Al Ustadz Ja'far Umar Thalib, Artikel Islami

Artikel Islami : [Bag. Ke-03] Manhaj Salafush Sholeh dalam Menghadang Kebatilan Manhaj Asy’ariyah – Maturidiyah


KEKUATAN MANHAJ SALAFUS SHALEH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH MENGHADANG KEBATILAN MANHAJ ASY’ARIYAH – MATURIDIYAH (BAGIAN KETIGA) 
Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib   حفظه الله

 

Manhaj itu artinya thoriqah atau cara memahami dan cara beramal dan cara berda’wah serta cara memperjuangkannya. Kekuatan manhaj Salafus Shaleh Ahlus Sunnah Wal Jama”ah itu tidak tergoyahkan oleh guncangan kemaksiyatan, bid’ah, syirik, dan kufur yang dikampanyekan ditengah ummat manusia, khususnya di tengah ummat Islam. Alhamdulillah manhaj Salafus Shaleh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ini tidak pernah luntur apalagi berubah dari format aslinya sebagaimana yang diwariskan oleh para Salafus Shaleh. Adapun pengertian Salafus Shaleh itu, secara bahasa artinya : Para pendahulu yang shaleh. Dan ini adalah istilah yang menjadi gelar kemuliaan bagi generasi yang dimuliakan oleh Allah dan RasulNya. Yaitu generasi kaum Mu’minin yang sezaman dengan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam, yang mereka ini dinamakan “Shahabat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam”. Kemudian generasi sesudahnya , yaitu generasi Tabi’in, yang mereka ini adalah kaum Mu’minin yang belajar agama dari Shahabat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Kemudian generasi Tabi’it Tabi’in, yaitu generasi kaum Mu’minin yang belajar agama dari para Tabi’in. Mereka itu adalah tiga generasi kaum Muslimin yang pertama dan utama dan mereka dipuji oleh Allah dan RasulNya dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

للفقاراء المهاجرين الذين أخرجوا من ديارهم وأموالهم يبتغون فضلا من الله و رضوانا وينصرون الله ورسوله أولئك هم الصادقون – والذين تبوء الدار والإيمان من قبلهم يحبون من هاجر إليهم ولا يجدون في صدورهم حاجة مما أوتوا ويؤثرون على أنفسهم ولو كان بهم خصاصة ومن يوق شح نفسه فأولئك هم المفلحون – والذين جاءو من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين ءامنوا ربنا انك رءوف رحيم. – الحشر 8 – 10.

“Fai’ (yakni harta yang dirampas dari orang-orang kafir) itu dibagikan untuk orang-orang faqir dari kalangan muhajirin yang diusir dari negeri mereka, dan dirampas harta mereka karena hijrah ke Al Madinah, mereka rela mengorbankan semua itu karena mengharapkan keutamaan dari Allah dan RidhoNya dan karena mereka ingin membela agama Allah dan RasulNya, mereka itu adalah orang-orang yang jujur dalam menyatakan keimanannya. Dan juga fai’ itu untuk orang-orang Mu’min yang tinggal di Al Madinah (yakni orang Anshar) yang mereka itu telah beriman sebelum kedatangan para Muhajirin, mereka itu mencintai orang-orang yang hijrah ke negeri mereka dan mereka itu tidak mendapati di hati mereka kepentingan dunia pada apa yang mereka berikan kepada para Muhajirin dan mereka lebih mengutamakan saudaranya seiman dari kalangan Muhajirin daripada diri dan keluarga mereka, walaupun sesungguhnya mereka itu dalam keadaan sangat memerlukannya. Dan barangsiapa yang dilindungi dari kekikiran dirinya, maka ia adalah orang yang sukses hidupnya. Dan generasi yang datang sesudah mereka (yani para Tabi’in), mereka selalu memanjatkan do’a kepada Allah : Wahai Tuhan kami , ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami meninggal dunia dengan iman dan janganlah Engkau jadikan di hati kami kedengkian kepada orang-orang yang beriman, wahai Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Pengasih dan Penyayang”. S. Al Hasyr 8 – 10.

Juga Allah Ta’ala berfirman :

والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه – التوبة 100.

“Dan orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, Allah Ridho terhadap mereka dan mereka akan ridho kepada Allah ketika melihat balasan dariNya atas perbuatan mereka”. S. At Taubah 100.

Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wa sallam bersabda :

خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم ثم يجيء أقوام تسبق شهادة أحدهم يمينه ويمينه شهادته – رواه البخاري في صحيحه (الحديث رقم 2652) عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه.

“Sebaik-baik manusia ialah yang sezaman denganku (yakni generasi Shahabat Nabi), kemudian generasi yang sesudahnya (yakni generasi Tabi’in), kemudian generasi sesudahnya (yakni generasi Tabi’it Tabi’in), kemudian datang setelah itu kaum-kaum yang persaksian mereka mendahului sumpah mereka dan sumpah mereka mendahului persaksian mereka”. Hr. Al Bukhari dalam shahihnya (hadits ke 2652) dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu.

Al Hafidh Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah menukil dalam Fat-hul bari jilid 5 hal. 261 keterangan dari Abul Faraj Ibnul Jauzi Al Baghdadi rahimahullah :

المراد أنهم لا يتورعون ويستهينون بأمر الشهادة واليمين

“Yang dimaksud di sini dengan kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpah mereka mendahului persaksian mereka, ialah kaum yang (datang sesudah generasi Tabi’t Tabi’in itu), mereka tidak punya wara’ (kehati-hatian) dan mengentengkan urusan persaksian dan sumpah”.

Demikianlah pujian Allah dan RasulNya dalam Al Qur’an dan As Sunnah, sebagai jaminan kepastian kejujuran dan kebenaran agama yang diwariskan oleh mereka kepada kita. Bahkan Allah Ta’ala menjamin bahwa Al Qur’an dan As Sunnah itu tidak akan disusupi kebatilan dari arah manapun. Sehingga dengan pasti pula kita mengimani kebenaran Al Islam sebagai agama Allah Ta’ala dan agama RasulNya yang diridhoi olehNya.

وإنه لكتاب عزيز – لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه تنزيل من حكيم حميد – فصلت 41 – 42.

“Dan sesungguhnya ia adalah Kitab yang Mulia. Tidak akan ia disusupi kebatilan dari depan dan tidak pula dari belakang. Ia diturunkan dari Dzat Yang Maha Sempurna HikmahNya dan Maha Terpuji”. S. Fussilat 41 – 42.

ولو تقول علينا بعض الأقاويل لأخذنا منه باليمين ثم لقطعنا منه الوتين فما منكم من أحد عنه حاجزين – الحاقة 44 -47

“Dan seandainya dia (yakni Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam) memalsukan sebagian omongan Kami, niscaya Kami akan menyambarnya dengan Tangan Kanan Kami , kemudian Kami akan putuskan urat lehernya. Maka disaat itu, tidak akan ada lagi dari kalian yang mampu membelanya”. S. Al Haaqqah 44 – 47.

Dan adapun tentang As Sunnah dari Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam, Allah Ta’ala menjamin kebenarannya.

ما ضل صاحبكم وما غوى – وما ينطق عن الهوى – إن هو إلا وحي يوحى – علمه شديد القوى – ذو مرة فاستوى

“Tidaklah orang ini (yakni Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam) sesat ataupun menyimpang, dan tidaklah dia berbicara dari hawa nafsunya, dia berbicara tidak lain kecuali dari Wahyu yang diwahyukan kepadanya, dia diajari melafadlkan apa yang diwahyukan kepadanya itu oleh Malaikat Jibril yang sangat perkasa, yang bagus wajahnya dan tegap badannya”. S. An Najm 2 – 6. 

