Syaikh Rabi’ -hafidhohullah-

This category contains 7 posts

Terjemahan Fatwa Syaikh Rob’ bin Hadi Al Madkholi حفظه الله Tentang Udzur bil Jahl


faidah kajian kitab salaf

Penerjemah : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib  حفظه الله

(Dari kitab Majmu’ Kutub Wa Rasa’il Wa Fatawa Al Allamah Rabi’ Bin Hadi Umair Al Madkhali Jilid 14 Hal. 309 – 317. Terbitan Darul Imam Ahmad, Cet. Pertama Th. 1431 H. / 2010 M)

Pertanyaan di seputar Al Udzru bil jahli (dimaafkan karena kebodohan) ?

Fatwa-fatwa di seputar Aqidah dan Manhaj (halaqah ketiga).

Jawaban beliau :

Masalah ini, yaitu masalah dimaafkan atau tidak dimaafkan seorang Muslim yang terjatuh dalam syirik dalam keadaan tidak mengerti agama, adalah masalah yang berlarian dibalik pembahasan ini sekelompok orang dari Ahlul Fitnah ! Dan mereka menginginkan mencerai-beraikan Salafiyyin dan memukulkan sebagian mereka dengan sebagian yang lainnya ! Dan aku pernah ketika di Al Madinah, ditelpon oleh seorang bernama Riyadl As Sa’ied dan dia itu orang yang dikenal dan sekarang ada di kota Riyadl. Dia mengatakan kepadaku : Sesungguhnya disini ada lima puluh anak muda dimana mereka semua mengkafirkan Al Albani !! Mengapa ? Karena beliau tidak mengkafirkan penyembah kuburan dan memafkan mereka karena kejahilannya !!

Baiklah kalau begitu, mereka mestinya juga mengkafirkan Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim dan banyak Ulama’ dari kalangan Salaf, karena beliau-beliau itu juga memaafkan si Muslim yang terjatuh padanya dalam keadaan bodoh tentang agama. Mereka para Ulama’ itu punya beberapa dalil untuk tidak mengkafirkan seorang Muslim yang terjatuh dalam syirik akbar. Antara lain dalil mereka ialah :

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا (١٥)

Dan Kami tidak menurunkan adzab sehingga Kami mengutus seorang Rasul”. (QS. Al Isra’ : 15)

Dan dalil-dalil lain yang padanya terdapat penunjukan makna yang jelas. Juga dalil para Ulama’ itu ialah firman Allah Ta’ala :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (١١٥)

Dan siapa yang durhaka kepada Rasul setelah menjadi jelas kepadanya petunjuk dan mengikuti selain jalan kaum Mu’minin, Kami akan jadikan dia cinta kepada apa yang dia telah berpaling kepadanya dan Kami akan masukkan dia ke neraka jahannam sebagai sejelek-jelek tempat kembali”. (QS. An Nisa’ : 115). (Jadi di ayat ini, seseorang yang durhaka kepada Rasul itu baru dihukum dengan kesesatan, setelah mendapatkan kejelasan petunjuk agama Allah, atau dengan istilah lain setelah iqamatul hujjah -pent).

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّى يُبَيِّنَ لَهُمْ مَا يَتَّقُونَ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (١١٥)

Dan tidaklah Allah menyesatkan satu kaum setelah Dia tunjuki mereka, sehingga Dia menerangkan kepada mereka apa yang mestinya mereka takut daripadanya”. (QS. At Taubah : 115)

Dan dalil-dalil yang lainnya yang menunjukkan bahwa seorang Muslim itu tidaklah dikafirkan karena berbuat sesuatu dari kekafiran yang dia terjatuh padanya. Kami katakan : “Terjatuh dalam kekafiran”, dimana kekafiran itu, dia terjatuh padanya karena kejahilannya tentang agama Allah misalnya, maka kita tidak menghukuminya kafir sehingga kita terangkan kepadanya hujjah dan kita tegakkan kepadanya hujjah, maka kalau dia terus membangkang maka dia dihukumi sebagai orang kafir. Dan pendapat yang demikian ini dianut oleh sejumlah Imam para Ulama’ di Nejed, dan sebagian dari mereka kadang berbeda omongannya, kadang mensyaratkan adanya upaya menegakkan hujjah dan kadang-kadang mengatakan : Tidak dimaafkan atas perbuatan kufur itu dengan kebodohannya tentang agama ! Sehingga bergelantunganlah sekelompok orang dengan omongan-omongan Ulama’ yang tidak memaafkan kebodohan atas perbuatan kekafiran itu, dan diapun mengabaikan dalil-dalil yang jelas gamblang yang menyatakan adanya kemestian iqamatul hujjah sebelum dihukuminya si Muslim yang bodoh itu dengan vonis kekafiran. Dan termasuk keterangan yang telah aku sebutkan dari Al Imam As Syafi’ie rahimahullah dan dalil-dalil yang telah aku sebutkan pada kalian.  Continue reading

Seruan Syaikh Robi’ kepada Ahlus Sunnah untuk membantu Dammaj


SERUAN KEPADA SEGENAP AHLUS SUNNAH AGAR MEMBANTU SAUDARA-SAUDARA KITA DI DAMMAJ **

Oleh :

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali Hafidzahullahu Ta’ala

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه. أما بعد

Telah sampai kepada kami berita yang memilukan, peristiwa yang terjadi berupa apa yang dilakukan oleh orang-orang Rafidhah al-Bathiniyyun para musuh Islam, musuh para sahabat yang mulia. Yaitu tindakan mereka dalam bentuk blokade dan pemboikotan terhadap saudara-saudara Ahlus Sunnah di Dammaj, didasari atas kebencian dan permusuhan terhadap Islam dan Muslimin.

Maka kami wasiatkan kepada saudara-saudara kami di Dammaj agar tetap tegar diatas Sunnah, bersabar, dan memohon pertolongan kepada Allah dalam berjuang melawan kebiadaban dan permusuhan orang-orang Syiah Rafidhah. Kami wasiatkan pula kepada pemerintah Negara Yaman beserta seluruh Ahlus Sunnah untuk bangkit bersama-sama berjuang melawan kebengisan yang terjadi, dan menyerahkan penyelesaian masalah kepada yang berwajib. Demikian pula bersegera untuk menuntaskan kebiadaban orang-orang Syi’ah Rafidhah jika mereka memiliki kemampuan untuk melakukannya. Allah berfirman :

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

﴾. “ Sungguh Allah pasti akan menolong orang-orang yang membela (agama) Allah, sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa”). Allah berfirman (artinya) :

وَمَا النَّصْرُ إِلا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ * لِيَقْطَعَ طَرَفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَوْ يَكْبِتَهُمْ فَيَنْقَلِبُوا خَائِبِينَ

﴾. “ Dan tidaklah ada kemenangan kecuali datang dari sisi Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Hal itu terjadi) agar Allah membinasakan sebagian orang-orang kafir, atau menjadikan diri mereka hina dina, lalu mereka kembali pulang tanpa memperoleh apapun”)

Sesungguhnya permusuhan antara Ahlus Sunnah dan Syiah Rafidhah al-Bathiniyyah merupakan permusuhan antara kekufuran melawan Islam. Maka wajib bagi semua Ahlus Sunnah di manapun mereka berada, di negara Yaman ataukah di luar Yaman, agar mereka mengerahkan bantuan untuk menolong saudara-saudaranya. Dan kita memohon kepada Allah, semoga Allah menghancurkan kesombongan Syiah Rafidhah Al Bathiniyyah beserta seluruh musuh-musuh Islam di semua penjuru bumi. Atas orang-orang Syiah Rafidhah pembangkang lagi bengis tersebut, berlakulah Firman Allah Ta’ala :

 إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآخِرَة عَذَابٌ عَظِيمٌ

 “Hukuman atas orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, dan membuat kerusakan diatas muka bumi, tentulah ia harus dibunuh, disalib, ataupun dipotong tangan dan kakinya secara bersilang, atau juga ia dikucilkan dari tempat tinggalnya. Demikian itu merupakan bentuk kehinaan bagi mereka di dunia, dan kelak di akhirat ia akan mendapatkan adzab yang amat keras”.

Saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia Rabb Penguasa Arsy Yang Agung, semoga Allah menolong Ahlus Sunnah dalam melawan orang-orang Syiah Rafidhah sebagai musuh Allah dan Rasul-Nya. Sungguh Allah Rabbku adalah Dzat Yang Maha Mengabulkan Doa.

Ditulis oleh : Rabi’ bin Hadi Umair al-Madkhali 26/12/1434 H (31 Oktober 2013 M)

Sumber : Sahab.Net

Sumber terjemahan disini

** Silahkan antum baca juga  Seruan Jihad di Dammaj Yaman [Dzulhijjah 1434 H] dua fatwa jihad terbaru dari Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Sholih bin Muhammad Al Luhaidan حفظه اللهdan Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Abdul Muhsin Al ‘Abbad حفظه الله.

Nasehat : Wasiat Syaikh Robi’ terhadap Orang yang ghuluw dalam mencela.


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

السائل : أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ ؛ نلاحظ في الفترة الأخيرة بعض الشباب السلفي الحرصين على طلب العلم -لكن دون تأصيل سلفي سديد – قد قابلوا غلوَ الحدادية بالجفاء ؛ فيأخذون العلم عن أناس لا يعرفون ما دينهم و لا ديدنهم ، بمجرد ما تظهر أسماؤهم في الساحة ؛ و إن ذكَّرناهم بضرورة معرفة حال هؤلاء رمونا بالغلو و بغلاة التجريح ، و قد يصل الحد إلى وصفنا بالحدادية ، و والله إنا منها برآؤ؛ فنرجوا من فضيلتكم بيان مدى خطورة أخذ العلم عن من لا يُعرف حاله ؟ و لمن يكون ذلك ؛ و كذلك ، بيان أهمية الاطلاع على كتب الردود لعدم الوقوع في تلك الأخطاء.

الشيخ –حفظه الله تعالى– :
أنا أوصيكم جميعا بتقوى الله ، و التآخي فيه ، و لين الجانب ، و الرفق و اللطف ، فإن الله يحب الرفق في الأمر كله ، يعني صحيح يوجد الشاب السلفي عنده شبه تمسك ، لكن تجد عندهم شدة تشبه حِدّة الحدادية ، تشبه شدّة الحدادية ؛ فهذه تُطرح (أو تُطرد) –بارك الله فيك- و العلماء يقولون ” من شدّد نفّر” و الرسول –صلى الله عليه و سلم – قال : (( يسّروا و لا تعسّروا ، و بشّروا و لا تنفّروا )) ؛ فلينوا بأيدي إخوانكم يا شباب ؛ من عنده شيء من التمسك بالسنة ، فليُحلِّها بالأخلاق العالية من الصبر و الحلم و اللطف و الرفق و ما شاكل ذلك ؛ تلطف لمن ترى أنه سلفي ، لكن فيه ضعف ؛ لا تقابله بالجفوة و القسوة و العنف و الشدة –بارك الله فيكم- ؛ فإن هذا بغيض عند الله –تبارك و تعالى- ؛ فلابد من الرفق و اللين –بارك الله فيكم- ؛ و على هؤلاء المتساهلين أن يتحرّكوا و أن يجدّوا في العمل ، و أن يحرصوا على كسب إخوانهم ، و أن يحرصوا على محبتهم ؛ و لابد أن يكون الحرص من الطرفين ؛ على طلب العلم و على التآخي في ذات الله ، وعلى التراحم ، على التراحم ﴿ أشداء على الكفّار رحماء بينهم ﴾ ، لابد من التراحم –بارك الله فيكم – ؛ إذا ما فيه رحمة ، أخوك أخطأ ، عامله بلطف! و في حكمة ؛ أنا أقول غير مرة : نحن ، إذا سقط الواحد منا ، يعني يكون مثل الطبيب ، يأخذ هذا المريض إلى المستشفى ؛ عامله باللطف و بالحكمة ؛ فيه ناس عندهم شدة و حدّة ، إذا سقط الإنسان أجهزوا عليه مع الأسف الشديد .
ابتعدوا عن الشدة المهلكة ، و عن التساهل المضيع للحق ؛ و تراحموا فيما بينكم و تناصحوا بالحكمة و الموعظة الحسنة . 
و أسأل الله أن يُذهب هذه الفرقة ، و هذا الجفاء ، و علاجه : التحلي بالأخلاق الفاضلة من الأطراف كلها ؛ أسأل الله أن يرزقنا و إياكم التحلي بالأخلاق العالية من حب العلم ، و من التواضع و من اللين ، و من الرفق و من الجِدٍّ في تحصيل العلم و الحرص على كسب الإخوة في ذات الله –تبارك و تعالى- و من أجل الله ، لا من أجل المصالح الدنيوية و لا من أجل غير ذلك ،إن ربنا لسميع الدعاء.اهـ

Penanya: Semoga Allah ta’ala mencurahkan kebaikan kepada Anda Fadhilatusy Syaikh; Kita perhatikan akhir-akhir ini, sebagian pemuda yang semangat dalam menuntut ilmu –akan tetapi tanpa mempelajari prinsip salafi yang benar- sungguh mereka menghadapi ghuluw (sikap berlebih-lebihan) kaum Haddadiyyah dengan sikap meremehkan; sehingga mereka mengambil ilmu dari orang-orang yang tidak dikenal apa (manhaj) agamanya dan ke mana kecenderungannya, hanya karena orang-orang tersebut telah tampil di permukaan (sebagai da’i).

Dan apabila kami mengingatkan mereka akan pentingnya mengenal keadaan (manhaj) orang-orang tersebut maka mereka melontarkan tuduhan kepada kita dengan “ghuluw” dan “ghulat tajrih” (berlebih-lebihan dalam mecela), bahkan mereka mensifatkan kita dengan “haddadiyyah,” padahal demi Allah kami berlepas diri dari haddadiyyah, maka kami harapkan dari Anda untuk menjelaskan sejauh mana bahaya mengambil ilmu dari orang yang belum diketahui keadaannya dan kepada siapa itu terjadi. Demikian pula kami harapkan penjelasan tentang pentingnya membaca buku-buku bantahan yang ditulis para ulama agar tidak terjerumus ke dalam kesalahan-kesalahan tersebut?

Asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah:

“Aku wasiatkan kepada semuanya untuk bertakwa kepada Allah dan bersaudara dalam ketakwaan, bersikap lunak, lembut dan halus, karena sesungguhnya Allah ta’ala mencintai kelembutan dalam segala urusan. Benar, ada pemuda salafi yang masih memiliki syubhat, akan tetapi engkau dapati mereka (yang mengingkarinya) juga terdapat sikap keras menyerupai haddadiyah, maka sikap seperti ini harus dibuang –semoga Allah memberkahimu-. Dan ulama berkata, “Barangsiapa yang bersikap keras maka ia telah membuat orang lari dari kebenaran.” Dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

يَسِّرُوا ، وَلاَ تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا ، وَلاَ تُنَفِّرُوا

“Permudahlah dan jangan persulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat lari.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhuContinue reading

Wasiat Ulama : Hamba Allah yang takut kepada Allah adalah Ulama


Bismillah…

Hamba Allah yang Takut Kepada Allah

Berkata Asy Syaikh Rabe bin Hadi Al Madkhalihafidhohullah– didalam kaset rekaman yang berjudul “An Naqdu Manhajun Syar’i ” :

” … dan kitab-kitabku ini ambillah dan bacalah dan aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa semua yang ada didalamnya adalah harus benar bahkan aku menekankan kepada kalian bahwasanya didalam kitab-kitabku itu terdapat kesalahan, berkata salah seorang mereka : si fulan hendak berdiskusi dengan mu ? saya mengatakan : hendaknya secepatnya dilakukan sebelum kematian mendatangiku agar diterangkan kepadaku tentang kesalahan dan kekeliruan yang ada, dan aku mengharapkan kalian pergilah kepada salman ( al audah ) dan safar ( al hawaali ) agar mereka semua mengumpulkan kitab-kitab karya tulisku dan mendiskusikannya serta menerangkan kebenaran didalamnya ( jika aku salah, pent) sehingga aku dapat segera bertaubat sebelum ajal menjemputku, aku tidak akan pernah marah dari kritikan sama sekali bahkan demi allah aku sangat senang, dan aku mengembankan tanggung jawab ini kepada setiap kalian akan pergi kepada mereka untuk mengambil kitab-kitabku dan mendiskusikannya selanjutnya orang yang menemukan kesalahanku maka aku akan mengatakan kepadanya : jazakallah khaira dan aku akan mengirim kepadanya hadiah dan apabila aku tidak mampu memberinya hadiah maka aku akan berdoa kebaikan untuk mereka, DEMI ALLAH KAMI SAMA SEKALI TIDAK TAKUT KRITIKAN KARENA KARENA KAMI BUKANLAH ORANG-ORANG YANG MA’SHUM DAN AKU MEMOHON AMPUNAN KEPADA ALLAH YANG MAHA AGUNG .”

MasyaAllah, semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga para Alim dari Golongan Ulama.

Nasehat Ulama : Berhati-hatilah dari 2 Syubhat


Bismillah…

Sumber : Abu Hurairah pada bulan Januari 2011 :  http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=117883

Asy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholi -hafidhohullah- menasehatkan … “Aku wasiatkan terhadap generasi muda Islam untuk tidak menggubris dua syubhat bejat:

SYUBHAT PERTAMA : Kita boleh membaca segala kitab, duduk dengan ahlul bid’ah, kita mengambil al-haq (yang ada padanya) dan meninggalkan kebatilannya.

Permainan kata-kata ini memiliki pengaruh besar dalam melemparkan para muda, mengeluarkan mereka dari manhaj salafi, untuk kemudian mengantarkan mereka pada pangkuan ahlul batil dan ahlul bid’ah. Sehingga ia pun membaca kitab-kitab ahlul bid’ah, tidak bisa membedakan antara yang haq dengan yang batil, bahkan melihat al-haq sebagai kebatilan, kebatilan ia lihat sebagai al-haq. Maka ia pun tersesat!!

SYUBHAT KEDUA:  Jangan membaca kitab-kitab rudud (yaitu kitab-kitab berisi bantahan terhadap kebatilan dan ahlul batil)! Kitab-kitab rudud, Kitab-kitab rudud, Kitab-kitab rudud, (apa ini)?!!

Maknanya, berarti kita boleh membaca kitab-kitab ahlul bid’ah, kitab-kitab yang menyerang dan mencela manhaj salafy dan orang-orang yang berjalan di atas! Kita boleh mendengar radio-radio dan mass media mereka (ahlul bid’ah). Sehingga kita menjadikan diri kita sebagai alat yang siap menerima berbagai kebatilan tersebut!! Dan jangan sekali-kali memandang kepada kitab-kitab rudud. Kenapa? Karena kitab-kitab tersebut membongkar kebatilan mereka, menjelaskan kejelekan-kejelekan mereka, menunjukkan kepada kebenaran.

Jadi mereka mengajak untuk membaca kitab-kitab bid’ah dengan syubhat bahwa engkau mengambil kebenaran yang ada padanya dan meninggalkan kebatilan yang ada padanya. Maka pemuda miskin itu pun menjadi korban kebatilan. Karena tidak bisa membedakan antara yang hak dengan yang batil. Sehingga dia memandang haq sebagai batil, batil sebagai haq.

