Al Ustadz Ja’far Umar Thalib

This category contains 764 posts

[Rekam. 98] Tafsir Qur’an As Sa’di – Al Baqarah ayat 210


Bismillah..

Cover Tafsir Qur'an As Sa'di

Berikut kami sampaikan Audio Kajian Rutin Islami yang membahas Kitab Tafsir Al Qur’an  karya  Al-’Allamah Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullah- yang dibawakan oleh Al Ustadz Ja’far Umar Thalib  حفظه الله di Masjid ‘Utsman bin ‘Affan, Degolan, Sleman, Yogyakarta.

Silahkan di simak dan di download di sini :

Unduh Matan Kitab Tafsir Qur’an As Sa’di nya disini :

Mirror  :  

Continue reading

Artikel Islami : [Bag. Ke-03] Manhaj Salafush Sholeh dalam Menghadang Kebatilan Manhaj Asy’ariyah – Maturidiyah


KEKUATAN MANHAJ SALAFUS SHALEH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH MENGHADANG KEBATILAN MANHAJ ASY’ARIYAH – MATURIDIYAH (BAGIAN KETIGA) 
Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib   حفظه الله

 

Manhaj itu artinya thoriqah atau cara memahami dan cara beramal dan cara berda’wah serta cara memperjuangkannya. Kekuatan manhaj Salafus Shaleh Ahlus Sunnah Wal Jama”ah itu tidak tergoyahkan oleh guncangan kemaksiyatan, bid’ah, syirik, dan kufur yang dikampanyekan ditengah ummat manusia, khususnya di tengah ummat Islam. Alhamdulillah manhaj Salafus Shaleh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ini tidak pernah luntur apalagi berubah dari format aslinya sebagaimana yang diwariskan oleh para Salafus Shaleh. Adapun pengertian Salafus Shaleh itu, secara bahasa artinya : Para pendahulu yang shaleh. Dan ini adalah istilah yang menjadi gelar kemuliaan bagi generasi yang dimuliakan oleh Allah dan RasulNya. Yaitu generasi kaum Mu’minin yang sezaman dengan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam, yang mereka ini dinamakan “Shahabat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam”. Kemudian generasi sesudahnya , yaitu generasi Tabi’in, yang mereka ini adalah kaum Mu’minin yang belajar agama dari Shahabat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Kemudian generasi Tabi’it Tabi’in, yaitu generasi kaum Mu’minin yang belajar agama dari para Tabi’in. Mereka itu adalah tiga generasi kaum Muslimin yang pertama dan utama dan mereka dipuji oleh Allah dan RasulNya dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

للفقاراء المهاجرين الذين أخرجوا من ديارهم وأموالهم يبتغون فضلا من الله و رضوانا وينصرون الله ورسوله أولئك هم الصادقون – والذين تبوء الدار والإيمان من قبلهم يحبون من هاجر إليهم ولا يجدون في صدورهم حاجة مما أوتوا ويؤثرون على أنفسهم ولو كان بهم خصاصة ومن يوق شح نفسه فأولئك هم المفلحون – والذين جاءو من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين ءامنوا ربنا انك رءوف رحيم. – الحشر 8 – 10.

“Fai’ (yakni harta yang dirampas dari orang-orang kafir) itu dibagikan untuk orang-orang faqir dari kalangan muhajirin yang diusir dari negeri mereka, dan dirampas harta mereka karena hijrah ke Al Madinah, mereka rela mengorbankan semua itu karena mengharapkan keutamaan dari Allah dan RidhoNya dan karena mereka ingin membela agama Allah dan RasulNya, mereka itu adalah orang-orang yang jujur dalam menyatakan keimanannya. Dan juga fai’ itu untuk orang-orang Mu’min yang tinggal di Al Madinah (yakni orang Anshar) yang mereka itu telah beriman sebelum kedatangan para Muhajirin, mereka itu mencintai orang-orang yang hijrah ke negeri mereka dan mereka itu tidak mendapati di hati mereka kepentingan dunia pada apa yang mereka berikan kepada para Muhajirin dan mereka lebih mengutamakan saudaranya seiman dari kalangan Muhajirin daripada diri dan keluarga mereka, walaupun sesungguhnya mereka itu dalam keadaan sangat memerlukannya. Dan barangsiapa yang dilindungi dari kekikiran dirinya, maka ia adalah orang yang sukses hidupnya. Dan generasi yang datang sesudah mereka (yani para Tabi’in), mereka selalu memanjatkan do’a kepada Allah : Wahai Tuhan kami , ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami meninggal dunia dengan iman dan janganlah Engkau jadikan di hati kami kedengkian kepada orang-orang yang beriman, wahai Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Pengasih dan Penyayang”. S. Al Hasyr 8 – 10.

