Al Ustadz Ja'far Umar Thalib, Artikel Islami

Artikel Islami : [Bag. Ke-02] Antara Asy’ariyah dengan Maturidiyah


ANTARA ASY’ARIYAH DENGAN MATURIDIYAH (BAGIAN KEDUA) 
Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib   حفظه الله

Setelah kita mengenal sedikit tentang asal-usul Asy’ariyah, marilah kita mengenal Maturidiyah dan hubungannya dengan Asy’ariyah. Bahwa Maturidiyah itu adalah pemahaman yang digagas oleh Abu Mansur Al Maturidi. Nama dan nasab beliau adalah Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al Maturidi Al Samarqandi. Beliau lahir di sekitar th. 238 H. dan wafat th. 333 H. Beliau terkenal sebagai Imamul Mutakallimin (Imam para para ahli ilmu kalam) dan beliau menulis beberapa kitab yang menunjukkan betapa mendalamnya ilmu beliau dalam ilmu kalam dan qaidah-qaidah filsafat. Diantara kitab-kitab karya beliau adalah : “At Tauhid”, “At Ta’wilat”, “Al Maqalaat” dan lain-lainnya. Sementara itu kitab Al Maqalat termasuk kitab yang hilang menurut para peneliti.

Para peneliti menyimpulkan dari kitab-kitab karya Abu Mansur Al Maturidi tersebut sebagai berikut :

1. Dr. Mahmud Qasim dalam muqaddimahnya terhadap kitab karya Ibnu Rusyd (Manahijul Adillah) menyatakan bahwa Al Maturidiyah lebih dekat kepada pikiran Mu’tazilah daripada Asy’ariyah.

2. Dr. Jalal Musa dalam kitabnya Nasy’atu Al Asya’irah Wa Tathawwuruha menyatakan bahwa Al Maturidiyah mencocoki pemikiran Mu’tazilah secara mutlak.

3. Dr. Ahmad Amin dalam kitabnya Dzuhrul Islam berpendapat bahwa Al Asy’ariyah itu lebih dekat kepada Mu’tazilah daripada Al Maturidiyah. Karena Abul Hasan Al Asy’ari pernah belajar dalam waktu yang lama dengan Al Mu’tazilah.

4. Zahid Al Kautsari dalam muqaddimahnya terhadap kitab Tabyin Kidzbul Muftara karya Ibnu Asakir menyatakan bahwa Al Maturidiyah itu pemikirannya di tengah antara Asy’ariyah dengan Al Mu’tazilah.

5. Abu Zahrah menerangkan dalam kitabnya Tarikh Al Madzahibul Islamiyah , bahwa Al Maturidiyah dengan Al Asya’rah keduanya sama-sama menjadikan akal serta teori-teori Ilmu Mantiq sebagai landasan dalam memahahi perkara aqidah yang diterangkan dalam Al Qur’an. Dan Al Maturidiyah pemikirannya ditengah-tengah antara Asy’ariyah dengan Mu’tazilah.

Perbedaan pendapat diantara para peneliti tersebut terjadi karena memang kitab-kitab yang ditulis oleh tiga golongan utama dalam Ilmu Kalam ini (yaitu Mu’tazilah, Maturidiyah dan Asy’ariyah) adalah kitab-kitab yang menggunakan retorika logika filsafat Yunani. Sehingga boleh saja logika dipahami dengan logika pula. Mereka memahami dalil-dalil Al Qur’an dan Al Hadits dengan logika filsafat Yunani itu, sehingga mereka melakukan ta’wil bathil atau dengan kata lain “Tahrif”. Yaitu merubah-rubah makna dalil itu untuk di cocokkan dengan logika mereka. Sehingga jadilah pemahaman mereka itu menjadi bola liar di kalangan pengikutnya. Demikian diterangkan oleh Al Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muslim Ibnu Qutaibah rahimahullah (lahir th. 213H. dan wafat th. 376 H) dalam Al Ikhtilaf Fil Lafdl hal.12 :

إن المتكلمين يعتنقون الأراء الذين يذهبون إليها بعقولهم، ثم ينظرون في كتاب الله، فإذا وجدوه ينقض ما قاسوا، يبطل ما أسسوا، طلبوا له التأويلات

“Sesungguhnya para ahli Ilmu Kalam itu meyakini berbagai pandangan produk akal mereka, kemudian setelah itu mereka melihat Kitabullah (yakni Al Qur’an). Maka bila mereka mendapati (ada ayat-ayat) Al Qur’an yang membatalkan pandangan akal mereka dan membatalkan metodologi yang mereka bangun, maka mereka berusaha mencari ta’wilan bagi ayat-ayat itu (agar mencocoki qaidah berfikir mereka)”.  

Dengan cara pemahaman agama yang demikian itu, mereka kaum Mutakallimun itu (kaum ahli ilmu kalam itu) mengharuskan setiap Muslim untuk mempelajari ilmu Mantiq. Dimana ilmu ini mengajarkan metodologi logika menurut filsafat Yunani yang dibangun di atas perdebatan logika semata. Menurut mereka, kaum Muslimin tidak akan memahami aqidahnya kecuali setelah dia memahami ilmu mantiq. Sehingga mereka mengopinikan kepada kaum Muslimin bahwa ilmu Tauhid itu ilmunya para khawas (orang-orang khusus). Adapun orang awam agama, dilarang mempelajari Tauhid, sebab bila mempelajarinya tanpa didahului mempejari ilmu mantiq, dikuatirkan orang awam itu akan sesat atau bahkan menjadi atheis. Salah seorang Ulama’ ahli fiqih dari kalangan Asya’irah – Maturidiah itu, yakni Al Allamah Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Hajar Al Haitami As Sa’di Al Anshari As Syafi’ie, (lahir th. 909 H. dan wafat th. 973 H) menyatakan dalam kumpulan fatwa beliau (Al Fatawa Al Haditsah hal. 204) :

وسئلت عن مطالعة كتب العقائد ؟ فأجبت بقولي : لا ينبغي للإنسان الذي لم يحط بمقدمات العلوم الإلهية والبراهين القطعية أن يشغل بمطالعة شيء من كتب العقائد المشكلة ، فإنها مزلة الأقدام جالبة لوقوعهم في ورطة الحيرة والأوهام، بل ربما أدى بهم ذلك إلى الكفر الصريح والإبتداع القبيح، فليترك العاقل ذلك إذا أراد سلامة دينه ، فإن كان فاعلا ولا بد، فليلزم شيخا عالما بفن الكلام .

“Dan aku pernah ditanya tentang bolehkah mempelajari kitab-kitab aqidah ? Maka aku menjawabnya dengan perkataanku : Tidak sepantasnya bagi seseorang muslim yang belum menguasai metodologi ilmu – ilmu yang berkenaan dengan ketuhanan dan argumentasi – argumentasi yang pasti, untuk menyibukkan dirinya mempelajari sesuatupun dari kitab-kitab aqidah yang penuh kesulitan padanya. Karena (membaca kitab aqidah dalam keadaan demikian itu) akan menggelincirkannya dan menyeretnya untuk terjatuh dalam carut-marutnya kebingungan intelektual dan sangkaan demi sangkaan. Bahkan kadang-kadang mereka bisa terjatuh dalam kekafiran yang nyata dan kebid’ahan yang jelek. Maka hendaknya orang yang berakal itu meninggalkannya (yakni meninggalkan mempelajari kitab-kitab aqidah) bila ingin agamanya selamat. Dan kalau memang dia ingin mempelajarinya, maka hendaknya dia berguru dengan orang yang menguasai ilmu kalam”.

Demikianlah landasan pemahaman kalangan Asy’ariyah – Maturidiah yang sangat menjunjung tinggi akal pikiran mereka di atas Al Qur’an dan Al Hadits dan tentunya diatas pemahaman para Salafus Shaleh. Mereka menyusun “ilmu-ilmu” yang diambil dari filsafat Yunani kuno, yaitu filsafat Aristoteles, dan filsafat gurunya yaitu Sokhrates, dan filsafat gurunya Sokhrates yaitu Plato yang notabene adalah filsafat Materialisme dan Relatifisme atau Sofesta’iyah. Ilmu-ilmu yang mereka adopsi dari filsafat Yunani itu adalah Ilmu Mantiq, ilmu Kalam, dan lain-lainnya. Kemudian dengan berbagai ilmu bid’ah dhalalah itu, mereka membikin rancu pemahaman agama kaum Muslimin, dengan memasukkan berbagai sampah pemikiran Yunani itu dalah pembahasan perkara aqidah atau ilmu Tauhid. Sehingga ilmu Tauhid itu penuh dengan hinggar – bingar perdebatan logika, sehingga amat sulit dipahami oleh orang awam agama ataupun orang yang berilmu sekalipun. Setelah itu dengan kenyataan ilmu Tauhid itu demikian, mereka melarang kaum Muslimin untuk mempelajari ilmu Tauhid. Sehingga kaum Muslimin beragama tanpa Tauhid. Yang berarti mereka beragama tanpa landasan yang kokoh, dan inilah sesungguhnya yang dikatakan Floating mass (massa mengambang). Mudah dimobilisir oleh para pemimpinnya kemana saja yang dimaukan sesuai dengan pesan sponsor. Dan yang pasti mudah diceraiberaikan satu dengan lainnya ketika para pemimpinnya berbeda pendapat dan atau berbeda pendapatan.

Al Imam Ibnu Qutaibah dalam Ta’wil Mukhtalafil Hadits (hal. 20 – 21) menerangkan : “Dan sungguh aku telah mempelajari berbagai aliran pemahaman ahli ilmu kalam, maka aku dapati bahwa mereka itu adalah gerombolan orang-orang yang suka berkata tentang Allah dalam perkara yang mereka sendiri tidak mengerti tentangnya, dan mereka membikin fitnah dikalangan Muslimin dengan ajaran-ajaran yang mereka sampaikan, mereka bisa melihat tahi mata pada mata orang lain, padahal di mata mereka ada tahi mata sebesar pokok pohon korma dan mereka tidak melihatnya, mereka meragukan kebenaran makna dalil naqli (yakni dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah) tetapi mereka tidak meragukan pikiran-pikiran mereka dalam menafsirkan dalil-dalil itu. Padahal makna Al Qur’an dan As Sunnah dan apa saja yang diambil dari rahasia-rahasia hikmah serta berbagai makna-makna bahasa yang ganjil, tidak akan difahami dengan teori-teori ilmu Kalam .

Seandainyalah mereka mengembalikan makna-makna yang sulit difahami dari Al Qur’an dan As Sunnah itu kepada ahli ilmu Al Qur’an dan As Sunnah, niscaya akan dijelaskan kepada mereka jalan untuk memahaminya dan akan terbuka lebar bagi mereka jalan keluar dari segala kesulitan itu. Akan tetapi yang menghalangi mereka untuk (merujuk kepada Salafus Shaleh ahli ilmu Al Qur’an dan As Sunnah) itu adalah karena ambisi kepemimpinan dan senang dengan adanya pengikut dan meyakinkan kepada ikhwan pengikutnya tentang berbagai pendapat mereka.

Sedangkan keumuman orang keadaannya bagaikan serombongan burung yang sebagiannya mengikuti sebagian yang lainnya. Sehingga bila muncul diantara mereka orang yang mengaku jadi Nabi, padahal mereka mengerti bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam itu adalah penutup para Nabi, atau bahkan seandainya ada yang mengaku jadi Tuhan, niscaya akan ada dari kalangan muslimin yang kosong dari aqidah itu, menjadi pengikutnya dan masa pendukungnya. Dan semestinya, dengan anggapan mereka bahwa dalam ilmu qiyas ada berbagai perangkat metodologi penelitian yang disepakati, mereka tidak berselisih sebagaimana tidak berselisihnya ahli hitung dan ahli ukur dan para ahli tehnologi. Karena alat-alat ukur mereka hanya satu dan bentuk dari produk alat itu hanya satu, karena yang demikian itu adalah perkara-perkara pelajaran pertama sehingga menjadikan mereka terpaku pada satu pendapat. Demikian semestinya ilmu-ilmu logika, namun kenyataannya mereka para ahli ilmu Kalam itu (yang padal juga adalah bagian dari ilmu logika), adalah gerombolan manusia yang paling banyak bertikai, sehingga tidak pernah ada dua tokoh mereka yang sepakat dalam satupun perkara agama. Tidak ada seorang tokoh ahli ilmu Kalampun, kecuali dia mempunyai madzhab sendiri dalam agama yang dia yakini madzhabnya dengan logikanya sendiri dan dia mempunyai pengikut untuk madzhabnya itu.

Seandainya perselisihan mereka itu dalam perkara furu’ , niscaya terbuka lebar untuk dimaafkan perselisihan itu menurut kami, walaupun perbedaan pendapat itu sama sekali tidak dimaafkan dikalangan mereka, dan meskipun mereka mengaku sebagai kaum yang suka berlapang dada dalam menyikapi perbedaan pendapat, sebagaimana perbedaan pendapat para fuqaha’ dan mereka mengaku sebagai orang-orang yang mencontoh toleransi dalam perbedaan pendapat itu sebagaimana yang terjadi di kalangan para ahli fiqih.

Namun perbedaan pendapat di kalangan para ahli ilmu Kalam itu bukan dalam perkara furu’ (cabang agama), tetapi dalam perkara ushul (perkara pokok agama), seperti dalam perkara Tauhid, dan dalam perkara sifat-sifat Allah Ta’ala, dan dalam perkara QudrahNya, dan dalam perkara keni’matan yang dilimpahkan kepada para penghuni surga, dan dalam perkara adzab yang dialami oleh penghuni neraka, dan dalam perkara adzab yang dirasakan di alam barzakh (yakni alam kubur), dan juga mereka berselisih tentang Al Lauhul Mahfudl, dan dalam perkara-perkara lain yang Nabi tidak mengerti tentangnya kecuali karena turunnya Wahyu dari Allah kepadanya.

Dan tidak akan hilang di kalangan mereka, orang-orang yang akan merujukkan perkara ushul (pokok-pokok agama) ini kepada istihsan (anggapan baik akal mereka) dan kepada logikanya, serta apa yang menjadi kemestian qiyas menurut masing-masing tokoh, karena para tokoh ilmu Kalam itu berbeda-beda akal mereka dan berbeda pula berbagai kehendak mereka dan pilihan mereka. Maka kalau sudah demikian, sungguh engkau tidak akan melihat dua orang Muslim yang bersepakat dalam satu masalah, dimana setiap orang daripadanya mempunyai pilihan masing-masing, dan yang satu menghinakan pilihan yang lainnya, kecuali bila mereka bertaqlid (membebek kepada seseorang tokoh) barulah mereka bersatu dalam mengikuti tokohnya”. Demikian Ibnu Qutaibah menerangkan.

Al Imam As Suyuthi rahimahullah dalam Shounul Manthiq hal. 182 – 183 menukil pernyataan Al Imam Abul Mudzaffar As Sam’ani rahimahullah sebagai berikut : “Ketahuilah bahwa yang merbedakan antara kita Ahlus Sunnah dengan Ahli Bid’ah adalah masalah akal. Karena mereka Ahlul Bid’ah itu membangun keyakinan mereka terhadap agama mereka di atas fondasi akal dan mereka menjadikan Ittiba’ (yakni mengikuti Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa alihi wasallam) dan riwayat-riwayatnya dari para Salafus Shaleh sebagai perkara yang harus tunduk mengikuti tuntunan akal pikiran mereka. Sedangkan Ahlus Sunnah menyatakan bahwa pokok agama itu ialah Ittiba’ . Sedangkan akal pikiran harus mengikuti tuntunan beliau.

Dan seandainya agama Al Islam itu dibangun diatas fondasi akal pikiran, niscaya manusia dan jin tidak memerlukan Wahyu dan niscaya mereka tidak memerlukan adanya para Nabi shalawatullah alaihim, dan akan gugurlah fungsi perintah dan larangan dalam agama Allah dan niscaya setiap orang akan berkata tentang agama sesuai dengan apa yang dia mau.

Dan juga seandainya agama Islam itu dibangun diatas dasar fondasi akal pikiran, niscaya menjadi wajib atas setiap Mu’min untuk tidak menerima keterangan agamanya kecuali bila keterangan itu mencocoki akal pikirannya. Padahal kenyataannya bila kita mempelajari kebanyakan berita dari agama Al Islam, dalam bidang sifat-sifat Allah Azza Wa Jalla dan apa yang diibadahi oleh manusia dengan segenap keyakinannya , dan demikian pula tentang apa yang menjadi amalan dzahir diantara kaum Muslimin, yang mereka nukilkan riwayatnya dari para Salaf mereka, sampaipun apa yang mereka sandarkan beritanya kepada Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam, seperti berita tentang adzab kubur dan pertanyaan di kubur yang dilakukan oleh dua Malaikat, serta telaga Alhaudl di Mahsyar dan timbangan amal di Mahsyar dan jembatan penyeberangan yang dibentangkan diantara dua tepi neraka jahannam, serta sifat-sifat surga dan neraka dan akan kekalnya penghuni keduanya pada keduanya, semua itu adalah perkara yang tidak bisa dicapai oleh jangkauan akal pikiran.

Hanyalah yang ada ialah adanya perintah agama untuk menerima semua itu sebagai keyakinan yang benar. Itulah sebabnya, bila kita mendengar dalil agama tentang sesuatu masalah dan akal kita bisa memahaminya, maka kita bersyukur kepada Allah dan memujiNya dan kita yakini bahwa kita dapat memahaminya dengan akal kita itu karena taufiq dari Allah. Adapun perkara agama yang tidak bisa dipahami oleh akal kita dan tidak sampai kepadanya jangkauan akal kita, maka kita tetap beriman kepadanya dan kita wajib membenarkannya, dan kita meyakini bahwa yang demikian itu adalah dari Rububiyah Allah dan QudrahNya dan kita mencukupkan diri dengan Ilmu Allah dan KehendakNya”. Demikian Al Imam Abul. MUDZAFFAR as Sam’ani menerangkan.

Selanjutnya beliau menambahkan : “Dan hanyalah yang menjadi kemestian bagi kita adalah bahwa kita wajib menerima keterangan agama dalam perkara yang dapat kita pahami oleh akal kita dan adapun dalam perkara keterangan agama yang tidak dapat kita pahami dengan akal kita, kita harus tunduk taat menerimanya. Dan inilah yang dikatakan Ahlus Sunnah bahwa Al Islam adalah jembatan yang tidak akan bisa diseberangi kecuali dengan tunduk kepada ajarannya”. Demikian As Suyuthi menukilkan.

Maka dengan demikian, Asy’ariyah – Maturidiyah itu adalah keyakinan kepada kebenaran agama Al Islam dengan berlandaskan ilmu Kalam dan Ilmu Mantiq. Yaitu ilmu-ilmu yang dibangun diatas “Keagungan Akal Pikiran” serta keberhasilan menundukkan Al Qur’an dan As Sunnah kepada qaidah-qaidah logika Yunani. Dan ini adalah akibat dari penetrasi budaya filsafat Yunani di kalangan Ummat Islam. Dan Da’wah Salafiyah yang dibangkitkan oleh Syeikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab At Tamimi adalah Da’wah Islamiyah yang mengajak kembali Ummat Islam kepada agama yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam dan diwariskan eleh para Salafus Shaleh dari kalangan para Shahabatnya (murid-murid Nabi) dan para Tabi’in (murid-murid Shahabat) dan para Tabi’it Tabi’in (murid-murid Tabi’in). Yaitu agama yang merujukkan segala perkara itu kepada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman para Salafus Shaleh serta menundukkan akal pikiran dan perasaan kepada keduanya. Inilah persimpangan jalan antara Asy’ariyah – Maturidiyah dengan Manhaj Salafus Shaleh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

 

Sumber : https://www.facebook.com/jafarumar.thalib.37/posts/182721309169444

About Salafiyyin

Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh konten blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil, serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,..

Discussion

No comments yet.

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,313 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]

%d bloggers like this: