Al Ustadz Ja'far Umar Thalib, Artikel Islami

Artikel Islam : Ilmu Adalah Kenikmatan Allah Yang Paling Sempurna


PESAN-PESAN DI SEPUTAR ILMU

Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib –hafidzahullah-

Sumber dan landasan ilmu itu adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka yang dituju dengan istilah ilmu dalam tulisan ini adalah sumber dan landasan ilmu tersebut. Saya menulis artikel ini dalam rangka menasehati segenap pihak yang berkecimpung dalam bidang Al-Qur’an dan As-Sunnah, lebih-lebih bagi mereka yang sedang berlaga dalam perjuangan mengajak Ummat Islam kepada pemahamah dan pengamalan yang benar tentang Al-Qur’an serta As-Sunnah. Tentu yang paling utama saya nasehati dengan tulisan ini adalah diri saya sendiri.

                Tulisan ini sekaligus merupakan ekspresi keresahan diri saya, melihat kelemahan yang fatal pada kaum muslimin yang cenderung mengabaikan adab sopan santun terhadap sumber dan landasan ilmu ini. Padahal kehormatan mereka di dunia dan di akherat, bertumpu pada keduanya. Aku berharap kepada Allah Ta’ala untuk menerima tulisan ini sebagai bagian dari pengamalan tanggung jawab saya dalam mentaati-Nya serta mentaati Rasul-Nya di seputar Al-Qur’an dan As-Sunnah.

ILMU ADALAH KENIKMATAN ALLAH YANG PALING SEMPURNA

Allah Ta’ala telah menurunkan ilmu ke muka bumi ini, untuk mengangkat derajat hamba-hamba-Nya yang pantas mendapat kemuliaan dariNya. Hal ini telah ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya untuk mengingatkan kita dengan nikmat tersebut :

“Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dari kalian dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat.” (Q.S. Al-Mujadalah : 11)

                Rasulullah –shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam- menegaskan :

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikannya, maka Allah jadikan dia mengerti tentang agama ini (yakni agama Islam).” (HR. Al-Bukhari)[1]

Dalam menerangkan hadits ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- menyatakan : “Dan yang diambil pengertian dari hadits ini ialah bahwa siapa saja yang tidak dijadikan mengerti dengan agama ini, maka dia berarti tidak dikehendaki kebaikannya. Sehingga dengan demikian, memahami agama ini adalah wajib. Sedangkan yang dikatakan memahami agama itu hanyalah dengan memahami hukum-hukum Syari’ah Islamiyyah lengkap dengan dalil-dalilnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka siapa yang tidak tahu yang demikian itu, berarti tidak dianggap mengerti tentang agama ini.” [2]

Kenikmatan Allah dengan menurunkan ilmu ini dilengkapi dengan telah diutusnya Rasul dan Nabi-Nya untuk menjadi pengantar Rahmat-Nya bagi segenap alam dalam rangka memudahkan hamba-hamba Allah yang beriman untuk mengamalkan ilmu yang turun kepada mereka. Hal ini sebagaimana penegasan Allah Ta’ala berikut ini :

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau hai Muhammad, kecuali untuk menjadi rahmat bagi segenap alam.” (Q.S. Al-Anbiya : 107)

Para Nabi dan Rasul itu adalah contoh pengamalan ilmu yang datang dari sisi Allah dan pembimbing bagi hamba Allah yang beriman untuk mengamalkan ilmu itu. hal ini sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya berikut ini :

“Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasul itu teladan yang baik, bagi mereka yang beriman kepada Allah dan beriman kepada adanya hari akherat dan bagi mereka yang banyak berdzikir kepada Allah. (Q.S. Al-Ahzab : 21)

Disamping itu Allah Ta’ala telah menjadikan fitrah pada manusia ini untuk mencintai ilmu dengan penasaran serta perasaan ingin tahu segala yang belum diketahuinya. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya berikut ini :

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang Maha Mulia yang mengajari manusia dengan pena. Mengajari manusia ilmu yang belum diketahui.” (Q.S. Al-Alaq : 3-5)

Sementara itu, ilmu yang datang dari Allah itu adalah kebenaran dari-Nya dengan wahyu dari-Nya yang Maha Mulia dalam bentuk Al-Qur’an dan As-Sunnah.

“Dan sungguh Kami telah memberikan dalam Al-Qur’an ini segala permisalan, semoga dengan itu mereka mendapatkan nasehat. Ia adalah Al-Qur’an yang berbahasa Arab dan tidak mengandung kekeliruan, sehingga dengan itu mereka bertaqwa.” (Q.S. Az-Zumar : 27-28)

“Dan tidaklah Rasul itu berbicara dari hawa nafsunya, dia berbicara tidak lain dari wahyu Allah yang diturunkan kepadanya.” (Q.S. An-Najm : 3-4)

Maka ilmu yang Allah turunkan ini telah sempurna ditinjau dari segala sisi dengan kepastian kebenaran yang tidak mengandung keraguan sedikitpun. Sehingga sempurnanya ilmu ini adalah merupakan kesempurnaan nikmat Allah bagi kaum Mu’minin untuk kehidupan dunia akherat. Allah Ta’ala mengingatkan nikmat-Nya :

“Pada hari ini Aku sempurnakan agamamu dan Aku lengkapi nikmat-Ku atas kalian dan Aku ridha Islam menjadi agama bagi kalian.” (Q.S. Al-Ma’idah : 3)