Juga Allah Ta’ala berfirman :

والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه – التوبة 100.

“Dan orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, Allah Ridho terhadap mereka dan mereka akan ridho kepada Allah ketika melihat balasan dariNya atas perbuatan mereka”. S. At Taubah 100.

Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wa sallam bersabda :

خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم ثم يجيء أقوام تسبق شهادة أحدهم يمينه ويمينه شهادته – رواه البخاري في صحيحه (الحديث رقم 2652) عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه.

“Sebaik-baik manusia ialah yang sezaman denganku (yakni generasi Shahabat Nabi), kemudian generasi yang sesudahnya (yakni generasi Tabi’in), kemudian generasi sesudahnya (yakni generasi Tabi’it Tabi’in), kemudian datang setelah itu kaum-kaum yang persaksian mereka mendahului sumpah mereka dan sumpah mereka mendahului persaksian mereka”. Hr. Al Bukhari dalam shahihnya (hadits ke 2652) dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu.

Al Hafidh Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah menukil dalam Fat-hul bari jilid 5 hal. 261 keterangan dari Abul Faraj Ibnul Jauzi Al Baghdadi rahimahullah :

المراد أنهم لا يتورعون ويستهينون بأمر الشهادة واليمين

“Yang dimaksud di sini dengan kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpah mereka mendahului persaksian mereka, ialah kaum yang (datang sesudah generasi Tabi’t Tabi’in itu), mereka tidak punya wara’ (kehati-hatian) dan mengentengkan urusan persaksian dan sumpah”.

Demikianlah pujian Allah dan RasulNya dalam Al Qur’an dan As Sunnah, sebagai jaminan kepastian kejujuran dan kebenaran agama yang diwariskan oleh mereka kepada kita. Bahkan Allah Ta’ala menjamin bahwa Al Qur’an dan As Sunnah itu tidak akan disusupi kebatilan dari arah manapun. Sehingga dengan pasti pula kita mengimani kebenaran Al Islam sebagai agama Allah Ta’ala dan agama RasulNya yang diridhoi olehNya.

وإنه لكتاب عزيز – لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه تنزيل من حكيم حميد – فصلت 41 – 42.

“Dan sesungguhnya ia adalah Kitab yang Mulia. Tidak akan ia disusupi kebatilan dari depan dan tidak pula dari belakang. Ia diturunkan dari Dzat Yang Maha Sempurna HikmahNya dan Maha Terpuji”. S. Fussilat 41 – 42.

ولو تقول علينا بعض الأقاويل لأخذنا منه باليمين ثم لقطعنا منه الوتين فما منكم من أحد عنه حاجزين – الحاقة 44 -47

“Dan seandainya dia (yakni Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam) memalsukan sebagian omongan Kami, niscaya Kami akan menyambarnya dengan Tangan Kanan Kami , kemudian Kami akan putuskan urat lehernya. Maka disaat itu, tidak akan ada lagi dari kalian yang mampu membelanya”. S. Al Haaqqah 44 – 47.

Dan adapun tentang As Sunnah dari Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam, Allah Ta’ala menjamin kebenarannya.

ما ضل صاحبكم وما غوى – وما ينطق عن الهوى – إن هو إلا وحي يوحى – علمه شديد القوى – ذو مرة فاستوى

“Tidaklah orang ini (yakni Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam) sesat ataupun menyimpang, dan tidaklah dia berbicara dari hawa nafsunya, dia berbicara tidak lain kecuali dari Wahyu yang diwahyukan kepadanya, dia diajari melafadlkan apa yang diwahyukan kepadanya itu oleh Malaikat Jibril yang sangat perkasa, yang bagus wajahnya dan tegap badannya”. S. An Najm 2 – 6.  Continue reading

[Rekam. 97] Tafsir Qur’an As Sa’di – Al Baqarah ayat 207-209 (Lanjutan ke-1)


Bismillah..

Cover Tafsir Qur'an As Sa'di

Berikut kami sampaikan Audio Kajian Rutin Islami yang membahas Kitab Tafsir Al Qur’an  karya  Al-’Allamah Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullah- yang dibawakan oleh Al Ustadz Ja’far Umar Thalib  حفظه الله di Masjid ‘Utsman bin ‘Affan, Degolan, Sleman, Yogyakarta.

Silahkan di simak dan di download di sini :

Unduh Matan Kitab Tafsir Qur’an As Sa’di nya disini :

Mirror  :  

Continue reading

Artikel Islami : [Bag. Ke-02] Antara Asy’ariyah dengan Maturidiyah


ANTARA ASY’ARIYAH DENGAN MATURIDIYAH (BAGIAN KEDUA) 
Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib   حفظه الله

Setelah kita mengenal sedikit tentang asal-usul Asy’ariyah, marilah kita mengenal Maturidiyah dan hubungannya dengan Asy’ariyah. Bahwa Maturidiyah itu adalah pemahaman yang digagas oleh Abu Mansur Al Maturidi. Nama dan nasab beliau adalah Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al Maturidi Al Samarqandi. Beliau lahir di sekitar th. 238 H. dan wafat th. 333 H. Beliau terkenal sebagai Imamul Mutakallimin (Imam para para ahli ilmu kalam) dan beliau menulis beberapa kitab yang menunjukkan betapa mendalamnya ilmu beliau dalam ilmu kalam dan qaidah-qaidah filsafat. Diantara kitab-kitab karya beliau adalah : “At Tauhid”, “At Ta’wilat”, “Al Maqalaat” dan lain-lainnya. Sementara itu kitab Al Maqalat termasuk kitab yang hilang menurut para peneliti.

Para peneliti menyimpulkan dari kitab-kitab karya Abu Mansur Al Maturidi tersebut sebagai berikut :

1. Dr. Mahmud Qasim dalam muqaddimahnya terhadap kitab karya Ibnu Rusyd (Manahijul Adillah) menyatakan bahwa Al Maturidiyah lebih dekat kepada pikiran Mu’tazilah daripada Asy’ariyah.

2. Dr. Jalal Musa dalam kitabnya Nasy’atu Al Asya’irah Wa Tathawwuruha menyatakan bahwa Al Maturidiyah mencocoki pemikiran Mu’tazilah secara mutlak.

3. Dr. Ahmad Amin dalam kitabnya Dzuhrul Islam berpendapat bahwa Al Asy’ariyah itu lebih dekat kepada Mu’tazilah daripada Al Maturidiyah. Karena Abul Hasan Al Asy’ari pernah belajar dalam waktu yang lama dengan Al Mu’tazilah.

4. Zahid Al Kautsari dalam muqaddimahnya terhadap kitab Tabyin Kidzbul Muftara karya Ibnu Asakir menyatakan bahwa Al Maturidiyah itu pemikirannya di tengah antara Asy’ariyah dengan Al Mu’tazilah.

5. Abu Zahrah menerangkan dalam kitabnya Tarikh Al Madzahibul Islamiyah , bahwa Al Maturidiyah dengan Al Asya’rah keduanya sama-sama menjadikan akal serta teori-teori Ilmu Mantiq sebagai landasan dalam memahahi perkara aqidah yang diterangkan dalam Al Qur’an. Dan Al Maturidiyah pemikirannya ditengah-tengah antara Asy’ariyah dengan Mu’tazilah.

