Artikel Islami

This category contains 43 posts

Artikel Islami : Ketika As Sunnah An Nabawiyah Dikucilkan.


KETIKA AS SUNNAH AN NABAWIYAH DIKUCILKAN

Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib hafidhahullah wasaddada khutahu

As Sunnah An Nabawiyah itu artinya ialah semua yang diberitakan dari atau tentang Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Agama Al Islam telah mewajibkan setiap Muslim untuk meneladani jejak langkah kehidupan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman :

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجوا الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا

“Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah itu teladan yang baik, bagi mereka yang beriman kepada Allah dan hari akherat dan berdzikir kepada Allah dengan banyak berdzikir”. S. Al Ahzab 21.

Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

إني قد تركتكم على مثل البيضاء، ليلها كنهارها، لا يزيغ عنها بعدي إلا هالك – رواه ابن أبي عاصم في السنة (الحديث رقم ٤٩).

“Sesungguhnya aku telah meninggalkan kalian dengan warisan ilmu (yakni Al Qur’an dan As Sunnah An Nabawiyah) semisal keadaan putih bersinar, malamnya seperti siangnya (yakni tetap jelas semua ajarannya dimana saja, kapan saja dan bagi siapa saja). Tidak akan menyimpang dari apa yang aku wariskan itu, kecuali pasti akan binasa”. Hr. Ibnu Abi Ashim dalam kitab As Sunnah (hadis ke 49).

Maka dengan sebab inilah, setiap Muslim wajib mempelajari Al Qur’an dan As Sunnah An Nabawiyah dalam rangka meneladani jejak langkah kehidupan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Namun Rasulullah sallallahu alahi wa alaihi wa sallam jauh-jauh hari sudah memperingatkan tentang akan datangnya fitnah besar yang akan menimpa Ummat ini, dimana fitnah itu akan menjadikan carut-marutnya pemahaman Ummat ini tentang agamanya. Dan beliau berwasiat kepada Ummatnya agar tetap istiqamah berpegang teguh dengan dalil-dalil yang ada di dalam Al Qur’an dan As Sunnah serta pemahaman yang benar terhadap keduanya, yaitu pemahaman para Shahabat beliau yang dipimpin oleh para Khulafa’ Ar Rasyidin Al Mahdiyyin (yakni khalifah yang terbimbing yang mendapat petunjuk kepada kebenaran).

فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين ، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ وإياكم و محدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة – رواه أبو داود في سننه (الحديث رقم ٤٦٠٧) عن العرباض بن سارية وهو حديث صحيح

“Maka sesungguhnya siapa dari kalian yang masih hidup sepeninggalku, sungguh dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka disaat yang demikian itu, wajib atas kalian terus berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah para Khalifah yang terbimbing yang mendapat petunjuk sepeninggalku. Gigitlah Sunnah-Sunnah itu dengan gigi gerahammu (yakni pegang erat-erat dan jangan sampai terlepas daripadanya). Dan hati-hatilah kalian dari segala sesuatu yang baru dalam perkara agama, karena segala yang baru dalam perkara agama itu adalah bid’ah dan semua bid’ah itu adalah sesat”. Hr. Abu Dawud dalam Sunannya (hadits ke 4607) dari Al Irbadl bin Sariyah dan ini adalah hadits yang shahih.

Siapaka Khalifah yang terbimbing yang mendapatkan petunjuk itu ? Jawabannya ialah sabda Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam berikut ini :

خلافة النبوة ثلاثون سنة ثم يؤتى الله ملكه من يشاء – رواه أحمد فى مسنده ٢١٩١٩ ورواه أبو داود فى سننه الحديث رقم ٤٦٤٧ و الترمذي الحديث رقم ٢٢٢٦ و البغوي فى شرح السنة الحديث رقم ٣٨٦٥ عن سفينة مولى رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم ورضي الله عنه.

“Khilafah dalam bimbingan Sunnah Nabi (yang berkuasa sepeninggalku) selama tiga puluh tahun. Kemudian setelah itu Allah berikan kerajaanNya kepada siapa yang Ia sukai”. Hr. Ahmad dalam Musnadnya hadits ke 21919, dan diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dalam Sunannya hadits ke 4647, dan juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya hadits ke 2226, Juga Al Baghawi meriwayatkannya dalam Syarhus Sunnah hadits ke 3865 dari Safinah maula Rasulillah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam waradhiyallahu anhu. Kemudian Safinah menerangkan :

أمسك ، خلافة أبي بكر سنتين، وخلافة عمر عشرة، وعثمان اثني عشر، وعلى ستة.

“Pegang berita ini, Abu Bakar memerintah sepeninggal Nabi selama dua tahun, Umar memerintah sepeninggal Abu Bakar selama sepuluh tahun, Utsman memerintah sepeninggal Umar selama dua belas tahun, Ali memerintah sepeninggal Utsman selama enam tahun (jadi total masa pemerintahan mereka setelah wafatnya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam adalah tiga puluh tahun)”.

Dengan demikian, khalifah yang terbimbing dan mendapat petunjuk Allah itu adalah mereka yang berkuasa di masa “KHILAFATUN NUBUWWAH” (yakni para khalifah yang menjalankan pemerintahannya dibawah bimbingan Sunnah Nabi), yaitu masa pemerintahan Abu Bakar As Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhum. Maka kepada para Shahabat Nabi yang dibawah kepemimpinan merekalah kita diperintah oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam untuk merujukkan pemahaman yang benar tentang Al Qur’an dan As Sunnah, terutama dalam suasana carut-marutnya pemahaman Ummat tentang Al Islam.
Continue reading

Artikel Islami : [Bag. Ke-04] AS-SIYASAH ASY SYAR’IYAH


ASSIYASAH ASY SYAR’IYAH (BAGIAN KE-EMPAT)
Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib hafidhahullah wasaddada khutahu

 

PRINSIP KEEMPAT

Perpolitikan Islam sangat menjunjung tinggi kemaslahatan ummat manusia dan kemanfaatan , terutama bagi kaum Muslimin. Dan menolak serta mencegah mafsadah (kerusakan) dan kemudharatan. Allah Ta’ala menegaskan dalam AlQur’an berikut ini :

يأيها الذين ءامنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا – يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم – ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما – الأحزاب ٧٠ – ٧١

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan berkatalah kalian dengan perkataan yang benar, yang demikian itu akan menjadi sebab kemaslahatan pada amalan kalian dan Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan RasulNya, maka sungguh dia akan berhasil dengan keberhasilan yang besar”. S. Al Ahzab 70 – 71.

Maka perpolitikan Islam itu dilandasi oleh keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala serta ketaatan kepadaNya dan ketaatan kepada RasulNya, kemudian kejujuran dalam perkataan dan perbuatan.

Allah Ta’ala juga menegaskan :

يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر – البقرة ١٨٥

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian “. S. Al Baqarah 185.

Juga firmannya :

والله لا يحب الفساد – البقرة ٢٠٥

“Dan Allah itu tidak suka kerusakan”. Al Baqarah 205.

Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

لا ضرر ولا ضرار – رواه أحمد فى مسنده (٢٨٦٧) عن ابن عباس ورواه ابن ماجه (٢٣٤٠) عن عبادة بن الصامت – وحسنه السيوطي فى الجامع الصغير.

“Tidak boleh seorang Muslim menjadi sebab kemudharatan dan tidak boleh menjatuhkan dirinya dalam kemudharatan”. Hr. Ahmad dalam Musnadnya (hadits ke 2867) dari Ibnu Abbas, dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dalam Sunannya (hadits ke 2340) dari Ubadah bin As Shamit radhiyallahu anhu dan hadits ini dihasankan oleh As Suyuthi dalam Al Jami’us Shaghir.

Maka perpolitikan Islam itu dibangun di atas prinsip untuk memudahkan masyarakat membangun hidupnya agar lebih baik lagi dan menghindarkan sebisa-bisanya dari kesulitan atau kemudharatan ataupun mafsadah(kerusakan).

Karena itu politik Islam selalu menempuh kebijakan yang didominasi oleh kemaslahatan dan menghindari kemudharatan dalam menghadapi gejolak pembangkangan terhadap Syari’ah Islamiyah. Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

الدين النصيحة. قلنا لمن؟ قال لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم – رواه مسلم (الحديث رقم ٥٥) عن تميم الداري

“Agama itu adalah nasehat”. Kamipun bertanya : Untuk siapa? Beliau menjawab : “Untuk Allah, dan untuk KitabNya, dan untuk RasulNya, dan untuk para pimpinan kaum Muslimin, dan agama itu juga sebagai nasehat untuk segenap kaum Muslimin”. Hr. Muslim (hadits ke 55) dari Tamim Ad Dari radhiyallahu anhu.  Continue reading

Artikel Islami : [Bag. Ke-03] AS-SIYASAH ASY SYAR’IYAH


ASSIYASAH ASY SYAR’IYAH (BAGIAN KETIGA)
Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib hafidhahullah wasaddada khutahu

PRINSIP KETIGA

Para Ulama’ dan orang-orang yang berilmu harus membimbing Ummat Islam dengan ilmu dan amal Islami untuk menyelamatkan mereka dari berbagai bencana yang bisa mengancam kehidupan mereka ketika pemerintah itu mengkampanyekan kekafiran terus- menerus ditengah kehidupan Ummat. Allah Ta’ala menegaskan kepemimpinan Ulama’ bagi Ummat Islam :

وجعلنا منهم أئمة يهدون بأمرنا لما صبروا وكانوا بآياتنا يوقنون – السجدة ٢٤

“Dan Kami jadikan dari mereka itu para Imam, yang terbimbing dengan perintah Kami, ketika mereka itu sabar dalam mentaati Syari’ah Allah dan mereka yakin dengan ilmu tentang kebenaran yang datang dari Allah”. As Sajdah 24.

Al Hafidl Ibnu Katsir Ad Dimasyqi rahimahullah menerangkan tentang tafsir ayat ini : “Yakni ketika mereka sabar dalam mentaati perintah-perintah Allah dan meninggalkan apa yang dilarang olehNya dan membenarkan para RasulNya serta mengikuti jejak mereka dalam segala apa yang datang kepada mereka dari Allah, maka jadilah mereka sebagai imam-imam yang terbimbing kepada kepada kebenaran dengan perintah dari Allah dan mereka mengajak ummatnya kepada kebaikan dan menyeru ummatnya kepada kemakrufan dan mencegah mereka dari kemungkaran”. Demikian Ibnu Katsir menerangkan.

Demikianlah kedudukan para Ulama’ itu, bila mereka istiqamah dalam berpegang dengan kebenaran yang datang dari Allah, dia akan menjadi panutan Ummat Islam dan sebagai Imam yang diteladani amalannya oleh Ummat. Ulama’ yang demikian itulah yang menjadi benteng terakhir bagi Ummat Islam untuk lari dari kekafiran yang sedang mengepung mereka. Ulama’ tersebut mempelopori Ummat untuk berjihad fi sabilillah dengan cara yang benar dan tidak takut dari ancaman siapapun kecuali ancaman Allah Ta’ala. Tidak peduli dari cercaan siapapun, kecuali cercaan Allah dan RasulNya. Ulama’ yang memberi teladan kepada Ummat dalam menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar dengan ikhlas karena Allah semata.

ومن يطع الله ورسوله ويخش الله ويتقه فأولئك هم الفائزون – النور ٥٢

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya dan takut kepadaNya dalam perkara dosa yang telah dia lakukan dan takut kepadaNya untuk berbuat dosa yang akan datang, maka mereka yang demikian itulah sebagai orang-orang yang sukses”. S. An Nur 52.

Juga Allah Ta’ala berfirman :

إنما يخش الله من عباده العلماؤا – فاطر ٢٨
“Hanyalah yang takut kepada Allah itu dari hamba-hambaNya, adalah para Ulama’nya”.
S. Fathir 28.

Sufyan bi Said Ats Tsauri rahimahullah menerangkan :  Continue reading

Artikel Islami : [Bag. Ke-02] AS-SIYASAH ASY SYAR’IYAH


ASSIYASAH ASY SYAR’IYAH (BAGIAN KEDUA)
Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib hafidhahullah wasaddada khutahu

 

PRINSIP KEDUA

Harus ta’at kepada penguasa dan harus sabar dengan berbagai kedhalimannya dan tidak boleh memberontak kepadanya selama penguasa itu tidak berbuat dengan kekafiran yang nyata dihadapan kaum Muslimin.

Ubadah bin As Shamit radhiyallhu anhu meriwayatkan :

دعانا النبي صلى الله عليه وآله وسلم فبايعناه فقال فيما أخذ علينا أن بايعنا على السمع والطاعة فى منشطنا ومكرهنا وعسرنا و يسرنا وأثرة علينا وأن لا ننازع الأمر أهله إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم من الله فيه برهان – رواه البخاري فى صحيحه الحديث رقم ٧٠٥٥ – ٧٠٥٦

Telah memanggil kami Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wasallam, maka kami membai’atnya. Beliau menyatakan dalam membai’at kami : “Agar kami tetap mendengar perintah penguasa kami dan mentaatinya, dalam keadaan kami senang dengan penguasa itu ataupun dalam keadaan kami tidak suka dengannya, dalam keadaan hidup kami yang sulit dibawah penguasa itu, ataupun dalam keadaan hidup kami serba mudah, dan walaupun penguasa kami mengabaikan hak kami. Juga kami dibai’at untuk tidak merebut kekuasaan dari penguasa kami, kecuali kalau kalian melihat pada penguasa itu kekafiran yang nyata, dimana kalian mempunyai kepastian dalil tentang kekafirannya itu dari sisi Allah (yakni dari Al Qur’an dan As Sunnah As Shahihah) dan kalian mempunyai kejelasan ilmiyah tentang kekafiran penguasa kalian itu”. Hr. Bukhari dalam Shahihnya (hadis ke 7055 – 7056).

Al Hafidl Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah dalam Fat-hul Bari jilid 13 hal. 8, beliau membawakan riwayat Ahmad dan At Thabrani dan Al Hakim dari Ubadah bin As Shamit radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

سيلي أموركم من بعدي رجال يعرفونكم ما تنكرون وينكرون عليكم ما تعرفون ، فلا طاعة لمن عصى الله

“Akan dipimpin kalian sepeninggalku oleh orang-orang yang akan memperkenalkan kepada kalian amalan yang akan kalian ingkari dan akan mengingkari amalan agama kalian yang telah kalian yakini kebenarannya, Maka tidak ada kemestian taat terhadap penguasa yang durhaka kepada Allah”.

Continue reading

Artikel Islami : [Bag. Ke-01] AS-SIYASAH ASY SYAR’IYAH


ASSIYASAH ASY SYAR’IYAH (BAGIAN PERTAMA)
Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib hafidhahullah wasaddada khutahu


As Siyasah Asy Syar’iyah itu artinya perpolitikan menurut tuntunan Syari’ah Islamiyah. Ia adalah sistem politik yang telah diajarkan oleh Allah dan RasulNya didalam Al Qur’an dan As Sunnah. Karena itu dalil bagi sistem perpolitikan ini hanyalah dari Al Qur’an dan As Sunnah As Shahihah dengan pemahaman para Salafus Shaleh. As Siyasah Asy Syar’iyah itu haruslah menjadi wawasan politik kaum Muslimin dan bukannya wawasan mereka itu politik Demokratisme ataupun Sekularisme. Oleh sebab itu kaum Muslimin harus mengerti betul As Siyasah Asy Syar’iyah dengan sebenar-benar pengertian.

Prinsip-prinsip As Siyasah Asy Syar’iyah itu adalah sebagai berikut : 

Continue reading

Artikel Islami : [Bag. Ke-03] Manhaj Salafush Sholeh dalam Menghadang Kebatilan Manhaj Asy’ariyah – Maturidiyah


KEKUATAN MANHAJ SALAFUS SHALEH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH MENGHADANG KEBATILAN MANHAJ ASY’ARIYAH – MATURIDIYAH (BAGIAN KETIGA) 
Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib   حفظه الله

 

Manhaj itu artinya thoriqah atau cara memahami dan cara beramal dan cara berda’wah serta cara memperjuangkannya. Kekuatan manhaj Salafus Shaleh Ahlus Sunnah Wal Jama”ah itu tidak tergoyahkan oleh guncangan kemaksiyatan, bid’ah, syirik, dan kufur yang dikampanyekan ditengah ummat manusia, khususnya di tengah ummat Islam. Alhamdulillah manhaj Salafus Shaleh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ini tidak pernah luntur apalagi berubah dari format aslinya sebagaimana yang diwariskan oleh para Salafus Shaleh. Adapun pengertian Salafus Shaleh itu, secara bahasa artinya : Para pendahulu yang shaleh. Dan ini adalah istilah yang menjadi gelar kemuliaan bagi generasi yang dimuliakan oleh Allah dan RasulNya. Yaitu generasi kaum Mu’minin yang sezaman dengan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam, yang mereka ini dinamakan “Shahabat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam”. Kemudian generasi sesudahnya , yaitu generasi Tabi’in, yang mereka ini adalah kaum Mu’minin yang belajar agama dari Shahabat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Kemudian generasi Tabi’it Tabi’in, yaitu generasi kaum Mu’minin yang belajar agama dari para Tabi’in. Mereka itu adalah tiga generasi kaum Muslimin yang pertama dan utama dan mereka dipuji oleh Allah dan RasulNya dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

للفقاراء المهاجرين الذين أخرجوا من ديارهم وأموالهم يبتغون فضلا من الله و رضوانا وينصرون الله ورسوله أولئك هم الصادقون – والذين تبوء الدار والإيمان من قبلهم يحبون من هاجر إليهم ولا يجدون في صدورهم حاجة مما أوتوا ويؤثرون على أنفسهم ولو كان بهم خصاصة ومن يوق شح نفسه فأولئك هم المفلحون – والذين جاءو من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين ءامنوا ربنا انك رءوف رحيم. – الحشر 8 – 10.

“Fai’ (yakni harta yang dirampas dari orang-orang kafir) itu dibagikan untuk orang-orang faqir dari kalangan muhajirin yang diusir dari negeri mereka, dan dirampas harta mereka karena hijrah ke Al Madinah, mereka rela mengorbankan semua itu karena mengharapkan keutamaan dari Allah dan RidhoNya dan karena mereka ingin membela agama Allah dan RasulNya, mereka itu adalah orang-orang yang jujur dalam menyatakan keimanannya. Dan juga fai’ itu untuk orang-orang Mu’min yang tinggal di Al Madinah (yakni orang Anshar) yang mereka itu telah beriman sebelum kedatangan para Muhajirin, mereka itu mencintai orang-orang yang hijrah ke negeri mereka dan mereka itu tidak mendapati di hati mereka kepentingan dunia pada apa yang mereka berikan kepada para Muhajirin dan mereka lebih mengutamakan saudaranya seiman dari kalangan Muhajirin daripada diri dan keluarga mereka, walaupun sesungguhnya mereka itu dalam keadaan sangat memerlukannya. Dan barangsiapa yang dilindungi dari kekikiran dirinya, maka ia adalah orang yang sukses hidupnya. Dan generasi yang datang sesudah mereka (yani para Tabi’in), mereka selalu memanjatkan do’a kepada Allah : Wahai Tuhan kami , ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami meninggal dunia dengan iman dan janganlah Engkau jadikan di hati kami kedengkian kepada orang-orang yang beriman, wahai Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Pengasih dan Penyayang”. S. Al Hasyr 8 – 10.

Juga Allah Ta’ala berfirman :

والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه – التوبة 100.

“Dan orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, Allah Ridho terhadap mereka dan mereka akan ridho kepada Allah ketika melihat balasan dariNya atas perbuatan mereka”. S. At Taubah 100.

Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wa sallam bersabda :

خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم ثم يجيء أقوام تسبق شهادة أحدهم يمينه ويمينه شهادته – رواه البخاري في صحيحه (الحديث رقم 2652) عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه.

“Sebaik-baik manusia ialah yang sezaman denganku (yakni generasi Shahabat Nabi), kemudian generasi yang sesudahnya (yakni generasi Tabi’in), kemudian generasi sesudahnya (yakni generasi Tabi’it Tabi’in), kemudian datang setelah itu kaum-kaum yang persaksian mereka mendahului sumpah mereka dan sumpah mereka mendahului persaksian mereka”. Hr. Al Bukhari dalam shahihnya (hadits ke 2652) dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu.

Al Hafidh Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah menukil dalam Fat-hul bari jilid 5 hal. 261 keterangan dari Abul Faraj Ibnul Jauzi Al Baghdadi rahimahullah :

المراد أنهم لا يتورعون ويستهينون بأمر الشهادة واليمين

“Yang dimaksud di sini dengan kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpah mereka mendahului persaksian mereka, ialah kaum yang (datang sesudah generasi Tabi’t Tabi’in itu), mereka tidak punya wara’ (kehati-hatian) dan mengentengkan urusan persaksian dan sumpah”.

Demikianlah pujian Allah dan RasulNya dalam Al Qur’an dan As Sunnah, sebagai jaminan kepastian kejujuran dan kebenaran agama yang diwariskan oleh mereka kepada kita. Bahkan Allah Ta’ala menjamin bahwa Al Qur’an dan As Sunnah itu tidak akan disusupi kebatilan dari arah manapun. Sehingga dengan pasti pula kita mengimani kebenaran Al Islam sebagai agama Allah Ta’ala dan agama RasulNya yang diridhoi olehNya.

وإنه لكتاب عزيز – لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه تنزيل من حكيم حميد – فصلت 41 – 42.

“Dan sesungguhnya ia adalah Kitab yang Mulia. Tidak akan ia disusupi kebatilan dari depan dan tidak pula dari belakang. Ia diturunkan dari Dzat Yang Maha Sempurna HikmahNya dan Maha Terpuji”. S. Fussilat 41 – 42.

ولو تقول علينا بعض الأقاويل لأخذنا منه باليمين ثم لقطعنا منه الوتين فما منكم من أحد عنه حاجزين – الحاقة 44 -47

“Dan seandainya dia (yakni Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam) memalsukan sebagian omongan Kami, niscaya Kami akan menyambarnya dengan Tangan Kanan Kami , kemudian Kami akan putuskan urat lehernya. Maka disaat itu, tidak akan ada lagi dari kalian yang mampu membelanya”. S. Al Haaqqah 44 – 47.

Dan adapun tentang As Sunnah dari Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam, Allah Ta’ala menjamin kebenarannya.

ما ضل صاحبكم وما غوى – وما ينطق عن الهوى – إن هو إلا وحي يوحى – علمه شديد القوى – ذو مرة فاستوى

“Tidaklah orang ini (yakni Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam) sesat ataupun menyimpang, dan tidaklah dia berbicara dari hawa nafsunya, dia berbicara tidak lain kecuali dari Wahyu yang diwahyukan kepadanya, dia diajari melafadlkan apa yang diwahyukan kepadanya itu oleh Malaikat Jibril yang sangat perkasa, yang bagus wajahnya dan tegap badannya”. S. An Najm 2 – 6.  Continue reading

Artikel Islami : [Bag. Ke-02] Antara Asy’ariyah dengan Maturidiyah


ANTARA ASY’ARIYAH DENGAN MATURIDIYAH (BAGIAN KEDUA) 
Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib   حفظه الله

Setelah kita mengenal sedikit tentang asal-usul Asy’ariyah, marilah kita mengenal Maturidiyah dan hubungannya dengan Asy’ariyah. Bahwa Maturidiyah itu adalah pemahaman yang digagas oleh Abu Mansur Al Maturidi. Nama dan nasab beliau adalah Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al Maturidi Al Samarqandi. Beliau lahir di sekitar th. 238 H. dan wafat th. 333 H. Beliau terkenal sebagai Imamul Mutakallimin (Imam para para ahli ilmu kalam) dan beliau menulis beberapa kitab yang menunjukkan betapa mendalamnya ilmu beliau dalam ilmu kalam dan qaidah-qaidah filsafat. Diantara kitab-kitab karya beliau adalah : “At Tauhid”, “At Ta’wilat”, “Al Maqalaat” dan lain-lainnya. Sementara itu kitab Al Maqalat termasuk kitab yang hilang menurut para peneliti.

Para peneliti menyimpulkan dari kitab-kitab karya Abu Mansur Al Maturidi tersebut sebagai berikut :

1. Dr. Mahmud Qasim dalam muqaddimahnya terhadap kitab karya Ibnu Rusyd (Manahijul Adillah) menyatakan bahwa Al Maturidiyah lebih dekat kepada pikiran Mu’tazilah daripada Asy’ariyah.

2. Dr. Jalal Musa dalam kitabnya Nasy’atu Al Asya’irah Wa Tathawwuruha menyatakan bahwa Al Maturidiyah mencocoki pemikiran Mu’tazilah secara mutlak.

3. Dr. Ahmad Amin dalam kitabnya Dzuhrul Islam berpendapat bahwa Al Asy’ariyah itu lebih dekat kepada Mu’tazilah daripada Al Maturidiyah. Karena Abul Hasan Al Asy’ari pernah belajar dalam waktu yang lama dengan Al Mu’tazilah.

4. Zahid Al Kautsari dalam muqaddimahnya terhadap kitab Tabyin Kidzbul Muftara karya Ibnu Asakir menyatakan bahwa Al Maturidiyah itu pemikirannya di tengah antara Asy’ariyah dengan Al Mu’tazilah.

5. Abu Zahrah menerangkan dalam kitabnya Tarikh Al Madzahibul Islamiyah , bahwa Al Maturidiyah dengan Al Asya’rah keduanya sama-sama menjadikan akal serta teori-teori Ilmu Mantiq sebagai landasan dalam memahahi perkara aqidah yang diterangkan dalam Al Qur’an. Dan Al Maturidiyah pemikirannya ditengah-tengah antara Asy’ariyah dengan Mu’tazilah.

Perbedaan pendapat diantara para peneliti tersebut terjadi karena memang kitab-kitab yang ditulis oleh tiga golongan utama dalam Ilmu Kalam ini (yaitu Mu’tazilah, Maturidiyah dan Asy’ariyah) adalah kitab-kitab yang menggunakan retorika logika filsafat Yunani. Sehingga boleh saja logika dipahami dengan logika pula. Mereka memahami dalil-dalil Al Qur’an dan Al Hadits dengan logika filsafat Yunani itu, sehingga mereka melakukan ta’wil bathil atau dengan kata lain “Tahrif”. Yaitu merubah-rubah makna dalil itu untuk di cocokkan dengan logika mereka. Sehingga jadilah pemahaman mereka itu menjadi bola liar di kalangan pengikutnya. Demikian diterangkan oleh Al Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muslim Ibnu Qutaibah rahimahullah (lahir th. 213H. dan wafat th. 376 H) dalam Al Ikhtilaf Fil Lafdl hal.12 :

إن المتكلمين يعتنقون الأراء الذين يذهبون إليها بعقولهم، ثم ينظرون في كتاب الله، فإذا وجدوه ينقض ما قاسوا، يبطل ما أسسوا، طلبوا له التأويلات

“Sesungguhnya para ahli Ilmu Kalam itu meyakini berbagai pandangan produk akal mereka, kemudian setelah itu mereka melihat Kitabullah (yakni Al Qur’an). Maka bila mereka mendapati (ada ayat-ayat) Al Qur’an yang membatalkan pandangan akal mereka dan membatalkan metodologi yang mereka bangun, maka mereka berusaha mencari ta’wilan bagi ayat-ayat itu (agar mencocoki qaidah berfikir mereka)”.   Continue reading

Artikel Islami : [Bag. Ke-01] Memahami Asal-Usul Asy’ariyah


MEMAHAMI ASAL-USUL ASY’ARIYAH (BAGIAN PERTAMA) 
Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib   حفظه الله

PENDAHULUAN

Orang mengatakan bahwa aqidah Ummat Islam Indonesia itu ialah Asy’ariyah – Maturidiyah. Oleh karena itu jangan menganggap sesat aqidah ini. Jawabannya ialah. Bukankah Ummat Islam Indonesia hampir seluruhnya penyembah kuburan keramat dengan berdoa’a kepadanya minta berbagai keperluan. Apakah yang demikian tidak boleh dianggap sesat. Bahkan kebanyakan Ummat Islam Indonesia tidak sholat, apakah yang demikian ini tidak boleh kita katakan munkar. Logika yang demikian itu telah terbantah dengan ayat Al Qur’an sebagai berikut :

وإن تطع أكثر من في الأرض يضلوك عن سبيل الله إن يتبعون إلا الظن وإن هم إلا يخرصون – الأنعام 116.

“Dan kalau kalian mengikuti kebanyakan orang dimuka bumi, mereka kebanyakan orang itu akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Karena mereka itu tidaklah mengikuti kecuali sangkaan belaka dan mereka itu tidak lain kecuali menduga-duga saja”. S. Al An’am 116.

Maka dari itu kita diperintah oleh Allah Ta’ala untuk merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah ketika terjadi perbedaan pendapat :

فإن تنازعتم في شيء فردوه إلي الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الأخر ذلك خير و أحسن تأويلا – النساء…59.

“Maka kalau kalian bertikai dalam satu masalah, maka rujukkanlah pertikaian itu kepada Allah dan RasulNya kalau kalian memang beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu baik dan lebih baik akibatnya”. An Nisa’ 59.

Merujuk kepada Allah ialah merujuk kepada Al Qur’an dan merujuk kepada RasulNya ialah merujuk kepada As sunnah As Shahihah sepeninggal beliau. Disamping itu agar tidak terjadi kesimpangsiuran dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah, kita disuruh untuk merujuk kepada pemahaman para Salafus Shaleh. Allah Ta’ala berfirman:

والسابقون الأولون من المهاجرين و الأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه وأعد لهم جنات تجري تحتها الأنهار خالدين فيها أبدا ذلك الفوز العظيم – التوبة 100.

“Dan orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti jejak hidup mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka akan ridho kepada balasan Allah dan Dia akan menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai dan mereka kekal padanya. Yang demikian itu adalah kesuksesan yang besar”. At Taubah 100.

Allah Ta’ala menegaskan keridho’anNya hanya bagi mereka yang mengikuti dengan baik jejak hidup para Muhajirin dan Anshar. Maka yang benar dan diridhoi oleh Allah dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah itu ialah dengan mengikuti pemahaman para Muhajirin dan Anshar.

Demikianlah sesungguhnya Thariqatul Istidlal (cara berdalil) yang diajarkan oleh Allah Ta’ala dalam Al Qur’an. Dan demikian pula yang diajarkan dalam As Sunnah, dimana Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda :

أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبدا حبشيا، فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا، فعيكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين تمسكوا بها، وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة – رواه أبو داود في سننه عن عرباض بن سارية (الحديث رقم 4607) ورواه ابن ماجه في سننه عنه (الحديث رقم 43) وراه الترمذي في سننه عن جرير بن عبد الله (الحديث رقم 2676).

“Aku berwasiat kepada kalian untuk kalian bertaqwa kepada Allah dan aku berwasiat juga kepada kalian untuk kalian mendengar dan taat kepada pimpinan kalian , walaupun pimpinan kalian itu budak belian dari negeri Habasyah. Karena sesungguhnya siapa dari kalian yang masih hidup sepeninggalku , maka sungguh dia akan melihat perselisihan yang banyak , di saat itu wajib atas kalian untuk berpegang Teguh dengan Sunnahku (yakni ajaranku) dan Sunnah para Khulafa’ Rasyidin (khalifah-khalifah yang terbimbing kepada kebenaran, dan Sunnah mereka ialah pemahaman mereka yang telah disepakati oleh para Shahabat Nabi yang masih hidup waktu itu). Berpegang teguhlah kalian dengan sunnah-sunnah itu dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu, dan hati-hati kalian dari perkara-perkara yang baru dalam agama. Karena segala yang baru dalam agama itu adalah bid’ah dan segala yang bid’ah itu adalah sesat”. Hr. Abu Dawud dalam Sunannya dari Irbadl bin Sariyah (hadis nomer 4607), juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Irbadl (hadits nomer 43) dan juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya dari Jarir bin Abdillah (hadits 2676).

ASY’ARIYAH ITU APA ?  Continue reading

Artikel Islam : Ilmu Adalah Kenikmatan Allah Yang Paling Sempurna


PESAN-PESAN DI SEPUTAR ILMU

Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib –hafidzahullah-

Sumber dan landasan ilmu itu adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka yang dituju dengan istilah ilmu dalam tulisan ini adalah sumber dan landasan ilmu tersebut. Saya menulis artikel ini dalam rangka menasehati segenap pihak yang berkecimpung dalam bidang Al-Qur’an dan As-Sunnah, lebih-lebih bagi mereka yang sedang berlaga dalam perjuangan mengajak Ummat Islam kepada pemahamah dan pengamalan yang benar tentang Al-Qur’an serta As-Sunnah. Tentu yang paling utama saya nasehati dengan tulisan ini adalah diri saya sendiri.

                Tulisan ini sekaligus merupakan ekspresi keresahan diri saya, melihat kelemahan yang fatal pada kaum muslimin yang cenderung mengabaikan adab sopan santun terhadap sumber dan landasan ilmu ini. Padahal kehormatan mereka di dunia dan di akherat, bertumpu pada keduanya. Aku berharap kepada Allah Ta’ala untuk menerima tulisan ini sebagai bagian dari pengamalan tanggung jawab saya dalam mentaati-Nya serta mentaati Rasul-Nya di seputar Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Continue reading

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,318 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]