Syaikh Al ‘Utsaimin -rahimahullah-

This category contains 6 posts

Artikel Islam : BEBERAPA HAL YANG MEMBATALKAN KEISLAMAN


Bismillah …

Artikel Islami

 

BEBERAPA HAL YANG MEMBATALKAN KEISLAMAN

Dinukil dari Lembaga Riset ilmiah dan Fatwa

di sahkan oleh Samahatusy-Syaikh Muhammad Bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah
Diterbitkan Departemen Agama, Wakaf, Dakwah, dan Bimbingan Islam di Indonesia
Diedarkan di bawah pengawasan Direktorat Percetakan dan Penerbitan Indonesia

 

Saudaraku seagama! Ketahuilah, bahwa ada beberapa hal yang dapat membatalkan keislaman seseorang, dan yang paling banyak terjadi ada sepuluh macam yang wajib di hindari, yaitu:

PERTAMA :

Mempersekutukan Allah Subhanahu Wata’ala dalam ibadah, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah Subhanahu Wata’ala, maka pasti Allah mengharamkan baginya surga dan tempatnya (kelak) adalah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”.

Dan diantara perbuatan syirik tersebut ialah : berdo’a dan memohon pertolongan kepada orang-orang yang telah mati, begitu pula bernadzar dan menyembelih kurban demi mereka.

KEDUA :

Barangsiapa yang menjadikan sesuatu sebagai perantara antara dirinya dengan Allah Subhanahu Wata’ala, berdo’a dan memohon syafa’at serta bertawakkal kepada perantara tersebut maka hukumnya KAFIR menurut kesepakatan para ulama (ijma’).

KETIGA :

Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, atau ragu akan kekafiran mereka, atau membenarkan paham (madzhab) mereka, maka dengan demikian dia telahKAFIR.

KEEMPAT :

Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa selain tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi wasallam itu lebih sempurna, atau selain ketentuan hukum beliau lebih baik, sebagaimana mereka yang mengutamakan aturan-aturan manusia yang melampaui batas lagi menyimpang dari hukum Allah Subhanahu Wata’ala (aturan-aturan thogut), dan mengenyampingkan hukum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi wasallam, maka yang berkeyakinan seperti ini adalah KAFIR.

 Sebagai contoh :

  1. Berkeyakinan bahwa aturan-aturan dan perundang-undangan yang diciptakan manusia lebih utama daripada syari’at Islam, atau berkeyakinan bahwa aturan Islam tidak layak untuk diterapkan pada abad modern ini, atau berkeyakinan bahwa Islam adalah sebab kemunduran kaum muslimin, atau berkeyakinan bahwa Islam itu khusus mengatur hubungan manusia dengan tuhannya saja, tidak mengatur segi kehidupan lain.
  2. Berpendapat bahwa melaksanakan hukum Allah Subhanahu Wata’ala seperti memotong tangan pencuri, atau merajam pelaku zina yang telah kawin (mukhsan) tidak cocok lagi dengan zaman sekarang.
  3. Berkeyakinan bahwa boleh menggunakan selain hukum Allah Subhanahu Wata’aladalam segi mu’amalat syari’ah (seperti perdagangan, sewa menyewa dan lain sebagainya), atau dalam hukum pidana, atau lainnya, sekalipun tidak disertai dengan keyakinan bahwa hukum-hukum tersebut lebih utama dari Syari’at Islam. Karena dengan demikian berarti ia telah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala menurut kesepakatan para ulama (ijma’) sedangkan setiap orang yang menghalalkan apa yang sudah jelas dan tegas diharamkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam agama, seperti : berzina, minum khamr (segala minuman yang memabukkan), riba, dan menggunakan undang-undang selain syari’at Allah Subhanahu Wata’ala, maka ia adalah KAFIR menurut kesepakatan para ulama (ijma’).

KELIMA :

Barangsiapa yang membenci sesuatu yang telah di tetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi wasallam sebagai syari’at beliau, sekalipun ia ikut mengamalkannya, maka ia menjadi KAFIR, karena Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

“Demikian itu adalah dikarenakan mereka benci terhadap apa yang diturunkan oleh Allah, maka Allah menghapuskan (pahala) segala amal perbuatan mereka.” 

KEENAM :  

Barangsiapa yang memperolok-olok Allah Subhanahu Wata’ala, atau kitabNya, atau RosulNya, atau sesuatu yang merupakan ajaran agamaNya, maka ia menjadi KAFIR,karena Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman :

“Katakanlah (wahai Muhammad) : “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya, dan RasulNya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah KAFIR setelah beriman.” 

KETUJUH : 

Sihir, diantaranya adalah ilmu guna-guna (sharf) yaitu : merobah kecintaan seorang suami kepada istrinya menjadi kebencian, begitu juga ilmu pekasih (‘Athf) yaitu : menjadikan seseorang mencintai sesuatu yang tidak disenanginya dengan cara-cara syaiton. Maka barangsiapa yang mengerjakan hal-hal tersebut, atau senang dan rela dengannya berarti ia telah KAFIR, karena Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

“Sedangkan kedua malaikat itu tidak mengajarkan (suatu sihir) kepada seorangpun sebelum mengatakan, sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.”

KEDELAPAN : 

Membantu dan menolong orang-orang musyrik untuk memusuhi kaum muslimin, karena Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

“Dan barangsiapa diantara kamu mengambil mereka (Yahudi dan Nasrani) menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzolim.”

KESEMBILAN :

Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa sebagian manusia diperbolehkan tidak mengikuti syari’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi wasallam, maka ia adalah KAFIR, karena Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

“Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

KESEPULUH : 

Berpaling dari agama Allah Subhanahu Wata’ala, atau dari hal-hal yang menjadi syarat mutlak sebagai muslim, dengan tanpa mempelajarinya dan tanpa mengamalkannya, karena Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

“Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.”

Dan Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman :

“Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.”

 

Dalam hal-hal yang membatalkan keislaman ini, tidak ada bedanya antara yang main-main dan yang sungguh-sungguh sengaja melanggar dan yang karena takut, terkecuali yang dipaksa.

Kita berlindung pada Allah Subhanahu Wata’ala dari hal-hal yang mendatangkan kemurkaannya dan kepedihan siksaNya.

 

-oOo-

Nasehat Ulama : Yang perlu diperhatikan oleh Muslimah ketika di Pasar.


Bismillah …

Yang perlu diperhatikan oleh Muslimah ketika di Pasar.

Artikel Islami

Soal :
Bagaimana pendapat engkau wahai syaikh dengan didapatkannya kebanyakan dari para wanita yang keluar kepasar untuk maksud membeli barang dagangan kemudian mengeluarkan (memperlihatkan) kedua telapak tangan dan lengan bawahnya (hasta) dihadapan orang yang bukan mahramnya. Hal ini banyak dijumpai di pasar-pasar ?

Jawaban :
Tidak diragukan lagi bahwa wanita yang mengeluarkan telapak tangan dan lengan bawahnya di pasar-pasar merupakan perkara yang mungkar dan sebab yang mendatangkan fitnah. Terlebih sebagian dari mereka (wanita) terdapat di jari jemarinya cincin dan di lengannya gelang-gelang.

Allah Ta’ala berfirman bagi para Mukminat :
Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur ayat 31)

Ini menunjukkan bahwa wanita mukminah tidak menampakkan perhiasannya. Dan tidak boleh baginya berbuat sesuatu yang dengannya dapat diketahui perhiasan yang ia sembunyikan. Lalu bagaimana dengan orang yang menyingkap perhiasan yang dimilikinya supaya di lihat oleh manusia?

Sesungguhnya aku menasehatkan kepada para wanita mukminah untuk bertaqwa kepada Allah Ta’ala dan lebih mendahulukan petunjuk diatas hawa nafsu. dan hendaklah mereka menjaga apa-apa yang diperintahkan Allah kepada para istri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam. Mereka adalah ummahatul mukminin dan seseumpurna-sempurnanya wanita, baik adabnya maupun kesuciannya. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala :
Dan hendaklah kamu tetap dirumahmu dan janganlah kamu berhias dengan tingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah sholat, dan tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab ayat 33)

Supaya para wanita tersebut mendapatkan bagian dari hikmah yang agung ini yaitu “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Dan aku nasehatkan kepada laki-laki mukmin yang Allah telah menjadikan mereka sebagai pemimpin bagi wanita,” Hendaklah mereka selalu menjalankan Amanah dan tanggung jawab yang dibebankan Allah atas mereka yaitu para wanita. Hendaklah mereka menasehati dan mengarahkan wanitanya agar menghindari sesuatu yang menyebabkan timbulnya fitnah. Karena mereka bertanggungjawab atas hal itu semua dan kepada Allah pulala mereka dihadapkan. Maka hendaknya mereka melihat dengan apa mereka bakal memberikan jawaban.

Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya) begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya, ia ingin kalau kiranya ia dan hari itu ada masa yang jauh dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) – Nya dan Allah sangat penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran ayat 30)

Kepada Allah-lah aku meminta demi kebaikan ummat muslimin keseluruhannya dan khususnya para laki-lakinya dan wanita-wanitanya, yang kecil dan yang besar. Dan semoga Allah mengembalikan makar musuh-musuh mereka. Sesungguhnya Allah Maha Baik lagi Maha Mulia.

Sumber : Fatawa Muhimmah Linisai Al Ummah hal 4-5 , Syaikh Ibnu ‘Utsaiminrahimahullah

Hadits : [Bag. 04] Riyadhus Sholihin


Bismillah..

Riyadhus Sholihin - Imam Nawawi rahimahullah

Berikut kami sampaikan Audio Kajian Rutin Islami yang membahas Kitab Hadits Riyadhus Shalihin karya Al-Imam Nawawi -rahimahullah- yang dibawakan oleh Al Ustadz Ja’far Umar Thalib –hafidhohullah- di Masjid ‘Utsman bin ‘Affan, Degolan, Sleman, Yogyakarta.

Silahkan di simak dan di download di sini :

Unduh Matan Kitab Riyadhus Sholihin nya disini :

Mirror  :  Continue reading

Ancaman Terhadap Orang yang mengajak Kebaikan


Bismillahirrohmanirrohim

Mulailah dari dirimu sendiri dan berusahalah menasihati teman-temanmu Dan perintahkanlah kepada teman-temanmu berbuat kebaikan Dan laranglah mereka dari kemungkaran agar engkau menjadi orang yang shalih, orang yang baik dan memperbaiki orang lain…


Ancaman Terhadap Orang yang mengajak Kebaikan
dan Melarang Kemungkaran Tetapi Perkataannya Menyelisihi Perbuatannya

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (al-Baqarah : 44)

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (Ash- Shaffat : 2-3)

Dan Allah berfirman mengabarkan tentang Nabi Syuaib alaihissalam :

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan” (Hud : 88)

Syarah (Penjelasan) : Continue reading

Khutbah Jum’at : Orang Sholeh beramal dgn Ikhlas, Orang Munafik beramal dgn Riya’


Bismillah

Allah –Subhanahu wa Ta’ala– berfirman di dalam Al Qur’an Surat An-Nisa’ ayat 142 :

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

yang artinya : “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”

Berikut kami sampaikan Khutbah Jum’at yang dibawakan oleh Al Ustadz Ja’far Umar Thalib –hafidhohullah– di Masjid ‘Utsman bin ‘Affan yang menjelaskan tentang sifat-sifat orang yang beramal dengan ikhlas, dan orang yang beramal dengan riya’ berikut dengan dalil-dalil dari  Ayat-ayat Qur’an dan Hadits Rosulullah –shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam– dan pemahaman Salafush Sholeh.

Silahkan di simak dan di download di sini : Orang Sholeh beramal dgn Ikhlas, Orang Munafik beramal dgn Riya’

Mirror (dari Google)  :  Continue reading

Khutbah asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله تعالى


Bismillah,

berikut ana coba berikan kepada teman-teman semua transkrip khutbah asy Syaikh Ibn Utsaimin رحمه الله تعالى tentang as-Siroh an-Nabawiyah. Dengarkan audionya dan coba cermati cara syaikh membaca. Jangan lupa beri harokat akhir dan kenali nahwunya. Baarokallohufiik, semoga bermanfaat…

download

Continue reading

Nasehat : Refleksi Hati


Tanya:

Apa makna ikhlas itu? dan bagaimana hukumnya jika seseorang mempunyai orientasi lain dalam beribadah?

Jawab:

Mengikhlaskan niat untuk Allah Ta’ala maknanya ialah seseorang beribadah kepada Allah dengan tujuan mendekatkan diri (taqorrub) kepada-Nya dan untuk mengantarkannya ke surga-Nya.

Adapun apabila dikatakan bahwa seseorang mempunyai orientasi lain dalam ibadahnya, maka disini terdapat perincian hukum atasnya:

Continue reading

Artikel Islam : Keutamaan Istighfar


Dari Al Aghor Al Muzani Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullaah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

“Bahwasanya terkadang timbul perasaan yang kurang baik dalam hati dan aku membaca istighfar (mohon ampun) kepada Allah seratus kali dalam sehari”. (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Saya mendengar Rasulullaah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

“Demi Allah, sesungguhnya aku mohon ampun dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari”. (HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menghilangkan kalian dari muka bumi dan Allah akan mendatangkan suatu kaum lain yang berbuat dosa, lalu beristighfar (memohon ampun) kepada Allah Ta’ala. Dan Allah mengampuni mereka”. (HR. Muslim)

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Kami menghitung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam membaca :

“Robbighfirlii watub ‘alaiyya innaka antat tawwaaburrohiim” (Ya Tuhan, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang) ..sebanyak seratus kali dalam satu majlis”. (HR. Abu Dawud & At Tirmidzi)

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa membiasakan beristighfar, maka Allah melapangkan kesempitannya dan memudahkan segala kesulitannya dan memberi rizki kepadanya dari arah yang tiada disangka-sangka”. (HR. Abu Dawud)

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang berdoa: “Astaghfirullaahalladzii laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaihi” (Saya mohon ampun kepada Allah Dzat yang tidak ada sesembahan yang benar melainkan Dia yang Maha Hidup, lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya dan saya bertaubat kepada-Nya), maka diampunilah dosa-dosanya walaupun lari dari perang”. (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi & Al Hakim, Berkata Al Imam An Nawawi: hadits ini shahih berdasarkan syarat Al Bukhari & Muslim)

Continue reading

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,071 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]