Perbedaan pendapat diantara para peneliti tersebut terjadi karena memang kitab-kitab yang ditulis oleh tiga golongan utama dalam Ilmu Kalam ini (yaitu Mu’tazilah, Maturidiyah dan Asy’ariyah) adalah kitab-kitab yang menggunakan retorika logika filsafat Yunani. Sehingga boleh saja logika dipahami dengan logika pula. Mereka memahami dalil-dalil Al Qur’an dan Al Hadits dengan logika filsafat Yunani itu, sehingga mereka melakukan ta’wil bathil atau dengan kata lain “Tahrif”. Yaitu merubah-rubah makna dalil itu untuk di cocokkan dengan logika mereka. Sehingga jadilah pemahaman mereka itu menjadi bola liar di kalangan pengikutnya. Demikian diterangkan oleh Al Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muslim Ibnu Qutaibah rahimahullah (lahir th. 213H. dan wafat th. 376 H) dalam Al Ikhtilaf Fil Lafdl hal.12 :

إن المتكلمين يعتنقون الأراء الذين يذهبون إليها بعقولهم، ثم ينظرون في كتاب الله، فإذا وجدوه ينقض ما قاسوا، يبطل ما أسسوا، طلبوا له التأويلات

“Sesungguhnya para ahli Ilmu Kalam itu meyakini berbagai pandangan produk akal mereka, kemudian setelah itu mereka melihat Kitabullah (yakni Al Qur’an). Maka bila mereka mendapati (ada ayat-ayat) Al Qur’an yang membatalkan pandangan akal mereka dan membatalkan metodologi yang mereka bangun, maka mereka berusaha mencari ta’wilan bagi ayat-ayat itu (agar mencocoki qaidah berfikir mereka)”.   Continue reading

[Rekam. 96] Tafsir Qur’an As Sa’di – Al Baqarah ayat 207-209


Bismillah..

Cover Tafsir Qur'an As Sa'di

Berikut kami sampaikan Audio Kajian Rutin Islami yang membahas Kitab Tafsir Al Qur’an  karya  Al-’Allamah Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullah- yang dibawakan oleh Al Ustadz Ja’far Umar Thalib  حفظه الله di Masjid ‘Utsman bin ‘Affan, Degolan, Sleman, Yogyakarta.

Silahkan di simak dan di download di sini :

Unduh Matan Kitab Tafsir Qur’an As Sa’di nya disini :

Mirror  :  

Continue reading

Artikel Islami : [Bag. Ke-01] Memahami Asal-Usul Asy’ariyah


MEMAHAMI ASAL-USUL ASY’ARIYAH (BAGIAN PERTAMA) 
Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib   حفظه الله

PENDAHULUAN

Orang mengatakan bahwa aqidah Ummat Islam Indonesia itu ialah Asy’ariyah – Maturidiyah. Oleh karena itu jangan menganggap sesat aqidah ini. Jawabannya ialah. Bukankah Ummat Islam Indonesia hampir seluruhnya penyembah kuburan keramat dengan berdoa’a kepadanya minta berbagai keperluan. Apakah yang demikian tidak boleh dianggap sesat. Bahkan kebanyakan Ummat Islam Indonesia tidak sholat, apakah yang demikian ini tidak boleh kita katakan munkar. Logika yang demikian itu telah terbantah dengan ayat Al Qur’an sebagai berikut :

وإن تطع أكثر من في الأرض يضلوك عن سبيل الله إن يتبعون إلا الظن وإن هم إلا يخرصون – الأنعام 116.

“Dan kalau kalian mengikuti kebanyakan orang dimuka bumi, mereka kebanyakan orang itu akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Karena mereka itu tidaklah mengikuti kecuali sangkaan belaka dan mereka itu tidak lain kecuali menduga-duga saja”. S. Al An’am 116.

Maka dari itu kita diperintah oleh Allah Ta’ala untuk merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah ketika terjadi perbedaan pendapat :

فإن تنازعتم في شيء فردوه إلي الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الأخر ذلك خير و أحسن تأويلا – النساء…59.

“Maka kalau kalian bertikai dalam satu masalah, maka rujukkanlah pertikaian itu kepada Allah dan RasulNya kalau kalian memang beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu baik dan lebih baik akibatnya”. An Nisa’ 59.

Merujuk kepada Allah ialah merujuk kepada Al Qur’an dan merujuk kepada RasulNya ialah merujuk kepada As sunnah As Shahihah sepeninggal beliau. Disamping itu agar tidak terjadi kesimpangsiuran dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah, kita disuruh untuk merujuk kepada pemahaman para Salafus Shaleh. Allah Ta’ala berfirman:

والسابقون الأولون من المهاجرين و الأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه وأعد لهم جنات تجري تحتها الأنهار خالدين فيها أبدا ذلك الفوز العظيم – التوبة 100.

