yg disampaikan oleh al Ustadz Ja’far Hafidhahullah, tentang penetapan adanya udzur bil jahl. dan tidak sebagaimana pendapat ekstimis jabir, Adam dan Ja’far shaleh, yg menyatakan tidak adanya udzur bil jahl secara mutlak, dengan hanya berdasar pd qowal ulama yg rapuh, ulama yg sedang mrk idolakan yg sedang dipenjara oleh pemerintah saudi krn faham takfirnya. wallohu a’lam.

      Posted by Fulanah | 25 May 2016, 12:54 AM
      • mencermati tulisan anti ” … ulama yg sedang mrk idolakan yg sedang dipenjara oleh pemerintah saudi krn faham takfirnya..” , siapa nama ulama yang anti maksud?!

        Posted by alfaria | 25 May 2016, 7:45 PM
      • Ulama yang seringkali mereka sebut namanya saat perdebatan itu terjadi, sebelum Adam di keluarkan dari grup WA. Yang hujjahnya senantiasa dijadikan dalil oleh mrk.

        Posted by Fulanah | 17 June 2016, 12:31 AM
  4. It is really a great and useful piece of information. I¡¯m glad that you shared this useful information with us. Please keep us up to date like this. Thanks for sharing.

    Posted by Mohamed Seligman | 17 June 2016, 3:07 PM

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: NASEHAT AGAMA DARI AL USTADZ JA’FAR UMAR THALIB UNTUK ANANDA JABIR DAN KAWAN-KAWANNYA | DOWNLOAD DAKWAH SALAFY - 12 September 2015

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,171 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]

%d bloggers like this: