Al Ustadz Ja'far Umar Thalib, Klarifikasi/Rudud/Bantahan

NASEHAT AGAMA DARI AL USTADZ JA’FAR UMAR THALIB UNTUK ANANDA JABIR DAN KAWAN-KAWANNYA


NASEHAT AGAMA DARI AL USTADZ JA’FAR UMAR THALIB
UNTUK ANANDA JABIR DAN KAWAN-KAWANNYA

 Tahdzir

بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن تبعهم الى يوم القيامة

يا ايهالذين امنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون

يا ايهالناس اتقوا ربكم الذى خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذى تساءلون به والارحام ان الله عليكم رقيبا

يا ايهالين امنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم اعمالكم ويغفر لكم ذ نوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما

اما بعد:

فان اصد ق الحد يث كتاب الله وخير الهدى هدى محمد وشر الامور محدثاتها فان كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة فى النار

Beberapa waktu yang lalu saya menulis sebuah nasehat untuk ananda Jabir, Adam Abu Hafes, Ja’far Shaleh dan kawan-kawannya di WA Ihya As Sunnah. Nasehat saya itu sesungguhnya adalah bentuk keprihatinan saya yang mendalam atas gejala yang berbahaya yang saya lihat pada kalangan Salafiyyin ketika memperdebatkan masalah agama, dimana mereka mulai mengarah kepada sikap TAQLID (membebek) kepada para Ulama’ dan mulai mengabaikan dalil. Hal ini saya lihat pada polemik yang dibuka di WA tersebut, dimana anak-anak muda itu sibuk menukil omongan para Ulama’ dan tidak menyinggung dalil dan pembahasannya.

Dalam nasehat itu saya ingatkan mereka bahwa perkataan Ulama’ yang manapun selain Allah dan RasulNya, tidak bisa memutuskan mana yang benar dan yang salah. Tidak bisa menentukan perkara itu halal atau haram. Yang bisa menentukan itu semua hanyalah Firman Allah dan Sabda RasulNya, yakni Al Qur’an dan As Sunnah As Shahihah. 

Namun nasehat ini rupanya membikin marah ananda Jabir dan kawan-kawan, sehingga Jabir menulis jawaban terhadap Pak Jakfar Thalib (yakni saya sendiri) dan anak muda ini memperkenalkan kebesaran dirinya dan menyatakan pula betapa rendahnya tingkat keilmuan Pak Jakfar Thalib itu dalam perkara Tauhid. Perlu kaum Muslimin ketahui, Jabir ini pertama kali belajar Tauhid (menurut pengakuannya di hadapan saya) dari Al Ustadz Ja’far Umar Thalib dan juga belajar Tauhid dari muridnya Al Ustadz Ja’far, yaitu Qamar Su’aidi.

Jabir menyatakan tentang Pak Jakfar Thalib : “Walhamdulillah saya dengan diantar sodara Abu Hafes telah menasehatinya langsung, dan dia menampakkan pengakuan kelirunya dihadapan beberapa tangan kanannya, namun sayang seribu sayang sesudah berpisah ternyata ia tidak bertaubat meninggalkan pemikiran keliru fatalnya ini bahkan terus berkelit bak pengekor murjiah yang busuk, wallahul musta’an”.

Kasihan anak muda ini, dia terlalu besar menganggap dirinya, padahal dia masih pemula dalam perkara ilmu agama.Saya melihat tanda-tanda tabi’at kibir (sombong / besar diri) pada anak ini. Dan yang demikian itu adalah kelemahan yang sangat berbahaya bagi masa depan seorang thalibul ilmi. Kibir itu telah diterangkan oleh Allah Ta’ala dalam FirmanNya :

واذا قيل له اتق الله اخذته العزة بالاثم فحسبه جهنم ولبئس المهاد – البقرة 206

Dan apabila dia dinasehati untuk bertaqwa kepada Allah, diapun menyikapi nasehat itu dengan sombong dan dengan dosa, maka cukuplah bagi orang yang demikian ini neraka jahannam, sebagai sejelek-jelek tempat kembali”.(QS. Al Baqarah 206)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam menerangkan dalam sabdanya :

لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من الكبر- الكبر بطر الحق وغمط الناس – رواه مسلم (الحديث 91)

Tidak akan masuk surga orang yang dihatinya ada kibir (yakni kesombongan) meskipun seberat satu biji debu.Dan yang dinamakan kibir itu ialah menolak kebenaran dan menghinakan manusia”. HR. Muslim (hadits ke 91).

Sesungguhnya yang terjadi, ialah di hari Jum’at sodara Adam Abu Hafes menelpon saya meminta izin untuk bertamu ke rumah saya bersama seorang yang bernama Jabir. Saya katakan kepadanya, silakan shalat Jum’at bersama kami di masjid kami dan setelah itu silakan makan siang di rumah kami. Dan sodara Adam Abu Hafes datang ke Degolan menjelang saya naik mimbar untuk khutbah Jum’at. Dia meminta izin kepada saya untuk membawa tamunya ke rumah saya sebelum pelaksanaan shalat Jum’at. Dan saya tolak permohonannya karena saya harus menyiapkan diri untuk khutbah Jum’at. Dan setelah selesai shalat Jum’at, Adam Abu Hafes membawa Jabir ke rumah saya dan saya persilakan ikut makan siang bersama tamu-tamu yang lainnya. Dan setelah para tamu itu pulang, barulah Adam Abu Hafes memperkenalkan Jabir ini kepada saya. Dan ananda Jabir memberi saya hadiah berharga berupa kitab Syarah Kasyfus Syubuhat karya Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Diperkenalkan oleh Adam bahwa Jabir ini adalah muridnya Qomar Su’aidi (Qomar ini murid saya di Pesantren Al Irsyad Tengaran Salatiga), dan kemudian Jabir menimpali bahwa dirinya pernah belajar langsung dari Ustadz Ja’far Umar Thalib di Degolan. Akhirnya Jabir menceritakan kepada saya adanya wawasan baru berkenaan dengan Tauhid, yaitu uraian Ahmad Al Hazimi yang menolak adanya alasan kebodohan tentang Tauhid bagi pelaku syirik akbar dan mereka meskipun jahil harus dihukumi sebagai musyrik dan kafir keluar dari Islam. Saya dengan seksama mendengarkan segenap nukilan dan kitab-kitab yang disebutkan oleh Jabir. Dan saya berjanji kepadanya untuk mempelajarinya. Dan saya sama sekali tidak merasa membikin pengakuan tentang salahnya pemikiran saya yang lalu dengan uraian Jabir ini. Tapi rupanya sikap saya mendengar uraian dia dengan seksama itu dia artikan bahwa saya telah mengakui kesalahan saya. Sekarang setelah saya melihat kesombongan anak ini, saya menyesal kenapa saya menerimanya sebagai tamu di rumah saya dan saya hanya mampu menyatakan Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Saya berlepas diri dari tuduhannya sebagai orang yang mirip murjiah yang busuk dan tuduhan bid’ah ini sangat menjijikkan bagi saya yang mengajarinya pertama kali tentang apa itu Salaf dan apa itu Murjiah. Tuduhan itu saya kembalikan kepada Allah, biar Dia yang akan mengadilinya di hari kiamat kelak.

Selanjutnya Jabir menyatakan : “Meski saya sudah tunjukkan ijma’ yang dikutip Ibnu Qayyim dan para Ulama’ sesudahnya termasuk Ibnu Baz rahimahumullah, namun ia berkelit dengan berpegang kepada kitab karya syaikh Ahmad Abul Ainain berjudul I’laanu Nakir ala Ghulati Takfir (Pengingkaran terbuka atas ghulat takfiriyyin). Sayangnya pak Jakfar bukan termasuk thalib mumpuni lagi mapan keilmuannya sebab otodidaknya yang masyhur sejak masa mudanya, sehingga bak pencari kayu bakar ditengah malam, asal comot !!”. Demikian Jabir berceloteh.

Jabir melengkapi celotehannya tentang Pak Jakfar Thalib : “Kembali kepada Pak Jakfar Thalib, saya katakan dalil itu Al Quran sunah dan ijma’, kemudian ijma’ yang dikutip ulama kredibel selain muhkam maka pasti berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah. Seorang thalib yang matang lagi beradab jika menemukan ucapan alim terkesan kontra dengan ijma’ pasti akan berusaha mengkompromikan keduanya atau mencari udzur bagi alim tersebut, namun thalib setengah matang semisal pak Jakfar tidak faham adab ini, sehingga ia justru menabrakkan ucapan alim dengan ijma’, penyakit ahlu zaigh wa dholal, mengedepankan mutasyabih atas muhkam, wallahul musta’an”. Demikian Jabir membual.

Kemudian dia menuntaskan bualannya dengan dilengkapi kecongkaannya membesarkan dirinya, sebagai berikut : “Kepada siapakah pak Jakfar menyelesaikan kitab-kitab dasar Tauhid wahhabiyyin sehingga dengan pede-nya melabeli saya yang bihamdillah Allah mudahkan belajar langsung hingga selesai beberapa kitab ulama wahhabiyin termasuk seputar takfir dan tidak adanya udzur bil jahli, Syeikh Abdulaziz Rajihi ulama besar akidah di kota Riyadh, Syekh Abdurrahman Ajlan ulama besar masjid Al Haram, Syekh Abdullah Dumaji guru besar ushuluddin univ. Ummul Qura, Syekh Ahmad Hazimi murid senior muhaddits Makkah, dll hafidhahullah itu sebagian guru tauhid saya, adapun pak Jakfar thalib ? Mana sebutkan sanad belajar tauhidmu wahai pak Jakfar ??”. Demikian Jabir melengkapi bualannya.

Saya sesungguhnya amat malas menjawab celotehan dan bualan anak muda yang baru belajar agama semacam Jabir ini. Namun berhubung upaya pelecehan terhadap Ja’far Umar Thalib itu berkaitan langsung dengan seruan Jihad Fi Sabilillah di Papua, maka saya terpaksa mengklarifikasi celotehan dan bualan ini yang kalau tidak dijawab, bisa berakibat fitnah penggembosan terhadap seruan Jihad Fi Sabilillah tersebut. Jawaban saya terhadap Jabir adalah sebagai berikut :

  1. Ijma’ itu wahai ananda Jabir, adalah apa yang disangkakan sebagai kesepakatan Ulama’ Ahlis Sunnah. Dan ijma’ itu bukan dalil yang sederajat dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Ijma’ itu hanyalah anggapan seorang atau sekelompok Ulama’ yang bisa salah. Oleh karena itu, adalah salah bila engkau menganggapnya sebagai dalil yang sederajat dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Apalagi kalau engkau menganggap bahwa kita harus menganggap benar setiap fatwa seorang Ulama’ yang dinyatakan olehnya sebagai ijma’. Kau juga salah bila kau menganggap bahwa kita harus menerima fatwanya sebagai kebenaran sebagaimana kebenaran ijma’ itu sendiri. Al Imam Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa’ied bin Hazem (meninggal dunia th. 465 H.) dalam kitab karya beliau Al Ihkam Fi Ushulil Ahkam juz 4 hal. 584 (Darul Hadits Al Qahirah, cet. Th.1426 H. / 2005 M.), beliau menukil riwayat Abdullah bin Ahmad bin Hanbal bahwa dia mendengar dari bapaknya menyatakan :

ما يدعي فيه الرجل الاجماع هوالكذب, من ادعى الاجماع فهو الكذاب لعل الناس قد اختلفوا ما بد به ؟ ولم ينتبه اليه فليقل : لا نعلم الناس اختلفوا, دعوى بشرالمريسى والاصم, ولكن يقول : لا نعلم الناس اختلفوا, اولم يبلغني ذالك.

Apa yang dianggap oleh seseorang bahwa dalam perkara itu ada ijma’, maka anggapan itu adalah dusta (yakni salah), barangsiapa yang mengaku telah terjadi ijma’ dalam satu masalah maka sungguh dia adalah pendusta. Bukankah adanya kemungkinan orang-orang masih berbeda pendapat dalam masalah itu sebagai satu kemungkinan yang pasti ada ? Dan yang mengatakan adanya ijma’ itu tidak menyadari bahwa masih adanya perbedaan itu. Oleh karena itu, hendaknya dia menyatakan : Kami tidak tahu adanya perbedaan pendapat pada orang-orang dalam masalah tersebut. Yang mengaku pertama kali adanya ijma’ itu adalah Bisyir Al Marisi dan Al Asham (tokoh-tokoh bid’ah Mu’tazilah). Hendaknya orang mengatakan : Kami tidak tahu adanya perbedaan pendapat para Ulama’ dalam masalah ini, atau hendaknya dia menyatakan : Tidak sampai kepadaku berita tentang adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini. (jadi jangan mengatakan adanya ijma’ dalam masalah ini).” Demikian Ibnu Hazem membawakan riwayat pernyataan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Baca juga masalah ini dalam Irsyadul Fuhul Ila Tahqiqil Haq Min Ilmil Ushul, karya Al Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad As Syaukani (meninggal th. 1255 H.) hal. 64 – 65, Idarah At Tiba’ah Al Muniriyah, Damaskus tanpa tahun.

Jadi tetap saja pendapat seorang atau sekelompok Ulama’ itu harus dikoreksi dalilnya dari Al Qur’an dan As Sunnah, walaupun dia menyatakan bahwa pendapatnya ini adalah ijma’, karena adanya kemungkinan salah. Dan tidak bisa dijadikan dalil omongan seorang Ulama’ yang mengatakan bahwa pendapatnya itu adalah ijma’.

  1. Wahai ananda Jabir, anda mengajari saya tentang adab sopan santun seorang thalib yang matang. Dan ananda memvonis saya sebagai orang yang tidak punya adab terhadap Ulama’ karena menurut ananda saya menabrakkaan perkataan Ulama yang kredibel dengan ijma’. Saya tidak mengerti celotehan anak muda ini, yang dia maksud perkataan saya yang mana yang dianggapnya menabrakkan perkataan Ulama’ kredibel dengan ijma’ ?Apakah rupanya dia menganggap seruan saya untuk merujuk kepada dalil Al Qur’an dan As Sunnah saja dan jangan merujuk kepada perkataan Ulama’ itu dianggap tidak beradab kepada Ulama’ ? Kalau demikian yang dia maksud, maka ini adalah kerancuan pada manhaj Jabir dalam beragama dan ini sekali lagi menunjukkan bahwa anak muda ini masih kurang wawasan keilmuan tentang manhaj Salafus Shaleh.

Mari kita melihat bagaimana para Salafus Shaleh beradab kepada dalil Al Qur’an dan As Sunnah dan kepada para Ulama’ yang jauh lebih alim darinya. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah meriwayatkan dalam Musnadnya (jilid 1 hal. 337)dari Sa’ied bin Jubair, bahwa Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam berhaji Tamattu’ (yakni Umrah di bulan haji, kemudian tahallul / melepas baju ihramnya, kemudian berihram lagi untuk haji mulai tanggal 8 Dzulhijjah). Mendengar keterangan Ibnu Abbas tersebut, Urwah bin Az Zubair menyatakan kepada Ibnu Abbas : Tapi Abu Bakar dan Umar melarang haji Tamattu’. Ibnu Abbas menanggapi pernyataan Urwah tersebut dengan menyatakan : Aku melihat mereka akan binasa. Aku katakan Nabi berbuat begini, dia justru menyatakan Abu Bakar dan Umar berbuat begini. Demikian Imam Ahmad meriwayatkan.

Kemudian Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan dalam Majmu’ Fatawa jilid 20 hal. 216. : “Demikian pula Ibnu Umar ketika mereka (para Tabi’in) menanyainya tentang haji Tamattu’, beliau menyuruh orang untuk menunaikannya, maka mereka “menabrakkan fatwanya” dengan omongan Umar yang melarangnya, maka Ibnu Umar menerangkan kepada mereka bahwa Umar tidaklah bermaksud seperti yang mereka pahami, namun mereka berulang-ulang menanyainya tentang pelarangan Umar atas haji Tamattu’ itu. Maka Ibnu Umar akhirnya menyatakan kepada mereka : Perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam yang lebih pantas diikuti, ataukah perintah Umar ? Padahal orang tahu bahwa Abu Bakar dan Umar lebih alim daripada Ibnu Umar dan Ibnu Abbas”.

Demikian itulah adab sopan santun thalibul ilmi yang matang wahai Jabir, yaitu meneliti fatwa Ulama’ itu pada dalil yang menjadi landasan fatwa tersebut. Dan yang namanya dalil itu hanyalah Al Qur’an dan As Sunnah saja. Fatwa siapapun yang mencocoki keduanya, maka itu adalah benar. Dan fatwa siapa saja yang menyelisihi keduanya, maka fatwa itu tidak boleh diikuti. Dan sikap yang demikian itu adalah sikap para Salafus Shaleh, dan bukan sikap ahluz zaigh wadh dhalal.

Ibnu Taimiyah menambahkan keterangannya : “Dan sungguh orang-orang meninggalkan pendapatnya Umar dan Ibnu Mas’ud dalam masalah tayammum bagi orang yang junub (keduanya menganggap bahwa tayammum tidak bisa menggantikan kewajiban mandi junub -pent), dan mereka mengambil pendapat orang yang lebih rendah ilmu agamanya daripada keduanya, yaitu pendapat Abu Musa Al Asy’ari dan yang lainnya, karena Abu Musa berhujjah dengan Al Qur’an dan As Sunnah (yang menyatakan bahwa tayammuum dapat menggantikan mandi junub). Dan juga mereka meninggalkan pendapatnya Umar yang tidak menghukum diyat dalam masalah kejahatan memutuskan jari jemari. Mereka mengamalkan pendapatnya Mu’awiyah bin Abi Sufyan dalam menghukum dengan diyat bagi kejahatan tersebut, karena Mu’awiyah berdalil dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam yang menyatakan : Kejahatan terhadap anggota badan yang ini dengan kejahatan terhadap anggota badan yang ini, adalah sama hukumnya”.

  1. Ananda Jabir dengan pongahnya menanyakan, “kepada siapakah pak Jakfar menyelesaikan kitab-kitab dasar Tauhid Wahhabiyyin sehingga dengan pede-nya melebeli saya…”.

Juga dia menantang :”Adapun pak Jakfar Thalib ? Mana sebutkan sanad belajar Tauhidmu wahai pak Jakfar ?”.

Jabir dan kawan-kawan tahu bahwa saya belajar Tauhid dan ilmu-ilmu lainnya dari Syeikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’ie di Dammaj Sha’dah Yaman. Sehingga Jabir dulu pernah dengan mantap belajar Tauhid dari saya.Tapi karena kibir yang keluar dari lisannya, diapun berkata dengan kata-kata menantang seperti itu. Adapun sanad ilmuku wahai Jabir, seandainya engkau bertanya dengan sopan, maka jawabannya adalah pernyataan Syeikh Muqbil rahimahullah sebagai syahadah. Beliau ketika itu pernah ditanya sebagaimana dimuat dalam kitab Tuhfatul Mujib Ala As’ilatil Hadhir Wal Gharib yang diterbitkan oleh Darul Haramain Cairo Mesir th. 1424 H. / 2004 M. hal. 104 – 105:

السؤال 19: ما هي نصيحتكم لاهل السنة السلفيين في اندونيسيا وجزاكم الله خيرا ؟

الجواب : الذي أنصحهم به أن يقبلوا على علم الكتاب والسنة, وأن يستفيدوا من أخينا الفاضل جعفر-حفظه الله- الذي نفع الله به في مدة يسيرة , فعليهم بالتعاون معه

………

“Pertanyaan ke 19, apa nasehat antum untuk Ahlis Sunnah Salafiyyin di Indonesia wa jazakumullahu khaira ?

Jawabannya : “Yang aku nasehatkan dengannya ialah hendaknya mereka menumpahkan perhatian mereka untuk mempelajari Al Kitab Was Sunnah, dan hendaknya mereka mengambil faedah dari ilmunya saudara kita yang mulia Ja’far –hafidhahullah (semoga Allah menjaganya)- yang Allah beri kemanfaat ilmu padanya dalam masa belajar yang pendek, maka wajib atas mereka untuk bekerja sama dengannya…..”. Demikianlah IJAZAHSyeikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’ie rahimahullah terhadap Al Akh Al Fadhil Ja’far hafidhahullah.

Kemudian empat bulan menjelang wafatnya Syeikh Muqbil rahimahullah, beliau memberi surat kepada saya yang ditulis oleh tangan beliau sendiri di atas kertas berlogo مقبل بن هادي الوادعي. Tertanggal 28 Rabiuts Tsani 1421 H., dan surat beliau berjudul تزكية وشفاعة , beliau menulis :

الآخ الفاضل الشيخ جعفربن عمربن طالب واخوانه الأجلاء من اخواننا اهل السنة والشيخ جعفروبعض اخوانه من طلابنا وقد حدث لهم في بلدهم اندونيسيا ما كتبوه وهم محتاجون الي تعاون معهم بالمال وبالدعاء فهم اهل لذالك والقائمون على الجهاد من اخواننا اهل السنة ويستفتون العلماء عما أشكل عليهم

وجزى فاعلى الخيروالدالين عليه خير.

مقبل بن هادى الوادعى

Saudara yang mulia As Syeikh Ja’far bin Umar bin Thalib dan saudara-saudaranya yang mulia adalah dari saudara-saudara kami Ahlis Sunnah dan Syeikh Ja’far dan sebagian saudara-saudaranya adalah dari kalangan murid-murid kami. Dan sungguh telah terjadi di negeri mereka Indonesia sebagaimana yang mereka tulis dan mereka adalah orang-orang yang memerlukan saling tolong-menolong dengan mereka dalam perkara dana dan do’a. Maka mereka adalah orang-orang yang sepantasnya dibantu untuk perjuangan mereka dan semoga dibalas dengan kebaikan orang-orang yang berbuat kebajikan dan orang-orang yang menunjukkan kepada kebaikan”.

Muqbil bin Hadi Al Wadi’ie.

Demikian IJAZAH dari Syeikh Al Allamah Muqbil bin Hadi Al Wadi’ie rahimahullah untuk Al Akh Al Fadhil As Syeikh Ja’far bin Umar bin Thalib. Dan IJAZAH itu artinya persaksian seorang Syeikh tentang keakuratan muridnya dalam menyampaikan ilmu yang diajarkan kepadanya dari sang guru sehingga karena itu Syeikh membolehkan muridnya menyampaikan ilmu dengan menisbahkan kepada Syeikhnya. Disamping itu saya telah duduk di halaqah Syeikh Bin Baz di masjid di daerah Dirah di Riyadh, pagi dan petang setiap hari. Dan juga saya telah duduk di halaqah Syeikh Bin Utsaimin di Unaizah Qasim dan di masjidil Haram Makkah. Namun saya mendapat IJAZAH hanya dari Syeikh Muqbil bin Hadi Al Wa’ie rahimahullah. Jadi saya belajar ilmu ini bukan asal comot, tetapi dengan bimbingan para Ulama’ Ahlis Sunnah Wal Jama’ah yang Mu’tabarin.

  1. Ananda Jabir menyangka bahwa satu-satunya kitab yang menjadi pegangan saya dalam masalah Al Udzru Bil Jahli adalah I’lamun Nakir Ala Ghulatit Takfir karya Syeikh Ahmad Abul Ainain. Sangkaan anak muda ini, gegabah dan sangat tergesa-gesa menghukumi orang lain, dan sangkaannya telah keliru. Kalian tahu bahwa saya selalu mencari keterangan sebanyak mungkin untuk memutuskan satu perkara dalam masalah agama Allah Ta’ala. Karena itu tidak benar anggapanmu wahai anak muda, bahwa saya memutuskan perkara Al Udzur bil Jahli ini hanya dengan satu ktab saja. Ketahuilah olehmu, ada beberapa kitab yang saya baca dalam masalah ini sehingga saya berbeda pandangan dengan yang kamu ketahui. Saya telah membaca kitab-kitab dalam masalah ini sebagai berikut :
  1. I’lamun Nakir Ala Ghulatit Takfir, karya Syeikh Ahmad bin Ibrahim bin Abil Ainain hafidhahullah. Kitab ini dipuji oleh Al Allamah Muqbil bin Hadi Al Wadi’ie rahimahullah. Beliau menyatakan :

“ولما قرأت كتابه “إعلام النكيرعلى غلاة التكفير” سررت به جدا, ووجدته فى غاية من الانصاف والعدالة…”.

Maka ketika aku membaca kitab karyanya yang berjudul I’lamun Nakir Ala Ghulatit Takfir, aku sangat gembira dengannya, dan aku dapati ia dalam kitab itu dalam puncak sikap yang seimbang dan adil….”.

Kalau Syeikh Al Allamah Al Muhaddits Al Mujaddid Diyar Yamaniyah menyatakan pujiannya terhadap kitab tersebut dan menyatakan kekagumannya terhadap isi pembahasannya, namun anak muda yang bernama Jabir, yang baru bisa baca kitab, menilai kitab ini dengan menyatakan : “Kitab syeikh Ahmad Abul Ainain bagi saya memiliki banyak cacat dan kekurangan…..”.

Saya tidak mengerti apa yang ada dalam otak anak muda yang begitu besar memandang dirinya. Apakah adab thalibul ilmi yang matang itu seperti adab kelancangan dia terhadap kitab yang dipuji oleh Syeikh Muqbil dan kemudian pujian Syeikh Muqbil itu diabaikan begitu saja dan dia menegaskan bahwa dia lebih tahu dalam hal cacat dan kekurangan kitab tersebut? Inilah yang diperingatkan oleh para Ulama’ :

العلم ثلاثة اشبار, من دخل فى الشبر الاول, تكبر, ومن دخل فى الشبر الثانى تواضع, ومن دخل فى الشبر الثالث, علم انه ما يعلم فاحذر ان تكون ابا شبر

Imu itu tiga jengkal, barangsiapa yang masuk pada jengkal pertama, maka dia akan bersombong. Dan barang siapa yang masuk ke jengkal kedua maka dia akan bersikap tawadhu’ (yakni berendah hati), dan barangsiapa yang masuk ke jengkal ketiga, maka dia akan tahu kalau dirinya tidak berilmu. Oleh karena itu hati-hatilah kalian jangan sampai menjadi Abu Syibrin (yakni orang yang ilmunya baru sejengkal sehingga bersombong karenanya)”.Demikian Syeikh Baker Abu Zaid rahimahullah menukilkan dalam kitab beliau Hilyah Thalibul Ilmi, hal 79.

2. Al Jahlu Bi Masa’ilil I’tiqad Wa Hukmuhu, karya Dr. Abdurrazzaq bin Thahir bin Ahmad Ma’asy.

3. Isykaliyatul I’dzar Bil Jahli Fil Bahtsil Aqadi, karya Sulthan bin Abdurrahman Al Umairi.

Dan masih ada beberapa kitab lain yang saya pelajari untuk memahami masalah ini. Namun rupanya apa yang saya yakini secara ilmiah, tidak berkenan di hati ananda Jabir, sehingga dia meradang dan menerjang, kemudian menuduh saya mengikuti pemahaman bid’ah murji’ah. Begitulah rupanya menurut dia, adab sopan santun thalibul ilmi “Yang Matang”.

Selanjutnya Jabir menantang : “Kemudian dalam pernyataannya yang dimuat digroup Ayo Kita Ngaji terkait kasus berita pembakaran masjid di Papua, pak Jakfar tegas memvonis pemerintah NKRI kafir. Beberapa premis harus saya ajukan kepada sodara Jakfar sbb :

  1. Apa kekafiran yang telah dilakukan pemerintah ?
  2. Sudahkah diklarifikasi ?
  3. Sudahkah dibersihkan kerancuan dipihak pemerintah ?
  4. Sudahkah diangkat ketidak tahuan pemerintah akan kekafiran yang dilakukannya ?
  5. Siapakah ulama yang melakukannya kepada pemerintah ?
  6. Siapakah penuntut ilmu mutamakkin yang telah mewakili ulama dalam hal ini?

Jika premis-premis itu tidak dijawab (dan saya kira sodara Jakfar tidak bisa menjawabnya secara jantan) maka sodara Jakfar masuk katagori khowarij yang hina mengkafirkan muslim secara serampangan. Ganjil bukan ?

Syirik yang merupakan kebalikan tauhid ternyata pelakunya ditoleransi oleh pak Jakfar sedangkan pemerintahan yang membutuhkan banyak perincian ternyata begitu ringannya pak Jakfar mengkafirkannya, manhaj sururiyun Mesir semisal Fuad Hazza, Yasir Burhami dan Ahmad Farid bahkan ISIS dan Al Qaeda ; memberi udzur kepada pelaku syirik namun tidak kepada pemerintah yang menurut mereka berhukum dengan selain hukum Allah.Jauh berbeda dengan dakwah para nabi terutama nabi kita Muhammad”.

Demikian ocehan anak muda yang tidak mengerti adab sopan santun dalam berdialog dalam perkara agama secara ilmiah. Belum apa-apa dia sudah memastikan, “Dan saya kira sodara Jakfar tidak bisa menjawabnya secara jantan”. Kemudian atas dasar perkiraan dia yang dia pastikan itu dia menghukumi saya dengan vonis yang berbunyi : “Maka sodara Jakfar masuk katagori khowarij yang hina, mengkafirkan muslim secara serampangan”. Allahul Musta’an ala hidayatihi.

Apa yang diistilahkan ananda Jabir dengan “Premis-premis Yang Tidak Mungkin Bisa Dijawab Secara Jantan Oleh Sodara Jakfar”, sesungguhnya telah saya jawab dengan lengkap jelas dan gamblang. Perlu ananda Jabir ketahui, bahwa untuk menjawab “Premis-premis kamu itu”, tidak perlu kejantanan. Karena saya tidak pernah dididik atau mendidik orang untuk takut menerangkan keyakinan dan isi hati secara ilmiah. Saya telah mendidik kamu dan mayoritas da’i-da’I Salafi seluruh Indonesia dan memberi contoh kepadamu dan kepada segenap da’I itu untuk tidak takut menerangkan keyakinan diri dihadapan siapapun. Karena itu sangat aneh kalau kau sekarang mengatakan bahwa “Sodara Jakfar tidak mungkin bisa menjawab premis-premis itu secara jantan”.

Saya telah menjawab semua yang ananda Jabir pertanyakan itu secara pribadi melalui ananda Adam Abu Hafes. Dan kemudian secara terbuka telah saya jawab dalam bentuk tulisan yang saya publikasikan di beberapa group WA dengan Judul FATWA AGAMA TENTANG KAFIRNYA PEMERINTAH INDONESIA MENURUT DALIL-DALIL AL QUR’AN DAN AS SUNNAH.

Ketika Jabir menanyakan, adakah Ulama’ yang menerangkan kepada pemerintah berbagai kekafiran itu, saya jawab di Indonesia tidak ada Ulama’. Dan ketika dia tanya adakah thalibul ilmi mutamakkinyang mewakili Ulama’ yang menerangkannya kepada pemerintah, saya jawab sudah yaitu saya sendiri telah menerangkannya bertahun-tahun. Dan saya yakin kalau diri saya sebagai thalibul ilmi mutamakkin, karena penilaian dari guru saya yaitu Syeikh Al Allamah Muqbil bin Hadi Al Wadi’ie terhadap saya, sebagaimana yang telah saya terangkan di atas tentang IJAZAH dari beliau rahimahullah. Bahkan telah saya terangkan berbagai syubhat di seputar FATWA PENGKAFIRAN PEMERINTAH yang telah saya keluarkan itu di berbagai group WA.

Sebagai penutup saya menasehatkan kepada ananda Jabir dan kawan-kawan:

  1. Bertaqwalah kepada Allah Ta’ala dalam menuntut ilmu dan jangan menjadikan ilmu itu sebagai ajang bercongkak ria.
  2. Bertawadlu’lah kamu dihadapan ilmu ini agar Allah Ta’ala mengangkat derajatmu di dunia dan akherat dengan ilmu ini.
  3. Bersabarlah kamu dalam menyikapi perbedaan pendapat dan tetaplah menjaga adab sopan santun dalam berbeda pendapat itu.
  4. Masalah yang baru kamu ketahui dari Ahmad Al Hazimi, yaitu berkenaan dengan Al Udzru Bil Jahli Liman Waq’a Fis Syirkil Akbar, adalah masalah khilafiyah di kalangan para Ulama’ dan bukan masalah ijma’. Jadi jangan kamu menuduh orang yang berbeda pemahaman denganmu itu dengan tuduhan bid’ah dan melanggar ijma’. Dan jangan pula kamu memaksakan diri untuk meyakinkan orang bahwa pendapat yang kamu anut itu adalah ijma’.
  5. Teruslah kamu menambah ilmu dan jangan merasa telah sampai pada puncak ilmu, banyak-banyaklah kamu muthala’ah kitab-kitab warisan para Ulama’ Ahlis Sunnah Wal Jama’ah.

Washallahu wasallama wa barik ala Nibiyyina Muhammad wa ala aalihi wa shahbihi waman tabi’ahum bi ihsanin ila yaumiddin wallahul muwaffiq ila sabilir rasyad.

Sumber : http://jafarumarthalib.com/?p=146

About Salafiyyin

Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh konten blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil, serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,..

Discussion

3 thoughts on “NASEHAT AGAMA DARI AL USTADZ JA’FAR UMAR THALIB UNTUK ANANDA JABIR DAN KAWAN-KAWANNYA

  1. orang ini mirip seperti kelompok luqmaniyyun… bedanya … kalo luqmaniyyun menggelari al ustadz sebagai sufi khoriji, kelompok Jabiriyyun yang baru ini menggelari sebagai murji’ khoriji … Allahumusta’an

    Posted by Jabiriyyun | 12 September 2015, 8:49 PM
  2. Bismillah.
    Sebagian Ahlus Sunnah dengan berbagai penguat adanya ulama yang me ngkafirkan pelaku kesyirikan secara langsung tanpa diperlukan tegaknya hujjah atas pelakunya.
    Dan Sebagian Ahlus Sunnah yang membeti ‘udzur pada pelaku kesyirikan karena kebodohannya dan tidak menjatuhkannya pada label kafir.
    Inilah realita yang ada.
    Wahai saudaraku Salafiyin dimanapun berada. Hendaklah kita secara ‘arif menjuluki sesama saudaranya dengan julukan yang dibarokahi yakni tetap membetikan julukan sebagai fulan dan fulana hafidhzohulloh .
    Kita maklumi bersama kenampakan ‘Aqidah seseorang itu atas keilmuan dan keyakinannya yang diujudkan dengan amaliyahnya.
    Kesamaan pemahaman akan pilar pilar Tawhid yang menjadi pengikat antar SalafiyunTawhid Rububiyah. Tawhid ‘Uluhiyah , Tawhid Al Asma’ wa Sifat Dan Tawhid melihaf Wajah Alloh di akherat.
    Wahai saudaraku Hafidhzohulloh marilah kita saling membeti ‘Udzur jika terjada khilaf. Tidaklah pantas saling membeti label selain Ahlus Sunnah.
    Baarokallohu fiikum

    Posted by Muhamad Kudhori | 31 October 2015, 7:58 AM

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Terjemahan Fatwa Syaikh Rob’ bin Hadi Al Madkholi حفظه الله Tentang Udzur bil Jahl | DOWNLOAD DAKWAH SALAFY - 18 September 2015

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,171 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]

%d bloggers like this: