Faidah Kajian Ulama Salaf

This category contains 4 posts

Terjemahan Fatwa Syaikh Al-Albani -Rahimahullah- Tentang Udzur bil Jahl


TERJEMAH FATWA SYAIKH MUHAMMAD NASHIRUDIN AL ALBANI -RAHIMAHULLAH- TENTANG UDZUR BIL JAHL

faidah kajian kitab salaf

“Hubungan Telepon dengan Syeikh Al Albani”

Telah menghubungi per telpon Syeikh Al Albani rahimahullah, seorang masyayekh sufiyyin di Yordania dua puluh tahun yang lalu ketika beliau pertama kali sampai di kota Amman Yordania, syeikh sufi tersebut mengatakan kepadanya : “Wahai Syeikh Nasir, orang asing harus menjaga sopan santun”. Maka berkata Syeikh Al Albani rahimahullah: “Apa ini fanatisme kedaerahan yang ada pada dirimu ya Syeikh Fulan ?!”

Berkata Syeikh Sufi : “Karena engkau dan muri d-muridmu mengkafirkan Muslimin”. Maka Syeikh Al Albani rahimahullah menyatakan kepadanya: “Apa benar kami yang mengkafirkan Muslimin ?! Syeikh Sufi menjawab : “Ya”.

Maka berkata Syeikh Al Albani kepadanya : “Aku mau tanya kepadamu satu pertanyaan”. Syeikh Sufi menyatakan : “Silakan tanya”. Berkata Syeikh Al Albani rahimahullah : “Apa yang kau katakan tentang seorang pria yang berdiri di hadapan kuburan sembari dia menyatakan niatnya dengan suara yang keras : ‘Aku berniat untuk shalat dua rakaat untuk yang dikubur di sini’ ?!”

Maka berkatalah Syeikh Sufi itu : “Orang yang demikian ini adalah kafir musyrik”. Maka Syeikh Al Albani rahimahullah menyatakan kepadanya : “Kami tidak mengatakan dia itu kafir musyrik ! Kami menyatakan : ‘Dia itu bodoh dan kami akan mengajarinya’. Kalau begitu, siapakah yang mengkafirkan orang ya syeikh fulan ?! Kami atau anda ?!”

Maka dengan dialog ini syeikh sufi itu minta maaf kepada Syeikh Al Albani rahimahullah tentang apa yang pernah dia lakukan kepadanya dan dia pun datang mengunjungi Syeikh di rumahnya dan mohon maaf kepadanya dan mencium tangan beliau. Dan ini maknanya bahwa Syeikh Al Albani berpandangan bahwa shalat untuk orang yang telah dikubur itu adalah kafir dan mengeluarkan pelakunya dari Islam, akan tetapi tidak dikafirkan serta merta pelakunya sehingga ditegakkan padanya hujjah.

Cuplikan dari sikap-sikap yang tidak disiarkan dari peri hidup Al Imam Al Muhaddits Muhammad Nasiruddin Al Albani rahimahullah (1420 H – 1333).

Tambahan dari Penerjemah :

Bandingkan jawaban syaikh Al Albani dengan jawaban Ahmad Syamlan yang menyatakan bahwa tidak ada udzur kebodohan bagi seorang Muslim yang terjatuh dalam syirik akbar, yakni Muslim yang terjatuh dalam syirik akbar tersebut dihukumi kafir tanpa iqomatul hujjah terlebih dahulu.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا – ١٥

“Dan Kami tidakl ah menyiksa satu qaum sehingga kami mengutus seorang Rasul pada kaum itu”. (QS. Al Isra’ : 15)

Berdalil dengan ayat ini para Ulama’ memahami bahwa tidak bisa dihukumi kafir seorang Muslim yang melakukan kekafiran, kecuali setelah ditegakkan padanya hujjah. Jadi pendapat Ahmad Syamlan itu marjuh (lemah) karena tidak mencocoki dalil dan pendapat Al Albani itu rajih (lebih kuat) karena mencocoki dalil.Wallahu a’lam

Penerjemah : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib hafizhahullah

Perselisihan menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah


Artikel Islami

Bismillah…

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullahmengatakan…

“Perselisihan, menurut apa yang Allah sebutkan di dalam Al Qur’an ada dua macam. Salah satu diantaranya adalah kedua pihak tercela semuanya, sebagaimana dalam firman-Nya :

… إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ  (118) وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ …

…. Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu … (QS. HUD ayat 118-119)

Allah menjadikan orang-orang yang mendapat rahmat adalah orang-orang yang tidak ikut dalam perselisihan.  Continue reading

Faidah Ulama Salaf : Waspadai Ketidakadilan dalam Membantah Kebatilan.


Bismillah …

Al Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah –rahimahullah- berkata :

“Betapa banyak orang yang meyakini bahwa dia terdzalimi dan berada di pihak yang benar dalam segala sisi, padahal tidak begitu sebenarnya. Yang sesungguhnya dia berada di pihak yang benar dalam satu sisi dan dia juga memiliki kesalahan dan melakukan kedzaliman di sisi lain. Sedangkan lawannya berada di pihak yang benar dan berlaku adil. Akan tetapi cintamu kepada sesuatu yang membuat engkau menjadi buta dan tuli. Manusia pada umumnya mempunyai tabiat cinta kepada dirinya sendiri, sehingga yang terlihat hanya kebaikannya saja serta benci kepada lawannya sehingga yang terlihat hanya keburukannya saja. Bahkan bisa jadi cintanya kepada diri sendiri semakin besar kepada tingkatan melihat keburukannya sebagai kebaikan. Sebagaimana Allah berfirman :

أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا ۖ فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۖ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Maka apakah orang-orang yang dihiasi baginya akan keburukan amalnya sehingga dia menyakininya sebagai perbuatan baik (sama dengan orang yang tidak tertipu? ). Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki dan memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Maka janganlah dirimu menyesali mereka dan menjadi sedih. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (QS. Fathir ayat 8)

Terkadang semakin besar kebenciannya kepada lawannya sampai kepada tingkatan melihat kebaikan lawannya sebagai keburukan, sebagaimana dikatakan (dalam syair, ed): “Mereka melihat dengan mata permusuhan, kalau saja mata tersebut mata keridhoan, tentu mereka menganggap baik apa yang tadinya mereka anggap buruk.”

Perbuatan bodoh ini umumnya dibarengi dengan hawa nafsu dan kedzaliman, karena sesungguhnya manusia itu sangat dzalim dan bodoh.” (Di terjemahkan dari Ighatsatul Lahafan min Mashayidis Syaithan juz 2 hal. 193 karya Al Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah –rahimahullah-, dan di nukil dari Majalah Salafy, Ketua Penasehat Al Ustadz Ja’far Umar Thalib –hafidhohullah-)

Download PDF : Waspadai Ketidakadilan dalam Membantah Kebatilan

Faidah Ulama Salaf : Waspadai Hawa Nafsu dalam Membantah Kebatilan.


Artikel Islami

Bismillah …

Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al Mu’alimmin Al Yamani –rahimahullah- berkata :

“Seorang muslim haruslah berfikir mengenai diri dan hawa nafsu nya. Andaikan sampai berita kepadamu bahwa seseorang telah mencaci maki Rasulullah –shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam-. Kemudian orang lain mencaci Nabi Daud –alaihi salam-. Sedangkan orang yang ketiga mencaci maki Umar atau Ali –radhiyallahu ‘anhuma-, dan orang yang keempat mencaci Syaikhmu. Adapun orang kelima, dia mencaci maki syaikh orang lain.

Apakah kemarahan dan usahamu untuk memberikan hukuman dan pelajaran kepada mereka telah sesuai dengan ketentuan syari’at? Yaitu, kemarahanmu pada orang pertama dan kedua hampir sama. Tetapi jika dibandingkan kepada yang lainnya harus lebih keras. Kemarahanmu kepada orang ketiga kurang dari yang awal, akan tetapi harus lebih keras dari yang sebelumnya. Kemarahanmu kepada orang yang keempat dan kelima hampir sama, akan tetapi jauh lebih lunak dibandingkan dengan yang lainnya. (Apakah kamu telah melakukan semuanya sesuai dengan ini ? –pent-).  Continue reading

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,071 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]