Wasiat

This category contains 2 posts

Nasehat : Wasiat Syaikh Robi’ terhadap Orang yang ghuluw dalam mencela.


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

السائل : أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ ؛ نلاحظ في الفترة الأخيرة بعض الشباب السلفي الحرصين على طلب العلم -لكن دون تأصيل سلفي سديد – قد قابلوا غلوَ الحدادية بالجفاء ؛ فيأخذون العلم عن أناس لا يعرفون ما دينهم و لا ديدنهم ، بمجرد ما تظهر أسماؤهم في الساحة ؛ و إن ذكَّرناهم بضرورة معرفة حال هؤلاء رمونا بالغلو و بغلاة التجريح ، و قد يصل الحد إلى وصفنا بالحدادية ، و والله إنا منها برآؤ؛ فنرجوا من فضيلتكم بيان مدى خطورة أخذ العلم عن من لا يُعرف حاله ؟ و لمن يكون ذلك ؛ و كذلك ، بيان أهمية الاطلاع على كتب الردود لعدم الوقوع في تلك الأخطاء.

الشيخ –حفظه الله تعالى– :
أنا أوصيكم جميعا بتقوى الله ، و التآخي فيه ، و لين الجانب ، و الرفق و اللطف ، فإن الله يحب الرفق في الأمر كله ، يعني صحيح يوجد الشاب السلفي عنده شبه تمسك ، لكن تجد عندهم شدة تشبه حِدّة الحدادية ، تشبه شدّة الحدادية ؛ فهذه تُطرح (أو تُطرد) –بارك الله فيك- و العلماء يقولون ” من شدّد نفّر” و الرسول –صلى الله عليه و سلم – قال : (( يسّروا و لا تعسّروا ، و بشّروا و لا تنفّروا )) ؛ فلينوا بأيدي إخوانكم يا شباب ؛ من عنده شيء من التمسك بالسنة ، فليُحلِّها بالأخلاق العالية من الصبر و الحلم و اللطف و الرفق و ما شاكل ذلك ؛ تلطف لمن ترى أنه سلفي ، لكن فيه ضعف ؛ لا تقابله بالجفوة و القسوة و العنف و الشدة –بارك الله فيكم- ؛ فإن هذا بغيض عند الله –تبارك و تعالى- ؛ فلابد من الرفق و اللين –بارك الله فيكم- ؛ و على هؤلاء المتساهلين أن يتحرّكوا و أن يجدّوا في العمل ، و أن يحرصوا على كسب إخوانهم ، و أن يحرصوا على محبتهم ؛ و لابد أن يكون الحرص من الطرفين ؛ على طلب العلم و على التآخي في ذات الله ، وعلى التراحم ، على التراحم ﴿ أشداء على الكفّار رحماء بينهم ﴾ ، لابد من التراحم –بارك الله فيكم – ؛ إذا ما فيه رحمة ، أخوك أخطأ ، عامله بلطف! و في حكمة ؛ أنا أقول غير مرة : نحن ، إذا سقط الواحد منا ، يعني يكون مثل الطبيب ، يأخذ هذا المريض إلى المستشفى ؛ عامله باللطف و بالحكمة ؛ فيه ناس عندهم شدة و حدّة ، إذا سقط الإنسان أجهزوا عليه مع الأسف الشديد .
ابتعدوا عن الشدة المهلكة ، و عن التساهل المضيع للحق ؛ و تراحموا فيما بينكم و تناصحوا بالحكمة و الموعظة الحسنة . 
و أسأل الله أن يُذهب هذه الفرقة ، و هذا الجفاء ، و علاجه : التحلي بالأخلاق الفاضلة من الأطراف كلها ؛ أسأل الله أن يرزقنا و إياكم التحلي بالأخلاق العالية من حب العلم ، و من التواضع و من اللين ، و من الرفق و من الجِدٍّ في تحصيل العلم و الحرص على كسب الإخوة في ذات الله –تبارك و تعالى- و من أجل الله ، لا من أجل المصالح الدنيوية و لا من أجل غير ذلك ،إن ربنا لسميع الدعاء.اهـ

Penanya: Semoga Allah ta’ala mencurahkan kebaikan kepada Anda Fadhilatusy Syaikh; Kita perhatikan akhir-akhir ini, sebagian pemuda yang semangat dalam menuntut ilmu –akan tetapi tanpa mempelajari prinsip salafi yang benar- sungguh mereka menghadapi ghuluw (sikap berlebih-lebihan) kaum Haddadiyyah dengan sikap meremehkan; sehingga mereka mengambil ilmu dari orang-orang yang tidak dikenal apa (manhaj) agamanya dan ke mana kecenderungannya, hanya karena orang-orang tersebut telah tampil di permukaan (sebagai da’i).

Dan apabila kami mengingatkan mereka akan pentingnya mengenal keadaan (manhaj) orang-orang tersebut maka mereka melontarkan tuduhan kepada kita dengan “ghuluw” dan “ghulat tajrih” (berlebih-lebihan dalam mecela), bahkan mereka mensifatkan kita dengan “haddadiyyah,” padahal demi Allah kami berlepas diri dari haddadiyyah, maka kami harapkan dari Anda untuk menjelaskan sejauh mana bahaya mengambil ilmu dari orang yang belum diketahui keadaannya dan kepada siapa itu terjadi. Demikian pula kami harapkan penjelasan tentang pentingnya membaca buku-buku bantahan yang ditulis para ulama agar tidak terjerumus ke dalam kesalahan-kesalahan tersebut?

Asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah:

“Aku wasiatkan kepada semuanya untuk bertakwa kepada Allah dan bersaudara dalam ketakwaan, bersikap lunak, lembut dan halus, karena sesungguhnya Allah ta’ala mencintai kelembutan dalam segala urusan. Benar, ada pemuda salafi yang masih memiliki syubhat, akan tetapi engkau dapati mereka (yang mengingkarinya) juga terdapat sikap keras menyerupai haddadiyah, maka sikap seperti ini harus dibuang –semoga Allah memberkahimu-. Dan ulama berkata, “Barangsiapa yang bersikap keras maka ia telah membuat orang lari dari kebenaran.” Dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

يَسِّرُوا ، وَلاَ تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا ، وَلاَ تُنَفِّرُوا

“Permudahlah dan jangan persulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat lari.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhuContinue reading

Wasiat Ulama : Hamba Allah yang takut kepada Allah adalah Ulama


Bismillah…

Hamba Allah yang Takut Kepada Allah

Berkata Asy Syaikh Rabe bin Hadi Al Madkhalihafidhohullah– didalam kaset rekaman yang berjudul “An Naqdu Manhajun Syar’i ” :

” … dan kitab-kitabku ini ambillah dan bacalah dan aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa semua yang ada didalamnya adalah harus benar bahkan aku menekankan kepada kalian bahwasanya didalam kitab-kitabku itu terdapat kesalahan, berkata salah seorang mereka : si fulan hendak berdiskusi dengan mu ? saya mengatakan : hendaknya secepatnya dilakukan sebelum kematian mendatangiku agar diterangkan kepadaku tentang kesalahan dan kekeliruan yang ada, dan aku mengharapkan kalian pergilah kepada salman ( al audah ) dan safar ( al hawaali ) agar mereka semua mengumpulkan kitab-kitab karya tulisku dan mendiskusikannya serta menerangkan kebenaran didalamnya ( jika aku salah, pent) sehingga aku dapat segera bertaubat sebelum ajal menjemputku, aku tidak akan pernah marah dari kritikan sama sekali bahkan demi allah aku sangat senang, dan aku mengembankan tanggung jawab ini kepada setiap kalian akan pergi kepada mereka untuk mengambil kitab-kitabku dan mendiskusikannya selanjutnya orang yang menemukan kesalahanku maka aku akan mengatakan kepadanya : jazakallah khaira dan aku akan mengirim kepadanya hadiah dan apabila aku tidak mampu memberinya hadiah maka aku akan berdoa kebaikan untuk mereka, DEMI ALLAH KAMI SAMA SEKALI TIDAK TAKUT KRITIKAN KARENA KARENA KAMI BUKANLAH ORANG-ORANG YANG MA’SHUM DAN AKU MEMOHON AMPUNAN KEPADA ALLAH YANG MAHA AGUNG .”

MasyaAllah, semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga para Alim dari Golongan Ulama.

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,171 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]