“Dan orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti jejak hidup mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka akan ridho kepada balasan Allah dan Dia akan menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai dan mereka kekal padanya. Yang demikian itu adalah kesuksesan yang besar”. At Taubah 100.

Allah Ta’ala menegaskan keridho’anNya hanya bagi mereka yang mengikuti dengan baik jejak hidup para Muhajirin dan Anshar. Maka yang benar dan diridhoi oleh Allah dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah itu ialah dengan mengikuti pemahaman para Muhajirin dan Anshar.

Demikianlah sesungguhnya Thariqatul Istidlal (cara berdalil) yang diajarkan oleh Allah Ta’ala dalam Al Qur’an. Dan demikian pula yang diajarkan dalam As Sunnah, dimana Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda :

أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبدا حبشيا، فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا، فعيكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين تمسكوا بها، وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة – رواه أبو داود في سننه عن عرباض بن سارية (الحديث رقم 4607) ورواه ابن ماجه في سننه عنه (الحديث رقم 43) وراه الترمذي في سننه عن جرير بن عبد الله (الحديث رقم 2676).

“Aku berwasiat kepada kalian untuk kalian bertaqwa kepada Allah dan aku berwasiat juga kepada kalian untuk kalian mendengar dan taat kepada pimpinan kalian , walaupun pimpinan kalian itu budak belian dari negeri Habasyah. Karena sesungguhnya siapa dari kalian yang masih hidup sepeninggalku , maka sungguh dia akan melihat perselisihan yang banyak , di saat itu wajib atas kalian untuk berpegang Teguh dengan Sunnahku (yakni ajaranku) dan Sunnah para Khulafa’ Rasyidin (khalifah-khalifah yang terbimbing kepada kebenaran, dan Sunnah mereka ialah pemahaman mereka yang telah disepakati oleh para Shahabat Nabi yang masih hidup waktu itu). Berpegang teguhlah kalian dengan sunnah-sunnah itu dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu, dan hati-hati kalian dari perkara-perkara yang baru dalam agama. Karena segala yang baru dalam agama itu adalah bid’ah dan segala yang bid’ah itu adalah sesat”. Hr. Abu Dawud dalam Sunannya dari Irbadl bin Sariyah (hadis nomer 4607), juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Irbadl (hadits nomer 43) dan juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya dari Jarir bin Abdillah (hadits 2676).

ASY’ARIYAH ITU APA ?  Continue reading

[Rekam. 95] Tafsir Qur’an As Sa’di – Al Baqarah ayat 203-206


Bismillah..

Cover Tafsir Qur'an As Sa'di

Berikut kami sampaikan Audio Kajian Rutin Islami yang membahas Kitab Tafsir Al Qur’an  karya  Al-’Allamah Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullah- yang dibawakan oleh Al Ustadz Ja’far Umar Thalib  حفظه الله di Masjid ‘Utsman bin ‘Affan, Degolan, Sleman, Yogyakarta.

Silahkan di simak dan di download di sini :

Unduh Matan Kitab Tafsir Qur’an As Sa’di nya disini :

Mirror  :  

Continue reading

[Rekam. 94] Tafsir Qur’an As Sa’di – Al Baqarah ayat 198-202 (lanjutan ke-02)


Bismillah..

Cover Tafsir Qur'an As Sa'di

Berikut kami sampaikan Audio Kajian Rutin Islami yang membahas Kitab Tafsir Al Qur’an  karya  Al-’Allamah Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullah- yang dibawakan oleh Al Ustadz Ja’far Umar Thalib  حفظه الله di Masjid ‘Utsman bin ‘Affan, Degolan, Sleman, Yogyakarta.

Silahkan di simak dan di download di sini :

Unduh Matan Kitab Tafsir Qur’an As Sa’di nya disini :

Mirror  :  

Continue reading

Rudud : Nasehat Untuk Para Pengagum Maher At Thuwailibi


NASEHAT UNTUK PARA PENGAGUM MAHER AT THUWAILIBI

Oleh Al Ustadz Ja’far Umar Thalib   حفظه الله

Nasehat ini saya tujukan kepada kaum Muslimin para pengagum Al Kadzdzab Al Wasikh Maher At Thuwailibi, agar kiranya menjadi pertimbangan dalam mencari teman atau tempat menimba ilmu agama. Karena berapa banyak orang celaka karena teman atau guru. Dan melalui tulisan ini saya berusaha menumpahkan kasih sayangku kepada kaum Muslimin dari bahaya pemahaman sesat Maher At Thuwailibi yang akan merusakkan aqidah dan akhlaq kalian bila kalian dekat dengan orang ini.

Kerusakan parah yang ada pada aqidah dan akhlaqnya ialah :

  1. Dia melakukan gerakan anti terhadap Da’wah Salafiyah dengan menggelari orang-orang yang berusaha mengikuti jejak Salafus Shaleh dengan TALAFI (ARTINYA : ORANG YANG BINASA). Sedangkan SALAFI (ARTINYA : ORANG YANG BERUSAHA MENGIKUTI JEJAK PARA SAFUS SHALEH).

Wahai sekalian Kaum Muslimin, SALAFI itu sesungguhnya adalah simbul perjuangan atau target perjuangan. Jadi kalau ada orang yang menggelari dirinya SALAFI, bukan berarti bahwa dia telah mengikuti seratus persen jejak hidup para Salafus Shaleh. Jadi makanya SALAFI itu ada yang baru sedikit mengikuti jejak para Salafus Shaleh, dan akhlaqnya masih terbawa oleh tabiat asalnya yang jelek. Namun aqidahnya sudah berpegang dengan prinsip AL WALA’ WAL BARA (Cinta Kepada Tauhid Dan Ahlut Tauhid Serta Benci Kepada Syirik Dan Ahlus Syirik, Cinta Kepada Sunnah Dan Ahlus Sunnah Serta Benci Kepada Bid’ah Dan Ahlul Bid’ah). Semoga dengan bertambahnya ilmu tentang Salafus Shaleh, mereka akan terus memperbaiki peri hidup mereka dalam upaya meneladani peri hidup para Salafus Shaleh.

Namun Al Kadzdzab al Waskh Maher At Thuwailibi ketika melihat kesalaha- kesalahan mereka, langsung saja mencap mereka sebaga TALAFI. Dan dia tidak bisa menyembunyikan kebenciannya kepada SALAFI , ketika dia menyataka bahwa SALAFI itu singkatan dari SAhabat LAma FIr’aun. Padahal SALAFI itu dengan berbagai kekurangannya, tetap lebih baik daripada KHALAFI (ORANG YANG MENYELISIHI PARA SALFUS SHALEH). Karena SALAFI adalah orang-orang yang berusaha mewarisi ilmu dan amal para Salafus Shaleh. Walaupun diantara mereka itu ada yang dzalim dan ada pula yang sedang semangatnya dalam mengikuti jejak para Salafus Shaleh dan ada pula darl mereka yang semangatnya penuh untuk mengikuti dan menggali ilmu dan amal para Salafus Saleh. Maka kalian sangat besar dosanya bila menganggap mereka dengan emosi kemarahan kalian sebagai TALAFI atau SAHABAT LAMA FIRAUN.

Allah Ta’ala membagi tingkatan orang-orang Yang mewarisi kitab dalam tiga golongan :

ثم أورثنا الكتاب الذين اصطفينا من عبادنا فمنهم ظالم لنفسه ومنهم مقتصد ومنهم سابق بالخيرات بإذن الله ذالك هو فضل الكبير. – فاطر 32.
“Kemudian Kami wariskan kitab ini kepada orang yang telah Kami pilih dari hamba-hamba Kami, maka dari mereka ada yang dzalim terhadap diri mereka sendiri dan ada pula dari mereka yang sederhana dalam amalannya dan dari mereka ada yang melampaui yang lainya dalam kebaikan dengan izin Allah, yang demikian itu adalah keutamaan yang sangat besar”. S. Fathir 32.

Maka Ahlul Istifa’ (orang yang dipilih oleh Allah untuk mewarisi kitabNya) ada tiga golongan yaitu:

  • Dzalimun linafsihi (yang dzalim terhadap dirinya dengan berbuat dosa)-
  • Muqtashid (yang sederhana dalam mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah)-
  • Sabiqun bilkhairat (yang melampaui lainnya dalam kebaikan).

Continue reading

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,201 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]