Majalah Salafy

This category contains 5 posts

Artikel Islam : Sikap Tengah Ahlus Sunnah


Bismillah…

Artikel Islami

Pendahuluan

Ahlus Sunnah adalah umat Islam yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengikuti Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman generasi pertama mereka. Mereka berjalan di atas Ash Shirath Al Mustaqim (jalan yang lurus) yang digariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan telah dijalani oleh para shahabat dan para pengikut mereka (tabi’in).

Mereka adalah satu jamaah, tidak berbilang dan berjalan di satu jalan tidak bercabang. Siapa yang berjalan di atas jalan tersebut maka dia termasuk jamaah Ahlus Sunnah sedangkan yang menyimpang darinya maka dia termasuk firqah- firqah bid’ah yang sesat.

Jalan Ahlus Sunnah adaah jalan tengah yang adil, mereka berjalan berdasarkan ilmu sedangkan firqah-firqah bid’ah berjalan dengan sikap ekstrim kanan dan kiri. Mereka
berada di di antara sikap ifrath dan tafrith.

Ifrath adalah melampaui batas dalam beribadah dan beramal tanpa ilmu. Sedangkan tafrith adalah sebaliknya, yaitu melalaikan dan meremehkan ibadah bahkan menentang ilmu Al Haq yang telah diketahui.

Syaithan menggoda anak Adam dengan dua jalan ini, yaitu ifrath dan tafrith. Pertama, dia mengajak manusia kepada kekufuran dan pengingkaran terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (tafrith). Kalau hal ini tidak berhasil maka dia akan mendorong mereka untuk beramal dan beribadah dengan melampaui batas (ifrath) sehingga terjerumus ke dalam berbagai macam bid’ah sehingga menyimpang dari jalan yang lurus dan akhirnya amembawa mereka kepada kesesatan dan kekufuran. (Lihat Makaidus Syaithan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah)

Gambaran mereka yang tersesat dalam sikap tafrith adalah seperti Yahudi, sedangkan yang tersesat dalam sikap ifrath adalah seperti Nashara.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Yahudi tidak melaksanakan Al Haq sedangkan Nashrani berlebih-lebihan padanya. Adapun Yahudi dicap dengan kemurkaan (Al Maghdhub Alaihim) sedangkan Nashrani dengan kesesatan (Adh Dhaallin).”

Secara ringkas kekafiran Yahudi adalah karena mereka tidak beramal dengan ilmunya. Mereka mengetahui Al Haq tetapi tidak menyertainya dengan amal, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Sedangkan kekafiran Nashrani adalah dari sisi amal mereka tanpa ilmu. Mereka berusaha mengamalkan berbagai macam ibadah tanpa syari’at dari Allah. Dan mereka berbicara tentang Allah apa-apa yang tidak mereka ketahui.” (Iqtidha Shiratil Mustaqim oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 1/67)

Demikianlah Yahudi dan Nashrani, dua contoh kesesatan dan dua model kekufuran.

Yahudi terjerumus dalam sikap tafrith sehingga membunuh para Nabi dan mencela Isa bin Maryam ‘alaihis salam hanya karena nafsu dan kedengkian mereka. Mereka tahu dan mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti mengenal anak mereka sendiri. Mereka mengenal namanya, sifat-sifatnya, dan lain-lain tentangnya, tapi mereka mengingkari dan menentang beliau.

Allah berfirman :

“Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapatkan kemenangan atas orang-orang kafir. Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah atas orang-orang yang ingkar.” (QS. Al Baqarah : 89 )

Demikianlah Allah murka dan melaknat Yahudi karena sikap tafrith, mengetahui Al Haq tapi mengingkarinya. Maka Allah mengatakan tentang mereka :

Katakanlah : “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasiq) itu di sisi Allah? Yaitu orang-orang yang dilaknat dan dimurkai oleh Allah dan di antara mereka ada yang dijadikan kera-kera dan babi-babi dan penyembah thaghut.” (QS. Al Maidah : 60 )

Dari ayat inilah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan bahwa Yahudi dijuluki dengan Al Maghdhub Alaihim (yang dimurkai).

Sedangkan Nashrani tersesat dalam sikap ifrath dengan menuhankan Isa dan menyembah pendeta-pendeta. Allah berfirman tentang mereka :

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas (ghuluw) dalam agamamu dan janganlah kalian mengatakan atas (nama) Allah kecuali yang haq. Sesungguhnya Al Masih Isa putra Maryam adalah Rasulullah … .” (QS. An Nisa’ : 171 )

Itulah sikap ifrath (berlebih-lebihan dalam agama) mereka, berbicara tentang Allah dan atas nama Allah tanpa ilmu. Sehingga terucap dari mereka kalimat kufur yang sangat besar yaitu mengatakan bahwa Isa adalah jelmaan Allah atau Isa adalah anak Allah atau Isa, Maryam, dan Allah adalah satu yang tiga, tiga yang satu. Subhanallah, Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan!! Allah adalah satu, tidak beranak dan tidak diperanakkan!