Kemudian Allah Ta’ala memastikan penjagaanNya terhadap Al Qur’an dan As Sunnah yang telah diwahyukannya itu:

إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون – الحجر 9

“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Qur’an dan As Sunnah dan Kami yang menjaganya”. S. Al Hijr 9.

Disamping Allah Ta’ala menjamin kebenaran agamaNya, Allah Ta’ala juga menutup jalan kesesatan dengan memperingatkan adanya intrik-intrik kaum munafiqin yang ingin menghalangi kaum Muslimin dan bahkan menghalangi manusia seluruhnya untuk beriman kepada kebenaran Al Islam dan juga menghalangi mereka untuk beramal dengannya. Allahu Ta’ala berfirman :

هو الذى أنزل عليك الكتاب منه ءايات محكمات هن أم الكتاب وأخر متشابهات فأما الذين فى قلوبهم زيغ فيتبعون ما تشابه منه ابتغاء الفتنة وابتغاء تأويله – ال عمران 7

“Dia Allah yang telah menurunkan kepadamu Kitab itu, daripadanya ada ayat-ayat yang muhkamat (yakni jelas gamblang artinya) dan ayat-ayat yang demikian itu yang dominan (sehingga seharusnya menjadi rujukan untuk memahami seluruh isi Al Qur-an) dan ayat-ayat yang lainnya mutasyabihat (yakni tersamar maknanya). Adapun orang yang didalam hatinya ada kecenderungan menyimpang dari kebenaran, maka dia akan mencari ayat-ayat yang mutasyabihat karena ingin membikin fitnah dan ingin menafsirkannya kepada hawa nafsunya”. S. Al Imran 7.

Al Imam Al Bukhari dalam Shahihnya (hadits ke 4547) dari Ai’syah Ummul Mu’minin radhiyallahu anha, beliau memberitakan : “Rasulullah membaca ayat ini, kemudian beliau bersabda :

إذا رأيت الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمى الله فاحذروهم

“Apabila engkau melihat orang-orang yang mencari ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya, maka mereka itulah orang-orang yang Allah sebut mereka di ayat ini, maka waspadalah kalian dari mereka”.

Ahlul Fitnah yang diperingatkan oleh Rasulullah di hadits ini adalah para munafiqin yang menjelma dalam bentuk ahlul bid’ah wal furqah. Tentang mereka ini telah diberitakan oleh Rasuluah sallallahu alaihi wa alihi wasallam sebagaimana diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahihnya (hadits ke 3610) dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu anhu. Beliau bersabda tentang si pembangkang Dzul Khuwaishirah :

دعه فإن له أصحابا يحقر أحدكم صلاته مع صلاتهم وصيامه مع صيامهم، يقرءون القرآن لا يجاوز تراقيهم، يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية

“Biarkanlah dia, karena dia mempunyai teman-teman yang salah seorang dari kalian itu akan menganggap remeh shalatnya bila dibandingkan dengan shalat mereka, dan akan menganggap remeh puasanya bila dibanding dengan puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an , namun bacaannya tidak melewati kerongkongannya karena tidak turun ke hati, mereka terlepas dari agama sebagaimana anak panah tembus terlepas dari sasarannya”. Demikian Rasulullah memperingatkan.

Disamping kita diperingatkan oleh Allah Ta’ala dan RasulNya dari bahaya fitnahnya ahlul bid’ah wal furqah, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam juga memperingatkan kita semua dari bahaya bid’ah itu sendiri.

وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة – رواه أبو داود في سننه الحديث رقم 4607، ورواه الترمذي في سننه الحديث رقم 2676، ورواه الطبراني في المعجم الكبير 18/248/623.

“Dan hati-hati kalian dari perkara-perkara yang baru dalam agama, karena segala perkara yang baru dalam agama itu adalah bid’ah dan semua bid’ah itu adalah sesat”. Hr. Abu Dawud (hadits no : 4607) dan At Tirmidzi (hadits no : 2676) dan At Tabrani dalam Al Mu’jamul Kabir jilid 18 hal. 248 hadits ke 623. dari Al Irbadl bin Sariyah radhiyallahu anhu.

Kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam mengingatkan kita semua dari kebiasaan buruk Ahlul Bid’ah, yaitu mempertentangkan satu ayat Al Qur’an dengan ayat Al Qur’an lainnya. Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad dalam Musnadnya (hadits ke 6845) dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya (yakni Abdullah bin Amr bin Al Ash) bahwa beliau meriwayatkan : Bahwa sekelompok orang sedang duduk di depan pintu kamar Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam, maka sebagian mereka mengatakan : Bukankah Allah Ta’ala menyatakan di satu ayat demikian dan demikian? Yang lainnya lagi menyatakan : Tapi bukankah Allah menyatakan di ayat lain demikian dan demikian? Rupanya semua pembicaraan mereka didengar oleh Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam, sehingga beliaupun keluar dari kamar beliau dalam keadaan wajah beliau merah padam seperti anggur yang telah merah siap dipetik (karena marah). Kemudian beliau menyatakan kepada mereka :

بهذا أمرتم!! أو بهذا بعثتم!! أن تضربوا كتاب الله بعضه ببعض!! إنما ضلت الأمم قبلكم في مثل هذا، إنكم لستم مما ههنا في شيء، أنظروا الذي أمرتم به فاعملوا به، والذي نهيتم عنه فانتهوا

“Dengan inikah kalian diperintah, apakah untuk yang begini kalian diutus, yaitu kalian mempertentangkan isi Kitabullah sebagiannya dengan sebagian yang lain. Hanyalah yang menjadikan ummat terdahulu sebelum kalian itu sesat, ialah karena memperlakukan Kitabullah seperti ini. Sesungguhnya kalian tidak pantas membicarakan hal ini sedikitpun, mestinya kalian melihat apa yang tertera dalam Kitabullah itu, apa saja yang kalian diperintah padanya, maka kerjakanlah, dan apa saja yang kalian dilarang, maka tinggalkanlah”. Demikian Rasulullah memperingatkan.
Allah Ta’ala mengingatkan pintu kesesatan yang lainnya yang harus ditutup rapat-rapat oleh kaum Muslimin, yaitu perpecahan dan permusuhan di kalangan mereka.

ولا تكونوا كالذين تفرقوا واختلفوا من بعد ما جاء هم البينات وأولئك لهم عذاب عظيم – يوم تبيض وجوه وتسود وجوه – ال عمران 105 – 106.

“Dan jangan kalian menjadi seperti orang-orang yang telah bercerai-berai dan bertikai setelah datang kepada mereka keterangan agama dan bagi orang-orang yang bertikai itu adzab yang besar. Pada hari kiamat itu menjadi putih wajah orang-orang dan menjadi hitam wajah orang-orang yang lainnya”. S. Al Imran 105 – 106.

Diriwayatkan oleh As Suyuthi dalam Ad Durrul Mantsur dan juga Ibnu Abi Hatim dan Al Lalika’ie dalam As Sunnah nya serta Al Khatib Al Baghdadi dalam kitab Tarikhnya, bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menerangkan :

تبيض وجوه أهل السنة والجماعة وتسود وجوه أهل البدعة والفرقة

“Akan menjadi putih wajah-wajahnya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan akan menjadi hitam wajah-wajahnya Ahlul Bid’ah Wal Furqah”.

Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda :

إن الشيطان قد أيس أن يعبده المصلون ولكن في التحريش بينهم رواه الترمذي (الحديث 1937) عن جابر رضي الله عنهما

“Sesungguhnya syaithan telah berputus asa untuk diibadahi oleh orang-orang yang telah shalat, akan tetapi syaithan tidak putus asa untuk membikin orang-orang yang shalat itu bercerai-berai diantara mereka”. Hr. At Tirmidzi dalam Sunannya (hadits nomer 1937) dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma.

Karena itu Ahlus Sunnah sangat kuat menjaga persatuan Ummat Islam dan tidak mau menjadi penghasut atau agitator perpecahan Ummat atau bangsa. Ahlus Sunnah sangat keras mengharamkan adanya pembangkangan ataupun pemberontakan terhadap pemerintah yang dzalim dan bahkan terhadap pemerintah yang kafir, bila pemberontakan itu beresiko terjadinya pertumpahan darah kaum Muslimin yang meluas dan berkepanjangan serta ambruknya pemerintah yang menaungi kehidupan kaum Muslimin. Suasana perpecahan Muslimin ataupun suasana kacaunya masyarakat Muslimin, adalah peluang besar bagi syaithan untuk menebar kesesatan di kalangan Muslimin. Karena ketika kaum Muslimin dalam suasana demikian itu, mereka jauh dari bimbingan ilmu, sehingga mereka mengangkat para pemimpin yang bodoh tentang agamanya. Sehingga para pemimpin itu sesat dan menyesatkan.

Termasuk kekuatan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Salafus Shaleh adalah manhaj ini mengajarkan kemestian seorang Muslim itu berbicara atau berbuat dengan ilmu, yaitu dengan pemahaman yang benar terhadap Al Qur’an dan As Sunnah,yaitu pemahaman para Salafus Shaleh. Tidak boleh seorang Muslim itu berkata atau berbuat hanya dengan ikut-ikutan saja ataupun dari logikanya semata.

ولا تقف ما ليس لك به علم – الإسراء 36

“Dan janganlah kamu mengikuti suatu perkara dalam keadaan kamu tidak ada ilmu tentangnya”. Al Isra’ 36. Juga Allah Ta’ala berfirman :

قل إنما حرم ربي الفواحش ما ظهر منها وما بطن والإثم والبغي بغير الحق وأن تشركوا بالله مالم ينزل به سلطانا وأن تقول على الله ما لا تعلمون – الأعراف 33.

“Katakanlah : Hanyalah yang diharamkan oleh Tuhanku ialah segenap kekejian yang dzahir maupun yang batin dan perbuatan dosa dan kedzaliman dan diharamkan pula oleh Tuhanku untuk kalian berbuat syirik terhadap Allah dengan sesuatu yang padahal Allah tidak turunkan hujjah tentangnya dan diharamkan pula oleh Tuhanku untuk kamu berbicara tentang agama Allah tanpa ilmu”. S. Al A’raf 33.

Karena, bila seorang Muslim mendapat pembekalan ilmu yang benar tentang agamanya, dia akan kuat berpegang teguh dengan pendiriannya yang benar dan tidak bisa diombang-ambingkan oleh agitasi para da’ie politik ataupun berita-berita yang tidak jelas benar atau salahnya. Sebab Allah Ta’ala memperingatkan tentang kemestian kita menyaring berbagai berita-berita itu :

يا أيهالذين آمنوا إن جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على ما فعلتم نادمين – الحجرات 6

“Hai orang-orang yang beriman, bila datang kepadamu orang fasiq membawa satu berita, maka telitilah berita itu. Sebab kalau tidak, niscaya kamu akan menimpakan penilaian kepada satu kaum dengan ketidak tahuan sehingga jadilah akibat perbuatanmu itu kalian menyesal”. S. Al Hujurat 6.

Oleh sebab itu seorang Muslim harus ilmiyah dalam menerima berita, apalagi berita politik yang penuh intrik dan agitasi serta kedustaan dari para da’ie politik yang mulutnya suka melecehkan Allah dan RasulNya, dan menolak sifat-sifat Allah serta memperolok-olok berita dari Rasulullah tentang Allah yang turun ke langit dunia di setiap sepertiga terakhir malam. Bagaimana mungkin kita percaya dengan berita dari da’ie-da’ie politik yang mendustakan berita dari Allah dan RasulNya?

Termasuk kekuatan manhaj Ahlih Sunnah wal Jama’ah Salafus Shaleh, ialah bahwa perdebatan dalam membicarakan Al Islam itu haruslah dengan ilmu dan bukan dengan logika.

أدع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن – النحل ١٢٥

“Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan dengan nasehat yang baik dan debatlah mereka itu dengan cara yang baik”. S. An Nahel 125.

Juga Allah Ta’ala berfirman :

ولا تجادلوا أهل الكتاب إلا باالتي هي أحسن إلا الذين ظلموا منهم وقولوا آمنا بالذي أنزل إلينا وأنزل إليكم وإلهنا والهكم واحد ونحن له مسلمون – العنكبؤت ٤٦.

“Dan jangan kalian mendebat Ahlul Kitab kecuali dengan cara yang baik, kecuali orang-orang yang dzalim dari mereka dan katakanlah kepada mereka : Kami beriman kepada apa yang diturunkan kapada kami dan apa yang diturunkan kepada kalian dan Tuhan sesembahan kami dengan Tuhan sesembahan kalian sama dan kami kepadaNya tunduk berserah diri”. S. Al Ankabut 46.

Abul Faraj Abdur Rahman bin Ali bin Muhammad Al Jauzi Al Qurasyi Al Baghdadi rahimahullah (wafat th. 597 H) menerangkan dalam Zadul Masir Fi Ilmit Tafsir : Jidal Billati Hiya Ahsan (berdebat dengan cara yang baik itu) maknanya ialah mendebat mereka dengan Al Qur’an dan ajakan kepada agama Allah dengan ayat-ayat dan hujjah-hujjah. Demikian Abul faraj menerangkan.

Karena itu rujukan kebenaran dalam Al Islam , hanyalah Al Qur’an dan As Sunnah saja. Segala sesuatu itu dianggap benar atau mubah, bila tidak menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah dan dianggap keliru atau haram untuk diikuti bila menyelisihi keduanya. Allah Ta’ala berfirman :

المص – كتاب أنزل إليك فلا يكن في صدرك حرج منه لتنذر به وذكرى للمؤمنين – اتبعوا ما أنزل إليكم من ربكم ولا تتبعوا من دونه أولياء – الأعراف ١ – ٣.

“Alim laam miim shaad. Kitab ini diturunkan kepadamu hai Muhammad , maka jangan kamu merasakan berat di dadamu daripadanya agar kamu mengingatkan ummatmu dengannya dan sebagai peringatan bagi kaum Mu’minin. Ikutilah oleh kalian apa saja yang telah diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian (yaitu Al Qur’an dan Assunnah) dan jangan kalian mengikuti selain Allah sebagai kekasih kalian”. Al A’raf 1 – 3.

Juga Allah Ta’ala berfirman :

فمن اتبع هداي فلا يضل ولا يشقى – ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشة ضنكا ونحشره يوم القيامة أعمى – طه ١٢٣ – ١٢٤.

“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjukKu maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka baginya kehidupan yang serba sempit dan Kami akan bangkitkan dia di hari kiamat dalam keadaan buta”. S. Thaha 123 – 124.

Al Imam As Suyuthi rahimahullah dalam Ad Durrul Mantsur meriwayatkan dari Ikrimah, bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menerangkan tentang ayat ini :

تكفل الله لمن قرأ القرآن وعمل بما فيه أن لا يضل في الدنيا ولا يشقى في الآخرة ثم قرأ هذه الآية

“Allah telah menjamin bagi siapa yang membaca Al Qur’an dan beramal dengan isinya, untuk tidak sesat di dunia dan tidak celaka di akherat. Kemudian beliau membaca ayat ini”. Demikian Ibnu Abbas.

Bahkan dalam perselisihan, kita diperintah oleh Allah untuk merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah :

فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم آخر ذلك خير وأحسن تأويلا – النساء ٥٩.

“Maka kalau kalian bertikai tentang satu masalah maka rujukkanlah pertikaian itu untuk mendapat penyelesaiannya kepada Allah (yakni Al Qur’an) dan RasulNya (yakni As Sunnah), bila kalian beriman kepada Allah dana hari kiamat. Yang demikian itu lebih baik dan lebih baik lagi akibatnya”. S. An Nisa’ 59.

Bahkan Allah Ta’ala memastikan bahwa orang itu dianggap tidak beriman sehingga dia mau menjadikan As Sunnah sebagai hakim pemutus perkaranya :

فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما – النساء ٦٥.

“Maka Demi Tuhanmu, mereka tidaklah beriman, sehingga mereka mau menjadikanmu sebagai hakim untuk menyelesaikan perkara di antara mereka, kemudian mereka tidak mendapati di hati mereka ganjalan atas apa yang engkau putuskan dan mereka tunduk melaksanakan keputusanmu dengan setunduk-tunduknya”. S. An Nisa’ 65.

Adapun akal pikiran, dalam Syari’at Allah diberi porsi dalam mengamati alam raya untuk mengambil pelajaran betapa maha besarnya dan maha sempurnanya kekuatan dan hikmah Allah dan betapa maha sempurnanya ilmu Allah yang meliputi segenap alam ini. Juga akal diberi porsi untuk melakukan berbagai perbaikan dan pembangunan fasilitas hidup di dunia ini.

أولم يروا إلى الطير فوقهم صافات ويقبضن ما يمسكهن إلا الرحمان إنه بكل شيء بصير – الملك ١٩.

“Tidakkah mereka melihat burung yang terbang di atas mereka dengan mengepakkan sayap-sayap mereka dan mengempiskannya , tidak ada yang menahan mereka untuk jatuh kecuali Allah yang Maha Pengasih, sesungguhnya Dia Maha melihat segala sesuatu”. S. Al Mulk 19.

Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda :

أنتم أعلم بأمر دنياكم – رواه مسلم في صحيحه (الحديث رقم ٢٣٦٣) عن عائشة وعن أنس بن مالك.

“Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian”. Hr. Muslim (hadits ke 2363)dari A’isyah dan Anas bin Malik.
Juga Allah Ta’ala menegaskan bahwa bumi dan isinya ini diciptakan untuk manusia, jadi hukum asalnya perkara dunia adalah mubah dan silakan dikelola dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengandalkan kepandaian akal.

هو الذي خلق لكم ما في الأرض جميعا – البقرة ٢٩.

“Dia Allah telah menciptakan bagi kalian segala apa yang di bumi”. S. Al Baqarah 29.

Maka semua perubahan kepada yang lebih baik dalam kehidupan dunia, selama tidak melanggar keharaman, maka itu adalah mubah (boleh), dan adapun dalam perkara agama, harus ada tuntunan dari Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Sebab perkara baru dalam agama, itu adalah bid’ah dan semua bid’ah itu adalah sesat.

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس فيه فهوا رد – رواه البخاري في صحيحه الحديث رقم ٢٦٩٧ عن عائشة رضي الله عنها

“Barangsiapa yang membikin baru dalam perkara agama kita ini yang padahal ia bukan bagian daripadanya, maka perkara yang baru itu tertolak”. Hr. Al Bukhari dalam Shahihnya hadits ke 2697 dari A’isyah radhiyallahu anha.

Juga Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam mengingatkan bahwa segala yang baru dalam perkara agama itu adalah bid’ah dan segala yang bid’ah itu adalah sesat dan orang yang sesat itu bila mati dalam keadaan tidak sempat bertaubat daripadanya, maka dia di neraka. Beliau bersabda di atas mimbar :

من يهده الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له، إن أصدق الحديث كتاب الله وأحسن الهدى هدي محمد وشر الأمور هحدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار – رواه النسائي الحديث رقم ١٥٧٧ عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما.

“Siapa yang Allah beri petunjuk maka tidak ada yang bisa menyesatkannya dan siapa yang telah disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menunjukinya, sesungguhnya omongan yang paling benar adalah Kitabullah (yakni Al Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk dari Nabi Muhammad dan sejelek-jelek perkara itu adalah yang diadakan baru dalam perkara agama, dan semua yang baru dalam agama itu adalah bid’ah dan semua yang bid’ah itu adalah sesat dan semua yang mati dalam kesesatan itu tempatnya di neraka”. Hr. An Nasa’ie dalam Sunannya hadits ke 1577 dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma.

Al Qur’an dan As Sunnah yang menjadi tumpuan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Salafus Shaleh, memerintahkan kaum Muslimin untuk terus-menerus berjihad fi sabilillah dan melanggengkannya turun-temurun sampai hari kiamat.

كتب عليكم القتال وهو كره لكم وعسى أن تكرهوا شيئا وهو خير لكم وعسى أن تحبوا شيئا وهو شر لكم والله يعلم وأنتم لا تعلمون – البقرة ٢١٦.

“Diwajibkan atas kalian untuk berperang dan kalian tidak suka dengan kewajiban itu, dan bisa jadi kalian tidak suka dengan satu masalah, namun yang tidak kalian sukai itu justru menjadi kebaikan bagi kalian. Dan bisa jadi kalian menyenangi suatu perkara namun perkara yang kalian senangi itu justru menjadi kejelekan bagi kalian. Dan Allah itu Maha Tahu sedangkan kalian tidak tahu”. S. Al Baqarah 216.

Bahkan Allah Ta’ala menegaskan bahwa jihad fi sabilillah itu adalah misi utama Ummat Islam :

وجاهدوا في الله حق جهاده هو اجتباكم وما جعل عليكم في الدين من حرج – الحج ٧٨.

“Dan berjihadlah kalian fi sabilillah dengan sebenar-benar jihad , Dia Allah telah memilih kalian untuk menjalankan misi jihad ini, dan tidaklah Dia jadikan atas kalian dalam agama ini kesulitan”. S. Al Haj 78.

Allah Ta’ala juga menegaskan ancaman kemurkaanNya bagi kaum Muslimin yang meninggalkan kewajiban Jihad Fi Sabilillah ini :

قل إن كان آباؤكم و أبناؤكم وإخوانكم وأزواجكم و عشيرتكم وأموال اقترفتموها وتجارة تخشون كسادها ومساكن ترضونها أحب إليكم من الله ورسوله وجهاد في سبيله فتربصوا حتى يأتي الله بأمره والله لا يهد القوم الفاسقين – التوبة ٢٤.

“Katakanlah kepada kaum Muslimin hai Muhammad : Bila bapak ibu kalian dan anak cucu kalian dan sanak saudara kalian dan istri-istri kalian dan keluarga kalian dan harta kalian yang kalian upayakan dan perdagangan yang kalian kuatir merugi dan tempat-tempat tinggal yang kalian senangi , bila semua itu lebih kalian cintai daripada Allah dan RasulNya dan lebih kalian cintai daripada jihad fi sabilillah, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya dan Allah tidak akan mnenunjuki kaum yang fasiq”. S. At Taubah 24.

Peperangan yang diwajibkan oleh Allah Ta’ala dalam berjihad fi sabilillah itu telah diterangkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam sebagai berikut :

1. Perang melawan hawa nafsu dengan menundukkannya kepada kemestian ta’at kepada Syari’at Allah :

المجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله والمهاجر من هجر الخطايا والذنوب – رواه أحمد في مسنده الحديث رقم ٢٣٩٥٨ والحاكم في مستدركه ج ١ ص ١١ وصححه ووافقه الذهبي.

“Yang namanya mujahid (yakni orang yang berjihad) itu ialah orang yang berjihad menundukkan hawa nafsunya untuk tunduk kepada Syari’at Allah dan yang namanya muhajir (yakni orang yang hijrah) itu ialah orang yang menjauhi kekeliruan – kekeliruan dan dosa – dosa”. Hr. Ahmad dalam Musnadnya hadits ke 23958 dan Al Hakim dalam Mustadraknya jilid 1 hal. 11 dan beliau menshahihkannya dan Adz Dzahabi menyepakatinya.

2. Menasehati penguasa yang dzalim :

إن من أعظم الجهاد كلمة عدل عند سلطان جائر رواه الترمذي في سننه الحديث رقم ٢١٧٤ عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه.

“Sesungguhnya termasuk jihad yang paling besar ialah perkataan yang benar dihadapan penguasa yang dzalim”. Hr. At Tirmidzi dalam Sunannya hadits ke 2174 dari Abi Sa’id Al Khudri radhiyallahu anhu dan hadits ini hasan.

3. Perang melawan pemahaman yang sesat :

يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله ينفون عنه تحريف الغالين واطحال المبطلين وتأويل الجاهلين – رواه البيهقي في سنن الكبري

“Terus akan membawa ilmu ini disetiap generasi ummat ini, orang yang paling terpercaya dari ummat ini. Dimana para pembawa ilmu ini terus menerus menepis segala upaya orang-orang ahli ghuluw (yakni orang-orang ekstrim dari kalangan khawarij) dan menepis kedustaan ahli filsafat yang membonceng pada kemulyaan agama ini dan menepis upaya penafsiran agama yang dilakukan oleh orang-orang bodoh (dari kalangan penganut berbagai thareqat shufiyah)”. Hr. Al Baihaqi dalam As Sunanul Kubra dan hadits ini hasan.

4. Perang melawan kebodohan dengan menebarkan ilmu, yaitu mengajarkan Al Qur’an dan As Sunnah sebagaimana yang Allah Ta’ala perintahkan :

فلا تطع الكافرين وجاهدهم به جهادا كبيرا – الفرقان ٥٢

“Maka janganlah kalian menuruti kemauan orang-orang kafir itu dan perangilah mereka dengan mengajarkan Al Qur’an itu sebagai peperangan yang besar”. S. Al Furqan 52.

5. Perang melawan kuffar sesuai dengan model peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang kafir itu terhadap Muslimin. Bila mereka melancarkan perang ekonomi, maka perangilah mereka denga perang ekonomi dan bila mereka melancarkan perang media, maka perangilah mereka dengan perang media dan bila mereka melakukan serangan secara fisik, maka perangilah mereka secara fisik. Hal ini sebagaimana dituntunkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam :

جاهدوا المشركين بأموالكم وأنفسكم وألسنتكم – رواه أبو داود في سننه الحديث رقم ٢٥٠٤ عن أنس بن مالك رضي الله عنه.

“Perangilah kaum Musyrikin itu dengan harta kalian (yakni perang ekonomi) dan dengan diri-diri kalian (yakni perang fisik) dan dengan lesan-lesan kalian (yakni perang media) “. Hr. Abu Dawud dalam Sunannya hadits ke 2504 dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu.

Dengan demikian, maka amar makruf (menyeru kepada kebaikan) dan nahi munkar (mencegah kemungkaran) adalah termasuk jihad fi sabilillah. Berdakwah mengajari ummat dengan Al Qur’an dan As Sunnah adalah termasuk jihad fi sabilillah. Mendamaikan kaum Muslimin yang bertikai adalah termasuk jihad fi sabilillah. Menjaga keamanan dan ketertiban kehidupan kaum Muslimin juga termasuk jihad fi sabilillah. Membela kaum Muslimin yang teraniyaya adalah termasuk jihad fi sabilillah, dan membikin segala kemaslahatan untuk kepentingan Negara dan bangsa Muslimin adalah termasuk jihad fi sabilillah bila semua amalan itu diniatkan untuk Allah semata.

Adapun tentang mana yang paling utama dari amalan-amalan jihad fi sabilillah itu, jawabannya ialah sesuai dengan situasi dan kondisinya. Bila sedang terjadi serangan fisik orang-orang kafir terhadap Muslimin, maka jihad yang paling utama adalah jihad dengan fisik. Bila terjadi pembodohan kaum Muslimin tentang agamanya, maka jihad yang paling utama adalah jihad mengajari kaum Muslimin tentang agamanya. Bila kaum Muslimin sedang dikacaukan pemahamannya tentang agamanya oleh ahlul bid’ah, maka jihad yang paling utama adalah membantah berbagai kesesatan Ahlul Bid’ah. Demikian selanjutnya.

Dan demikianlah manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Salafus Shaleh, manhaj yang kokoh dengan landasan yang kokoh, sehingga melahirkan sikap dan mental yang kokoh pada orang-orang yang memahami dan mengamalkan manhaj ini.

TAUHID DALAM PANDANGAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH SALAFUS SHALEH 

PELAJARAN PERTAMA : Berdasarkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Salafus Shaleh meyakini bahwa pelajaran Tauhid adalah pelajaran yang pertama dan utama dalam memahami serta mengamalkan Al Islam. Beda dengan kaum Asya’rah dan Maturidiyah yang memandang Tauhid itu adalah pelajaran tabu bagi pemula karena ia tidak bisa dipelajari kecuali hanya melalui ilmu-ilmu filsafat Yunani yang notabene orang-orang Yunani itu adalah para penyembah berhala dan para penyembah jin atau bahkan kaum intelektualnya adalah orang-orang atheis yang tidak bertuhan. Ilmu Mantiq dan Ilmu Kalam produk filsafat Yunani adalah rujukan wajib untuk landasan mempelajari Tauhid. Sedangkan Ahlus Sunnah mencukupkan diri untuk rujukannya dalam memahami Tauhid, hanya dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman para Salafus Shaleh.

