Artikel Islami

This category contains 38 posts

Artikel Islami : [Bag. Ke-03] Manhaj Salafush Sholeh dalam Menghadang Kebatilan Manhaj Asy’ariyah – Maturidiyah


KEKUATAN MANHAJ SALAFUS SHALEH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH MENGHADANG KEBATILAN MANHAJ ASY’ARIYAH – MATURIDIYAH (BAGIAN KETIGA) 
Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib   حفظه الله

 

Manhaj itu artinya thoriqah atau cara memahami dan cara beramal dan cara berda’wah serta cara memperjuangkannya. Kekuatan manhaj Salafus Shaleh Ahlus Sunnah Wal Jama”ah itu tidak tergoyahkan oleh guncangan kemaksiyatan, bid’ah, syirik, dan kufur yang dikampanyekan ditengah ummat manusia, khususnya di tengah ummat Islam. Alhamdulillah manhaj Salafus Shaleh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ini tidak pernah luntur apalagi berubah dari format aslinya sebagaimana yang diwariskan oleh para Salafus Shaleh. Adapun pengertian Salafus Shaleh itu, secara bahasa artinya : Para pendahulu yang shaleh. Dan ini adalah istilah yang menjadi gelar kemuliaan bagi generasi yang dimuliakan oleh Allah dan RasulNya. Yaitu generasi kaum Mu’minin yang sezaman dengan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam, yang mereka ini dinamakan “Shahabat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam”. Kemudian generasi sesudahnya , yaitu generasi Tabi’in, yang mereka ini adalah kaum Mu’minin yang belajar agama dari Shahabat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Kemudian generasi Tabi’it Tabi’in, yaitu generasi kaum Mu’minin yang belajar agama dari para Tabi’in. Mereka itu adalah tiga generasi kaum Muslimin yang pertama dan utama dan mereka dipuji oleh Allah dan RasulNya dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

للفقاراء المهاجرين الذين أخرجوا من ديارهم وأموالهم يبتغون فضلا من الله و رضوانا وينصرون الله ورسوله أولئك هم الصادقون – والذين تبوء الدار والإيمان من قبلهم يحبون من هاجر إليهم ولا يجدون في صدورهم حاجة مما أوتوا ويؤثرون على أنفسهم ولو كان بهم خصاصة ومن يوق شح نفسه فأولئك هم المفلحون – والذين جاءو من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين ءامنوا ربنا انك رءوف رحيم. – الحشر 8 – 10.

“Fai’ (yakni harta yang dirampas dari orang-orang kafir) itu dibagikan untuk orang-orang faqir dari kalangan muhajirin yang diusir dari negeri mereka, dan dirampas harta mereka karena hijrah ke Al Madinah, mereka rela mengorbankan semua itu karena mengharapkan keutamaan dari Allah dan RidhoNya dan karena mereka ingin membela agama Allah dan RasulNya, mereka itu adalah orang-orang yang jujur dalam menyatakan keimanannya. Dan juga fai’ itu untuk orang-orang Mu’min yang tinggal di Al Madinah (yakni orang Anshar) yang mereka itu telah beriman sebelum kedatangan para Muhajirin, mereka itu mencintai orang-orang yang hijrah ke negeri mereka dan mereka itu tidak mendapati di hati mereka kepentingan dunia pada apa yang mereka berikan kepada para Muhajirin dan mereka lebih mengutamakan saudaranya seiman dari kalangan Muhajirin daripada diri dan keluarga mereka, walaupun sesungguhnya mereka itu dalam keadaan sangat memerlukannya. Dan barangsiapa yang dilindungi dari kekikiran dirinya, maka ia adalah orang yang sukses hidupnya. Dan generasi yang datang sesudah mereka (yani para Tabi’in), mereka selalu memanjatkan do’a kepada Allah : Wahai Tuhan kami , ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami meninggal dunia dengan iman dan janganlah Engkau jadikan di hati kami kedengkian kepada orang-orang yang beriman, wahai Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Pengasih dan Penyayang”. S. Al Hasyr 8 – 10.

Juga Allah Ta’ala berfirman :

والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه – التوبة 100.

“Dan orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, Allah Ridho terhadap mereka dan mereka akan ridho kepada Allah ketika melihat balasan dariNya atas perbuatan mereka”. S. At Taubah 100.

Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wa sallam bersabda :

خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم ثم يجيء أقوام تسبق شهادة أحدهم يمينه ويمينه شهادته – رواه البخاري في صحيحه (الحديث رقم 2652) عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه.

“Sebaik-baik manusia ialah yang sezaman denganku (yakni generasi Shahabat Nabi), kemudian generasi yang sesudahnya (yakni generasi Tabi’in), kemudian generasi sesudahnya (yakni generasi Tabi’it Tabi’in), kemudian datang setelah itu kaum-kaum yang persaksian mereka mendahului sumpah mereka dan sumpah mereka mendahului persaksian mereka”. Hr. Al Bukhari dalam shahihnya (hadits ke 2652) dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu.

Al Hafidh Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah menukil dalam Fat-hul bari jilid 5 hal. 261 keterangan dari Abul Faraj Ibnul Jauzi Al Baghdadi rahimahullah :

المراد أنهم لا يتورعون ويستهينون بأمر الشهادة واليمين

“Yang dimaksud di sini dengan kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpah mereka mendahului persaksian mereka, ialah kaum yang (datang sesudah generasi Tabi’t Tabi’in itu), mereka tidak punya wara’ (kehati-hatian) dan mengentengkan urusan persaksian dan sumpah”.

Demikianlah pujian Allah dan RasulNya dalam Al Qur’an dan As Sunnah, sebagai jaminan kepastian kejujuran dan kebenaran agama yang diwariskan oleh mereka kepada kita. Bahkan Allah Ta’ala menjamin bahwa Al Qur’an dan As Sunnah itu tidak akan disusupi kebatilan dari arah manapun. Sehingga dengan pasti pula kita mengimani kebenaran Al Islam sebagai agama Allah Ta’ala dan agama RasulNya yang diridhoi olehNya.

وإنه لكتاب عزيز – لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه تنزيل من حكيم حميد – فصلت 41 – 42.

“Dan sesungguhnya ia adalah Kitab yang Mulia. Tidak akan ia disusupi kebatilan dari depan dan tidak pula dari belakang. Ia diturunkan dari Dzat Yang Maha Sempurna HikmahNya dan Maha Terpuji”. S. Fussilat 41 – 42.

ولو تقول علينا بعض الأقاويل لأخذنا منه باليمين ثم لقطعنا منه الوتين فما منكم من أحد عنه حاجزين – الحاقة 44 -47

“Dan seandainya dia (yakni Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam) memalsukan sebagian omongan Kami, niscaya Kami akan menyambarnya dengan Tangan Kanan Kami , kemudian Kami akan putuskan urat lehernya. Maka disaat itu, tidak akan ada lagi dari kalian yang mampu membelanya”. S. Al Haaqqah 44 – 47.

Dan adapun tentang As Sunnah dari Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam, Allah Ta’ala menjamin kebenarannya.

ما ضل صاحبكم وما غوى – وما ينطق عن الهوى – إن هو إلا وحي يوحى – علمه شديد القوى – ذو مرة فاستوى

“Tidaklah orang ini (yakni Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam) sesat ataupun menyimpang, dan tidaklah dia berbicara dari hawa nafsunya, dia berbicara tidak lain kecuali dari Wahyu yang diwahyukan kepadanya, dia diajari melafadlkan apa yang diwahyukan kepadanya itu oleh Malaikat Jibril yang sangat perkasa, yang bagus wajahnya dan tegap badannya”. S. An Najm 2 – 6.  Continue reading

Artikel Islami : [Bag. Ke-02] Antara Asy’ariyah dengan Maturidiyah


ANTARA ASY’ARIYAH DENGAN MATURIDIYAH (BAGIAN KEDUA) 
Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib   حفظه الله

Setelah kita mengenal sedikit tentang asal-usul Asy’ariyah, marilah kita mengenal Maturidiyah dan hubungannya dengan Asy’ariyah. Bahwa Maturidiyah itu adalah pemahaman yang digagas oleh Abu Mansur Al Maturidi. Nama dan nasab beliau adalah Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al Maturidi Al Samarqandi. Beliau lahir di sekitar th. 238 H. dan wafat th. 333 H. Beliau terkenal sebagai Imamul Mutakallimin (Imam para para ahli ilmu kalam) dan beliau menulis beberapa kitab yang menunjukkan betapa mendalamnya ilmu beliau dalam ilmu kalam dan qaidah-qaidah filsafat. Diantara kitab-kitab karya beliau adalah : “At Tauhid”, “At Ta’wilat”, “Al Maqalaat” dan lain-lainnya. Sementara itu kitab Al Maqalat termasuk kitab yang hilang menurut para peneliti.

Para peneliti menyimpulkan dari kitab-kitab karya Abu Mansur Al Maturidi tersebut sebagai berikut :

1. Dr. Mahmud Qasim dalam muqaddimahnya terhadap kitab karya Ibnu Rusyd (Manahijul Adillah) menyatakan bahwa Al Maturidiyah lebih dekat kepada pikiran Mu’tazilah daripada Asy’ariyah.

2. Dr. Jalal Musa dalam kitabnya Nasy’atu Al Asya’irah Wa Tathawwuruha menyatakan bahwa Al Maturidiyah mencocoki pemikiran Mu’tazilah secara mutlak.

3. Dr. Ahmad Amin dalam kitabnya Dzuhrul Islam berpendapat bahwa Al Asy’ariyah itu lebih dekat kepada Mu’tazilah daripada Al Maturidiyah. Karena Abul Hasan Al Asy’ari pernah belajar dalam waktu yang lama dengan Al Mu’tazilah.

4. Zahid Al Kautsari dalam muqaddimahnya terhadap kitab Tabyin Kidzbul Muftara karya Ibnu Asakir menyatakan bahwa Al Maturidiyah itu pemikirannya di tengah antara Asy’ariyah dengan Al Mu’tazilah.

5. Abu Zahrah menerangkan dalam kitabnya Tarikh Al Madzahibul Islamiyah , bahwa Al Maturidiyah dengan Al Asya’rah keduanya sama-sama menjadikan akal serta teori-teori Ilmu Mantiq sebagai landasan dalam memahahi perkara aqidah yang diterangkan dalam Al Qur’an. Dan Al Maturidiyah pemikirannya ditengah-tengah antara Asy’ariyah dengan Mu’tazilah.

Perbedaan pendapat diantara para peneliti tersebut terjadi karena memang kitab-kitab yang ditulis oleh tiga golongan utama dalam Ilmu Kalam ini (yaitu Mu’tazilah, Maturidiyah dan Asy’ariyah) adalah kitab-kitab yang menggunakan retorika logika filsafat Yunani. Sehingga boleh saja logika dipahami dengan logika pula. Mereka memahami dalil-dalil Al Qur’an dan Al Hadits dengan logika filsafat Yunani itu, sehingga mereka melakukan ta’wil bathil atau dengan kata lain “Tahrif”. Yaitu merubah-rubah makna dalil itu untuk di cocokkan dengan logika mereka. Sehingga jadilah pemahaman mereka itu menjadi bola liar di kalangan pengikutnya. Demikian diterangkan oleh Al Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muslim Ibnu Qutaibah rahimahullah (lahir th. 213H. dan wafat th. 376 H) dalam Al Ikhtilaf Fil Lafdl hal.12 :

إن المتكلمين يعتنقون الأراء الذين يذهبون إليها بعقولهم، ثم ينظرون في كتاب الله، فإذا وجدوه ينقض ما قاسوا، يبطل ما أسسوا، طلبوا له التأويلات

“Sesungguhnya para ahli Ilmu Kalam itu meyakini berbagai pandangan produk akal mereka, kemudian setelah itu mereka melihat Kitabullah (yakni Al Qur’an). Maka bila mereka mendapati (ada ayat-ayat) Al Qur’an yang membatalkan pandangan akal mereka dan membatalkan metodologi yang mereka bangun, maka mereka berusaha mencari ta’wilan bagi ayat-ayat itu (agar mencocoki qaidah berfikir mereka)”.   Continue reading

Artikel Islami : [Bag. Ke-01] Memahami Asal-Usul Asy’ariyah


MEMAHAMI ASAL-USUL ASY’ARIYAH (BAGIAN PERTAMA) 
Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib   حفظه الله

PENDAHULUAN

Orang mengatakan bahwa aqidah Ummat Islam Indonesia itu ialah Asy’ariyah – Maturidiyah. Oleh karena itu jangan menganggap sesat aqidah ini. Jawabannya ialah. Bukankah Ummat Islam Indonesia hampir seluruhnya penyembah kuburan keramat dengan berdoa’a kepadanya minta berbagai keperluan. Apakah yang demikian tidak boleh dianggap sesat. Bahkan kebanyakan Ummat Islam Indonesia tidak sholat, apakah yang demikian ini tidak boleh kita katakan munkar. Logika yang demikian itu telah terbantah dengan ayat Al Qur’an sebagai berikut :

وإن تطع أكثر من في الأرض يضلوك عن سبيل الله إن يتبعون إلا الظن وإن هم إلا يخرصون – الأنعام 116.

“Dan kalau kalian mengikuti kebanyakan orang dimuka bumi, mereka kebanyakan orang itu akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Karena mereka itu tidaklah mengikuti kecuali sangkaan belaka dan mereka itu tidak lain kecuali menduga-duga saja”. S. Al An’am 116.

Maka dari itu kita diperintah oleh Allah Ta’ala untuk merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah ketika terjadi perbedaan pendapat :

فإن تنازعتم في شيء فردوه إلي الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الأخر ذلك خير و أحسن تأويلا – النساء…59.

“Maka kalau kalian bertikai dalam satu masalah, maka rujukkanlah pertikaian itu kepada Allah dan RasulNya kalau kalian memang beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu baik dan lebih baik akibatnya”. An Nisa’ 59.

Merujuk kepada Allah ialah merujuk kepada Al Qur’an dan merujuk kepada RasulNya ialah merujuk kepada As sunnah As Shahihah sepeninggal beliau. Disamping itu agar tidak terjadi kesimpangsiuran dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah, kita disuruh untuk merujuk kepada pemahaman para Salafus Shaleh. Allah Ta’ala berfirman:

والسابقون الأولون من المهاجرين و الأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه وأعد لهم جنات تجري تحتها الأنهار خالدين فيها أبدا ذلك الفوز العظيم – التوبة 100.

“Dan orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti jejak hidup mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka akan ridho kepada balasan Allah dan Dia akan menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai dan mereka kekal padanya. Yang demikian itu adalah kesuksesan yang besar”. At Taubah 100.

Allah Ta’ala menegaskan keridho’anNya hanya bagi mereka yang mengikuti dengan baik jejak hidup para Muhajirin dan Anshar. Maka yang benar dan diridhoi oleh Allah dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah itu ialah dengan mengikuti pemahaman para Muhajirin dan Anshar.

Demikianlah sesungguhnya Thariqatul Istidlal (cara berdalil) yang diajarkan oleh Allah Ta’ala dalam Al Qur’an. Dan demikian pula yang diajarkan dalam As Sunnah, dimana Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda :

أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبدا حبشيا، فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا، فعيكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين تمسكوا بها، وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة – رواه أبو داود في سننه عن عرباض بن سارية (الحديث رقم 4607) ورواه ابن ماجه في سننه عنه (الحديث رقم 43) وراه الترمذي في سننه عن جرير بن عبد الله (الحديث رقم 2676).

“Aku berwasiat kepada kalian untuk kalian bertaqwa kepada Allah dan aku berwasiat juga kepada kalian untuk kalian mendengar dan taat kepada pimpinan kalian , walaupun pimpinan kalian itu budak belian dari negeri Habasyah. Karena sesungguhnya siapa dari kalian yang masih hidup sepeninggalku , maka sungguh dia akan melihat perselisihan yang banyak , di saat itu wajib atas kalian untuk berpegang Teguh dengan Sunnahku (yakni ajaranku) dan Sunnah para Khulafa’ Rasyidin (khalifah-khalifah yang terbimbing kepada kebenaran, dan Sunnah mereka ialah pemahaman mereka yang telah disepakati oleh para Shahabat Nabi yang masih hidup waktu itu). Berpegang teguhlah kalian dengan sunnah-sunnah itu dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu, dan hati-hati kalian dari perkara-perkara yang baru dalam agama. Karena segala yang baru dalam agama itu adalah bid’ah dan segala yang bid’ah itu adalah sesat”. Hr. Abu Dawud dalam Sunannya dari Irbadl bin Sariyah (hadis nomer 4607), juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Irbadl (hadits nomer 43) dan juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya dari Jarir bin Abdillah (hadits 2676).

ASY’ARIYAH ITU APA ?  Continue reading

Artikel Islam : Ilmu Adalah Kenikmatan Allah Yang Paling Sempurna


PESAN-PESAN DI SEPUTAR ILMU

Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib –hafidzahullah-

Sumber dan landasan ilmu itu adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka yang dituju dengan istilah ilmu dalam tulisan ini adalah sumber dan landasan ilmu tersebut. Saya menulis artikel ini dalam rangka menasehati segenap pihak yang berkecimpung dalam bidang Al-Qur’an dan As-Sunnah, lebih-lebih bagi mereka yang sedang berlaga dalam perjuangan mengajak Ummat Islam kepada pemahamah dan pengamalan yang benar tentang Al-Qur’an serta As-Sunnah. Tentu yang paling utama saya nasehati dengan tulisan ini adalah diri saya sendiri.

                Tulisan ini sekaligus merupakan ekspresi keresahan diri saya, melihat kelemahan yang fatal pada kaum muslimin yang cenderung mengabaikan adab sopan santun terhadap sumber dan landasan ilmu ini. Padahal kehormatan mereka di dunia dan di akherat, bertumpu pada keduanya. Aku berharap kepada Allah Ta’ala untuk menerima tulisan ini sebagai bagian dari pengamalan tanggung jawab saya dalam mentaati-Nya serta mentaati Rasul-Nya di seputar Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Continue reading

Artikel Islam : Mengapa Tauhid di Bagi Tiga ?


Artikel Islami

 

Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib hafizhahullah wa saddada khuthahu

إِنَّالْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

 يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

 يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛

فَإِنْ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Dalam masalah penjelasan para Ulama’ tentang Tauhid itu dibagi dalam tiga topik pembahasan, ini dapat kita merujuk kepada kitab Al Qaulus Sadid Syarah Kitabut Tauhid, karya Al Allamah Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah. Bisa juga pembahasan Tauhid itu dibagi dalam dua topik sebagaimana yang diuraikan dalam Fat-hul Majid. Dan semua itu hanyalah cara para Ulama’ dalam menjelaskan masalah Tauhid ini, agar Ummat mengerti tentangnya.

Sekarang kita buktikan satu-persatu dari ketiga topik pembahasan Tauhid ini betkenaan dengan Allah Ta’ala. Kita lihat saja Al Qur`an Surat Al Fatihah, yang selalu kita baca dalam setiap raka’at shalat kita. Di sana ada keterangan tentang ketiga topik pembahasan Tauhid tersebut. Lihatlah bagaimana Allah mengajari kita dengan lafadl yang terindah untuk memuji diriNya.

Allah Ta’ala berfirman :

“Segala puji bagi Allah, Rabb bagi sekalian alam semesta” (QS. Al Fatihah : 1)

Allah adalah Rabb bagi sekalian alam semesta. Artinya Allah adalah Pencipta, Pemilik, Penguasa, Pengatur sekalian alam semesta. Kita disuruh memujiNya dengan menyebut sifat RububiahNya. Ini masuk dalam katagori Tauhid Rububiah.

“Dia Yang Bernama Ar Rahman (Maha Pengasih) dan juga bernama Ar Rahim (Maha Penyayang)”. (QS. Al Fatihah : 2)

Yang ini masuk dalam kategori Tauhid Al Asma’ Was Sifat.

“Dia adalah Pemilik dan Raja Diraja satu-satunya di hari kiamat” (QS. Al Fatihah : 3)

Disaat semua makhluq hancur, langit dan bumi dan segenap penduduknya, kecuali Arsy dan KursiNya, Para Malaikat pembawa ArsyNya, dan Surga dan NerakaNya serta penghuni keduanya. Mereka semua dikecualikan oleh Allah dari kehancuran seluruh makhluqNya di hari kiamat. Ini adalah penegasan sifat RububiyahNya, bahwa Dia bukan saja sebagai Rabb alam semesta ini. Akan tetapi Dia adalah Rabb di segenap alam yang lainnya, sampaipun Dia juga Rabb disaat kehancuran yang sangat mengerikan di hari kiamat. Maka ayat ini mengajari kita betapa sempurnanya sifat Rububiyah Allah, dan kita disuruh mengikrarkan pengakuan kita kepada sifatNya ini dalam rangka menyanjungNya dan memuliakanNya.

Kemudian firman-Nya :

“Hanya kepadaMu Ya Allah, kami beribadah dan hanya kepadaMu pula kami meminta tolong” (QS. Al Fatihah : 4)

Ayat ini mengajari kita untuk mengikrarkan di hadapan Allah, Tauhid Uluhiyah. Dimana kita dihadapan Allah dalam shalat kita mengikrarkan bahwa kita hanya beribadah kepadaNya dan minta tolong hanya kepadaNya saja.

Kemudian setelah kita diajari menyanjung dan memuji Allah Ta’ala serta mengikrarkan Tauhid Rububiyah, Asma’ was Sifat, dan Uluhiyah, kita diajari oleh Allah Ta’ala berdo’a meminta kepadaNya sesuatu yang paling utama dalam hidup di dunia ini. Yaitu hidayahNya (PetunjukNya).

Allah Ta’ala berfirman :  Continue reading

Artikel Islam : [Bag. 04] Tauhid Adalah Asas Kehidupan Dunia


TAUHID ADALAH ASAS KEHIDUPAN DUNIA

Penulis : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib  حفظه الله 

 Artikel Islami

Memahami Tauhid Asma’ Wa Sifat

Perkara Tauhidul Asma’ wa Sifat adalah kesempuranaan tauhid kita dalam mengenal Allah ta’ala. Makna Tauhidul Asma’ wa Sifat ialah mentauhidkan Allah Ta’ala pada nama-namaNya yang mulia dan sifat-sifatNya yang Maha sempurna dalam keagungan-Nya. Yaitu meyakini bahwa tidak ada yang berhak memiliki sifat-sifat yang sempurna dalam kemuliaan-Nya kecuali hanya Allah ta’ala dan tidak ada yang pantas memiliki nama-nama yang maknanya sempurna dalam kemuliaan kecuali hanya Allah ta’ala.

Nama-nama Allah itu dikatakan dalam Al-Qur’an dengan Asma’ul Husna (yakni nama-nama yang baik). Allah Ta’ala berfirman dalam rangka memperkenalkan diriNya :

وَلِلَّـهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚسَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴿١٨٠﴾

Dan Allah mempunyai asma’ul Husna (yakni nama-nama yang baik), maka berdo’alah kalian dengan menyebut nama2 itu. Dan biarkanlah orang2 yang menyimpang dalam memahami nama-namaNya. Mereka akan dibalas atas segala amalan mereka.” {QS. Al A’raf (7) : 180}

Juga Allah ta’ala berfirman :

اللَّـهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ﴿٨﴾ vb

Allah itu adlah dzat yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia, dan bagiNya Al Asma’ul Husna”. (QS. Thaha : 8)

Telah diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari (dalam shahihnya hadits no. 2736, 6410, 7392) dan Muslim (dalam hadits shahih no. 2677) sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam :

“Allah mempunyai sembilan puluh Sembilan nama yaitu seratus kurang satu. Tidaklah seorang mulim memahami dan menghafalnya dan mengimani segala maknanya kecuali dia akan masuk surga”.

Al Imam At Tirmidzi membawakan rincian Asma’ul Husna ini dengan menyebut satu persatu nama Allah Ta’ala.

Prinsip-Prinsip Ahlussunnah Wal Jama’ah

Ada beberapa prinsip Ahlussunnah wal jama’ah berkenaan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala. Prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut :

  1. Nama-nama Allah Ta’ala itu mengandung makna sifat-sifatNya yang Maha Mulia.
  2. Nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala itu tak terhingga, sebagaimana kemuliaan Allah Ta’ala juga tak terhingga. Hal ini telah dinyatakan dalam do’a yang dipanjatkan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam : “…….. aku memohon kepadaMu ya Allah dengan segenap namaMu yang Engkau namai diriMu dengannya, atau nama yang Engkau sebutkan dalam kitab yang Engkau turunkan, atau nama yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhlukMu, atau namaMu yang Engkau ketahui sendiri dalam ilmu ghaib yang ada di sisiMu…….” (HR. Ahmad dalam musndanya jilid 1 halaman 391, 452, juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban hadits nio. 2372 dalam Mawarid Adh Dham’an, diriwayatkan pula oleh Al Hakim dalam Mustadraknya jilid 1 halaman 509, At Thabrani meriwayatkannya dalam Al Mu’jamul Kabir hadits no.10352, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu).
  3. Dalam hadits ini telah tegas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa ada nama-nama Allah yang tidak diberitakan kepada kita dan hanya diketahui oleh Allah sendiri dalam ilmuNya yang ghaib. Jadi dengan demikian, nama-nama Allah yang diberitakan kepada kita di dalam Al-Qur’an dan dalam hadits-hadits shohih itu hanyalah sebagian dari kemuliaanNya dan tidaklah kemuliaan itu dapat dibatasi oleh angka tertentu yang dikenal oleh manusia.
  4. Mengenal sifat-sifat dan nama-nama Allah Ta’ala itu adalah perkara tauqiffiyah (yakni perkara yang telah baku dan tidak bisa dikembangkan dalam ijtihad seseorang). Yaitu bahwa sifat-sifat dan nama-namaNya itu hanyalah sebatas yang diperkenalkan kepada kita dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits yang shohih. Yakni kita tidak boleh membuat nama-nama atau sifat-sifat Allah dari hasil pikiran atau renungan siapapun.
  5. Kita juga mengartikan apa yang tersebut pada keduanya sebatas pengertian bahasa Arab dan kita tidak boleh membelokkan arti dari sifat-sifat Allah tersebut kepada makna lain dari makna dzahirnya, kecuali bila terdapat keterangan dari Al-Qur’an dan Al Hadits shohih yang membelokkannya kepada makna lain dari selain makna dzahirnya itu.
  6. Kita juga dilarang untuk membahas tentang bagaimana bentuknya atau caranya Allah Ta’ala bersifat dengan sifatnya tersebut. Karena sifat dan nama Allah Ta’ala itu tidak bisa dibayangkan atau diserupakan atau diukur dan difahami dengan apapun dari segala yang selainNya. Maha suci Allah untuk serupa atau sebanding dengan apapun yang selainNya. Hal ini ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam firmanNya : “Tidaklah serupa denganNya apapun dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” ( Asy-Syura : 11). Juga firmanNya : “Dan tidak sebanding denganNya siapapun”. (QS Al Ikhlas : 4). Juga firmanNya : “Dia Allah, Tuhan pemilik dan pengatur serta penguasa segenap langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya, maka beribadahlah kepadaNya semata dan bersabarlah kalian dalam beribadah kepadaNya. Apakah kalian mendapati sesuatu yang sebanding denganNya ? (QS. Maryam : 65)
  7. Bisa saja nama-nama dan sifat-sifat Allah itu serupa dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluq dari sisi kata dan bahasa. Namun dari sisi bagaimana bentuk dan caranya, tentu tidak pernah dan tidak akan sama antara nama dan sifat yang ada pada makhluk dengan yang ada pada Allah Ta’ala.
  8. Nama-nama Allah itu mengandung makna sifat-sifatNya, tetapi sifat-sifatNya tidak mesti menjadi nama-namaNya. Maka Allah Ta’ala tidaklah dinamakan Maakir, meskipun Dia bersifat Makar yaitu membalas setiap makar dari musuh-musuhNya. Allah Ta’ala tidaklah dinamakan Muntaqim, meskipun Dia bersifat Yantaqim, yakni membalas perbuatan jahat dengan kejahatan pula. Jadi tidaklah mesti setiap sifatNya kemudian dijadikan namaNya, tetapi setiap namaNya selalu menunjukkan makna sifatNya. Seperti nama Allah menunjukkan makna sifatNya sebagai sesembahan segenap makhlukNya. Nama Ar-Rahman menunjukkan sifatNya yang Maha Pengasih dan demikian selanjutnya.
  9. Allah Ta’ala telah memperkenalkan diriNya di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan menyebut sifat-sifat bagi DzatNya (diistilahkan oleh para ulama dengan sifat Dzatiyah) dan juga Dia menyebut sifat-sifat bagi perbuatanNya (diistilahkan oleh para ulama dengan sifat Fi’liyah). Semua itu hanya kita fahami dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits shohih.