Maka kafirlah mereka dengan ucapan itu dan gugurlah amalan mereka dan ibadah mereka. Walaupun mereka beribadah kepada Allah dengan khusyu’ dan menangis, berdzikir menyebut nama Allah, dan memujinya dengan ikhlas. Demikianlah
orang-orang yang berusaha untuk beribadah kepada Allah tetapi tanpa ilmu akhirnya mereka tersesat dan amalannya sia-sia.

Allah berfirman setelah mengatakan kekafiran orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah satu dari yang tiga:

“Wahai ahli kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat terdahulu (sebelum kedatangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam). Mereka menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al Maidah : 77)

Dari sinilah nashrani dijuluki dengan Adh Dhaallin (yang sesat).

Tiga Jalan  Continue reading

Artikel Islam : Mengenal Para Imam Ahlussunnah Ashabul Asanid (Ashabul Hadits)


Bismillah …

Artikel Islami

Sesungguhnya tidak ada keselamatan kecuali dengan mengikuti Kitab dan Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah. Tapi kita tidak mungkin mendengar sunnah dan pemahaman mereka kecuali dengan melalui sanad (rantai para rawi). Dan sanad termasuk dalam Dien. Maka lihatlah dari siapa kalian mengambil Dien kalian.

Sedangkan yang paling mengerti tentang sanad adalah Ashabul hadits. Maka dalam tulisan ini kita akan lihat betapa tingginya kedudukan mereka.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Allah membuat cerah (muka) seorang yang mendengarkan (hadits) dari kami, kemudian menyampaikannya.” (Hadits Shahih, H.R. Ahmad, Abu Dawud)

Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafidzahullah berkata : “Hadits ini adalah Shahih, diriwayatkan oleh : Imam Ahmad dalam Musnad 5/183,Imam Abu Dawud dalam As Sunan 3/322, Imam Tirmidzi dalam As Sunan 5/33, Imam Ibnu Majah dalam As Sunan 1/84, Imam Ad Darimi dalam As Sunan 1/86, Imam Ibnu Abi Ashim dalam As Sunan 1/45, Ibnul Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fabhilihi 1/38-39, lihat As Shahihah oleh Al ‘Alamah Al abul AsanidAlbani (404) yang diriwayatkan dari banyak jalan sampai kepada Zaid bin Tsabit, Jubair bin Muth’im dan Abdullah Bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu”

Hadits ini dinukil oleh Beliau (Syaikh Rabi’) dalam kitab kecil yang berjudul Makanatu Ahlil Hadits (Kedudukan Ahli Hadits), yaitu ketika menukil ucapan Imam besar Abu Bakar Ahmad bin Ali Al Khatib Al Baghdadi (wafat 463 H) dari kitabnya Syarafu Ashabil Hadits yang artinya “Kemuliaan Ashabul Hadits.”

Dalam kitab tersebut, beliau, Abu Bakar Ahmad bin Ali Al Khatib Al Baghdadi, menjelaskan kemuliaan dan ketinggian derajat Ahlul Hadits.

Demikian pula beliau juga menjelaskan jasa-jasa mereka dan usaha mereka dalam membela Dien ini, serta menjaganya dari berbagai macam bid’ah.

Diantara pujian beliau kepada mereka, beliau mengatakan : “Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan golongannya (Ahlul Hadits) sebagai tonggak syariat. Melalui usaha mereka, Dia (Allah) menghancurkan setiap keburukan bid’ah. Merekalah kepercayaan Allah Subhanahu wa Ta’ala diantara makhluk-makhluk-Nya, sebagai perantara antara Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan umatnya. Dan merekalah yang bersungguh-sungguh dalam menjaga millah (Dien)-Nya. Cahaya mereka terang, keutamaan mereka merata, tanda-tanda mereka jelas, madzhab mereka unggul, hujjah mereka tegas… .”

Setelah mengutip hadits di atas, Al Khatib rahimahullah menukil ucapan Sufyan Bin Uyainah rahimahullah dengan sanadnya bahwa dia mengatakan : “Tidak seorangpun mencari hadits (mempelajari hadits) kecuali pada mukanya ada kecerahan karena ucapan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam : (Kemudian menyebutkan hadits di atas).

Kemudian, setelah meriwayatkan hadits-hadits tentang wasiat Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk memuliakan Ashabul Hadits, Beliau meriwayatkan hadits berikut :  Continue reading

Artikel Islam : Membela Sunnah Nabawiyyah


Bismillah …

Artikel Islami

 

Hari ini, dengan linangan air mata kita menyaksikan tragedi yang menimpa kaum muslimin di mana-mana. Umat Islam dewasa ini telah ditimpa musibah hampir di segala bidang. Pengetahuan mereka terhadap syariat Islam semakin krisis. Hal ini merupakan kemerosotan yang luar biasa jika dibandingkan dengan jaman-jaman sebelumnya.

Namun alhamdulillah, sebagian besar kaum muslimin telah memahami kelemahan dan kemerosotan ini dan berlomba-lomba memperbaiki keadaan diri dan umatnya. Akan tetapi sungguh sangat disesalkan apabila mereka bergerak dengan semangat saja tanpa merujuk (berpegang) kepada al-kitab dan as-sunnah. Mereka masing- masing mencari dan memutuskan metode dan ide-ide baru (baca: bid’ah). Di mana yang setiap “ide” tersebut memiliki pendukung dan pengikut. Akhirnya muncullah musibah berikutnya yaitu pelecehan terhadap sunnah nabawiyyah, karena setiap ide bid’ah tidak akan pernah cocok dengan sunnah. Dan orang yang telah puas dengan bid’ah, tidak akan merasa perlu dengan sunnah.

Baiklah, marilah kita simak ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang masalah ini dalam kitabnya Iqtidla As-Shirathil Mustaqim: “… jika seorang hamba memenuhi beberapa kebutuhannya dengan selain amal-amal yang disyariatkan, akan berkurang keinginannya terhadap perkara-perkara yang disyariatkan. Dan berkuranglah manfaat yang dia peroleh, sesuai dengan banyaknya perkara baru (bid’ah) yang dia penuhi. Berbeda dengan seorang yang mengarahkan keinginan dan semangatnya pada yang disyariatkan. Maka sungguh akan semakin besar kecintaan dan manfaatnya yang dia peroleh, hingga makin sempurnalah agamanya dan makin lengkaplah keislamannya. Oleh karena itu engkau jumpai orang yang banyak mendengar sya’ir-sya’ir untuk memperbaiki hatinya, akan berkurang kemauannya untuk mendengarkan Al-Qur`an bahkan sampai tidak menyukainya. Seseorang yang banyak bepergian untuk berziarah ke tempat-tempat keramat atau sejenisnya, maka tidak akan tersisa di dalam hatinya kecintaan dan pengutamaan terhadap haji ke baitul haram sebagaimana kecintaan sesorang yang hatinya dipenuhi sunnah. Seseorang yang gandrung mengambil hikmah dan adab-adab dari tokoh-tokoh hikmah Romawi dan Persia, tidak akan tersisa tempat di dalam hatinya untuk mengambil hikmah-hikmah dan adab-adab Islam. Demikian pula seseorang yang gandrung terhadap cerita raja-raja dan perjalanan hidup mereka, tidak akan tersisa perhatiannya terhadap kisah-kisah para Nabi dan riwayat hidup mereka. Hal seperti ini sangat banyak terjadi.

Perhatikanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Tidaklah suatu kaum mengada-adakan satu kebid’ahan, kecuali Allah akan mencabut dari mereka satu sunnah yang sebanding dengannya (HR. Imam Ahmad 4/105 dan disebutkan oleh Imam Suyuthi dalam Jami’us Shaghir, juz 2 hal. 480 hadits no. 7790. Beliau berkata: hadits ini hasan, demikian dalam Tahqiq Iqtidla. Adapun Abdus Salam bin Barjas menyatakan bahwa sanad hadits ini lemah, lihat Al-Hujaj Al- Qawiyyah, hal. 86).

Hal ini akan didapati oleh seorang yang melihat dirinya dari kalangan orang berilmu, ahli ibadah, para pemerintah atau pun orang awam.” (Iqtidla As-Shirathil Mustaqim 1/483-484).

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu berkata:
Tidaklah suatu ummat mengada-adakan suatu bid’ah dalam Dien mereka, kecuali akan Allah angkat dari mereka suatu sunnatul huda dan tidak akan kembali selamanya. (diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr dalam kitab As-Sunnah, hal. 24; lihat Al-Hujaj Al-Qawiyyah, hal. 41).

Perhatikan pula ucapan Ahmad bin Sinan Al-Qaththan:
Tidak ada seorang mubtadi’ pun di dunia, kecuali ia membenci ahlul hadits. Jika seseorang mengada-adakan suatu bid’ah, maka akan dicabut kemanisan hadits (sunnah) dari hatinya. (diriwayatkan oleh Abu Utsman As-Shabuni dalam Aqidatus Salaf Ashabil Hadits, hal 116-117. Berkata Syaikh Badr Al-Badr dalam Tahqiqnya: Riwayat ini sanadnya hasan).

Demikian pula perhatikanlah ucapan Imam Al-Auza’i yang senada dengan ucapan di atas. Beliau berkata:
Tidak ada seorang pun dari ahlul bid’ah yang engkau ajak bicara dengan hadits yang tidak sesuai dengan bid’ahnya, kecuali dia mesti membenci hadits itu. (Diriwayatkan oleh Imam Al-Lalika`i, lihat Sallus Suyuf, hal. 84).
Dan masih banyak lagi ucapan para ulama yang senada yang menjelaskan bahwa pelaku bid’ah atau ahlul bid’ah pasti akan membenci sunnah sesuai dengan tingkat kebid’ahannya. Semakin tinggi kebid’ahannya, semakin tinggi pula kebenciannya terhadap sunnah dan ahlus sunnah. Fenomena ini telah nyata terbukti sejak dulu hingga sekarang ini.
Continue reading

Faidah Ulama Salaf : Waspadai Ketidakadilan dalam Membantah Kebatilan.


Bismillah …

Al Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah –rahimahullah- berkata :

“Betapa banyak orang yang meyakini bahwa dia terdzalimi dan berada di pihak yang benar dalam segala sisi, padahal tidak begitu sebenarnya. Yang sesungguhnya dia berada di pihak yang benar dalam satu sisi dan dia juga memiliki kesalahan dan melakukan kedzaliman di sisi lain. Sedangkan lawannya berada di pihak yang benar dan berlaku adil. Akan tetapi cintamu kepada sesuatu yang membuat engkau menjadi buta dan tuli. Manusia pada umumnya mempunyai tabiat cinta kepada dirinya sendiri, sehingga yang terlihat hanya kebaikannya saja serta benci kepada lawannya sehingga yang terlihat hanya keburukannya saja. Bahkan bisa jadi cintanya kepada diri sendiri semakin besar kepada tingkatan melihat keburukannya sebagai kebaikan. Sebagaimana Allah berfirman :

أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا ۖ فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۖ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Maka apakah orang-orang yang dihiasi baginya akan keburukan amalnya sehingga dia menyakininya sebagai perbuatan baik (sama dengan orang yang tidak tertipu? ). Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki dan memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Maka janganlah dirimu menyesali mereka dan menjadi sedih. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (QS. Fathir ayat 8)

Terkadang semakin besar kebenciannya kepada lawannya sampai kepada tingkatan melihat kebaikan lawannya sebagai keburukan, sebagaimana dikatakan (dalam syair, ed): “Mereka melihat dengan mata permusuhan, kalau saja mata tersebut mata keridhoan, tentu mereka menganggap baik apa yang tadinya mereka anggap buruk.”

Perbuatan bodoh ini umumnya dibarengi dengan hawa nafsu dan kedzaliman, karena sesungguhnya manusia itu sangat dzalim dan bodoh.” (Di terjemahkan dari Ighatsatul Lahafan min Mashayidis Syaithan juz 2 hal. 193 karya Al Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah –rahimahullah-, dan di nukil dari Majalah Salafy, Ketua Penasehat Al Ustadz Ja’far Umar Thalib –hafidhohullah-)

Download PDF : Waspadai Ketidakadilan dalam Membantah Kebatilan

Faidah Ulama Salaf : Waspadai Hawa Nafsu dalam Membantah Kebatilan.


Artikel Islami

Bismillah …

Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al Mu’alimmin Al Yamani –rahimahullah- berkata :

“Seorang muslim haruslah berfikir mengenai diri dan hawa nafsu nya. Andaikan sampai berita kepadamu bahwa seseorang telah mencaci maki Rasulullah –shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam-. Kemudian orang lain mencaci Nabi Daud –alaihi salam-. Sedangkan orang yang ketiga mencaci maki Umar atau Ali –radhiyallahu ‘anhuma-, dan orang yang keempat mencaci Syaikhmu. Adapun orang kelima, dia mencaci maki syaikh orang lain.

Apakah kemarahan dan usahamu untuk memberikan hukuman dan pelajaran kepada mereka telah sesuai dengan ketentuan syari’at? Yaitu, kemarahanmu pada orang pertama dan kedua hampir sama. Tetapi jika dibandingkan kepada yang lainnya harus lebih keras. Kemarahanmu kepada orang ketiga kurang dari yang awal, akan tetapi harus lebih keras dari yang sebelumnya. Kemarahanmu kepada orang yang keempat dan kelima hampir sama, akan tetapi jauh lebih lunak dibandingkan dengan yang lainnya. (Apakah kamu telah melakukan semuanya sesuai dengan ini ? –pent-).  Continue reading

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,179 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]