Allah Ta’ala menegaskan bahwa para Nabi dan Rasul yang diutus kepada kaumnya masing-masing selalu mereka memberi pelaran pertama kepada kaumnya dengan pelajaran Tauhid :

ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت – النحل ٣٦

“Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap ummat seorang Rasul yang menyeru kaumnya : Beribadahlah kalian hanya kepada Allah dan jauhilah para thaghut (yakni segala sesembahan selain Allah)”. S. An Nahel 36.
Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam berpesan kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu ketika mengutusnya berda’wah ke negeri Yaman :

إنك تأتي قوما من أهل الكتاب، فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله – وفي رواية : إلى أن يوحدوا الله – رواه البخاري في صحيحه الحديث رقم ١٤٩٦ و مسلم الحديث رقم ١٩ عن ابن عباس رضي الله عنهما.

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari kalangan Ahli Kitab (yakni Yahudi dan Nashara), maka hendaklah yang pertama kamu seru kepadanya ialah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, dalam satu riwayat disebutkan : Hendaknya yang pertama kamu serukan kepadanya itu ialah agar mereka mentauhidkan Allah”. Hr. Al Bukhari dalam Shahihnya hadits ke 1496 dan Muslim dalam Shahihnya hadits ke 19 dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma.

Dengan demikian, maka Tauhid adalah pelajaran pertama dan utama bagi para Nabi dan juga bagi Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Adapun yang pertama harus dipelajari dalam Tauhid ialah siapakah Allah itu ?Jawabannya ialah Firman Allah Ta’ala tentang diriNya :

إنما الله إله واحد سبحانه أن يكون له ولد له ما في السماوات وما في الأرض وكفى بالله وكيلا – النساء ١٧١

“Hanyalah Allah itu satu -satunya sesembahan yang benar, maha suci Dia dari kemungkinan mempunyai anak, milikNyalah segala apa yang di langit yang tujuh dan segala apa yang di bumi, dan cukuplah Allah itu sebagai pihak yang sepantasnyalah kita bertawakkal kepadanya”. S. An Nisa’ 171.

Ketika orang Arab menanyai Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam, hai Muhammad, sebutkankanlah nasab keturunan Tuhanmu. Maka turunlah kepada beliau Firman Allah Ta’ala untuk menjawab pertanyaan tersebut :

قل هو الله أحد – الله الصمد – لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا احد – الإخلاص ١ – ٤

“Katakanlah hai Muhammad, Dia adalah Allah yang esa, dia adalah Tuhan yang bergantung sepenuhnya kepadaNya segenap makhluq. Dia tidak melahirkan anak dan Dia tidak dilahirkan oleh siapapun, Dia tidak sebanding dengan siapapun”. S. Al Ikhlas 1-4.

PELAJARAN KEDUA DALAM TAUHID ADALAH : Pertanyaan : Dimanakah Allah itu ? Jawabannya ialah Firman Allah tentang diriNya :

– تعرج الملائكة والروح إليه في يوم كان مقداره خمسين ألف سنة – المعارج ٣ – ٤

“Para Malaikat beserta Malaikat Jibril, naik kepadaNya dengan menempuh perjalanan dalam sehari seperti perjalanan lima puluh ribu tahun bila ditempuh oleh manusia”. S. Al Ma’arij 3 – 4. Demikianlah Allah memberitahukan bahwa diriNya berada diatas makhluq yang paling atas atau paling tinggi.

Juga Allah Ta’ala berfirman :

إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه – فاطر ١٠

“KepadaNyalah naik segala omongan yang baik dan amalan shaleh akan dibawa naik kepadaNya”. S. Fathir 10. Ini menunjukkan bahwa Allah berada di atas. Karena naik itu ialah dari bawah ke atas.

Juga Allah Ta’ala menegaskan bahwa dirinya berada di atas langit :

ءأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض فإذا هي تمور – أم أمنتم أن يرسل عليكم حاصبا – الملك ١٦ – ١٧

“Apakah kalian merasa aman dengan Dzat yang ada di atas langit, untuk dibelahnya bumi sehingga kalian tenggelam padanya, maka bumi itupun bergemuruh karenanya ? Apakah kalian merasa aman dengan Dzat yang ada di atas langit untuk mengirimkan kepada kalian angin ribut ?”. S. Al Mulk 16 – 17.

Allah Ta’ala juga memberitahu kita dimana Dia berada :

الرحمان على العرش استوى – طه ٥

“Dia Yang Maha pengasih berada di atas ArsyNya”. S. Thaha 5.

Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah berada di atas ArsyNya dengan cara yang sesuai dengan KebesaranNya dan KeagunganNya. Tidak serupa dengan apapun dari makhluqNya. Kata استوى di ayat ini tidaklah diartikan dengan : “Bersemayam”, melainkan diartikan : على وارتفع “Ala wartafa’a” yang artinya : “Berada di atas dan diketinggian”, yakni Dia Allah berada diatas yang tinggi bahkan lebih tinggi dari makhluqNya yang paling tinggi , yaitu diatas Arsy.

Adapun Jahmiyah (aliran sesat yang menolak untuk beriman kepada adanya sifat-sifat Allah) bersama dengan Mu’tazilah dan Asy’ariyah – Maturidiyah, mereka semua menolak untuk beriman bahwa Allah berada di atas ArsyNya. Mereka menolak adanya “Al Jihah” (yakni arah tertentu bagi keberadaan Allah), sehingga mereka memaksa diri untuk menteorikan bahwa Allah itu tidak di atas dan tidak dibawah dan tidak di kanan dan tidak pula di kiri. Akhirnya mereka berusaha mentahrif (merubah) makna ayat-ayat Al Qur’an yang dengan tegas menyatakan bahwa Allah berada di atas langit dan di atas makhluqNya yang paling atas, yaitu Arsy. Sehingga استوى “Istawa” mereka rubah maknanya menjadi استولى “Istawla” yang artinya berkuasa. Mereka menyerupakan Allah dengan makhluqNya, yaitu dimana saja makhluq itu berada, maka dia akan terikat dengan posisi keberadaannya. Jadi kalau Dia di atas, berarti Dia tidak ada di sebelah kanannya dan tidak ada pula di sebelah kirinya tidak pula di sebelah bawah. Setelah mereka menyerupakan keberadaan Allah di arah tentu sebagaimana keberadaan makhluqNya, kemudian mereka mengingkari keberadaan Allah di arah tertentu dengan alasan tidak menyerupakan Allah dengan makhluqNya.

Demikianlah kebingungan logika mereka. Dimana mereka sendiri yang menteorikan bahwa keberadaan Allah serupa dengan keberadaan makhluqNya, setelah itu mereka menolak berita dari Allah bahwa Dia berada di atas segenap makhluqNya yang paling atas. Padahal seandainya mereka mau mengartikan Al Qur’an dengan apa yang ditafsirkan oleh para Salafus Shaleh, niscaya mereka akan dengan tenang mengimani semua isi Al Qur’an baik tentang Allah ataupun tentang yang lainnya. Berikut ini saya ringkaskan bantahan Imam Ahmad bin Hanbal terhadap mereka dari kitab Ar Raddu Alaz Zanadiqah Wal Jahmiyah :

Al Qur’an telah menjelaskan bahwa Allah itu di atas ArsyNya dan Arsy Allah itu di atas langit ketujuh.

وهو الذي خلق السماوات والأرض في ستة أيام وكان عرشه على الماء – هود ٧

“Dan Dia Allah yang telah menciptakan langit yang tujuh dan bumi dan Arsy Allah itu telah ada sebelum mencipta langit dan bumi di atas air”. S. Hud 7.