Maka dengan kita memahami prinsip-prinsip ahlussunnah wal jama’ah tersebut diatas, kita akan dengan mudah memahami segala berita dari Allah Ta’ala dan RasulNya tentang nama-nama dan sifat-sifatNya yang Maha Mulia.

Sifat-Sifat Allah Dalam Al-Qur’an Dan Al-Hadits

Berikut ini kita berkenalan dengan sifat-sifat Allah Ta’ala sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur’an dan Al Hadits shohih. Allah Ta’ala berfirman :

هُوَ اللَّـهُ الَّذِي لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَـٰنُ الرَّحِيمُ ﴿٢٢﴾ هُوَ اللَّـهُ الَّذِي لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّـهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ ﴿٢٣﴾ هُوَ اللَّـهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿٢٤

Dia Allah Yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali hanya Dia, Yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dan segala yang tampak. Dia Ar Rahman (Maha Pengasih) dan Ar Rahim (Maha Penyayang). Dia Allah Yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali hanya Dia, Al Malik (Raja diraja) Al Quddus (Yang Maha Suci) As Salamu (Yang selalu selamat dari segala aib dan kekurangan) Al Mu’min (Yang Maha member jaminan keamanan bagi makhlukNya) Al Muhaimin (Yang Maha menjadi saksi atas segala perbuatan makhlukNya) Al Jabbar (Yang Maha memaksakan kehendakNya dan tidak bias dihalangi kehendakNya) dan Al Mutakabbir (selalu membesarkan diriNya). Maha suci Allah dari segala bentuk pensejajaran dengan makhlukNya sebagaimana yang disangkakan oleh kaum musyrikin. Dia Allah Al Khaliq (Sang Pencipta) Al Baari (Yang Menentukan segala kejadian) dan Al Mushawwir (Maha membentuk segala ciptaanNya). BagiNyalah nama-nama yang baik, bertasbih kepadaNya segala apa yang di langit dan di bumi. Dia Al Aziz (Maha Mulia) dan Al Hakim (Maha Sempurna hikmahNya).” (QS. Al Hasyr : 22-24)

Demikianlah sifat-sifat Allah Ta’ala yang dapat dipahami dari nama-namaNya yang serba baik. Allah Ta’ala juga memberitakan tentang sifat DzatNya, yaitu bahwa DzatNya mempunyai wajah, sebagaimana firmanNya :

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ﴿٢٦﴾ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ﴿٢٧

Segala apa yang dimuka bumi ini akan binasa dan yang akan kekal adalah wajah Tuhanmu Yang mempunyai Keagungan dan Kemuliaan.” (QS. Ar Rahman : 26-27)

Ketika orang-orang Yahudi menyatakan bahwa kedua tangan Allah terbelenggu yakni kikir dan tidak suka member sebagaimana keadaan orang yang kedua tangannya terbelenggu. Maka Allah ta’ala membantah pernyataan itu dengan memberitakan sifat DzatNya bahwa Dia mempunyai dua tangan yang selalu terbentang untuk memberi, karena Dia Maha Memberi, Dia berfirman :

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّـهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم مَّا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا ۚ وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۚ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِّلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّـهُ ۚ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا ۚ وَاللَّـهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ ﴿٦٤﴾

Dan telah berkata orang-orang Yahudi : “Tangan Allah terbelenggu”. Bahkan tangan merekalah sesungguhnya yang terbelenggu (karena mereka ini sangat kikir) dan mereka telah dikutuk dengan sebab perkataan itu. Bahkan kedua tangan Allah selalu terbentang, Allah memberi kepada siapa yang dikehendakiNya.” (QS. Al-Maidah : 64)

Allah Ta’ala juga memberitakan bahwa diantara sifat DzatNya Yang Maha Mulia adalah bahwa Dia mempunyai mata. Berita Allah Ta’ala tentang mataNya dinyatakan dalam firmanNya :

أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِّي وَعَدُوٌّ لَّهُ ۚ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِي ﴿٣٩

Maka letakkanlah bayi Musa itu di peti dan hanyutkanlah peti itu di sungai Nil, nanti dia akan dibawa oleh arus sungai itu ke pinggiran istana fir’aun yang akan jadi musuhnya dan musuh-Ku, dan aku akan memasukkan di hati fir’aun itu kecintaan kepadamu sebagai anugerah dariKu dan agar engkau diperlakukan dengan penglihatan MataKu.” (QS. Thaha : 39)

Di ayat ini tegas dinyatakan oleh Allah Ta’ala bahwa Dia mempunyai mata yang memandang segala perbuatan hambaNya. Adapun mata Allah Ta’ala telah dijelaskan dengan gamblang oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau berikut :

Sesungguhnya Allah itu tidaklah buta sebelah. Ketahuilah sesungguhnya Dajjal itu buta pada matanya yang sebelah kanan, seakan matanya yang rusak itu menonjol keluar seperti anggur kering.” (HR. Bukhari dan Muslim dalam shahih keduanya).

Maka dengan hadits ini telah jelas bahwa mata Allah Ta’ala itu ada dua untuk menolak pengakuan Dajjal nanti bahwa dirinya adalah penjelmaan Allah. Karena kedua mata Allah tidaklah rusak sebelah, sedangkan Dajjal yang mengaku sebagai penjelmaan Allah ternyata matanya rusak sebelah.

Diberitakan pula oleh Allah Ta’ala bahwa dari sifat DzatNya ialah bahwa Dia mempunyai betis. Allah berfirman :

يَوْمَ يُكْشَفُ عَن سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ ﴿٤٢﴾

Pada hari kiamat ini akan disibakkan betis Allah, kemudian diserulah mereka untuk bersujud kepadaNya. Akan tetapi mereka tidak mampu bersujud.” (QS. Al Qalam : 42)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan lebih gamblang bahwa yang dimaksud betis dalam ayat ini adalah betis Allah Ta’ala :

Tuhan kita di hari masyar akan menyibakkan betisNya, maka akan bersujud padaNya setiap mukmin pria dan wanita, sedangkan mereka yang didunia biasa bersujud karena riya’ (ingin dilihat orang) dan karena sum’ah (ingin didengar orang), maka mereka tidak bisa sujud. Mereka berusaha untuk ikut sujud, namun di punggungnya ada ganjalan yang menghalanginya sujud kepada Allah.” (HR Bukhari no 4909 dari Abu Sa’id Al Khudri).

Allah Ta’ala memberitakan juga dalam Al-Qur’an tentang sifat DzatNya bahwa Dia menggengam dengan telapak tanganNya yang kanan. Allah Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿٦٥﴾

Dan mereka kaum musyrikin itu tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benar pengagungan, padahal bumi semuanya digenggam olehNya pada hari kiamat dan langit yang tujuh digulung oleh tangan kananNya. Maha suci Allah dan Maha Tinggi, lebih mulia dari apa yang mereka sekutukan.” (QS. Az Zumar : 67)

Lebih jauh telah ditegaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa Allah Ta’ala mempunyai jari jemari, dari hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menceritakan :

Telah datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam seorang ulama Yahudi dan dia berkata : “Hai Muhammad, sesungguhnya kami mendapati keterangan (dalam Taurat) bahwa Allah di hari kiamat meletakkan langit yang tujuh di satu jariNya dan bumi di satu jariNya yang lain dan gunung-gunung serta pepohonan di satu jariNya yang lain lagi dan air serta tanah di satu jariNya yang lainnya dan segenap makhluk di satu jariNya yang lain, kemudian Allah berfirman : “Akulah Raja diraja”. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tertawa lebar sehingga tampak gigi taringnya karena kagum dan membenarkan perkataan ulama yahudi tersebut, kemudian beliau membaca ayat ini (Az Zumar : 67)”. (HR. Bukhari dalam shahihnya no. 4811 dan Imam Muslim dalam shahihnya no. 2786).

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam memberitakan bahwa Allah Ta’ala mempunyai telapak kaki, beliau bersabda :

Ditanyakan kepada neraka Jahanam : “Apakah kalian telah penuh dengan penghuni ?”, maka neraka menjawab : “Apakah masih ada tambahan lagi ?”, maka Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi meletakkan telapak kakiNya di atas mulut neraka sehingga neraka pun menyatakan : “sudah cukup, sudah cukup, demi KeagunganMu”. Sehingga berhimpitan kedua tepi neraka Jahanam antara satu dengan yang lainnya.” (HR. Bukhari dalam shahihnya no. 4848 dan Muslim dalam shahihnya no. 2848 dari Anas bin Malik).

Demikianlah sifat-sifat Dzatiyyah (yakni sifat Dzat Allah) dan tidaklah dengan beberapa dalil ini menunjukkan bahwa Allah diserupakan dengan jasmani yang ada pada makhluk. Akan tetapi Dzat Allah Ta’ala itu tidaklah serupa dengan apapun yang ada pada makhluk. Maka wajah Allah tidak serupa dengan wajah siapapun dan bentuk wajahNya sesuai dengan KeagunganNya yang tidak terhingga. Kedua mata Allah tidak serupa dengan mata siapapun dan bentuk kedua mataNya sesuai dengan KeagunganNya yang tak terhingga. Kedua tangan Allah tidak serupa dengan tangan siapapun dan bentuk kedua tangan Allah sesuai dengan KeagunganNya yang tak terhingga. Jari jemari Allah Ta’ala tidak serupa dengan jari jemari siapapun dari makhlukNya dan bentuk jari jemari Allah Ta’ala sesuai dengan KeagunganNya yang tak terhingga. Betis Allah Ta’ala tidak serupa dengan betis siapapun dari makhlukNya dan bentuk betis Allah Ta’ala sesuai dengan KeagunganNya yang tak terhingga. Demikian pula telapak kaki Allah Ta’ala tidak serupa dengan telapak kali siapapun dari makhlukNya dan bentuk telapak kaki Allah Ta’ala sesuai dengan KeagunganNya yang tak terhingga. Kita hanya meyakini makna dzahir dari semua berita tentang sifat-sifat Allah Ta’ala tersebut dan kita tidak boleh mempermasalahkan tentang bentuknya. Karena bentuknya tidak bisa diukur atau dibandingkan dengan apa yang ada pada makhlukNya dan semua yang ada pada Dzat Allah Ta’ala itu sesuai dengan KeagunganNya. Sementara KeagunganNya tidak bisa dibandingkan atau diukur dengan ukuran manapun, karena KeagunganNya tidaklah terhingga.

Demikian pula kita memahami berita-berita Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih tentang sifat-sifat perbuatan Allah (sifat-sifat Fi’liyyah). Ketika diberitakan bahwa Allah mencintai hambaNya, membenci hambaNya, Dia turun ke langit dunia di sepertiga akhir malam, Merahmati hambaNya, tertawa, melihat perbuatan hambaNya dan lain sebagainya. Kita memahaminya dengan tidak menyerupakan perbuatan itu dengan perbuatan makhluk dan kita meyakini bahwa bentuk dan cara Allah melakukan berbagai perbuatan itu tentunya sesuai dengan KeagunganNya yang tidak terhingga. Inilah jalan yang paling selamat dalam mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala dan inilah yang dikatakan keyakinan Tauhid Asma’ wa Sifat. Dan melalui pengenalan terhadap Allah ta’ala ini kita akan mendapat jalan untuk mencintaiNya.

(Dinukil dari Majalah Salafy  : http://www.majalah-salafy.com )

Artikel Islam : [Bag. 03] Tauhid Adalah Asas Kehidupan Dunia


TAUHID ADALAH ASAS KEHIDUPAN DUNIA

Penulis : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib  حفظه الله 

 Artikel Islami

Macam-Macam Syirik

Meskipun syirik itu begitu gambling kekejiannya, namun tetap saja banyak orang yang terkecoh dan terjatuh dalam perbuatan syirik. Hal ini dikarenakan kamuflase syaithan dalam menyuguhkan penawaran untuk orang yang beriman agar berbuat syirik dengan berbagai macam penawaran. Oleh karena itu, para ulama Ahlus Sunnah membagi syirik dalam tiga macam agar kaum muslimin mudah mendeteksi sedini mungkin tipu muslihat syaithan ini. Tiga macam syirik itu ialah :

  1. Syirik Akbar

Yaitu perbuatan syirik dengan meyakini dan memberlakukan selain Allah Ta’ala sebanding dengan-Nya. Seperti sujud kepada selain Allah, Thawaf di kuburan yang dianggap keramat dengan niat memuliakan kuburan itu seperti orang yang thawaf di Ka’bah untuk ibadah kepada Allah, tawakal kepada selain Allah dengan menyandarkan keselamatan hidup padanya. Misalnya menyandarkan keselamatan hidup kepada keris yang diyakininya memiliki kesaktian untuk menangkal bahaya. Sehingga keris itu diperlakukan khusus, seperti dimandikan pada waktu tertentu dengan ritual tertentu pula. Taubat untuk selain Allah yaitu ketika orang bertaubat dari dosa-dosanya karena takut kepada seseorang yang diyakini memiliki kekuatan yang bisa mengawasi gerak-geriknya di manapun dia berada. Cinta dan benci untuk selain Allah yaitu cinta yang sampai pada tingkatan menghinakan diri dihadapan orang yang dicintainya demi memperoleh kasih sayang dari selain Allah. Sehingga dia membenci siapa saja yang menghalangi cintanya kepada pujaan hatinya hingga siap berkorban jiwa raga demi orang yang dicintainya selain Allah itu. Takut yang berlebihan kepada selain Allah, dengan keyakinan bahwa yang dia takuti selain Allah itu dapat membahayakan dirinya. Sehingga dipersembahkan kepada pihak yang ditakuti selain Alla itu berbagai peribadatan. Dan masih banyak lagi perbuatan syirik akbar lainnya. Yang mana apabila seseorang terjatuh ke dalam perbuatan syirik akbar, maka keimanan dan keislamannya menjadi batal. Sehingga untuk bertaubat dari perbuatan tersebut, dia harus memperbaiki syahadatnya dengan niat memperbaharui keislamannya.

  1. Syirik Asghar

Yaitu syirik yang lebih kecil dari syirik akbar, yang tidak menggugurkan keimanan dan keislaman seseorang. Meskipun demikian, syirik asghar adalah perbuatan yang lebih keji dan lebih besar dosanya daripada dosa-dosa besar selain syirik sepeti berzina, minum khamr, berjudi, mencuri, membunuh, dan dosa besar lainnya. Sehingga jika seseorang melakukan syirik asghar, maka akan merusak dan menurunkan tingkat keimanan dan keislaman seseorang. Lebih-lebih amalan ibadah yang tercampur oleh perbuatan syirik asghar, maka amalan tersebut sia-sia di sisi Allah. Yang termasuk perbuatan syirik asghar yaitu riya’ (beramal supaya dipuji atau dilihat orang lain), sum’ah (beramal supaya didengar lain sehingga mendapat pujian dari orang lain).

Dan termasuk kategori syirik asghar ialah meyakini keselamatan rumahnya dari pencurian karena dijaga oleh anjing piaraannya, padahal keselamatan itu anugerah dari Allah Ta’ala semata. Oleh karena itu, janganlah mengatakan : “untung ada anjing piaraan saya sehingga maling tidak berani masuk ke rumah say”. Tetapi katakanlah : “Alhamdulillah di sini ada anjing piaraan saya, sehingga maling itu takut masuk ke rumah saya”. Dan termasuk syirik asghar ialah berdoa kepada Allah Ta’ala di kuburan Nabi atau Wali Allah dengan disertai keyakinan bahwa doa yang dipanjatkan di situ lebih didengar oleh Allah Ta’ala. Sedangkan berdoa kepada kuburan Nabi atau Wali Allah itu adalah syirik akbar. Dan termasuk kategori syirik asghar itu ialah meyakini bahwa kesembuhan dari penyakit karena obat tertentu. Padahal kesembuhan dari penyakit apapun hanyalah dari Allah Ta’ala, dan obat harus diyakini sebagai sebab yang Allah pilih untuk kesembuhan penyakitnya.

  1. Syirik Khofi

Yaitu syirik yang lebih tersembunyi dari syirik asghar, di mana syirik jenis ini digambarkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

“Syirik itu lebih tersembunyi di dalam hati daripada langkahnya seekor semut” (HR. Abu Ya’la dalam musnadnya dan Ibnul Mundzir dari shahabat Hudzaifah bin Al Yaman dari Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhum)

Syaithan mampu masuk ke urat nadi bani Adam dan menyelinap dalam hati dan pikiran. Kemudian ia membisikkan kepadanya berbagai ajakan untuk berbuat syirik dan kufur. Sehingga kalau seorang Muslim tidak peka dalam mendeteksi adanya ajakan syaithan itu, maka tanpa dia sadari terjatuh ke dalam keyakinan atau perbuatan syirik. Oleh karena itu, setiap Muslim wajib membekali dirinya dengan ilmu Al Qur’an dan As-Sunnah agar terus meningkat kewaspadaannya dari bahaya syirik khofi tersebut.