Syubhat ini sangat banyak yang berdalil dengannya, yaitu sejumlah orang yang menisbahkan diri kepada manhaj salafi, jumlah mereka sangat banyak, hanya Allah sajalah berapa jumlah mereka. ini adalah di antara makar yang menyimpangkan kalian dari istiqomah di atas al-haq, dari dakwah dan memerangi kebatilan. Kitab-kitab rudud sebenarnya sangat penuh dengan ilmu. Engkau tidak akan mendapati ilmu yang hidup dan aktif, yang memilah dengan jelas antara yang haq dengan yang batil, kecuali dalam kitab-kitab rudud.

Demi Allah, al-Qur`an membantah orang-orang kafir dan orang-orang sesat. Membantah orang-orang munafik, Yahudi, dan Nashoro. Tidaklah membiarkan satu kebatilan pun kecuali pasti dibantah dan dilenyapkan, serta dijelaskan kesesatan orang-orangnya. Demikian pula halnya dengan as-Sunnah. Jadi manhaj salaf penuh dengan hal ini. kitab-kitab aqidah, kitab-kitab al-jarh wat ta’dil penuh dengan kritik dan bantahan terhadap para pengusung kebatilan. Karena memang al-haq dan kebatilan tidak akan terbedakan dengan jelas kecuali dengan kritik dan bantahan tersebut.

Maka silakan baca kitab-kitab karya Ibnu Taimiyah, kitab-kitab karya Ibnul Qayyim. Juga silakan baca kitab-kitab para ‘ulama salafiyyin pada masa ini, yang mereka itu berjihad – insya Allah – fi sabilillah, mempertahankan dakwah, dan melindungi generasi muda dari berbagai fitnah, serta menjelaskan kepada mereka mana jalan Islam yang benar dan mana jalan-jalan kesesatan. Membongkar kebejatan para imam kebid’ahan dan kebatilan.

Maka dari sini, tahulah kalian apa yang dimaukan (oleh ahlul batil) ketika melarang generasi muda membaca kitab-kitab rudud.

Wahai generasi muda.

Belajarlah kalian, seriuslah dalam menuntut ilmu, bersegeralah dengan penuh keseriusan dalam mencari ilmu. Dan di antara yang bisa membantu kalian untuk memahami ilmu yang benar adalah kitab-kitab rudud. Karena itu juga merupakan bagian yang sangat penting dalam menuntut ilmu!!

Orang yang tidak mengenal kitab-kitab rudud, meskipun ia telah menghafal ilmu yang sangat banyak, maka dia berada di atas sikap yang sangat labil. Sungguh kami sering melihat, orang-orang yang telah memiliki ilmu namun kemudian ternyata ia terjatuh dalam kesesatan. Maka janganlah kalian melupakann kisahnya ‘Abdurrazzaq (ash-Shan’ani), jangan lupa kisahnya al-Baihaqi, jangan pula lupa kisah Abu Dzarr al-Harawi. Mereka adalah di antara ‘ulama-’ulama besar. Namun satu syubhat saja, berhasil mengantarkan kepada pangkuan ahlul bid’ah , wal’iyyadzubillah.

‘Abdurrazzaq, beliau ini padahal hanya satu orang saja, itupun lebih rendah ilmu daripada beliau, namun ternyata menjerumuskan beliau pada bid’ah tasyayyu’!! demikian pula Abu Dzarr al-Harawi dia mendengar satu kata yang diserukan oleh salah seorang imam kelompok asya’irah, berhasil menjatuhkan beliau dalam kesesatan. Demikan pula al-Baihaqi, beliau tertipu dengan salah seorang imam kesesatan, sehingga beliau pun jatuh dalam bid’ah asy’ariyyah. Dan masih banyak lagi.

Adapun pada masa ini, maka sangat banyak lagi tak terhitung. Orang-orang yang dulu berjalan di atas sunnah, baik dia seorang ‘ulama, atau seorang penuntut ilmu. Kemudian menyimpang disebabkan satu syubhat atau beberapa syubuhat, serta metode-metode dan makar-makar yang dilancarkan oleh para musuh kebenaran, sehingga memalingkan mereka dari manhaj kebenaran. Bahkan menjadikan sebagian mereka sebagai tentara yang memerangi manhaj salafi dan orang-orang yang berjalan di atasnya.

Aku wasiatkan kalian untuk kokoh/istiqomah di atas al-haq. Aku sekarang akan selesai berbicara. Telah aku sebutkan kepada kalian sebab-sebab penyimpangan. Maka pahamilah wahai ikhwah. Aku dorong kalian untuk senantiasa istiqomah, untuk belajar dan ikhlas dalam belajar karena Allah rabbul ‘alamin. Dan kalian telah tahu ayat-ayat dan hadits-hadits tentang ikhlas, peringatan dari riya’, sum’ah, dan yang serupa dengannya.

وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله محمد وعلى آله وصحبة أجمعين …

Seruan Syaikh Robi’ -hafidhohullah- untuk membantu Ahlus Sunnah di Suriah


Bismillah…


Asy-Syaikh Al-’Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali -hafidhohullah-

قال الشيخ حفظه الله:

» الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاةُ وَالسّلامُ عَلى رَسُولِ اللهِ، وعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ اتَّبَعَ هُداهُ، أَمّا بَعْدُ: فَإِنِّي أَحُثُّ أَهْلَ السُّنَّةَ فِي الْمَمْلَكَةِ وَغَيْرِهَا أَنْ يَقِفُوا إِلى جَانِبِ إِخْوَانِهِمْ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ فِي سُورْيا، وَيَمُدُّونَ لَهُمْ يَدَ المُسَاعَدَةَ، وَخَاصَّةً الْمُشَرَّدِينَ مِنْهُمْ وَالمَنْكُوبِينَ «

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkholi -hafidhohullah- berkata,

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاةُ وَالسّلامُ عَلى رَسُولِ اللهِ، وعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ اتَّبَعَ هُداهُ

Aku menghimbau kepada Ahlus Sunnah di Kerajaan Saudi Arabia dan Negara-negara lainnya untuk peduli terhadap saudara-saudara mereka Ahlus Sunnah di Suriah, dengan mengulurkan bantuan untuk mereka, terutama para korban dan terlantar.

disampaikan oleh Mu’adz bin Yusuf  asy-Syammari

(direkam malam 28 Ramadhan 1434 H / 6 Agustus 2013 M)

http://www.alwaraqat.net/content.php?5137

Download rekamannya di sini :

http://archive.org/download/kalimat_ta7oth_lenosrat_ahlassonna_fee_sorya_shiekh_rabee/eghathat_ahl_sorya_shiekh_rabee.mp3

###

Kemudian, keesokan harinya ketika diklarifikasi kembali tentang himbauan tersebut, maka Asy-Syaikh Rabi’ –hafidhohullah- menjawab,

“Ya, memang demikian. Siapapun yang bertanya (tentang masalah ini) niscaya aku jawab dengan jawaban yang sama.”

Beliau juga menambahkan, “Kepada segenap Ahlus Sunnah agar membantu rakyat Suriah sesuai kemampuannya. Hendaknya menyalurkan bantuan tersebut melalui lembaga khusus/resmi yang benar-benar bisa menyampaikan dana bantuan kepada orang-orang yang berhak.”

disampaikan oleh Abu Ziyad Khalid Baqais

(29 Ramadhan 1434 H / 7 Agustus 2013 M)

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=139103

Nasehat Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholi -hafidhohullah- Seputar Jihad di Suriah


Bismillah…

Nasehat asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkholi -hafidhohullah- tentang Konflik Suriah

 

أقول كان على السوريين أن يربوا أنفسهم على الإسلام الحق عقيدة ومنهجا ثم يعدوا العدة بالأسلحة، فإذا وُجدت القوتان عليهم أن يسقطوا هذا الخنزير النصيري، أما وهم ضعفاء يأتونهم يذبح فيهم كالدجاج هذا غلط.. يعنى هذه الطريقة ماشيين على منهج الغربيين في المظاهرات ويسموها مظاهرات سلمية وهو يذبح فيهم الآن من ستة أشهر (زي الدجاج) هذا الأمر لا يأمُر به الإسلام بارك الله فيكم، فنحن ضد النصيريين ولا نشجع الشعب السوري على الإلقاء بنفسه في التهلكة،وهم خالفوا منهج الله فيهم صوفية قبوريين خرافيين جهلة كذا بارك الله فيكم وينادون بشعارات ليست من الإسلام في شيء فعليهم أن يَتَرَبَوا ويُربُوا شعبهم على الإسلام ثم يعدون العدة ويسقطون (كلمة لم افهمها)، النصيريين أكفر من اليهود والنصارى، واليهود أرحم بالمسلمين من هؤلاء،هذا إنسان ما عنده رحمة، عنده قوة و عنده مُدمِرات، تخاطر بنفسك وتخاطر بشعبك هذا غلط بارك الله فيكم لا تخاطروا بأنفسكم والله أعلم كيف تنتهي الفتنة في سوريا الله أعلم كيف، الغرب كله متوافق معهم إيران معهم .. بارك الله فيكم.

Aku katakan, kepada warga Suriah hendaknya mereka terlebih dahulu mentarbiyah (mendidik) diri mereka di atas Islam yang benar, baik secara aqidah maupun manhaj, baru kemudian mereka mempersiapkan kekuatan senjata. Apabila terwujud dua kekuatan ini, maka silakan kalian menjatuhkan si Babi Nushairi ini.

Namun apabila kondisi warga Suriah masih lemah, sehingga mereka (penguasa) mendatangi rakyat dengan menyembelihnya seperti ayam, (kemudian rakyat masih ngotot melengserkan penguasa) maka ini merupakan kesalahan. yakni yang demikian itu adalah caranya orang-orang yang berjalan di atas prinsip orang-orang Barat, yaitu demonstrasi. yang dinamakan dengan demonstrasi kedamaian. Padahal penguasa seenak menyembelih rakyat semenjak enam bulan. Maka hal ini tidak diperintahkan oleh Islam, Barakallahu fikum. Kami semua anti orang-orang Nushairiyah, namun kami tidak mendorong rakyat Suriah untuk menceburkan diri mereka ke dalam kebinasaan.

Dan kondisi mereka (rakyat Suriah) juga masih banyak menyelisihi agama Allah, di antara mereka ada Sufiyah, penyembah kubur, percaya kepada khurafat, orang-orang jahil, dan juga orang-orang yang berseru dengan syi’ar-syi’ar yang bukan dari Islam sama sekali.

Maka hendaknya warga Suriah sendiri mendidik diri sendiri terlebih dahulu, serta mendidik masyarakat di atas Islam. Baru kemudian mereka menyiapkan kekuatan dan menjatuhkan pimpinan tersebut. ____ Orang-orang Syi’ah Nushairiyyah lebih kafir daripada Yahudi dan Nashara sekalipun. Orang-orang Yahudi masih lebih penyayang kepada muslimin jika dibandingkan Syi’ah Nushairiyah. Sementara dia (Syi’ah Nushairiyyah) adalah orang yang tidak memiliki kasih sayang sama sekali. Sebaliknya dia memiliki kekuatan dan penghancur yang membahayakan diri dan masyarakat, maka ini kesalahan, barakallah fikum.

Maka janganlah membahayakan diri kalian sendiri. Allah lebih tahu bagaimana fitnah di Suriah ini akan berakhir. Pihak Barat semuanya sepakat dengan mereka, Iran bersama mereka (Syi’ah Nushairiyyah).

(disampaikan pada musim Haji tahun 1432 H)

Download Audio nya disini :

http://www.ajurry.com/vb/attachment.php?attachmentid=16327&d=1322834881

Semoga bermanfaat ..

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,171 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]