Allah Ta’ala memberi tahu kita bahwa Dia naik ke langit dan kemudian Dia ciptakan langit itu dalam tujuh langit :

ثم استوى إلى السماء فسوهن سبع سماوات وهو بكل شيء عليم – البقرة ٢٩

“Kemudian Dia استوى إلى السماء – naik ke langit – kemudian Dia menjadikan langit itu menjadi tujuh langit dan IlmuNya meliputi segala sesuatu”. S. Al Baqarah 29.

Ayat ini telah menunjukkan bahwa makna استوى (istawa) itu ialah naik ke atas (bukan استولى =berkuasa).

Juga Allah berfirman :

ثم استوى إلى السماء وهي دخان – فصلت ١١

“Kemudian Dia استوى (naik) ke langit dan langit itu dalam keadaan sebagai asap “. S. Fussilat 11.

Juga Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Isa alaihis salam :

وما قتلوه يقينا – بل رفعه الله إليه – النساء ١٥٧ – ١٥٨

“Dan tidaklah mereka yakin telah membunuhnya, akan tetapi Allah angkat dia naik kepadaNya”. S. An Nisa’ 157 – 158.

Juga firmanNya kepada Nabi Isa alaihis salam :

إني متفيك ورافعك إلي – ال عمران ٥٥

“Sesesungguhnya Aku telah menyempurnakan ni’matKu kepadamu dan menaikkan kamu kepadaKu”.
Al Imran 55.

Juga firmanNya :

يخافون ربهم من فوقهم – النحل ٥٠

“Mereka takut dari Tuhan mereka yang berada di atas mereka”. S. An Nahel 50.

Juga firmanNya di S. Al An’am 18 :

وهو القاهر فوق عباده . “Dan Dia Allah berkuasa di atas hambaNya”

Adapun ayat-ayat Al Qur’an yang dijadikan dalil oleh kalangan pengingkar sifat ULUW (sifat bahwa Allah berada di atas), ialah :

وهو الله في السماوات وفي الأرض – الأنعام ٣.

“Dan Dia Allah di langit yang tujuh dan di bumi”. S. Al An’am 3.

Juga firmanNya :

– وهو معكم أين ما كنتم – الحديد ٤.

“Dan Dia Allah beserta kalian dimanapun kalian berada”. S. Al Hadid 4.

Juga Firman Allah Ta’ala :

وهو الذي في السماء إله وفي الأرض إله وهو الحكيم العليم – الزخرف ٨٤

“Dan Dia Allah yang di langit sebagai Ilah (yakni sesembahan) dan di bumi sebagai sesembahan dan Dia Maha Sempurna HikmahNya dan Maha sempurna IlmuNya”. S. Az Zukhruf 84.

Mereka menyatakan bahwa ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa Allah tidak menempati satu tempat tertentu atau satu arah tertentu. Kerangka berfikir logika mereka ini persis seperti yang Allah dan RasulNya peringatkan kita daripadanya, yaitu bahwa mereka ini adalah orang-orang yang mencari-cari ayat yang bisa ditarik kepada pemahaman mereka, sementara ayat-ayat yang Muhkamat (jelas dan gamblang) yang menegaskan bahwa Allah berada di atas langit yaitu di atas ArsyNya, telah menerangkannya dan dapat dipahami dengan mudah secara bahasa Arab. Mestinya ayat-ayat Muhkamat telah cukup menerangkan tentang kedudukan Allah di atas langit ke tujuh, yaitu di atas ArsyNya yang ArsyNya diletakkan di atas air yang ada di atas sana. Adapun ayat-ayat yang mereka jadikan dalil untuk menolak pengertian dari ayat-ayat Muhkamat itu, tidaklah menerangkan tentang dimana keberadaan Allah, akan tetapi menerangkan tentang kesempurnaan Sifat-Sifat Allah yang lainNya. Yaitu Ilmu Allah yang Maha sempurna dan pertolonganNya, ini bila kita melihat kelengkapan ayat-ayat tersebut :

وهو الله في السماوات وفي الأرض يعلم سركم وجهركم ويعلم ما تكسبون – الأنعام ٣

“Dan Dia Allah yang Ilmunya meliputi tujuh langit dan bumi, Dia Mengetahui apa yang kalian rahasiakan dan apa yang kalian tampakkan dan Dia Mengetahui apa saja yang kalian upayakan”. S. Al An’am 3.

Juga dalam S. Al Hadid 4, Allah menegaskan tentang IlmuNya yang Maha sempurna :

هو الذى خلق السماوات والأرض فى ستة أيام ثم استوى على العرش يعلم ما يلج فى الأرض وما يخرج منها وما ينزل من السماء وما يعرج فيها وهو معكم أين ما كنتم والله بما تعملون بصير –

“Dia Allah yang Menciptakan langit yang tujuh dan bumi dalam enam hari kemudian Dia naik di atas ArsyNya, ilmunya meliputi apa saja yang masuk ke bumi dan apa saja yang keluar daripadanya dan apa saja yang turun dari langit dan apa saja yang naik padanya dan Ilmu Allah itu selalu beserta kalian dimanapun kalian berada dan Allah itu Maha Melihat apa saja yang kalian kerjakan”.

Sedangkan S. AZ Zukhruf 84 adalah berita tentang penduduk langit dan bumi yang menjadikan Allah sebagai sesembahan. Jadi bukan memberitakan tentang tempat Allah berada.

Maka sesungguhnya Ilmu Allahlah yang selalu menyertai segala gerak-gerik makhluqNya dimanapun mereka berada:

لتعلموا أن الله على كل شيء قدير وأن الله قد أحاط بكل شيء علما – الطلاق ١٢

“Agar kalian tahu bahwa Allah itu atas segala sesuatu itu Maha berkuasa dan bahwa Allah itu sungguh IlmuNya meliputi atas segala sesuatu tersebut”. S. At Thalaq 12.

Sedangkan Dzat Allah, telah diberitakan olehNya bahwa Ia menempati posisi di atas makhluqNya yang paling tinggi kedudukannya. Yaitu diatas ArsyNya. Dan Dia turun ke langit dunia di setiap sepertiga terakhir malam, dengan cara yang sesuai dengan Maha Sempurnanya Allah dengan segala KemuliaanNya, yang tidak serupa dengan turunnya . Karena Dia. Allah Ta’ala telah memberitakan di dalam Al Qur’an bahwa Dia di atas langit ke tujuh dan di atas ArsyNya yang diletakkan di atas air yang ada di atas langit yang ketujuh itu. Kita wajib beriman kepada berita dari Al Qur’an tersebut tanpa membicarakan tentang “BAGAIMANANYA” Allah berada di atas ArsyNya itu, karena Dia tidak menerangkan tentang bagaimananya Dia di atas sana dan Dia telah menegaskan bahwa DiriNya tidak serupa dengan apapun dari makhluqNya. Kita juga beriman bahwa Allah turun ke langit dunia di setiap sepertiga terakhir malam, tanpa kita membicarakan tentang “BAGAIMANANYA” dia turun ke langit dunia. Karena RasulNya telah memberitakan demikian. Juga dalil lain yang dipakai oleh para penolak sifat ULUW bagi Allah adalah FirmanNya :

ما يكون من نجوى ثلاثة إلا هو رابعهم ولا خمسة إلا هو سادسهم – المجادلة ٧

“Tidaklah tiga orang berbisik, kecuali Dia Allah adalah pihak keempat dan tidaklah lima orang berbisik, kecuali Allah yang keenam”. S. Al Mujadilah 7.

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah itu tidaklah di atas ArasyNya, tetapi Dia selalu bersama kita dimanapun kita berada. Demikian syubhat mereka untuk mendukung keyakinan batil mereka tentang Allah Ta’ala. Jawabannya ialah bahwa ayat ini harusnya dibaca dari awal sampai akhir. Barulah setelah itu difahami pengertiannya. Jangan dipotong sebagian seperti itu, karena akan menimbulkan pengertian sepenggal seperti itu. Bila ayat ini dibaca dari awal bunyinya demikian :

ألم تر أن الله يعلم ما فى السماوات وما فى الأرض ما يكون من نجوى ثلاثة إلا هو رابعهم ولا خمسة إلا هو سادسهم ولا أدنى من ذلك ولا أكثر إلا هو معهم أينما كانوا ثم ينبئهم بما عملوا يوم القيامة إن الله بكل شيء عليم – المجادلة ٧

“Tidakkah engkau lihat bahwa ilmu Allah itu meliputi segala apa yang di langit dan segala apa yang di bumi, tidaklahlah terjadi bisik-membisik diantara tiga orang, kecuali Dia Allah adalah pihak yang keempat, dan tidaklah lima orang berbisik, kecuali Dia Allah adalah pihak yang keenam. Dan tidaklah lebih sedikit dari itu dan tidak pula lebih banyak dari itu, kecuali Dia Allah beserta mereka dimanapun mereka berada. Kemudian Dia Allah akan memberi tahukan tentang apa yang mereka telah amalkan nanti di hari kiamat. Sesungguhnya Allah itu IlmuNya meliputi segala sesuatu”. S. Al Mujadilah 7.

Perhatikanlah Firman Allah di ayat ini, bahwa Dia membuka FirmanNya dengan berita tentang IlmuNya dan menutup FirmanNya dengan berita tentang IlmuNya. Jadi ayat ini memberitakan bahwa yang bersama hambaNya dan selalu meliputi hambaNya dimanapun hamba itu berada, adalah IlmuNya.

Adapun keterangan tentang Firman Allah di S. Al Hadid 4 (وهو معكم = Dan Dia beserta kalian) ini sesuai dengan konteks ayatnya. Dalam S. thaha 46 (إنني معكما = Sesungguhnya Aku bersama kalian berdua) maknanya ialah bahwa Aku membela kalian berdua. Dalam Firman Allah di S. At Taubah 40 :

ثاني اثنين إذ هما في الغار إذ يقول لصاحبه لا تحزن إن الله معنا

“Ketika beliau (yakni Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa alihi wasallam) sebagai orang kedua dari dua orang yang bersembunyi di gua (Tsaur), ketika ia berkata kepada temannya (yakni Abu Bakar Ash-shiddiq): Jangan engkau sedih, sesungguhnya Allah beserta kita”. Yakni Allah akan membela kita. Kemudian dalam S. Al Baqarah 249 Allah memberitakan omongan orang Mu’min Bani Isra’il :

كم من فئة قليلة غلبت فئة كثيرة بإذن الله والله مع الصابرين

“Berapa banyak kelompok yang sedikit dapat mengalahkan kelompok yang besar dengan izin Allah dan Allah itu beserta orang-orang yang sabar”. Yakni dalam menolong mereka terhadap musuh-musuh mereka. Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman :

فلا تهنوا وتدعوا إلى السلم وأنتم الأعلون والله معكم – محمد ٣٥.

“Maka janganlah kalian merasa hina sehingga kalian menyeru kepada damai, padahal kalian ini adalah tinggi kemuliaannya dan Allah bersama kalian”. S. Muhammad 35, yakni Dia bersama kalian dalam pertolonganNya terhadap kalian dalam menghadapi musuh kalian.

Juga firmanNya : 108 يستخفون من الناس ولا يستخفون من الله وهو معهم -النساء (Mereka bisa bersembunyi dari manusia dan mereka tidak bisa bersembunyi dari Allah dan Dia bersama mereka) yakni bersama mereka dengan ilmunya. Juga firmanNya :

فلما تراءا الجمعان قال أصحاب موسى إنا لمدركون – قال كلا إن معي ربي سيهدين – الشعراء ٦١ – ٦٢.

“Maka ketika saling melihat dua kelompok pasukan, berkata para murid Musa, sungguh kita akan tertangkap Fir’aun. Berkata Musa : Tidak sekali-kali kita akan tertangkap, sesungguhnya bersamaku Tuhanku, Dia akan menunjuki aku”. As Syu’ara’ 61 – 62. Maknanya ialah bahwa Dia Allah pertolonganNya akan menyertaiku dalam menghadapi Fir’aun.

Demikianlah semua ayat itu telah didudukkan maknanya dengan penafsiran para Salafus Shaleh. Dan Imam Ahmad termasuk Salafus Shaleh, karena beliau termasuk Tabi’it Tabi’in. Dan tafsiran para Salafus Shaleh tidak mempertentangkan antara ayat-ayat Al Qur’an dengan ayat-ayat Al Qur’an lainnya. Dan memahami ayat-ayat itu dengan makna yang dhahir daripadanya.

Adapun pertanyaan yang dilontarkan oleh para pembela Asy’ariyah – Maturidiyah, bahwa kalau Allah itu berada diatas langit, lalu dimana Allah itu ketika sebelum adanya “ATAS” ? Jawabannya ialah hadits Nabi yang derajatnya hasan dan diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya (hadits ke 3109) dari Abi Razin radhiyallahu anhu, bahwa beliau menanyakan kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam :

يا رسول الله! أين كان ربنا قبل أن يخلق خلقه؟ قال : كان في عماء ما تحته هواء وما فوقه هواء وخلق عرشه على الماء – قال أحمد بن منيع : قال يزيد بن هارون : العماء، أي ليس معه شيء. قال أبو عيسى : هكذا يقول حماد بن سلمة، وكيع بن حدس، ويقول شعبة وأبو عوانة وهشيم وكيع بن عدس وهو أصح وأبو رزين اسمه لقيط بن عامر. قال : وهذا حديث حسن.

“Wahai Rasulullah! Dimanakah Tuhan kita sebelum Dia mencipta makhluqNya? Beliau menjawab : Dia Allah ada di posisi yang dibawahnya tidak ada apa-apa dan diatasnya tidak ada apa-apa dan Dia menciptakan ArsyNya di atas air”. Berkata Ahmad bin Mani’ bahwa Yazid bin Harun menerangkan : “العماء” di hadis ini maknanya ialah bahwa tidak ada sesuatupun bersamaNya. Berkata Abu Isa At Tirmidzi : Demikian pula berkata Hammad bin Salamah, Waki’ bin Hudus, dan berkata pula Syu’bah dan Abu Awanah dan Husyaim Waki’ bin Udus dan perkataan ini adalah arti hadis ini yang paling shahih. Adapun Abu Razin itu namanya ialah Laqith bin Amir. Dan berkata Abu Isa At Tirmidzi : Hadis ini hasan.

Demikianlah pelajaran yang kedua dari pelajaran Tauhid , yaitu bahwa Allah Ta’ala berada di atas ArsyNya di atas langit ke tujuh dan Dia turun ke langit dunia di sepertiga terakhir malam.

Sumber : https://www.facebook.com/jafarumar.thalib.37/posts/192661478175427

About Salafiyyin

Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh konten blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil, serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,..

Discussion

No comments yet.

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,334 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]

%d bloggers like this: