Fatwa

This category contains 4 posts

Hukum Menampilkan Photo / Video Korban Kedzoliman


Soal : Pada beberapa seminar/pertemuan ditampilkan penjelasan tentang (gambaran) luka-luka yang diderita oleh kaum muslimin Palestina dan selain mereka. Di situ ditampilkan gambar tentang beberapa kaum muslimin yang terluka dan yang terbunuh, dan kadangkala mereka menampilkan video. Mereka bertujuan (dengan itu) adalah mendorong kaum muslimin untuk bershadaqah menyumbangkan sebagian hartanya kepada saudaranya (yang teraniaya tersebut). Apakah perbuatan seperti ini diperbolehkan ?

Jawab : Perbuatan ini merupakan perbuatan yang tidak pantas. Tidak boleh menampilkan gambar orang yang terluka. Namun, kaum muslimin hendaknya tetap diajak untuk bershadaqah untuk saudaranya dan disampaikan kepadanya bahwa saudaranya tersebut berada dalam keadaan tertindas. Juga (perlu disampaikan bahwa) mereka dalam keadaan seperti itu akibat ulah kaum Yahudi. Hal tersebut dilakukan oleh mereka tanpa ditampilkannya gambar dan gambar orang-orang yang terluka. Perbuatan itu tidak diperbolehkan karena berkenaan dengan hukum penggunaan gambar (makhluk hidup – yaitu haram). Selain itu juga merupakan perbuatan yang membebani diri (takalluf) pada apa-apa yang tidak diperintahkan Allah ta’ala. Perbuatan tersebut juga dapat mengurangi/menghilangkan kekuatan kaum muslimin; karena jika kalian menampilkan di hadapan manusia gambar orang muslim yang terluka atau terpotong-potong anggota tubuhnya, maka ini termasuk hal yang menakut-nakuti kaum muslimin dan membuat kaum muslimin takut terhadap perbuat yang dilakukan oleh musuhnya (dari kalangan Yahudi dan Nashara). Padahal wajib bagi kaum muslimin untuk tidak menampakkan kelemahan, tidak menampakkan musibah (yang menimpa mereka kepada musuh), dan segala sesuatu yang berkaitan dengan ini. Justru mereka harus menyembunyikan semuanya itu hingga tidak memperlemah kekuatan kaum muslimin.

Diambil dari Muhadlarah (Ceramah) yang bertema : At-Tauhid : Miftaahus-Sa’aadati fid-Dunyaa wal-Akhirah (Tauhid, Kunci Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat) oleh Asy-Syaikh Shalih bin ’Abdillah Al-Fauzan حفظه الله dari kitab Al-Ijaabatul-Muhimmah fil-Masyaakilil-Mulimmah. Diterjemahkan dari : http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=343294  Continue reading

Fatwa Syaikh Sholeh Fauzan -hafidhohullah- Seputar Konflik Mesir


Bismillah…

Pertanyaan

Konflik yang terjadi di Mesir sekarang ini, apa nasehat anda kepada kaum muslimin secara umum, dan kepada para penuntut ilmu secara khusus di Mesir

Jawaban Asy Syaikh Sholeh Fauzan Al Fauzan -hafidhohullah- (Anggota Hai’ah Kibaril ‘Ulama Saudi ‘Arabia) :

Konflik yang terjadi ini adalah fitnah. Seorang muslim menjauhi fitnah. Tidak berbicara kecuali pembicaraan yang padanya ada kebaikan untuk semua. Yaitu sesuatu yang bisa memadamkan fitnah, melindungi kaum muslimin dari kejelekan.

Jika dia tidak mampu mendamaikan dua pihak yang saling berseteru, maka hendaknya ia menghindar dari fitnah.

Namun pintu doa tetap terbuka. Hendaknya ia mendoakan untuk kaum muslimin dia semua tempat. Doakan muslimin Mesir dan yang lainnya. Semoga Allah memberikan pertolongan untuk mereka.

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=139173

Download Rekaman Audionya disini :

http://www.4shared.com/mp3/Zyhrp5cB/_____16-9-1434.html (4Shared)

Semoga bermanfaat …

Fatwa Syaikh Sholeh Fauzan Al Fauzan -hafidhohullah- Seputar Jihad di Suriah


Bismillah…

 

Sikap al-’Allamah asy-Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan -hafidhohullah- terhadap Jihad Suriah dan lainnya

 

السائل: أحسن الله إليكم ونفع بكم، هذا سائل يقول كيف تكون نصرة إخواننا المحاصرين في بعض البلاد، وهل يجوز لنا الذهاب هناك للجهاد أفتونا مأجورين؟

الشيخ: نُصرتهم بما تستطيعون من الدعاء ومن التوجيه والنصيحة.

وأما الذهاب فهذا لابد من إذن الإمام أنتم محكومون تحت سلطة، فإذا الإمام جهّز جيشا لنصرتهم فانظموا إليه؛ أما أن تذهبوا بدون إذن الإمام فهذا لا يجوز . الجهاد لا يجوز إلا بإذن الإمام. بني إسرائيل: قالوا لنبي لهم ﴿ ٱبعَث لَنَا مَلِكا نُّقَٰتِل فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ٢٤٦﴾[البقرة:246] لابد من قيادة لابد من سلطان، فلا يجوز الفوضى في مثل هذه الأمور وأنتم تعلمون ما حصل في الماضي من الخلل من الذين ذهبوا إلى الجهاد –والله أعلم بالنيات- وحصل ما حصل من تغير أفكارهم وما رجعوا به من أفكار وما حصل من الشرور والعواقب السيئة كله نتيجة عدم قبول النصيحة من العلماء وعدم إذن الإمام لهم فحصل ما حصل.

Pertanyaan :

Bagaimanakah bentuk pertolongan kepada saudara-saudara kita yang terdesak di sebagian negeri, bolehkah kita berangkat berjihad ke sana? Berikan fatwa kepada kami.

 Asy-Syaikh al-Fauzan -hafidhohullah- menjawab,

“Menolong mereka adalah sesuai dengan kemampuan. Pertolongan berupa do’a, pengarahan, dan nasehat.

Adapun berangkat (berjihad), maka ini harus seizin pimpinan (negara). Kalian adalah rakyat yang berada di bawah kekuasaan (negara). Apabila kepala negara telah menyiapkan tentara untuk menolong mereka, maka silakan bergabung bersamanya. Adapun jika kalian berangkat (berjihad) tanpa seizin kepala negara, maka yang demikian tidak boleh. Jihad tidak boleh kecuali dengan seizin imam (kepala negara). (Dalam al-Qur`an dikisahkan bahwa) Bani Israil berkata kepada nabi mereka, “Angkatlah untuk kami seorang pimpinan agar kami bisa berperang di jalan Allah.” (Al-Baqarah : 246). Jadi (dalam jihad) harus ada pimpinan, harus ada kekuatan. Tidak boleh secara sporadis dalam urusan seperti ini (yakni jihad). Kalian telah tahu apa yang terjadi sebelumnya berupa resiko pada orang-orang yang berangkat berjihad – Allah lebih tahu tentang niat sebenarnya – dan terjadilah apa yang terjadi, yaitu perubahan paham mereka dan mereka kembali (ke negerinya) dengan membawa paham tersebut. Demikan juga berbagai kejelekan dan akibat-akibat jelek lainnya, sebagai buah dari sikap tidak mau menerima nasehat dari para ‘ulama dan tidak ada izin dari pimpinan negara. Maka terjadilah apa yang terjadi.

Download Audionya di sini :

http://www.archive.org/download/hassoune/syrie.wma

Semoga bermanfaat …

Fatwa Ulama : Masalah Khilafiyyah


Bismillah,

Tanya :

Apakah masalah-malasah yang boleh terjadi perbedaan pendapat ? dan apa permasalahan yang harus kita jauhi perselisihan di dalamnya ? dan apa kewajiban kaum muslimin terhadap agamanya. ?

Jawab :  Continue reading

"Dipersilahkan bagi Ikhwahfillah sekalian bila ingin menuliskan sepatah atau dua patah komentar, tentunya komentar-komentar yang berakhlak mulia dan yang mempunyai kandungan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta'ala- dan diperbolehkan menyebarkan seluruh isi blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil , serta tidak harus menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khairan. Barakallohufikum,.."

Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,071 other followers

Mutiara Salaf

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482)]

Mutiara Salaf

Mu’aadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini, karena mengajarkannya adalah amalan yang baik, mempelajarinya adalah ibadah, mengingatnya kembali adalah tasbih, mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah, dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fi sabilillah.” [Majmu’ Fatawa jilid 4/109]