Demikianlah bahaya syirik yang bisa merusak atau bahkan menghancurkan keimanan dan keislaman seseorang. Karena itu, setiap Muslim wajib mengoreksi keimanan dan keislamannya dari kemungkinan rongrongan syirik dan kufur. Dan Allah Ta’ala telah membimbing kita untuk selalu berdoa dalam setiap rekaat shalat dengan doa :

  اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴿٧

Tunjukilah Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai (yaitu jalan hidup orang-orang Yahudi yang menyembah Uzair, di mana mereka semangat menuntut ilmu agama namun tidak beramal dengannya) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (yaitu orang-orang Nashara yang menyembah orang yang disalib, di mana mereka semangat dalam beramal tapi didukung dengan ilmu agama)”. {QS. Al Fatihah (1) : 6-7}

Jika shalat wajib dalam lima waktu kita kerjakan tujuh belas rekaat, maka kita berdoa kepada Allah dengan doa ini minimal tujuh belas kali dalam sehari semalam. Apalagi kalau ditambah dengan shalat sunnah, tentu lebih banyak lagi kita berdoa kepada Allah dengan doa tersebut. Yang demikian itu karena detik-detik kehidupan kita tidak akan lepas dari bayang-bayang ancaman perbuatan syirik dan kufur yang akan merusak Iman dan Islam.

 -bersambung-

Artikel Islam : [Bag. 02] Tauhid Adalah Asas Kehidupan Dunia


TAUHID ADALAH ASAS KEHIDUPAN DUNIA

Penulis : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib  حفظه الله 

 Artikel Islami


Syirik Mendatangkan Kemarahan Alam

Secara istilah syar’i syirik maknanya ialah keyakinan atau perbuatan atau perkataan yang mensejajarkan Allah Ta’ala dengan makhluk-Nya. Keyakinan adanya kekuatan selain Allah Ta’ala di alam semesta ini yang mampu mempengaruhi kehidupan manusia, sehingga kekuatan itu ditakuti dan digantungkan kepadanya harapan sebagaimana digantungkan harapan kepada Allah. Sehingga dengan keyakinan itu para pelaku kesyirikan mempersembahkan ibadah kepada pihak yang diyakininya itu. Dengan syirik ini manusia melakukan penghinaan kepada Allah Ta’ala dan meragukan kemahakuasaan-Nya.

Bagaimana mungkin Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa disejajarkan dengan makhluk yang serba lemah dan terbatas kemampuannya. Allah yang Maha Pencipta disejajarkan dengan makhluk yang diciptakan dan dikendalikan oleh-Nya. Allah yang menjamin kehidupan dan kesejahteraan dasejajarkan dengan makhluk yang bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Semua ini adalah pensejajaran yang sama sekali tidak adil. Oleh karena itu, pantaslah jika syirik itu merupakan oerbuatan yang sangat dimurkai Allah Ta’ala. Sehingga perbuatan sebaik dan sebanyak apapun yang dilakukan oleh hamba-Nya, tidak ada artinya sama sekali di sisi Allah jika hamba tersebut melakukan kesyirikan. Allah Ta’la berfirman :

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿٦٥﴾

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika engkau berbuat syirik, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. {QS. Az Zumar (39) : 65}

Sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabi sebelum beliau adalah hamba-hamba Allah Ta’ala yang paling baik dan paling banyak amalannya. Namun jika mereka berbuat syirik, maka seluruh amalan mereka akan sia-sia. Apalagi orang-orang selain Nabi dan Rasul.

Allah Ta’ala Maha lua rahmat-Nya, meliputi segala sesuatu. Akan tetapi rahmat Allah diharamkan bagi hamba-Nya yang mati dalam keadaan berbuat syirik kepada Allah. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya :

إِنَّ اللَّـهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّـهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا ﴿٤٨﴾

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang sangat besar”. {QS. An Nisa’ (4) : 48}

Alam raya yang selalu bertasbih dan bertahmaid kepada Allah dan selalu taat kepada perintah-Nya ikut terguncang dengan perbuatan syirik ini, alam semesta amat murka dengan perkataan atau perbuatan syirik yang merupakan pelecehan terhadap kemuliaan Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana diberitakan Allah Ta’ala dalam firman-Nya :

تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا ﴿٩٠﴾ أَن دَعَوْا لِلرَّحْمَـٰنِ وَلَدًا ﴿٩١﴾ وَمَا يَنبَغِي لِلرَّحْمَـٰنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا ﴿٩٢﴾ إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَـٰنِ عَبْدًا ﴿٩٣﴾ لَّقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا ﴿٩٤﴾ وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا ﴿٩٥

Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri”. {QS. Maryam (19) : 90-95}

Kalau ada yang bertanya, kenapa pada kenyataannya langit dan bumi serta gunung-gunung tidak hancur, padahal ucapan dan perbuatan syirik masih semarak dilakukan? Jawabannya adalah firman Allah Ta’ala :

تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِن فَوْقِهِنَّ ۚوَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَن فِي الْأَرْضِ ۗأَلَا إِنَّ اللَّـهَ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿٥

Hampir saja langit itu pecah dari atas mereka. Namun malaikat-malaikat Allah bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Penyayang”. {QS. Asy-Syura’ (42) : 5}

Rahmat Allah dan ampunan-Nya yang menjadikan bumi dan langit tidak pecah berantakan adalah untuk kaum mukminin dari penduduk bumi yang tetap bertauhid dan mengajak ummat manusia menegakkan tauhid dan menjauhi syirik. Hal ini sebagaimana firman Allah :

وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَـٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ ۚقَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ ۖ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚفَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ﴿١٥٦﴾

 “Allah berfirman: “Dan adzab-Ku akan Kutimpakan kepada siapa saja yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”. {QS. Al A’raf (7) : 156}

Dari ayat-ayat tersebut kita dapat memahami bahwa alam semesta ini dapat berubah menjadi buas dan terus-menerus menimpakan bencana yang membinasakan kehidupan manusia di berbagai tempat karena alam marah kepada manusia yang telah mengabaikan prinsip tauhid dan merebaknya berbagai amalan syirik.

Syirik Merusak Hubungan Sosial Manusia

Perbuatan syirik tidak hanya merusak alam, akan tetapi syirik juga merusak hubungan social ummat manusia. Allah menceritakan tentang sejarah perpecahan ummat manusia dalm firman-Nya :

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّـهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّـهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴿٢١٣

Dulunya manusia itu adalah umat yang satu dengan satu agama, kemudian terjadi perbuatan syirik, hingga mereka bercerai-berai. Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih dalam agama kecuali dimulai dari orang-orang yang berilmu setelah datang keterangan dari Allah, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus”. {QS. Al Baqarah (2) : 213}

Dan dalam ayat lain Allah menerangkan lebih jauh perpecahan itu, sebagaiman firman-Nya :

وَإِنَّ هَـٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ ﴿٥٢﴾ فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُرًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ ﴿٥٣

Sesungguhnya ummat kalian wahai para Nabi adalah ummat yang satu, dan aku adalah Tuhanmu, Maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah (dengan berbuat syirik) menjadi beberapa kelompok, tiap-tiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)”. {QS. Al Mukminun (23) : 52-53}

Oleh karena itu, Allah melarang kita berperangai seperti perangai orang-orang yang berbuat syirik, yang selalu menjadi sumber perpecahan dan permusuhan di kalangan manusia. Allah Ta’ala berfirman :

 مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿٣١﴾ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖكُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ ﴿٣٢

Dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. {QS. Ar Rum (30) : 31-32}

Demikianlah akibatnya apabila prinsip tauhid diabaikan dan digantikan dengan kesyirikan. Maka ia akan menjadi sumber konflik dan perpecahan di antara manusia. Dan konflik itu sendiri adalah petaka yang dahsyat bagi manusia, yang tidak kalah dahsyatnya dari bencana alam. Mungkin ada yang bertanya, mengapa ada sebuah negeri yang di dalamnya banyak terjedi kesyirikan dan kekafiran, tetapi negeri itu tidak terkena bencana alam ataupun konflik sosial? Jawabannya adalah firman Allah Ta’ala :

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ ﴿٤٤﴾

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami datangkan siksa bagi mereka dengan tiba-tiba, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”. {QS. Al An’am (6) : 44}

Demikianlah jawaban Allah Ta’ala yang sekaligus sebagai peringatan keras bagi manusia agar mereka mentauhidkan Allah Ta’ala dan menjauhi segala bentuk kesyirikan dan kekafiran kepada-Nya.

Bahaya Syirik Terhadap Iman dan Islam

Telah kita ketahui bahwa syirik merupakan perbuatan yang sangat keji dan kezhaliman yang paling besar. Syirik adalah perbuatan mensejajarkan makhluq dengan Allah Ta’ala. Para pelaku kesyirikan mempersembahkan amal ibadah kepada selain Allah, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Hal ini merupakan penghancuran total terhadap tauhid yang merupakan pondasi utama Iman dan Islam. Dan Allah Ta’ala sangat murka kepada para pelaku kesyirikan, Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئِينَ وَالنَّصَارَىٰ وَالْمَجُوسَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا إِنَّ اللَّـهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ إِنَّ اللَّـهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ ﴿١٧﴾ أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّـهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ ۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ ۗ وَمَن يُهِنِ اللَّـهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ ۚ إِنَّ اللَّـهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ ۩ ﴿١٨﴾  هَـٰذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ ۖ فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِّن نَّارٍ يُصَبُّ مِن فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ ﴿١٩﴾ يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ ﴿٢٠﴾ وَلَهُم مَّقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ ﴿٢١﴾ كُلَّمَا أَرَادُوا أَن يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ﴿٢٢﴾ إِنَّ اللَّـهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖوَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ ﴿٢٣﴾وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَىٰ صِرَاطِ الْحَمِيدِ ﴿٢٤﴾

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin[agama asli bangsa Babilonia yang menyembah bintang], orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? dan banyak pula di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya karena tidak mau sujud kepada Allah, dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Yang mana dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (kepada mereka dikatakan), “Rasakanlah azab yang membakar ini”. Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera. Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang Terpuji”. {QS. Al Hajj (22) : 17-24}

Begitulah Allah Ta’ala menerangkan betapa murkanya Dia terhadap orang-orang yang berbuat syirik. Sementara dengan kemahabesaran-Nya segala yang di langit dan bumi, gunung-gunung, bintang, bulan dan matahari sujud kepada-Nya. Kemudian orang-orang musyrik justru mensejajarkan Allah Ta’ala dengan makhluk-Nya dengan mempersembahkan ibadah kepada mereka disamping meyembah Allah Ta’ala. Ini merupakan penghinaan terhadap kemuliaan Allah dan merupakan kezhaliman yang paling besar.

Maka pantaslah jika Allah Ta’ala menyiapkan adzab yang sangat pedih dan mengerikan bagi mereka dan segala amal kebaikan yang mereka kerjakan di dunia tidak akan berguna untuk menolong mereka dari adzab Allah.

-bersambung-

Artikel Islam : [Bag. 01] Tauhid Adalah Asas Kehidupan Dunia


TAUHID ADALAH ASAS KEHIDUPAN DUNIA

Penulis : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib  حفظه الله 

 Artikel Islami

Kehidupan dunia akhir-akhir ini semakin meresahkan penduduk bumi. Peperangan, bencana alam, petaka sosial kemanusiaan, ketidakpastian hukum, keributan politik, kebangkrutan ekonomi, wabah penyakit, terorisme, dan sederet problem lainnya yang berlarut-larut. Berbagai pertemuan tingkat tinggi, menengah, dan bawah diadakan untuk membicarakan upaya mencari pemecahan sederet problema tersebut. Namun setiap satu cara diterapkan, selalu saja menimbulkan problema baru yang kadang lebih rumit dari problem semula. Tampak sekali manusia sedang mencoba untuk melupakan peran Tuhan yang menciptakan segala geliat kehidupan ini. Sehingga mereka menyingkirkan pertimbangan adanya Tuhan dalam berbagai rencana pemecahan problem kehidupan di dunia. Akibatnya mereka hanya berputar-putar di lingkaran syaithan.

 

Hubungan Alam Semesta Dengan Tuhan

Alam semesta ini adalah makhluk Allah yang tunduk sepenuhnya kepada segala kehendak-Nya. Semua pergeseran atau pergerakan sekecil apapun tidak akan luput dari pengawasan dan kehendak Allah Ta’ala. Diceritakan dalam Al Qur’an tentang proses awal penciptaan alam semesta, Allah Ta’ala berfirman :

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖوَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ ﴿٣٠﴾ وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَّعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ ﴿٣١﴾ وَجَعَلْنَا السَّمَاءَ سَقْفًا مَّحْفُوظًا ۖ وَهُمْ عَنْ آيَاتِهَا مُعْرِضُونَ ﴿٣٢﴾ وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ ﴿٣٣

Tidakkah orang-orang yang kafir itu melihat bahwasanya langit yang tujuh dan bumi itu asalnya satu gumpalan, kemudian Kami pisahkan keduanya, dan Kami jadikan dari air, segala sesuatu menjadi hidup. Apakah mereka tidak mau beriman (dengan melihat gejala alam semesta ini) ? Dan Kami jadikan di bumi gunung-gunung sebagai pasak hingga bumi tidak goyang karenanya. Kemudian Kami jadikan pula padanya celah-celah untuk dapat dijadikan jalan oleh manusia, sehingga dengan itu semoga mereka dapat mencapai tujuan perjalanan mereka. Dan Kami jadikan langit sebagai atap yang terjaga. Namun mereka (orang-orang kafir) itu berpaling dari tanda-tanda Maha Besar-Nya Allah. Dan Dia yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Semua itu bergerak pada poros edarnya masing-masing.” {QS. Al Anbiya’ (21) : 30-33}

Allah Ta’ala juga menceritakan tentang penciptaan alam semesta sebagaimana firman-Nya :

قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَندَادًا ۚذَٰلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ ﴿٩﴾ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِن فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِّلسَّائِلِينَ ﴿١٠﴾ ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ ﴿١١﴾فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَىٰ فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا ۚوَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ﴿١٢﴾

Katakanlah (hai Muhammad) : “Apakah kalian mau mengingkari adanya Allah yang menciptakan bumi dalam dua hari, kemudian kalian menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu ? Padahal Allah itu adalah Tuhan sekalian alam. Dan Dia telah menjadikan gunung-gunung di permukaan bumi sebagai pasak dan Dia memberkahi apa yang ada di dalamnya (dengan memancarkan sumber air dan menumbuhkan hutan padanya), kemudian Dia menentukan adanya makanan untuk semua yang hidup padanya. Semua proses itu (yakni menciptakan bumi dan melengkapinya dengan fasilitas kehidupan untuk penghuninya) berlangsung selama empat hari, dan ini sebagai jawaban lengkap bagi yang bertanya. Setelah itu Allah menuju langit dan pada waktu itu langit dalam bentuk asap yang mengepul dari bumi. Maka Allah perintahkan kepada keduanya (langit dan bumi), datanglah kalian kepada-Ku dengan terpaksa atau suka rela. Maka bumi dan langit menjawab : “Kami datang kepada-Mu, Ya Allah dengan taat.” Maka Kami bagi langit menjadi tujuh langit, dan semua proses penciptaan langit itu berlangsung dalam dua hari, kemudian Allah tertibkan untuk setiap langit itu penduduknya. Setelah itu Kami hiasi langit yang terdekat dengan bumi dengan bintang-bintang serta Kami lengkapi pula dengan Malaikat penjaga langit. Demikianlah ketentuan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Mengetahui.” {QS. Fussilat (41) : 9-12}

Demikianlah Allah menerangkan proses penciptaan alam semesta, dimulai dengan penciptaan bumi selama empat hari, dilanjutkan dengan penciptaan langit yang tujuh selama dua hari. Sehingga proses penciptaan alam ini berlangsung selama enam hari.

Kemudian jika ada yang bertanya, apa yang dimaksud hari di sini? Bukankah matahari belum terbit saat itu? Apa yang dimaksud dengan enam hari dalam keterangan Allah di ayat tersebut? Jawabannya adalah firman Allah Ta’ala :

وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَن يُخْلِفَ اللَّـهُ وَعْدَهُ ۚ وَإِنَّ يَوْمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ ﴿٤٧﴾

Dan sesungguhnya hitungan sehari di sisi Tuhanmu, sebanding dengan seribu tahun menurut hitunganmu” {QS. Al Hajj (22) : 47}

Oleh karena itu, enam hari dalam hitungan Allah adalah enam ribu tahun dalam hitungan manusia. Setelah Allah Ta’ala menciptakan alam semesta ini, Dia terus mengontrol dan mengatur seluruh gerak-gerik alam. Matahari yang menjadi pokok kehidupan, setiap terbit dan tenggelam selalu minta izin dan melapor kepada Allah Ta’ala. Proses penguapan air laut menjadi awan dan digiringnya awan itu ke mana saja dia akan menjadi hujan, juga dengan aturan dan kehendak serta izin dari Allah Ta’ala. Benih kecil tetumbuhan tumbauh menjadi tanaman juga dengan izin dan kehendak Allah. Proses pembuahan pada manusia dan hewan sehingga beranak pinak, semuanya atas kehendak dan izin Allah. Ke mana angina berhembus untuk membantu proses penyemaian tanaman, berlangsung dengan rahmat Allah. Gerakan ombak di laut ke mana dia mengarah untuk menggerakkan kapal dan perahu padanya, tidak luput dari kendali Allah. Ikan di laut, sebagai rizki bagi manusia, kemanapun ia bergerak, berjalan sesuai kehendak-Nya. Allah Ta’ala menegaskan dalam firman-Nya :

يَسْأَلُهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ ﴿٢٩﴾

Dia Allah selalu dimintai oleh penduduk langit dan penduduk bumi, Dia setiap hari selalu dalam urusan-Nya.” {QS. Ar-Rahman (55) : 29}

Urusan Allah setiap harinya ialah mengabulkan permintaan hamba-Nya, menghidupkan dan mematikan mereka. Dan semua itu bukanlah kesibukan bagi Allah, karena Dia tidak akan disibukkan oleh apapun dan tidak akan lelah dengannya. Allah Ta’ala menegaskan :

اللَّـهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ ﴿٢٥٥﴾

Dan tidak akan memberatkan-Nya dalam memelihara segenap langit dan bumi”. {QS. Al Baqarah (2) : 255}

Karena amat mudah bagi-Nya untuk mengurus semua itu, Allah berfirman :

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ ﴿٨٢

Hanyalah bila Dia menghendaki untuk mencipta sesuatu, Dia mengatakan : “Jadilah!”, maka jadilah apa yang dikehendaki-Nya”. {QS. Yaasin (36) : 82}

Keyakinan bahwa seluruh alam ini diciptakan dan dimiliki serta diatur hanya oleh Allah Ta’ala dan semua itu tunduk sepenuhnya kepada apa yang dikehendaki-Nya, dinamakan Tauhid Rububiyah. Sehingga keyakinan ini menjadi landasan untuk memperbaiki hubungan kita dengan alam semesta dengan mengenal penguasa tunggal, pengatur tunggal, dan pemilik tunggal seluruh alam ini, yaitu Allah Rabbul ‘Alamin. Bila hubungan kita dengan Allah baik, maka alam semesta pun akan baik dalam mendukung kehidupan kita. Konsep pemecahan problem kehidupan dengan kembali kepada Tauhid Rububiyah inilah yang sedang dicoba untuk dilupakan oleh masyarakat dunia.

 

Konsekuensi Tauhid Rububiyah

Mentauhidkan Allah dalam Rububiyah-Nya tidak cukup hanya sebatas keyakinan hati. Tetapi ia adalah keyakinan yang mempunyai konsekuensi dalam tindakan nyata. Karena itulah Allah menanamkan dalam diri setiap makhluk-Nya naluri (fitrah) peribadatan, yaitu menginginkan untuk beribadah kepada pihak yang diyakini dapat menjamin keamanan dan kesejahteraan hidupnya. Allah Ta’ala menegaskan dalam firman-Nya :

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّـهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّـهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ﴿٣٠

Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang Allah syariatkan bagimu sebagai agama yang benar. Allah telah jadikan sekalian manusia di atas fitrah (kecenderungan beragama dengannya). Tidak ada perubahan pada fitrah makhluk Allah. Yang demikian itu adalah agama yang lurus, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”. {QS. Ar-Rum (30) : 30}

Demikianlah sesungguhnya tidak ada yang bisa dibuktikan dengan akal pikiran dan indera manusia yang sehat, sebagai pihak yang menjamin keselamatan dan kesejahteraan hidupnya kecuali hanya Allah Ta’ala. Maka Dia menantang orang-orang yang mempersembahkan ibadah kepada selain Allah disamping juga beribadah kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman :

اللَّـهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ۖ هَلْ مِن شُرَكَائِكُم مَّن يَفْعَلُ مِن ذَٰلِكُم مِّن شَيْءٍ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ ﴿٤٠﴾

Allahlah yang menciptakan kalian, kemudian memberi rizeki kepada kalian untuk hidup, kemudian setelah itu Dia mematikan kalian, dan setelah itu Dia akan menghidupkan kalian kembali. Apakah ada Tuhan-Tuhan sesembahan kalian selain Allah itu mampu berbuat demikian walau sedikit? Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari segala kemungkinan untuk disamakan dengan sesembahan selain Allah”. {QS. Ar-Rum (30) : 40}

Dengan demikian maka anggapan bahwa ada sosok lain selain Allah sebagai pihak yang pantas mendapatkan persembahan ibadah adalah halusinasi semata dan tidak bisa dibuktikan kebenarannya dengan akal dan indera yang sehat. Allah Ta’ala telah membimbing akal dan indera kita melalui firman-Nya :

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّـهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّـهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ ﴿٣٠﴾

Demikianlah kenyataannya bahwa Allah saja sebagai sesembahan yang benar, sedangkan segala pihak yang dipanjatkan do’a kepadanya selain Allah adalah sesembahan yang bathil, dan sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”. {QS. Luqman (31) : 30}

Karena sesembahan selain Allah selalu memiliki kelemahan dan keterbatasan. Sedangkan Allah adalah Dzat dengan segala sifat kesempurnaan-Nya, tidak terbatas kemampuan-Nya dan Maha Suci Allah dari segala kelemahan dan keterbatasan. Allah Ta’ala membuka akal dan indera manusia untuk memperhatikan firman-Nya :

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّـهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنكَبُوتِ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ ﴿٤١﴾

 “Perumpamaan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai sesembahan adalah seperti laba-laba yang membuat rumah untuk melindungi dirinya dari bahaya. Sedangkan selemah-lemah rumah untuk berlindung adalah sarang laba-laba, seandainya mereka mengetahui”. {QS. Al Ankabut (29) : 41}

Jadi, mengharapkan keselamatan dan kesejahteraan kepada selain Allah dengan mempersembahkan peribadatan kepadanya adalah seperti laba-laba yang mengharapkan perlindungan dari bahaya dengan membangun sarangnya yang sangat lemah. Oleh sebab itu, segala bentuk peribadatan harus dipersembahkan hanya kepada Allah Ta’ala dan segala sesembahan selain Allah harus dibuang dan diingkari jika ingin memperoleh keselamatan hidup di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ala berfirman :

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّـهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا ۗوَاللَّـهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿٢٥٦﴾

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”{QS. Al Baqarah (2) : 256}

Manusia harus tahu diri bahwa keselamatan dan kesejahteraan hidupnya sangat tergantung kepada keridhoan Allah semata. Oleh karena itu, asas keselamatan dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia adalah mentauhidkan Allah dalam seluruh ibadah dan menjalankan ibadah kepada-Nya hanya dengan cara yang disyariatkan-Nya. Allah Ta’ala menjamin dengan keberkahan bagi siapa saja yang merealisasikan tauhid dengan benar sebagaimana firman-Nya :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴿٩٦﴾

 “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”. {QS. Al A’raf (7) : 96}

Keyakinan bahwa Allah Ta’ala saja yang berhak untuk diibadahi dan selain-Nya harus diperlakukan sebagai hamba Allah dan tidak boleh diibadahi dinamakan Tauhid Uluhiyah atau Tauhidul ‘Ibadah. Dan inilah puncak pengamalan tauhid. Hanya melalui jalan pengamalan tauhid ini saja segala problem manusia dan masyarakat dunia akan terpecahkan dengan sebenar-benarnya. Penyelesaian problem yang ditawarkan oleh konsep lain hanyalah semu dan hanya menimbulkan problem baru yang kadang lebih rumit dan berputar-putar di lingkaran syaithan.

 

Jika Prinsip Tauhid Diabaikan (Dilalaikan)

Alam semesta dan segala kehidupan manusia sangat tergantung kepada rahmat Allah Ta’ala. Tidak ada satu keadaan pun di alam ini yang terlepas dari rahmat Allah. Allah Ta’ala berfirman :

رَّبُّكُمُ الَّذِي يُزْجِي لَكُمُ الْفُلْكَ فِي الْبَحْرِ لِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا ﴿٦٦﴾وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ ۖ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ ۚ وَكَانَ الْإِنسَانُ كَفُورًا ﴿٦٧﴾ أَفَأَمِنتُمْ أَن يَخْسِفَ بِكُمْ جَانِبَ الْبَرِّ أَوْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ثُمَّ لَا تَجِدُوا لَكُمْ وَكِيلًا ﴿٦٨﴾ أَمْ أَمِنتُمْ أَن يُعِيدَكُمْ فِيهِ تَارَةً أُخْرَىٰ فَيُرْسِلَ عَلَيْكُمْ قَاصِفًا مِّنَ الرِّيحِ فَيُغْرِقَكُم بِمَا كَفَرْتُمْ ۙ ثُمَّ لَا تَجِدُوا لَكُمْ عَلَيْنَا بِهِ تَبِيعًا ﴿٦٩﴾  وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا ﴿٧٠﴾

Tuhan-mu adalah yang melayarkan kapal-kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang terhadapmu. Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih. Maka Apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindungpun bagi kamu, Atau Apakah kamu merasa aman dari dikembalikan-Nya kamu ke laut sekali lagi, lalu Dia meniupkan atas kamu angin taupan dan ditenggelamkan-Nya kamu disebabkan kekafiranmu. dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun dalam hal ini terhadap (siksaan) kami. Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. {QS. Al Isra’ (17) : 66-70}

Itulah sebabnya manusia harus ingat bahwa setiap saat bisa saja keadaan alam berubah menjadi sangat buas. Sehingga dapat membinasakan hidup kita dan apa yang kita miliki dalam waktu yang sangat singkat. Dan kita harus ingat pula bahwa tidak akan ada kekuatan apapun yang bisa menahan amukan alam kecuali rahmat Allah ta’ala.

-bersambung-

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,201 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]