Setelah itu Allah Ta’ala menjamin bahwa Dia Sendiri yang memelihara ilmu ini dari segala kerusakan dan penyimpangan :

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an itu, dan Kami sendiri yang akan memeliharanya.” (Q.S. Al-Hijr : 9)

Demikianlah berbagai kepastian jaminan dari Allah Ta’ala tentang ilmu yang telah dianugerahkan kepada kaum Mu’minin. Dan setelah diterangkan oleh-Nya berbagai keutamaan ilmu ini, Allah mengamanahkan kepada orang yang diberi ilmu tersebut untuk mengajarkannya dan menebarkannya di kalangan manusia. Hal ini sebagaimana yang difirma oleh-Nya dalam Al-Qur’an sebagai berikut :

“Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari orang yang diberi kitab, bahwa kalian akan menerangkannya kepada sekalian manusia dan kalian tidak akan menyembunyikannya.” (Q.S. Ali Imran : 187)

Oleh sebab itu pantaslah kalau Rasulullah –shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam- memberitakan betapa istimewanya orang yang mempelajari ilmu ini dan orang yang mengajarkannya kepada orang lain.

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’am dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya).[3]

Juga sabdanya :

“Allah semoga mencerahkan wajah orang yang mendengar sedikitpun omongan kami, kemudian disampaikan kepada orang lain sesuai dengan apa yang dia dengar. Karena ada beberapa orang yang disampaikan ilmu ini kepadanya kadang lebih paham daripada yang menyampaikannya.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya[4] dan At-Tirmdzi[5] serta Ibnu Majah[6] dalam Sunan keduanya dari Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu-

Dan pantas pula kalau Rasulullah –shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam- amat benci terhadap orang yang menyembunyikan ilmu, padahal ummat sedang membutuhkannya. Beliau mengancam orang yang menyembunyikan ilmu itu sebagaimana sabdanya :

“Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu, kemudian dia sembunyikan dari si penanya itu jawabannya, maka Allah akan mengikatnya di hari kiamat dengan tali kekang dari api neraka.” (HR. Ashabus Sunnan[7], dan Ahmad dalam Musnadnya).[8]


[1] Shahih Al-Bukhari Kitabul Ilmi bab Man Yuridillahi Bihi Khairan Yau Faqqihhu Fid Diin, hadits ke-71 dari Mu’awiyyah bin Abi Sufyan –radhiyallahu ‘anhu-

[2] Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, jilid 20 halaman 212, Mujamma’ Al-Malik Fahad Li Tiba’til Mus’hafis Syarif Fil Madinah Al-Munawwarah, cet. Th. 1416 H / 1995 M.

[3] Shahih Al-Bukhari atau nama aslinya Al-Jami’us Shahih Al-Musnad Min Haditsil Rasulillah wa Sunanihi wa Ayyamihi, Al-Imam Muhammad bin Isma’il Mawla Al-Ju’fi Al-Bukhari –rahimahullah-, Kitab Fadha’ilul Qur’an Bab Khairukum Man Ta’allamal Qur’an wa Allamahu, hadits ke-5027, dari ‘Utsman bin ‘Affan –radhiyallahu ‘anhu-

[4] Musnadu Ahmad bin Hanbal, Al Imam Al Hafidh Abu Abdillah bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris Adz-Dzuhli Asy-Syaibani (lahir th.164 H dan meninggal th. 241 H), hadits ke-4157 dari Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu-

[5] Al-Jami’us Shahih atau terkenal dengan nama Sunan At-Tirmidzi, Al-Imam Al-Hafidh Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah At-Tirmidzi –rahimahullah- (lahir th.209 H dan meninggal th.297 H), Kitabul Ilmi Bab Ma Jaa’a Fil Hatstsi Ala Tablighis Sima’, hadits ke-2656, dari Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu-

[6] Sunan Ibnu Majah, Al-Hafidh Abu Abdillah Muhammad bin Yazid Al-Qazwini Ibnu Majah –rahimahullah- (lahir th. 207 H dan meninggal th. 275 H), dalam Al-Muqoddimah Bab Man Ballagha Ilman hadits ke-230-232, dari Zaid bin Tsabit, Jubair bin Muth’im, dan Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhum-

[7] Sunan At-Tirmidzi, Kitabul Ilmi Bab Ma Jaa’a Fi Kitmanil Ilmi, hadits ke-2649, dari Abi Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-. Sunan Abi Dawud, Al-Hafidh Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sijistani Al-Azadi –rahimahullah- (Lahir th. 202 H dan meninggal th. 275 H), Kitabul Ilmi Bab Karahiyati Man’il Ilmi dari Abi Hurairah hadits ke-3658 Sunan Ibnu Majah, Muqoddimah Bab Man Su’ila An Ilmin Fa Katamahu, dari Abi Hurairah hadits ke-261 serta hadits ke-266 dan dari Anas bin Malik hadits ke-264 dan dari Abi Sa’id Al-Khudri hadits ke-265.

[8] Musnad Imam Ahmad hadits ke-7561, 7930, 8035, 8514, 8623, 10425, 10492, 10605 dari Abi Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-

 

About Salafiyyin

Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh konten blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil, serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,..

Discussion

No comments yet.

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,331 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]

%d bloggers like this: